Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Sekolah lagi


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 102.




Oke guys, sebelum mulai ceritanya, kita lihat dulu visual dari tokoh satu ini ya!


...•...


...Nawal Zahrani Bielsa...



Nawal (15 tahun), merupakan sosok gadis cantik yang dilahirkan oleh Ratna bersama suami keduanya di Amerika sana.


Nawal masih mengemban pendidikan di bangku SMP kelas tiga, ya sebentar lagi dia akan lulus dan melanjutkan sekolahnya di tingkat SMA.


Saat libur sekolah tiba, gadis itu memutuskan untuk pergi mengunjungi ibunya di Indonesia karena dia sangat merindukan sang ibu.


Namun, pertemuannya dengan keluarga asli dari Ratna membuat Nawal merasa tidak senang dan muncullah konflik-konflik kecil diantara Nawal serta Sahira.


...•...


TOK TOK TOK...


Disaat sedang sibuk menyiapkan makanan untuk acara makan malam di apartemennya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar yang membuat Ratna harus segera membuka pintu.


Ratna pun meninggalkan sejenak urusannya dan berlalu menuju pintu.


"Sayang, ibu cek ke depan sebentar ya. Kayaknya itu Thoriq deh udah kembali, kalian lanjut aja beres-beres nya!" ucap Ratna.


"Iya Bu," ucap Sahira tersenyum.


Ratna bergegas melangkah menuju pintu, ia sendiri sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan putrinya yang bernama Nawal itu.


Sementara Sahira bersama Nur tetap berada di meja makan, merapihkan makanan serta minuman yang akan mereka nikmati nantinya sebagai santapan malam.


Ceklek...


Ratna membuka pintu, matanya terbelalak begitu menyaksikan dua orang berdiri di depan sana.


"Assalamualaikum Bu.." ucap Thoriq mencium tangan ibunya.


"Waalaikumsallam," ucap Ratna tidak fokus.


Ya Ratna terus menatap ke arah seorang wanita di sebelah Thoriq, perlahan Ratna melangkah mendekati wanita tersebut dengan satu tangan ia gerakkan untuk menyentuhnya.


"Nak, kamu semakin cantik aja Nawal sayang! Ibu jadi pangling sama kamu," ucap Ratna gemetar saat hendak menyentuh tubuh putrinya.


"Ibu..." tiba-tiba saja Nawal menangis dan langsung mendekap erat ibunya disana.


Ratna terkejut dengan itu, namun ia ikut larut dalam kesedihan tersebut. Wajar saja karena mereka sudah cukup lama tidak saling bertemu dan berpelukan seperti sekarang ini.


Thoriq hanya bisa tersenyum melihat ibu dan adiknya itu saling memeluk satu sama lain, ia seka air matanya yang hendak keluar karena tak mau ditertawakan oleh adiknya.


"Bu, aku kangen banget sama ibu! Aku senang deh bisa ketemu dan peluk ibu lagi kayak sekarang, aku sayang ibu!" ucap Nawal di pelukan ibunya.


"Iya sayang, ibu juga kangen sekali sama kamu! Syukurlah kamu sekarang sudah bisa datang kesini, ibu jadi semakin lega dan bahagia!" ucap Ratna mengusap punggung putrinya.


"Ehem ehem.." Thoriq berdehem kecil membuyarkan suasana haru disana.


"Kenapa sih bang? Lu iri karena gak bisa peluk ibu? Jangan gitu dong bang, gue kan pengen manja-manja sama ibu!" protes Nawal.


"Apa sih Nawal? Orang gue cuma berdehem doang, emang salah ya? Kalau kalian masih mau pelukan, yaudah pelukan aja! Tapi, aku masuk ke dalam duluan ya Bu, Nawal?" ucap Thoriq.


"Jangan nak! Kita masuknya barengan aja, biar semakin erat dan dekat!" ucap Ratna tersenyum.


"Setuju!" ucap Nawal.


Akhirnya mereka bertiga saling merangkul satu sama lain, Nawal tampak menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu dan terus tersenyum.


Ratna, Thoriq serta Nawal kompak melangkah memasuki apartemen itu.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, Nawal sudah berhasil mencium aroma lezat dari masakan ibunya itu yang pastinya langsung membuat perutnya meronta-ronta minta diisi.


"Emhh... enak banget baunya, Bu! Aku yakin ini pasti masakan ibu kan!" ucap Nawal.


"Iya sayang, ibu udah masak makanan kesukaan kamu, tentunya spesial dalam rangka menyambut kepulangan kamu." kata Ratna.


"Yeay asik! Jadi gak sabar mau makan!" ujar Nawal mengepalkan tangannya.


"Halah lebay lu!" cibir Thoriq.


"Ih berisik amat sih lu, bang!" protes Nawal.


"Sudah sudah, tidak usah ribut!" ucap Ratna.


Mereka terus berjalan menuju meja makan, awalnya baik-baik saja sampai Nawal melihat ada orang lain di dalam apartemen itu.


"Bu, bang, mereka siapa?" tanya Nawal sambil menatap sinis ke arah tiga orang di depannya.

__ADS_1


Ratna dan Thoriq terlihat kebingungan bagaimana harus menjelaskan kepada Nawal, mereka khawatir jika gadis itu tak terima dan malah menuai keributan disana.


Sementara Sahira, Jordan serta Nur beranjak dari kursi mereka dan menghampiri Ratna yang sudah kembali bersama putra-putrinya itu.


"Halo! Kamu pasti Nawal kan? Selamat datang di Indonesia ya Nawal, kamu cantik deh!" ucap Nur coba menyapa gadis itu.


"Lu siapa? Gausah sok akrab deh!" ujar Nawal ketus.


"Heh! Yang sopan dong kalo ngomong sama kakak gue! Lu itu di Amerika belajar apa aja sih!" tegur Sahira emosi.


"Sssttt Sahira, jangan gitu!" bisik Nur.


"Abisnya dia songong banget kak! Aku gak suka sama modelan kayak gitu!" ujar Sahira.


"Iya iya... udah ya Sahira!" pinta Nur menenangkan adik iparnya itu.


Tak ada rasa bersalah sama sekali di wajah Nawal, gadis itu justru memalingkan wajah dan melipat kedua tangan di depan.


"Nawal, kamu gak boleh gitu sama mereka! Mereka ini lebih tua daripada kamu, jadi kamu harus hormat dan sopan sama mereka ya!" ucap Ratna.


"Buat apa Bu? Emang mereka siapa sampai aku harus hormat sama mereka? Lagian mereka ngapain sih ada di apartemen ibu? Mereka siapa Bu?" tanya Nawal bingung.


"Mereka ini keluarga kamu juga, jadi kamu gak boleh bersikap gak sopan kayak gitu!" ujar Ratna.


"Keluarga aku? Maksudnya?" tanya Nawal tak mengerti.


Ratna dan Thoriq kompak terdiam, mereka masih belum berani untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Nawal karena khawatir jika gadis itu tak bisa menerima semuanya.




Elargano dan Keira juga sama-sama tengah menikmati makan malam di rumah gadis itu.


Suasana menjadi semakin tidak enak bagi El lantaran ia harus berbohong juga kepada Zahra, alias ibu dari kekasihnya itu.


"Wah tante, masak apa aja nih? Kayaknya pada enak-enak semua makanannya, berasa di restoran mewah aja." kata El sambil menarik kursi dan duduk disana.


"Ini ada sop iga, buatan tante khusus buat kalian berdua." jawab Zahra.


"Mana mah? Katanya sop iga, kok cuma satu?" celetuk Lingga yang turut hadir disana.


"Itu tiga papa.." ujar Zahra.


"Hehe, bercanda dikit biar gak terlalu tegang. Lihat tuh mukanya El sama Keira, udah kayak lagi sembunyiin sesuatu aja." kata Lingga.


"Ah?" Zahra spontan menoleh ke arah El dan Keira, menatap mereka dengan wajah bingung.


"Keira, memangnya kamu sedang sembunyiin sesuatu dari mama sama papa?" tanya Zahra pada putrinya itu.


"Iya tante, saya sekalian mau minta maaf sama om dan tante. Karena tadi saya bawa pergi Keira tapi gak izin dulu sama om atau tante, sampai malam begini lagi." sahut Elargano.


"Ah gapapa nak El, tante maklumin kok namanya juga anak muda." kata Zahra.


"Tuh pah, mama aja maklumin." kata Keira.


"Ya emangnya papa gak maklumin? Kalau papa begitu, daritadi papa udah slepet kalian berdua pakai gesper punya papa." ujar Lingga.


"Ish papa, seram amat sih!" ucap Keira.


"Hahaha... tapi tenang, kan itu mah cuma kalau papa lagi marah aja. Semisal nih kalian berdua bikin kesalahan, baru deh papa marah dan gak akan kasih ampun buat kalian! Terutama kamu Keira, karena kamu anak papa." kata Lingga.


"Jadi, gimana? Kamu ada buat salah gak hari ini?" tanya Lingga dengan terus menatap putrinya.


"Eee ya enggak lah, pah. Mana ada aku buat salah? Kan aku cuma ikut El jalan-jalan, papa ngada-ngada aja deh." jawab Keira tersenyum.


"Yaudah, kamu gausah takut!" ucap Lingga.


"Kamu gimana sih sayang? Kan kamu udah bohongin papa mama kamu, masa bilang gak ada buat salah?" bisik El di telinga gadisnya.


Keira justru mencubit lengan El dan membuat pria itu menjerit kesakitan.


"Awhh!" pekik El sembari mengusap lengannya yang dicubit oleh Keira.


"Loh loh, kamu kenapa El?" tanya Zahra bingung.


"Gapapa mah, El biasa kalo mau makan tuh suka teriak-teriak gak jelas gitu sambil pegangin lengannya. Ya kan sayang?" ucap Keira.


"I-i-iya tante.." jawab El gugup.


"Oh gitu, yaudah yuk kita makan!" ucap Zahra tersenyum.


"Iya mah," ucap Keira.


Setelahnya, mereka pun mulai memakan makanan yang ada di meja secara menyeluruh.


Namun, Lingga masih merasa heran dengan tingkah Keira serta El yang menurutnya agak berbeda dari biasanya.


"Kira-kira apa ya yang disembunyikan sama El dan Keira?" batin Lingga.


__ADS_1



Keesokan harinya, Sahira kembali bertemu dengan El saat baru tiba di sekolahnya.


"Sahira!" pria itu langsung menyapa Sahira dan menghampirinya sembari tersenyum melambaikan tangan.


Sahira yang sedang melamun, sedikit terkejut dengan sapaan dari El yang tiba-tiba itu.


Gadis itu pun menoleh, melihat ke arah El dan secara spontan tersenyum manis.


"Iya, kenapa El?" ucap Sahira lembut.


"Wih tumben banget nih lu mau senyum ke gue, bicaranya juga gak ketus. Abis kesambet apaan lu, ha?" ujar El terkekeh.


"Hadeh, gue bingung deh sama lu. Gue jutekin salah, gue baikin juga salah. Sebenarnya mau lu tuh apa sih, ha? Ribet amat!" ujar Sahira.


"Hehe... gue kan cuma heran aja, lu itu kan gak biasanya bicara lembut kayak tadi. Tapi, gue suka banget loh kalau lu begitu. Jangan jutek lagi ya Sahira!" ucap El tersenyum.


"Iya, yaudah cepetan bilang mau apa! Gue harus buru-buru ke kelas, ada pr soalnya." kata Sahira.


"Dih, orang mah ngerjain pr di rumah bukan di sekolah. Lagian tumben amat lu belum ngerjain pr, bukannya lu itu rajin ya?" ucap Elargano.


"Kemarin gue sibuk," jawab Sahira.


"Yah elah sok sibuk lu! Bilang aja kalo lu males ya kan!" cibir El terkekeh.


"Udah deh, gausah pake basa-basi! Bilang aja lu mau apa!" ujar Sahira.


"Iya iya... gue itu cuma mau nyapa lu kok, terus sekalian jalan bareng ke dalamnya." kata El.


"Gak penting banget sih!" ujar Sahira kesal.


Gadis itu berniat pergi, namun segera dicekal oleh El dari belakang sehingga Sahira tidak bisa kemana-mana.


"Tunggu! Lu gak kangen apa sama gue? Kemarin kan gue gak masuk sekolah," ujar El.


"Oh iya, emangnya kemarin lu kemana? Pantas aja gue tunggu-tunggu di kantin lu gak muncul, eh ternyata lu bolos sekolah." kata Sahira.


"Dih bolos, gue gak masuk sekolah karena ada urusan penting. Eh btw cie cie nungguin gue nih ye..." ucap El menggoda gadis itu.


"Hah? Sorry ya, gue tuh bingung aja kenapa lu gak deketin gue kayak biasanya. Bukan maksud gue buat nungguin lu, justru gue seneng kalo lu gak masuk sekolah kayak kemarin, jadinya gue bisa bebas deh." kata Sahira.


"Halah ngeles aja lu kayak bajaj!" ujar El.


"Eh iya, lu mau tahu gak kemarin gue ada urusan apa?" sambung El bertanya pada Sahira.


"Enggak, ngapain amat gue tahu!" jawab Sahira.


"Oh gitu, yakin nih? Padahal kemarin gue tuh abis anterin Keira ke rumah sakit," ujar El.


Sahira spontan menoleh ke arah El, matanya melotot menatap terkejut setelah mendengar ucapan El barusan.


"Lu serius? Keira sakit apa sampai harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Sahira penasaran.


"Katanya tadi gak mau tahu, kok sekarang langsung kepo banget sih?" ujar El meledek.


"Haish, kalo urusannya soal Keira ya gue pengen tahu lah! Keira itu kan sohib gue dari kecil, gue gak mau dia kenapa-napa." kata Sahira.


"Iya iya... gue ceritain sambil jalan, ya?" ucap El.


Sahira setuju dengan ucapan El, mereka pun melangkah pergi sembari berbincang sejenak.




Grey kembali bersekolah seperti biasa, setelah dirinya merasa tenang dan tidak lagi memikirkan kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu.


"Eh Grey!" sapaan dari seorang wanita itu membuat Grey terkejut dan reflek menoleh ke asal suara.


"Anisa?" ucap Grey pelan.


Ya itu adalah Anisa, teman sekolah Grey yang nampaknya cukup senang melihat Grey kembali bersekolah setelah lumayan lama gadis itu tidak masuk sejak mengalami kejadian buruk.


"Ya ampun Grey! Gue seneng banget deh lu bisa masuk sekolah lagi!" ucap Anisa memeluk Grey dengan erat dan rapat.


"Iya Anisa, gue gak mau lah ketinggalan pelajaran terlalu banyak. Lagian masalah gue kan udah selesai juga, pak Panca udah ditangkap polisi dan ditahan." kata Grey.


"Iya sih, bagus itu Grey! Jadinya gue punya teman deh di sekolah," ucap Anisa tersenyum.


"Emangnya selama gue gak masuk, lu gak punya teman gitu?" tanya Grey bingung.


"Ya punya sih, tapi gak seenak lu Grey. Kan lu tahu sendiri, cuma lu yang paling dekat sama gue." jawab Anisa.


"Yaudah, kita masuk ke dalam yuk!" ucap Grey.


Anisa mengangguk setuju, mereka melangkah bersamaan ke dalam sekolah sambil saling bergandengan tangan.


Sesampainya di dalam sekolah, Grey langsung disapa oleh beberapa murid disana yang merindukan dirinya.


Mereka kompak bertanya mengapa gadis itu tidak masuk sekolah selama beberapa hari ini, dan tentu saja Grey tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada mereka.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2