
#SangPemilikHati Episode 92.
•
•
Sahira kembali bersekolah seperti biasanya diantar oleh Thoriq sesuai perintah ibunya, akan tetapi kali ini sikapnya berbeda karena Sahira tampak murung dan tidak bersemangat.
Thoriq yang melihatnya pun merasa bingung, ia menatap Sahira dan perlahan meraih tangan gadis itu lalu menggenggamnya. Sahira sedikit kaget saat tangannya disentuh, karena sedari tadi gadis itu memang terus melamun.
"Bang, kenapa lu pegang gue?" tanya Sahira.
"Aku yang harusnya tanya sama kamu! Kenapa daritadi kamu ngelamun begitu? Mikirin apa sih, ha?" ujar Thoriq.
"Eee gue gak ngelamun kok, orang gue lagi lihat pemandangan di luar." elak Sahira.
"Yaelah masih aja ngeles lu kayak bajaj! Ini kita udah sampe di sekolahan lu, bukannya buru-buru turun malah asyik melamun! Udah deh lu jujur aja sama gue, pasti lu masih kepikiran sama teman lu yang diculik itu kan!" tegas Thoriq.
"Apa sih bang? Enggak kok." kata Sahira.
"Alah udah gausah ngelak terus! Gue tahu kalo lu masih mikirin dia, mending sekarang lu lupain dulu teman lu itu dan fokus ke sekolah! Masalah itu kan bisa diurus lagi sehabis sekolah," pinta Thoriq.
"Iya bang, gue gak mikirin Grey lagi kok. Ini gue turun dulu ya buat sekolah? Thanks udah anterin gue sekarang!" ucap Sahira tersenyum tipis.
"Oke! Belajar yang rajin lu, jangan bengong terus!" ucap Thoriq.
"Iya bang, lu itu bawel banget sih! Gue kan daritadi udah bilang iya, masih aja ngomong begitu!" ujar Sahira kesal.
"Iya iya sorry!" ucap Thoriq singkat.
"Eh ya, mau gue kasih uang jajan lagi gak? Pasti sisa dollar yang gue kasih waktu itu udah habis kan? Nih deh gue tambahin lagi buat jajan lu, siapa tahu nanti lu pengen jajan yang enak-enak tapi duitnya kurang." sambungnya.
"Gausah bang, masih ada kok sisanya. Gue kan jarang banget jajan di kantin, apalagi tadi ibu bikinin bekal buat gue. Mending uangnya buat lu aja!" ucap Sahira menolak tawaran Thoriq.
"Oh gitu, yaudah deh bagus jadi gue gak keluar uang lagi buat lu." ucap Thoriq sambil nyengir.
"Yeh dasar! Udah ya, gue turun dulu? Assalamualaikum," ucap Sahira pamit pada abangnya sembari mencium tangan sang abang.
"Waalaikumsallam," jawab Thoriq.
Sahira pun turun dari mobilnya, melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah Thoriq.
Thoriq juga melakukan hal yang sama, sebelum ia pergi dari sana meninggalkan adiknya.
"Sahira!" saat Sahira hendak masuk ke dalam sekolah, tiba-tiba saja ada yang memanggil namanya dari belakang dan membuatnya terhenti sejenak.
"Raisa?" ucap Sahira.
"Lu kenapa? Muka lu kok murung gitu? Lagi ada masalah apa gimana? Gak biasanya bestie gue yang satu ini sedih," tanya Sahira pada Raisa.
"Ayang mbeb Roger selingkuh, Ra..." Raisa menjawab dengan tangisan di wajahnya.
"Hah kok bisa? Dia selingkuh sama siapa, Rai? Terus gimana ceritanya?" tanya Sahira penasaran.
"Itu dia Ra, gue juga gak kenal dan gak tahu siapa cewek selingkuhan ayang mbeb Roger. Tapi, waktu itu gue pergokin mereka lagi makan bareng di kantin. Kan rasanya nyesek banget tau Ra, gue sedih banget!" jelas Raisa.
"Yang bener? Lu jangan salah paham dulu Rai! Barangkali itu cuma teman dia, harusnya lu minta Roger buat jelasin dulu ke lu. Sekarang gini, lu udah ketemu si Roger lagi belum?" ucap Sahira.
"Belum lah, gue juga gak mau ketemu sama dia. Gue kan lagi kesel sama dia!" ujar Raisa.
"Yaudah, mending lu sekarang temuin dia dulu di dalam! Minta penjelasan dari dia, supaya lu gak salah paham terus!" ucap Sahira.
"Gak mau ah males! Gue lebih pengen sama lu aja, temenin lu cari Grey yang hilang." kata Raisa.
"Kok gitu? Emangnya lu udah gak cinta lagi sama Roger?" tanya Sahira.
"Entahlah,"
•
•
Begitu tiba di lorong sekolah, Sahira dan Raisa sudah ditunggu oleh Farhan. Pria itu tersenyum ke arah Sahira dengan membawa setangkai bunga di tangannya.
Sahira pun menatap heran wajah Farhan, ia tak mengerti apa maksud dari Farhan membawa bunga seperti itu. Sedangkan Raisa hanya senyum-senyum menggoda Sahira setelah tahu kalau Farhan menyukai sahabatnya itu.
"Halo Sahira! Kamu masih pagi udah cantik aja, bikin aku gak bisa berpaling." ujar Farhan.
__ADS_1
"Ihiw cie cie Sahira... tuh kak Farhan bawain bunga tuh buat lu, lu sapa balik dong kak Farhan nya jangan diem aja!" ledek Raisa.
"Apa sih lu Rai!" cibir Sahira.
"Eee kak, lu ngapain bawa-bawa bunga begitu di tangan lu? Buat siapa?" tanya Sahira.
"Yaelah lu gimana sih Sahira! Jelas-jelas itu bunga buat lu, pake ditanya lagi!" ujar Raisa.
"Rai, lu bisa diem gak!" geram Sahira.
Raisa hanya nyengir terus menggoda sohibnya, entah mengapa tiba-tiba ia melupakan masalahnya dengan Roger dan fokus menggoda Sahira disana.
"Yaudah ya, gue pergi dulu. Gue gak mau ganggu momen romantis kalian berdua. Selamat bersenang-senang Sahira! Buka hati lu, cobain sekali aja pacaran!" ucap Raisa.
"Lu jangan ngada-ngada deh! Udah lu disini aja sama gue!" pinta Sahira.
"Haish, kenapa sih lu gak mau berduaan aja sama kak Farhan? Kan lebih asik kalo deketan berdua begitu, gue cabut aja ya?" ucap Raisa.
"Enggak enggak, lu disini aja!" paksa Sahira.
"Yaudah iya," ucap Raisa menurut.
Farhan tersenyum lebar, lalu mendekat ke arah Sahira dan menyodorkan bunga di tangannya kepada Sahira. Gadis itu masih terbengong tak mengerti apa maksud Farhan melakukan itu.
"Sahira, ini bunganya buat kamu. Diambil ya, biar kamu tambah semangat!" ucap Farhan.
"Eee iya kak, makasih!" Sahira tersenyum lalu mengambil bunga dari tangan Farhan.
"Aku senang deh kamu mau terima bunga dari aku!" ujar Farhan.
"Iya," ucap Sahira singkat.
"Ish, lu kok dingin banget sih sama kak Farhan? Harusnya lu agak akrab sedikit dong, sapa balik sambil senyum atau pegangan tangan gitu!" ujar Raisa menyarankan sohibnya.
"Apaan sih? Udah deh, gue mau ke kelas aja. Kak, gue duluan ya? Sekali lagi makasih nih bunganya, walaupun gue gak minta." kata Sahira.
"Sama-sama," ucap Farhan tersenyum.
"Eee kamu mau aku anterin gak ke kelasnya? Soalnya di dekat tangga itu suka ada cowok-cowok pada nongkrong, takutnya kamu digodain nanti. Aku temenin aja ya biar kamu aman jalannya?" ucap Farhan menawarkan diri.
"Gausah kak, gue kan udah sama Raisa." kata Sahira menolak tawaran Farhan.
"Yaudah, gue ke kantin ikut sama lu." kata Sahira.
"Jangan! Udah lu sama kak Farhan aja!" paksa Raisa melepaskan diri dari pegangan Sahira.
"Ish, lu jangan tinggalin gue!" pinta Sahira.
"Gapapa Sahira, selamat senang-senang ya! Bye!" Raisa langsung melangkah pergi meninggalkan Sahira bersama Farhan disana.
Sahira hendak mengejar Raisa, namun ia merasa tidak enak pada Farhan yang sudah menunggu untuk jalan bersamanya.
"Gimana? Mau aku antar kan?" tanya Farhan.
"Eee...."
•
•
Elargano yang sedang duduk-duduk bersama temannya di depan tangga, kaget saat melihat Sahira muncul bersama Farhan. Ia spontan berdiri menatap ke arah gadis itu dengan tatapan heran tak suka.
"Sahira? Lu ngapain sama Farhan?" tanya El terheran-heran.
Sama seperti El, Sahira pun juga terkejut ketika sadar El berada disana. Sedangkan Farhan sendiri merasa puas dan tersenyum smirk ke arah El, ia juga sangat senang karena bisa bersama Sahira.
"Emangnya kenapa sih El? Sahira mau sama gue itu kan gak ada salahnya, buat apa lu harus tanya begitu ke kita?" ujar Farhan.
"Nah iya kak, betul kata kak Farhan!" sahut Sahira.
"Gue kan cuma tanya. Gak biasanya aja gue lihat Sahira jalan sama lu begini, pasti lu yang paksa Sahira kan?" ujar Elargano.
"Lu kalo ngomong jangan ngada-ngada deh! Mana pernah gue paksa Sahira buat pergi sama gue? Seenaknya aja kalo ngomong, emangnya cuma lu doang yang bisa jalan sama Sahira?" ucap Farhan.
"Alah gausah bohong lu! Ngaku aja kali, lu pasti paksa Sahira buat jalan sama lu! Mana mungkin Sahira mau jalan bareng lu kalo gak dipaksa?" ucap Elargano masih tak percaya.
"Ish, udah udah jangan pada ribut! El, gue tuh gak dipaksa sama sekali sama kak Farhan! Gue emang mau kok diantar sama dia, lagian masalah lu apa sih ha? Emang kalo gue jalan sama kak Farhan tuh kenapa? Lu gak suka apa gimana? Lu kan bukan siapa-siapa gue, lu gak berhak atur-atur hidup gue El!" ucap Sahira menengahi.
__ADS_1
El terdiam merunduk, Farhan tersenyum penuh kepuasan karena Sahira membelanya kali ini.
"Yaudah, gue mau ke kelas sekarang. Tolong jangan ada yang ikutin gue! Gue lagi pengen sendiri, termasuk lu kak Farhan!" ucap Sahira.
"Ta-tapi Sahira.."
"Gak ada tapi tapi! Gue males dengar kalian ribut terus kayak gini, jadi mending gue ke kelas sendiri aja tanpa ditemani siapapun. Awas ya kalau kalian masih ribut begitu gue pergi, gue gak akan mau kenal sama kalian lagi!" potong Sahira.
"Iya iya Sahira, kamu tapi hati-hati ya! Kalau kamu butuh bantuan atau ada yang kerjain kamu, panggil aja namaku! Pasti aku akan datang buat tolong kamu!" ucap Farhan tersenyum.
Sahira mengangguk pelan, lalu melangkah pergi menaiki tangga menuju kelasnya.
Sementara Farhan tetap disana melirik ke arah El dengan sinis dan satu tangan terkepal.
"Heh! Mau lu apa sih ha!" tanpa diduga, Farhan langsung menarik kerah baju El dan mencengkeramnya penuh emosi.
"Kenapa lu selalu ikut campur urusan gue sama Sahira? Emang apa masalah lu sih kalo gue dekat sama Sahira, ha? Lu gak cukup udah punya satu cewek?" sambungnya.
Alzi serta Brian yang ada disana hendak maju memukul Farhan, tetapi El menahannya.
"Alasannya karena gue gak suka lihat lu dekat sama Sahira. Paham?" ucap El tegas.
"Dasar brengs*k lu!" umpat Farhan emosi.
"Eh eh eh berhenti...!!" Farhan yang hendak memukul wajah El pun mengurungkan niatnya begitu mendengar teriakan dari seorang guru yang muncul di belakang mereka.
"Kalian ini apa-apaan? Kenapa pada berkelahi disini? Ingat, ini itu sekolahan bukan ring tinju!" geram guru itu.
Farhan dan El hanya bisa terdiam menundukkan kepala, Farhan pun telah melepaskan kerah El sesuai perintah guru itu.
•
•
Sahira yang sampai di kelasnya, terkejut saat Anisa sudah berdiri disana menatap ke arahnya dengan tatapan menyorot tajam. Sahira merasa heran melihatnya, ia bergerak mendekati Anisa untuk bertanya secara langsung padanya.
"Nisa? Lu ngapain di depan kelas gue? Kelas lu kan jauh dari sini," tanya Sahira penasaran.
"Ada yang mau gue sampaikan sama lu, Ra." jawab Anisa dingin.
"Apa?"
"Soal Grey."
"Hah? Ada apa lagi sama Grey?" Sahira terkejut dan penasaran apa yang hendak disampaikan oleh Anisa mengenai Grey.
"Kita bicara di pojok sana. Soalnya disini ramai, gue takut ada orang lain yang dengar obrolan kita." pinta Anisa.
"Oke!" Sahira mengangguk setuju, lalu mereka pergi bersamaan menuju pojok lorong kelas.
Keduanya berhenti begitu tiba di pojok sana, Sahira yang penasaran langsung menanyakan pada Anisa perihal apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu kepadanya.
"Nisa, lu mau bicara apa sama gue?" tanya Sahira.
"Barusan Grey kabarin gue, dia minta tolong sama gue buat sampaikan ini ke lu. Dia tadi bilang katanya dia diancam sama pak Panca, makanya dia minta lu buat berhenti selidiki kasus ini. Jadi, tolong lu tetap lanjutin semuanya ya sampai pak Panca bisa ditangkap! Grey bilang juga sama gue, katanya dia udah gak tahan lagi ada di tempat itu karena pak Panca terus-terusan tekan dia!" jelas Anisa.
"Apa? Eee terus Grey ada bilang gak sama lu dia lagi dimana sekarang? Kalau iya, kasih tahu dong ke gue biar gue bisa samperin dia!" ujar Sahira.
"Itu dia Ra, dia gak sempat bicara banyak sama gue di telpon tadi. Karena pak Panca udah keburu bangun, terus datangin dia." jawab Anisa.
"Duh, gimana ya caranya supaya kita bisa bebasin Grey dari tangan pak Panca?" Sahira kebingungan.
"Gue juga gak tahu, Ra. Tapi, yang pasti sih lu lanjutin aja penyelidikan lu tentang pak Panca! Lu kan udah punya cukup bukti, pasti semuanya bakal lebih mudah. Polisi mungkin bisa lacak keberadaan Grey sekarang," usul Anisa.
"Iya sih, yaudah kalo gitu nanti siang gue bakal bawa bukti video itu ke kantor polisi. Semoga aja dengan begitu Grey bisa ketemu lebih cepat!" ucap Sahira.
"Yaudah, kalo lu butuh bantuan gue bilang aja ya! Gue pasti bakal bantu lu kok!" ujar Anisa.
"Oke!" Sahira mengangguk setuju.
"Sekarang gue mau ke kelas dulu, kabarin ya kalau ada info lebih lanjut tentang Grey atau misalnya dia telpon lu lagi!" ucap Sahira.
"Iya, gue juga mau ke kelas kok. Saling berkabar aja ya Sahira!" ucap Anisa.
Kedua gadis itu sama-sama mengangguk, lalu pergi dari sana menuju kelas mereka masing-masing.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...