
#SangPemilikHati Episode 128.
•
•
Hari telah berganti, Keira baru selesai mandi di pagi hari yang cerah ini. Ia pun keluar dari kamarnya dan berniat turun ke bawah menyusul orang tua serta neneknya.
Akan tetapi, Keira lagi-lagi justru bertemu dengan Arnav si sepupu yang memang juga tinggal di rumah neneknya. Kebetulan Arnav diberi tugas untuk menjaga neneknya disana.
"Hai Keira, selamat pagi!" ucap Arnav menyapa Keira sambil tersenyum.
"Eh Nav, pagi juga! Lu pasti baru bangun ya?" ucap Keira tersenyum renyah.
"Hehe, ya gitu deh. Ternyata kamu rajin juga ya, masih pagi aja udah wangi plus cantik banget begini." ucap Arnav.
"Ah bisa aja, ini emang udah kebiasaan aku sih. Jadi, sebelum sarapan aku harus udah mandi. Ya mungkin karena kebiasaan tiap mau sekolah. Emangnya kamu gak pernah mandi ya kalo pagi?" ucap Keira agak menjauh.
"Eh eh, kamu kenapa ngejauh gitu? Tenang aja, walau gak mandi aku tetap wangi kok! Nih kamu cium aja coba kalo gak percaya," ucap Arnav sembari menyodorkan tubuhnya kepada Keira.
"Ish, gak mau ah!" ucap Keira menolak.
"Hahaha, yaudah kita turun ke bawah yuk! Aku yakin nenek sama mama papa kamu udah nungguin disana," ucap Arnav.
"Iya, ini aku emang mau ke bawah kok." kata Keira.
"Kita bareng aja yuk!" ucap Arnav.
Keira mengangguk pelan disertai senyuman, Arnav mendekatinya dan hendak menggandeng tangan Keira agar mereka bisa melangkah bersama.
"Eee kayaknya gausah gandengan deh, nanti nenek malah ngira yang enggak-enggak." ucap Keira.
"Masa iya sih? Gak bakal lah nenek mikir gitu, kita kan sepupuan." kata Arnav.
"Iya sih sepupu, tapi tetap aja aku ngerasa gak enak kalau gandengan tangan walau sama sepupu aku sendiri. Lagian aku bisa jalan sendiri kok, gausah gandengan ya?" ucap Keira.
"Oh gitu, kamu takut ya kalau pacar kamu di Jakarta itu cemburu karena kita dekat disini?" ucap Arnav tersenyum menggoda.
"Hah? Bu-bukan gitu.." ucap Keira gugup.
"Udah, gapapa kok. Kamu kan semalam udah cerita banyak soal pacar kamu, wajar aja kalau kamu gak pengen kita terlalu dekat. Lagipun, aku senang kalau kamu senang sama pacar kamu." ucap Arnav.
"Sebenarnya ada yang belum aku ceritain ke kamu tentang El," ucap Keira.
"Oh ya? Apa itu?" tanya Arnav penasaran.
"Aku sama dia tuh sekarang lagi marahan, aku kesel sama El karena dia terlalu dekat dengan gadis lain. Dan asal kamu tahu, El itu dekat sama sahabat aku sendiri." jawab Keira.
"Hah? Masa sih pacar kamu begitu? Tega banget dia, bisa-bisanya dia bersikap kayak gitu sama wanita secantik kamu. Kalau aku jadi dia, gak mungkin sih aku sia-siakan kamu." kata Arnav.
"Entahlah, mungkin dia udah bosan sama aku. Belakangan ini juga dia lebih sering bareng sahabat aku dibanding aku yang pacarnya, dia juga jadi jarang kabarin aku." ucap Keira bersedih.
"Huft, sabar ya Keira! Biar aja waktu yang menjawab semuanya," ujar Arnav.
"Iya deh, yaudah yuk kita ke bawah aja! Aku udah lapar nih, ngapain juga kita malah bahas sesuatu yang gak penting kan?!" ucap Keira tersenyum.
"Kamu segitu marahnya ya sama dia?" ujar Arnav.
"Ya gitu lah, kamu bayangin aja gimana perasaan aku sekarang karena pacar aku dekat sama sahabat aku sendiri. Pasti aku sedih banget dong, apalagi mereka selalu berdua dan El gak pernah mau jauh dari dia." ucap Keira.
"Kamu yang sabar ya! Kalaupun dia bukan jodoh kamu, masih banyak laki-laki di luar sana yang mau kok sama kamu. Kamu tinggal pilih aja sendiri," ucap Arnav menaruh tangan di bahu Keira.
Keira mengangguk pelan, Arnav mengusap dagu gadis itu perlahan sambil tersenyum.
"Jangan menangis! Nenek nanti jadi ikutan sedih loh," ucap Arnav.
"Okay,"
•
•
Sahira, Raisa, serta Anisa tengah pergi jalan-jalan ke mall di hari libur yang indah ini. Mereka memang sengaja pergi bertiga saat ini.
Sebenarnya Raisa dan Anisa hendak mengajak Grey juga hari ini, namun gadis itu harus pergi bersama orangtuanya.
"Eh guys, kenapa kalian gak ajak Grey juga? Kan seru pasti kalo kita ke mall berempat, sekalian cari jodoh di mall nanti. Siapa tahu ada yang nyantol ya kan?" ujar Sahira.
"Hah? Tumben banget lu ngomong begitu Sah, biasanya lu paling males bicara soal jodoh. Apa yang merasukimu wahai Sahira?" ucap Raisa terheran-heran.
"Gak ada sih, gue cuma iseng-iseng aja siapa tau dapet cogan Korea kan." ujar Sahira terkekeh.
"Hahaha, bagus sih. Jadi, lu bisa menjauh dari El dan gak bikin Keira marah sama lu." kata Raisa.
__ADS_1
"Itu dia Rai, emang gue pengen jauh dari El. Tapi, El selalu aja pengen dekat sama gue." ucap Sahira.
"Eh ya, terus gimana soal Grey? Kenapa dia gak ikut sama kalian kesini?" sambung Sahira bertanya kepada dua temannya itu.
"Tadi kita sebenarnya udah ajak Grey, tapi dia bilang katanya hari ini dia mau ke rumah sakit sama orangtuanya." jawab Anisa.
"Hah? Emang Grey kenapa?" tanya Sahira kaget.
"Dia bilang sih mau cek kondisi janinnya, lu gausah khawatir gitu!" jawab Raisa.
"Apa? Emangnya Grey hamil?" tanya Sahira syok.
"Oh iya, kita lupa kalo lu belum tahu ya tentang kehamilan Grey. Jadi, sebenarnya Grey itu hamil udah lama, usianya aja udah mau masuk dua bulan. Gue juga baru tahu dari Anisa tadi," jawab Raisa.
"Ya ampun, kasihan banget sih Grey! Dia harus mengandung di usia semuda ini, gue jadi ikut sedih dengan kondisi Grey sekarang." ucap Sahira.
"Iya Sah, tapi untungnya orang tua Grey mau support dia terus dan bikin Grey jadi lebih merasa tenang. Kita sebagai sahabat yang baik, juga harus terus dukung dia!" ucap Anisa.
"Itu sih jelas, gak mungkin kita tinggalin Grey disaat dia terkena masalah kayak gini." kata Sahira.
"Eh Sahira?" tiba-tiba saja suara lelaki muncul di dekat mereka, membuat Sahira serta kedua temannya itu reflek menoleh ke depan.
Mereka bertiga melihat sosok Farhan berdiri disana, Sahira sungguh tak menyangka jika ia bisa bertemu Farhan disana.
"Kak Farhan?" ucap Sahira terkejut.
"Eh Sah, kayaknya doa lu dijabah deh. Tuh buktinya lu langsung ketemu sama jodoh lu," bisik Raisa.
"Apaan sih? Gak jelas lu!" ujar Sahira.
"Hehe.." Raisa nyengir dan mundur perlahan.
Farhan melangkah mendekati Sahira, tersenyum lebar kemudian menyentuh wajah gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Kamu ternyata ada disini juga, aku gak nyangka bisa ketemu kamu." ucap Farhan.
"Iya kak, gue sama teman-teman emang lagi pengen jalan-jalan disini." jawab Sahira.
"Bagus deh, gimana kalau kita bareng aja ke dalamnya?" ucap Farhan.
"Eh, jangan deh! Gue mau bareng sama teman-teman gue aja. Lagian emang lu kesini sendirian? Gak sama teman atau pacar lu?" ucap Sahira.
"Iya nih, gue sendirian. Makanya gue ajak lu buat bareng sama gue. Jadi gimana, lu mau kan?" ucap Farhan kembali bertanya.
"Sahira mau kok!" potong Raisa.
Sontak Sahira langsung melotot ke arah Raisa dan mencubit pinggangnya.
•
•
Singkat cerita, Sahira terpaksa jalan berdua dengan Farhan di mall tersebut atas paksaan dari Raisa serta Anisa.
Farhan pun tampak senang sekali karena dapat berjalan dengan Sahira disana, sungguh ia tak menyangka hal itu dapat terjadi padanya.
Berbeda dengan Sahira, gadis itu justru tampak murung sepanjang perjalanan dan tidak menikmati jalan berdua dengan Farhan.
"Hey! Kamu mau beli apa nih sekarang? Bilang aja ke aku, pasti aku beliin kok!" tanya Farhan.
"Ah eee gausah kak, kebetulan gue cuma mau keliling-keliling doang di mall ini." jawab Sahira.
"Oh gitu, yaudah deh. Tapi, kalau misal nanti pas jalan kamu ada kepengen sesuatu bilang aja ya ke aku! Kamu gausah sungkan atau malu, aku pasti bakal beliin kok." ucap Farhan.
"Iya kak, kita lihat aja nanti." kata Sahira.
Mereka pun kembali lanjut melangkah mengitari mall yang cukup luas itu, Sahira tampak mulai membiasakan diri pergi bersama Farhan.
"Aku senang deh, aku gak nyangka bisa jalan berdua sama cewek yang aku suka di mall begini. Rasanya bahagia banget, serasa kayak mimpi tapi nyata." ucap Farhan tersenyum bahagia.
"Hahaha, kak Farhan bisa aja. Emangnya segitunya ya kak?" ucap Sahira terkekeh kecil.
"Iya dong, dari yang paling bikin aku bahagia ya jalan sama kamu sekarang ini. Karena aku sangat berharap kamu bisa jadi milik aku, Sahira." ucap Farhan.
"Milik kamu maksudnya?" tanya Sahira heran.
"Ya kamu pasti tau kan, pacar alias kekasih. Seperti dulu aku tembak kamu, tapi kamu belum beri jawaban kamu sampai sekarang." jawab Farhan.
"Emang ya?" tanya Sahira.
"Iya, andai aja kamu udah jawab. Jadi gimana, kamu mau gak jadi pacar aku?" ucap Farhan.
"Eee aku..."
__ADS_1
"Sahira!" ucapan Sahira terjeda dengan suara panggilan dari seorang lelaki yang muncul secara tiba-tiba di dekatnya.
Mereka berdua pun kompak menoleh ke asal suara, Sahira sangat terkejut melihat kehadiran El di tempat yang sama dengannya.
"Kak El?" ucap Sahira masih syok.
"Hai Sahira! Aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini, kamu kenapa gak bilang kalau kamu mau ke mall? Tau gitu tadi aku ajak kamu aja, biar kita bisa kesini berdua." ujar El tersenyum.
"Justru itu kak, gue gak mau kasih tau lu karena gue gak pengen lu ikut." ucap Sahira.
"Kenapa begitu sih? Emang apa alasan kamu gak mau pergi ke mall bareng aku? Apa karena udah ada dia, si cowok cupu yang suka sama kamu ini?" tanya El sedikit merendahkan Farhan.
"Heh, lu ngomong dijaga ya! Biarin gue cupu, yang penting gue gak suka nyakitin hati perempuan kayak lu!" ujar Farhan emosi.
"Sabar kak sabar!" ucap Sahira menenangkan.
"Hahaha, gausah emosi gitu dong. Lu jadi galak gini apa karena ada Sahira di samping lu, iya? Sok jagoan banget sih lu!" cibir El.
"Kurang ajar lu ya!" geram Farhan.
"Tenang kak, jangan kepancing!" ucap Sahira.
"Hahaha..." El tertawa lepas.
Tak lama kemudian, muncul seorang wanita mendekati El sembari memanggilnya.
"El, kamu ternyata disini. Aku cariin kamu daritadi loh, bukannya temenin aku yang lagi milih tas." ucap seorang wanita di dekatnya.
"Adel?"
•
•
Grey dan kedua orangtuanya sudah berada di rumah sakit, mereka tengah menunggu hasil dari pemeriksaan dokter terhadap kehamilan Grey.
Dokter pun muncul mendekati mereka membawa hasil pemeriksaannya, tampak senyuman di bibir Grey saat dokter itu memberikan suratnya.
"Ini dia Bu, hasil pemeriksaan kami terhadap kehamilan ibu. Dari pemantauan kami, janin ibu dalam kondisi yang baik. Hanya saja, dimohon ibu untuk tidak terlalu sering menangis atau stress ya Bu! Karena itu bisa berpengaruh dengan janin yang ada di rahim ibu," ucap dokter itu.
"Iya dok, anak saya belakangan ini memang sering menangis. Dia mungkin juga belum siap dengan kehamilan ini, jadinya anak saya ini agak stress." ucap Fadia.
"Mungkin saja Bu, usia anak ibu juga masih terlalu muda untuk memiliki anak. Oh ya, suaminya dimana ya Bu?" ucap dokter itu.
"Eee..." Fadia tampak bingung menjawab itu, apalagi ia melihat Grey tengah bersedih disana.
"Anak saya belum memiliki suami, dia mengandung anak dari pemerkosanya. Itu sebabnya anak kami ini selalu sedih dan stres, karena dia masih syok dengan kejadian itu." jawab Agus.
"Oh, maafkan saya pak! Saya tidak tahu tentang itu. Baiklah mbak Grey, sebaiknya mbak tenangkan diri ya dan jangan terlalu memikirkan hal itu! Mbak tidak boleh terlalu stres!" ucap dokter itu.
"I-i-iya dok.." ucap Grey terbata-bata.
"Yasudah, saya sudah buatkan resep untuk mbaknya. Nanti bisa ditebus di apotik depan, semoga mbak Grey kuat ya!" ucap dokter itu.
"Terimakasih ya dok!" ucap Grey.
"Makasih dok!" ucap Fadia dan Agus.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya? Jangan lupa diminum obatnya!" ucap dokter itu.
"Iya dok," ucap Fadia.
Dokter itu pun pergi, Fadia kini duduk di samping Grey dan memeluk putrinya itu sambil berusaha menenangkan Grey agar tidak sedih lagi.
"Sayang, kamu yang kuat ya! Ingat kata dokter, kamu gak boleh sedih terus!" ucap Fadia.
"Iya Grey sayang, kalau kamu sedih terus nanti bayi di kandungan kamu ikutan merasa sedih loh. Kan ada papa sama mama disini, kita bakal bantu kamu kok sayang!" ucap Agus.
"Yaudah pah, mah. Aku gak akan sedih-sedih lagi kok, makasih ya karena mama sama papa udah mau support aku terus!" ucap Grey tersenyum.
"Nah gitu dong sayang, kamu harus kuat demi janin di perut kamu dan juga mama papa! Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja ke kita ya sayang jangan ragu atau sungkan!" ucap Fadia.
"Iya mah, aku beruntung banget punya orang tua kayak mama dan papa!" ucap Grey.
Grey merasa semakin tenang saat ini, ia memiliki sandaran dan tempat untuk berkeluh kesah sehingga masalah dalam dirinya bisa hilang.
Grey pun membenamkan wajahnya di bahu sang mama, merasakan kehangatan pelukan mamanya yang selalu membuatnya merasa nyaman.
"Aku sayang mama papa!" ucap Grey pelan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1