Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Sudah ditunggu


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 106.




Sahira diantar oleh Thoriq menuju rumah sakit untuk menjenguk Grey.


Gadis itu terlihat sangat panik karena tak kunjung ada kabar dari Raisa mengenai Grey.


Sontak Thoriq mencoba untuk berlaku iseng pada adiknya itu, dia dengan sengaja menambah kecepatan dan menginjak rem secara tiba-tiba hingga Sahira hampir terdorong ke depan.


"Bang, lu apa-apaan sih!" geram Sahira.


"Hahaha..." amarah Sahira itu justru disambut dengan gelak tawa oleh Thoriq yang tetap fokus menyetir mobilnya.


"Lu lucu deh kalo lagi cemberut kayak gitu, pengen gue terkam aja rasanya sangking gemasnya gue sama lu Sahira!" batin Thoriq.


"Heh! Malah diem lagi! Maksud lu tadi apaan ngerem mendadak kayak gitu? Mau bikin jantung gue copot?" ucap Sahira emosi.


"Sabar dong neng! Gue cuma bercanda kok, buktinya jantung lu gak copot kan?" ucap Thoriq.


"Haish, terus emang beneran lu mau jantung gue copot gitu? Kurang ajar banget sih lu, bang!" geram Sahira.


"Ya enggak lah sayang, itu bercanda doang. Udah, jangan ngambek ya nanti cantiknya ilang loh!" ucap Thoriq membujuk Sahira.


"Halah lebay lu! Awas ya, nanti gue laporin ke ibu kalo lu udah bikin gue jantungan!" ancam Sahira.


"Dih dih, kayak anak kecil mainnya ngaduan ke ibu." cibir Thoriq.


"Biarin! Suruh siapa lu ngeselin banget jadi orang!" ujar Sahira melipat kedua tangannya di depan.


"Gue gak ngeselin kok, gue ini ganteng dan imut tau.." kata Thoriq memuji dirinya sendiri.


"Idih huweekk!! Mau muntah gue dengarnya, lu imut darimana sih bang bang..?? Yang ada amit-amit tau gak!" ujar Sahira.


"Haha bang bang, dikata gue mobil lejen apa!" ucap Thoriq terkekeh kecil.


"Itu mah mainan si squil!" ujar Sahira.


"Hah? Siapa si squil dah?" tanya Thoriq bingung.


"Itu loh anak kampung gurita yang palanya botak mengkilat, masa gak tahu?" jawab Sahira.


"Ohh si Agus? Salah server sayang! Dia mah gak ada di cerita ini, jangan dibawa-bawa dong! Lu kangen ya sama gurita angus itu?" ujar Thoriq.


"Dih, ogah banget! Gue cuma kangen sama bebeb El!" ucap Sahira spontan dan langsung reflek menutup mulutnya.


"What? Bebeb??" Thoriq terkejut mendengar ucapan Sahira barusan.


Sahira tegang setengah mati, bisa-bisanya ia keceplosan bicara seperti itu di depan abangnya.




"Grey, lu baik-baik aja kan?" ucap Raisa yang kini sudah berada di dalam ruangan Grey dirawat.


Grey tersenyum tipis saat mengetahui sohibnya itu muncul disana, ia berusaha keras menutupi kesedihannya di hadapan Raisa.


"Gue baik-baik aja kok, seperti yang lu lihat sekarang. Eh ya, lu kesini sendiri? Gak sama Nisa atau Sahira?" ucap Grey menanyakan dimana dua sahabatnya yang lain.


"Eee iya gue sendiri Grey, soalnya Sahira tadi udah dijemput abangnya dan disuruh pulang. Padahal dia pengen banget kesini jenguk lu," ucap Raisa.


"Waduh, Sahira sampe segitunya. Gue aja udah mau pulang kok ini, harusnya lu gak perlu lah datang kesini segala!" ucap Grey.


"Yeh gapapa lah Grey, gue kan pengen tahu kondisi lu. Oh ya, terus gimana? Kata dokter yang tadi periksa lu, lu sakit apa Grey?" ucap Raisa cemas.


Grey terdiam menunduk, berpikir keras apakah ia harus memberitahukan yang sejujurnya pada Raisa mengenai kehamilannya atau tidak.


Tentu Grey merasa sangat malu jika Raisa tahu bahwa ia tengah mengandung anak dari pak Panca saat ini, apalagi kalau nantinya Raisa menyebarkan berita tersebut kemana-mana.


"Grey, kenapa lu malah diam? Jawab dong Grey, lu sakit apa!" ujar Raisa panik.


"Eee lu gausah panik gitu Rai! Gue kan udah baik-baik aja nih seperti yang lu lihat, tadi kata dokter juga gue ini cuma kurang istirahat. Ya mungkin karena kemarin-kemarin gue terlalu cemas sama masalah pak Panca itu," jawab Grey.


"Huh syukurlah kalau emang begitu! Gue jadi agak lega sekarang, kalo gitu berarti lu harus banyak-banyak istirahat Grey! Supaya lu gak pingsan lagi kayak tadi," ucap Raisa.


"Iya Rai, ini dokter juga minta gue buat istirahat dulu disini sampai kondisi gue pulih. Baru nanti gue bakal pulang ke rumah," ucap Grey tersenyum.


"Yaudah, gue temenin lu ya disini?" kata Raisa.


"Gausah lah Rai, gue bisa sendiri kok. Lu mending pulang dulu deh sana, gak enak lah kalo abis pulang sekolah terus lu langsung kesini. Ini lu aja masih pake seragam begitu," ucap Grey.


"Gapapa Grey, gak ada masalah juga kan kalau gue disini pake seragam sekolah." ucap Raisa.

__ADS_1


"Iya sih, tapi kan tetap aja gue ngerasa gak enak sama lu. Pasti lu capek abis pulang sekolah, mending lu istirahat aja di rumah!" ucap Grey.


"Udah santai aja! Pokoknya gue mau disini temenin lu! Titik gak pake koma!" tegas Raisa.


"Iya deh iya, makasih ya Raisa! Lu emang sahabat baik gue dah!" ucap Grey tersenyum renyah.


"Hehe sama-sama, Grey." ujar Raisa sambil nyengir.


Akhirnya Grey mengizinkan Raisa menemaninya disana, mereka pun tampak berbincang ria walau tentunya Grey masih merasa tidak enak pada Raisa karena telah membohonginya.




Sahira telah sampai di rumah sakit tempat Grey dirawat, kebetulan sekali gadis itu juga bertemu dengan Alzi yang baru saja ingin pulang.


"Eh eh kak Alzi tunggu!" teriak Sahira sembari berlari menghampiri pria tersebut.


"Sahira, ada apa?" tanya Alzi heran.


"Gue mau jenguk Grey, dia ada di ruangan mana ya?" ucap Sahira.


"Ohh Grey dirawat di kamar a, itu tempatnya ada di depan sana, dekat kok dari sini." ucap Alzi menunjukkan arah tempat Grey berada kepada Sahira.


"Oh gitu, yaudah makasih ya kak! Eh ini lu mau kemana?" ucap Sahira.


"Sama-sama. Gue mau pulang dulu, mandi terus ganti baju. Soalnya disana juga udah ada Raisa yang jagain Grey, dan Grey pun kondisinya udah membaik kok. Kata dokter, Grey juga cuma kurang istirahat aja." jelas Alzi.


"Alhamdulillah deh! Makasih juga ya kak karena udah bantu antar Grey kesini, lu baik deh!" ucap Sahira sambil tersenyum.


"Udah tugas gue buat bantu ke sesama manusia, apalagi Grey itu teman sekolah gue." kata Alzi.


"Iya sih,"


"Yaudah ya, gue mau balik dulu. Kalau misalnya nanti ada apa-apa sama Grey, kabarin gue ya!" ucap Alzi pamitan pada Sahira.


"Oke! Gue pasti kabarin lu kok! Hati-hati di jalan ya kak!" ucap Sahira.


Alzi mengangguk saja, kemudian beralih menatap Thoriq dan menyapanya sejenak sebelum berbalik pergi dari sana.


Sahira tersenyum memandangi punggung Alzi yang perlahan menjauh, Thoriq merasa heran dan mengusap wajah adiknya itu agar Sahira bisa tersadar dari lamunannya.


"Heh! Katanya mau jenguk temen, malah ngeliatin cowok lagi! Itu mata dijaga mata!" tegur Thoriq.


"Ih gue kan cuma ngeliatin doang, apa salahnya sih? Jangan-jangan lu cemburu ya bang?" goda Sahira.


"Halah ngaku aja kali! Kelihatan kok dari gelagat lu tadi bang, lu cemburu kan karena gue ngeliatin kak Alzi..." Sahira masih terus menggoda abangnya.


"Sekali lagi lu kayak gitu, gue tinggalin lu disini! Terus gue aduin ke ibu kalau lu ternyata suka sama gue!" ancam Thoriq.


"Dih, lu emang sukanya memutarbalikkan fakta ya! Yang suka sama gue tuh lu, gue mah gak pernah suka sama lu ya bang!" ujar Sahira.


"Ah masa?" goda Thoriq.


"Au amat dah! Gue mau jenguk Grey dulu, lu terserah mau kemana kek sana!" ucap Sahira.


"Gue ikut sama lu lah!" ucap Thoriq.


Sahira memutar bola matanya, kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan abangnya.


Thoriq tersenyum sejenak sembari menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka Sahira bisa menggodanya juga seperti tadi.




Sahira pun sampai di depan ruangan tempat Grey berada, ia langsung hendak masuk ke dalam sana dan menemui Grey karena sudah sangat penasaran dengan keadaan temannya tersebut.


Namun, Thoriq malah mencekal lengannya dari belakang dan menahannya disana.


"Tunggu!" ucap Thoriq tegas.


"Ish, lu kenapa sih bang? Gue mau masuk ke dalam buat cek kondisi Grey, jangan tahan gue dong!" ujar Sahira kesal.


"Santai dong! Gue cuma mau tanya sama lu, kalo lu masuk ke dalam terus gue gimana?" ucap Thoriq.


"Ya terserah lu mau gimana kek! Lu tunggu disini boleh, mau ke kantin atau ke kamar mandi juga silahkan! Asalkan lu jangan intilin gue masuk ke dalam rumah sakit, soalnya gue takut nanti lu malah ganggu si Grey lagi!" ucap Sahira.


"Yeh masa gue sendirian disini? Tega amat lu sama gue Sahira! Boleh ya gue ikut masuk ke dalam!" ucap Thoriq memohon.


"Lebay banget sih lu! Gue cuma sebentar kok di dalam, abis itu gue keluar lagi temuin lu. Kan kita mau ketemu sama ibu, jadi lu tunggu aja disini ya!" ucap Sahira.


"Yaudah deh, tapi awas ya kalau lama!" ujar Thoriq.


"Iya..."

__ADS_1


Thoriq tersenyum dan mencolek pipi Sahira, membuat gadis itu merasa risih.


"Ish udah udah! Gue mau masuk dulu, kalo kelamaan disini nanti malah makin lama kita bisa temuin ibunya!" ucap Sahira.


"Iya iya... salam ya buat teman lu itu, bilang ada gue yang ganteng ini di depan!" ucap Thoriq.


"Idih najis!" cibir Sahira.


Lalu, Sahira pun masuk ke dalam setelah berhasil melepaskan diri dari cengkraman Thoriq.


Sementara Thoriq tetap disana menunggu Sahira selesai menjenguk Grey sembari duduk.


Ceklek...


Grey dan Raisa kompak menoleh ke arah pintu begitu terdengar suara tersebut.


Mereka sama-sama terkejut melihat kehadiran Sahira disana.


"Sahira?" ucap Grey tak menyangka.


"Hai Grey! Gimana kondisi lu?" ucap Sahira mendekat ke arah dua sahabatnya itu.


"Gue udah membaik kok! Ini cuma tinggal istirahat aja sampai gue bisa pulang," jawab Grey.


"Iya Ra, Grey baik-baik aja kok kalo gue yang jagain mah! Dia pasti gak akan kenapa-napa!" ucap Raisa.


"Hahaha... bisa aja lu Rai!" ujar Grey tertawa.


"Syukurlah Grey! Gue tadi sempat panik banget pas dengar kabar kalo lu pingsan di sekolah terus dibawa ke RS sama kak Alzi, tapi untung aja lu gak kenapa-napa!" ucap Sahira.


"Iya, untungnya kak Alzi baik dan mau tolongin gue. Kalau enggak, mungkin kondisi gue belum bisa sebaik sekarang." kata Grey.


"Yaudah, sekarang lu banyak-banyak istirahat ya! Masalah lu sama pak Panca kan udah kelar tuh, jadi lu gak perlu pusing-pusing lagi mikirin dia!" ucap Sahira.


"Nah iya tuh, lu bisa fokus deh buat istirahat dan balikin imun tubuh lu!" sahut Raisa.


"Iya, thanks banget ya buat kalian berdua! Karena kalian udah mau jenguk gue," ucap Grey.


"Sama-sama Grey," ucap Sahira dan Raisa bersamaan.


Grey tersenyum dan seketika kembali terpikirkan mengenai kehamilannya itu.


"Kalian berdua salah! Masalah gue sama pak Panca belum selesai, dia emang udah di penjara, tapi bibitnya masih tumbuh di rahim gue sekarang." batin Grey bersedih.




Nawal dan ibunya masih berada di apartemen, mereka menanti kehadiran Thoriq serta Sahira yang memang diminta hadir disana.


"Bu, bang Thoriq kemana sih? Kok lama banget disuruh panggil si Sahira doang? Apa jangan-jangan Sahira gak mau kali ya Bu ketemu sama aku dan ibu disini?" tanya Nawal bingung.


"Sabar sayang! Gak mungkin lah Sahira begitu! Mungkin aja dia lagi ada urusan sebentar, kamu coba tunggu aja dulu ya!" jawab Ratna.


"Mau tunggu sampai kapan lagi, Bu? Aku udah males deh kalau lama begini! Mending dibatalin aja janjiannya!" ucap Nawal cemberut.


"Jangan dong sayang! Masa dibatalin sih?" ujar Ratna mencegahnya.


"Biarin aja Bu, abisnya aku kesel karena Sahira gak menghargai undangan ibu buat datang kesini! Harusnya kalau dia emang anggap ibu sebagai ibunya, dia datang dong kesini!" ucap Nawal.


"Gak gitu sayang, ibu kan udah bilang tadi barangkali dia lagi sibuk atau ada urusan lain. Jangan berprasangka buruk dulu ya sayang! Kita tunggu aja dulu!" ucap Ratna menenangkan.


"Gak bisa Bu, aku males!" ujar Nawal.


Akhirnya Nawal emosi dan beranjak dari sofa, ia hendak pergi memasuki kamarnya karena sudah bosan menunggu disana.


Akan tetapi, ponsel Ratna berdering dan ternyata ada telpon masuk dari Thoriq alias putranya.


"Eh tunggu sayang! Ini abang kamu telpon, barangkali ada kabar tentang Sahira." kata Ratna.


Nawal mengurungkan niatnya, ia berbalik dan menunggu ada kabar apa dari abangnya mengenai Sahira dan kelanjutan rencana mereka hari ini.


📞"Halo Thoriq! Kamu lagi dimana nak? Kok lama banget sih?" tanya Ratna cemas.


📞"Halo Bu! Aku masih di rumah sakit nih, aku lagi temenin Sahira yang mau jengukin temannya. Makanya aku telpon ibu sekarang, aku mau kasih tahu ke ibu kalau aku datangnya terlambat ke apartemen, karena harus temenin Sahira dulu." jawab Thoriq menjelaskan.


📞"Oalah pantas aja lama ya! Terus, kapan kamu mau bawa Sahira kesini? Kasihan nih Nawal udah nunggu kalian lama banget!" ucap Ratna.


📞"Iya Bu, ini sebentar lagi kok aku sama Sahira bakal kesana. Ibu tunggu aja ya disana, bilang sama Nawal juga kalau aku dan Sahira bakal kesana sebentar lagi!" ucap Thoriq.


📞"Yaudah, ibu bilangin ke Nawal nanti. Kamu hati-hati ya jalannya!" ucap Ratna.


📞"Iya Bu siap!" ucap Thoriq.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2