Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Traktiran Sahira


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 103.




Nawal datang membawakan secangkir kopi panas untuk abangnya.


Gadis itu menaruh gelas kopi di atas meja, lalu duduk di samping Thoriq yang sedang fokus menonton tv dan menikmati kue bikinan ibunya.


"Bang, ini kopinya." kata Nawal.


"Ah iya, makasih ya Nawal!" ucap Thoriq tersenyum tipis dan langsung mengambil gelas itu.


"Eh tunggu bang! Itu masih panas, nanti bibir lu melepuh loh!" ucap Nawal.


"Oh iya ya..." Thoriq baru menyadari bahwa kopi itu panas, ia pun menaruh kembali gelasnya di meja.


"Btw, ini kopi lu yang bikin sendiri apa dibantuin sama ibu?" tanya Thoriq penasaran.


"Eh buset malah nanya begitu! Gue bikin sendiri lah bang, yakali bikin kopi aja mesti dibantuin ibu! Kalo lu gak percaya nih, nanti deh tanya sama ibu!" ujar Nawal agak kesal.


"Hahaha... biasanya aja kali gausah ngegas gitu! Nanti cantiknya ilang loh. Lagian gue kan cuma nanya, kalo emang lu bikin sendiri ya bagus dong berarti lu ada peningkatan dalam skill membuat kopi!" ujar Thoriq terkekeh.


"Terserah lu aja deh bang!" cibir Nawal kesal.


Thoriq menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, sedangkan Nawal membuang muka dan menampilkan wajah cemberutnya.


"Eh ya bang, gue masih bingung deh sama penjelasan ibu kemarin." kata Nawal.


"Hah? Penjelasan yang mana?" tanya Thoriq bingung.


"Itu loh bang, soal Sahira." jawab Nawal.


"Ohh... Sahira tuh saudara tiri lu, Nawal. Kalian satu ibu, cuma beda bapak aja. Eh kalo kayak gitu namanya saudara tiri atau tetap saudara kandung sih? Gue bingung deh," ucap Thoriq.


"Yeh gue nanya sama lu, eh lu malah ikutan bingung juga. Gimana sih bang!" ujar Nawal.


"Hehe... maklumlah, gue kurang ngerti yang begituan. Udah, intinya Sahira sama Jordan itu saudara kita dan kita harus damai sama mereka, gak boleh ribut sesama saudara! Gimana? Udah paham belum lu?" ucap Thoriq.


"Iya bang iya... tapi, bokapnya si Sahira itu siapa? Kan kalo kita punya papa Fred, nah dia punya juga kan pasti." tanya Nawal penasaran.


"Eee lu jangan tanya begitu ya ke Sahira kalo ketemu nanti! Gue gak mau nantinya malah jadi masalah diantara kalian, mending lu tanya yang lain aja deh!" ucap Thoriq.


"Kenapa sih bang? Apa salahnya?" tanya Nawal.


"Gak ada, udah lu nurut aja sama gue jangan bantah!" tegas Thoriq.


"Huft, iya iya..." Nawal mendengus kesal.


Thoriq tersenyum, kemudian menyeruput kopinya yang sudah mulai agak dingin.


Sluurrpp...


"Ahh enak juga kopi buatan lu!" ujarnya.


"Oh jelas dong! Gue gini-gini kan jago buat kopi, tiap pagi di Amerika juga gue bikinin kopi tau buat papa." ucap Nawal dengan bangga.


"Iyain aja deh, padahal mah ini kopi sachetan. Ya kan?" ujar Thoriq nyengir.


"Eee iya sih..." Nawal garuk-garuk kepala sambil nyengir sedikit.


Lalu, Ratna muncul dari dapur sehabis selesai membersihkan peralatan masak disana.


Ratna pun ikut duduk bersama putra-putrinya, ia juga penasaran dengan apa yang diobrolkan oleh keduanya sedari tadi.


"Ehem ehem... pada ngobrolin apaan sih kalian? Kok kelihatannya serius banget daritadi? Mama jadi kepo nih, kasih tahu dong!" ujar Ratna.


"Enggak ada yang serius kok, mah. Orang kita cuma bahas soal kopi, ya kan bang?" ucap Nawal.


"Iya mah, soalnya ini si Nawal bikin kopi sachet aja sombongnya bukan main. Padahal anak bayi juga bisa seduh kopi beginian mah," ujar Thoriq terkekeh.


"Dih, mana ada gitu!" protes Nawal.


"Sudah sudah! Kalian hari ini gak ada acara atau mau pergi kemana gitu? Nawal, kamu kan baru datang ke Indonesia, gak mau keliling-keliling?" tanya Ratna.


"Sebenarnya aku mau sih, mah. Tapi, masalahnya aku tuh masih capek. Kan aku baru sampai semalam," jawab Nawal.


"Oh iya sih, yaudah kalo gitu kamu istirahat aja dulu! Besok kalo ada waktu baru deh kita jalan-jalan bareng sama Sahira dan Jordan juga, biar kamu bisa tau kota Jakarta." jaga Ratna.


"Kenapa harus sama mereka? Emang gak bisa kita bertiga aja gitu?" tanya Nawal tak suka.


"Ya gak harus sih sayang, tapi kan mama maunya kita sekeluarga lengkap gitu perginya. Sahira dan Jordan itu kan saudara kamu, kenapa kamu kelihatan gak senang gitu sih jalan-jalan sama mereka?" ucap Ratna.


"Bukan gak seneng, aku males aja harus pergi sama mereka! Kalau bisa bertiga, kenapa harus beramai-ramai?" ujar Nawal.


Ratna melirik ke arah Thoriq, menghela nafas sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Nawal yang sepertinya sangat tidak menyukai Sahira maupun Jordan.


"Apa yang akan terjadi nantinya ya? Aku jadi khawatir Nawal dan Sahira saling membenci, biar gimanapun mereka itu sama-sama putriku. Aku tidak mau mereka bertengkar!" batin Ratna.

__ADS_1




"Apa? Keira pingsan kemarin? Kok bisa sih? Emang dia kenapa El?" tanya Sahira kaget.


"Iya Sahira, gue juga gak tahu penyebabnya apa. Tapi, yang pasti sih kata dokter Keira itu kecapekan dan kurang istirahat." jawab Elargano.


"Ini pasti gara-gara lu nih!" tuduh Sahira.


"Lah kok jadi gue? Apa salah gue coba?" tanya El keheranan.


"Ya pasti lu sering ajak Keira jalan keluar, sampai dia kurang istirahat. Emang ya, lu itu pacar yang gak bisa jagain ceweknya. Harusnya lu jangan kayak gitu dong El!" jawab Sahira.


"Apaan sih? Gue sama Keira aja jarang bepergian, gimana ceritanya dia bisa kurang istirahat gara-gara gue? Gausah ngada-ngada deh lu! Lagian kata dokter, Keira itu kecapekan karena dia sering begadang." kata Elargano.


"Nah, dia begadang pasti gara-gara ditelpon terus sama lu kan! Gue tahu El, semua yang terjadi sama Keira tuh ulah lu!" ucap Sahira.


"Ini anak sumpah ngeselin banget ya! Kalo nuduh suka seenaknya aja," ujar Elargano.


"Gue gak nuduh, itu semua fakta." kata Sahira.


"Iya dah serah lu aja, yang penting lu bahagia!" ucap Elargano memalingkan wajah.


"Dih gak mau ngaku!" cibir Sahira.


"Sahira!" tiba-tiba saja ada seseorang yang menyebut nama gadis itu dari belakang.


Sontak Sahira serta El pun menoleh secara bersamaan ke asal suara, mereka terkejut saat melihat Grey tengah berdiri disana sambil tersenyum dan melambai ke arah mereka.


"Grey? Ya ampun! Lu udah sekolah lagi Grey?" ucap Sahira tampak gembira.


"Iya Sahira, ini hari pertama gue sekolah setelah kejadian itu. Gue mau ucapin terimakasih sama lu dan kak El, karena kalian udah bantuin gue buat tangkap pak Panca!" ucap Grey tersenyum.


"Sama-sama Grey, serius deh gue senang banget ngeliat lu bisa sekolah lagi! Welcome back ya Grey!" ucap Sahira.


Grey mengangguk sambil tersenyum, lalu terjadilah adegan pelukan disana antara Grey dan juga Sahira.


Elargano hanya bisa diam memandangi kedua gadis yang tengah berpelukan itu, ingin hati ia ikut berpelukan bersama mereka, namun pastinya Sahira akan langsung menghajarnya.


"Eh Grey, kita ke kantin bareng yuk! Gue traktir lu kali ini, anggap aja syukuran karena lu udah kembali ke sekolah." kata Sahira.


"Loh, jangan dong Sahira! Harusnya kan gue yang traktir lu!" ucap Grey menolak.


"Gapapa Grey, mumpung gue lagi mau traktir orang tau." kata Sahira sedikit memaksa.


"Sahira, gue ditraktir juga kagak?" celetuk El.


Grey hanya cekikikan mendengar ocehan Sahira, sedangkan El memalingkan wajahnya.


"Udah yuk Grey kita cabut sekarang!" pinta Sahira menggandeng tangan Grey.


"Oke!" Grey mengangguk setuju.


Lalu, dua gadis itu pun melangkah maju meninggalkan Elargano menuju kantin sekolah.


El tersenyum memandangi punggung keduanya, kemudian bergerak dari tempatnya berniat mengejar mereka.


Namun, ada seseorang yang menahannya dari samping dan membuat El tidak bisa mengejar Sahira maupun Grey.


"Heh tunggu!" ujarnya.


El terkejut, ia menoleh ke samping memastikan siapa yang muncul mencekal lengannya.


Itu adalah Farhan, lelaki saingannya dalam upaya mendekati Sahira.


"Mau apa sih lu?" ujar El ketus.


"Gue pengen bicara sebentar sama lu, empat mata. Kalo lu laki, harusnya lu ikut sama gue dan kita selesaikan masalah ini!" ucap Farhan tegas.


"Masalah apa yang lu maksud?" tanya El heran.


"Gue tahu El, lu suka kan sama Sahira?" ucap Farhan menatap El penuh kekesalan.


"Eee..." El tidak bisa menjawab pertanyaan Farhan, ia justru hanya menunduk dan membuang muka.


"Lu gak bisa bohong dari gue, gue tahu gelagat lu kok. Lu jujur aja sama gue, lu suka kan sama Sahira!" ujar Farhan memaksa El.


"Yaudah, terus kalo gue emang suka sama Sahira, kenapa? Masalah buat lu?" ujar El.


Kali ini Farhan terdiam, kemudian mengeluarkan senyum smirk nya sembari melepas genggaman tangannya dari Elargano.


"Sesuai dugaan," ujarnya singkat.




Singkat cerita, Sahira dan Grey sudah tiba di kantin. Mereka memesan makanan serta minuman sesuai keinginan karena kali ini Sahira lah yang membayar.

__ADS_1


Grey tampak antusias sekali, itu karena dia sudah cukup lama tidak bersekolah seperti sekarang.


"Ra, makasih banyak ya lu mau traktir gue! Lu itu emang sahabat yang terbaik, gue gak salah punya sahabat kayak lu." kata Grey sambil tersenyum.


"Sama-sama Grey, gue juga senang kok bisa traktir lu sekarang. Kan udah lumayan lama kita gak duduk di kantin berdua kayak gini, jadi sesekali gue mau lah traktir sohib gue yang kece ini." kata Sahira.


"Hahaha... gue masih gak bisa kebayang deh Ra kalo gak ada lu sama kak El, mungkin aja sampai sekarang gue masih dihantui rasa cemas karena ancaman dari pak Panca." ucap Grey.


"Lu gak perlu kayak gitu! Gue sama El kan cuma membantu sesama manusia," ucap Sahira.


Tak lama setelah pesanan mereka tiba, Anisa bersama Raisa juga muncul disana dan mengagetkan keduanya.


"Woi!" ucap Raisa mengejutkan Sahira serta Grey.


"Ya ampun Rai! Lu itu bener-bener ya! Kenapa sih lu pake ngagetin gue segala!" geram Sahira.


"Hehe, sorry Sahira!" ujar Raisa sambil nyengir.


Sahira coba menetralkan jantungnya yang sempat berdetak kencang, sedangkan Grey hanya diam tersenyum menikmati minumannya.


"Eh ya, gue sama Anisa boleh gabung kan disini?" tanya Raisa.


"Boleh, tapi Anisa aja. Khusus lu gak boleh, karena lu udah bikin jantung gue hampir copot tadi!" jawab Sahira ketus.


"Yah kok lu pilih kasih gitu sih Sahira? Gue itu kan sahabat terbaik lu, gue yang selalu ada disisi lu. Masa lu gak bolehin gue gabung disini?" ujar Raisa.


"Hadeh terbaik apanya? Buktinya tadi aja lu ngagetin gue begitu!" ujar Sahira.


"Ya itu kan bercanda Sahira, gue iseng aja biar lu gak terlalu serius." kata Raisa.


"Ah serah lu deh! Yaudah, sini duduk lu berdua!" ucap Sahira.


"Asik ditraktir sama Sahira!" ujar Raisa tampak gembira dan langsung duduk disana.


"Hah? Lu tahu darimana kalo gue lagi traktir Grey?" tanya Sahira kaget.


"Emangnya iya lu traktir si Grey? Gue tadi tuh cuma berharap ditraktir sama lu, eh ternyata beneran lu lagi traktir Grey. Kalo gitu kita sekalian ditraktir juga ya," ucap Raisa nyengir.


"Haish, salah bicara gue." kata Sahira.


"Hahaha..." ketiga gadis itu kompak tertawa.


"Eh ya btw, welcome back Grey! Jujurly gue senang banget bisa ngeliat lu di sekolah lagi!" ucap Raisa menatap wajah Grey.


"Thanks Rai! Gue juga senang bisa ketemu sama kalian lagi disini!" ucap Grey tersenyum.


Setelahnya, gadis-gadis cantik itu pun lanjut memakan makanan mereka sembari berbincang ria dan tertawa layaknya tongkrongan wanita pada umumnya.


Tanpa disadari oleh mereka, ada Riki bersama teman-temannya yang mengintip dari jauh dan tampak memperhatikan mereka berempat disana.


"Rik, si Grey udah balik sekolah tuh. Apa lu mau melancarkan aksi lu sekarang?" bisik Justin.


"Sabar Tin! Kalau sudah waktunya, gue pasti bakal kasih tahu kalian kok." jawab Riki.


"Siap Rik!" ucap Justin mengangguk.


Riki tersenyum smirk dan sedikit mengangkat kepalanya.


"Lu sekarang bisa senang-senang Grey, tapi gak akan lama. Karena gue udah punya senjata buat bikin lu jatuh sejauh-jauhnya!" batin Riki.




Nur menyiapkan makan siang untuk suaminya di meja makan, ia sudah memasak cukup banyak makanan demi menyenangkan suaminya saat ini.


Tentu saja Jordan amat senang, ia memeluk Nur dari belakang sembari menghirup aroma tubuh istrinya itu dan bermesraan sebentar disana.


"Kamu itu emang istri sempurna, udah cantik terus jago masak lagi. Gak salah aku pilih kamu buat jadi istri sayang, i love you..." ucap Jordan.


"Kamu bisa aja mas! Jangan begini ah, aku jadi malu tau! Gimana kalau nanti dilihat sama bibik? Kan aku bisa tambah malu," ucap Nur berusaha melepaskan tangan Jordan, tapi gagal.


"Udah gapapa, santai aja!" ujar Jordan.


Tampaknya Jordan sudah nyaman memeluk Nur dan terus bertahan dalam posisi seperti ini.


Nur tak memiliki pilihan lain, ia membiarkan saja suaminya bermanja padanya lebih dulu.


"Mas, kamu gak mau langsung makan apa?" tanya Nur.


"Nanti dulu, aku masih pengen peluk kamu. Abisnya kamu enak banget sih buat dipeluk," jawab Jordan sambil terpejam.


"Hadeh, iya deh mas." ujar Nur.


Ting nong ting nong...


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, membuat Nur agak cemas dan berusaha melepaskan pelukan tersebut agar ia bisa membuka pintu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2