Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Ditembak lagi


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 134.




Setelah selesai makan, kini El mulai berbicara kepada Keira untuk dapat menyelesaikan masalah diantara mereka.


Namun, Keira masih tetap bersikap sama seperti sebelumnya. Ya gadis itu tak mau berbicara atau sekedar melihat ke arah El disana.


"Sayang, kamu lihat ke arah aku dong sebentar aja! Aku kan lagi bicara sama kamu," pinta El.


"Buat apa? Kita kan udah selesai makan, aku mau pulang sekarang!" ucap Keira.


"Yah jangan dong sayang! Kita kan belum bicara tau, masa udah mau pulang aja?" ujar El.


"Bicara apa lagi sih? Aku kan udah bilang, aku lagi malas bicara sama kamu!" ucap Keira.


"Iya iya, tapi please kali ini aja kamu mau bicara sama aku sayang!" ucap El memohon.


"Maaf gak bisa, aku harus pergi sekarang juga!" ucap Keira hendak beranjak dari kursinya.


Namun, El berhasil mencekal lengan gadis itu dan menahannya untuk tetap disana bersamanya.


"Tunggu sayang, jangan pergi!" pinta El.


"Kamu kenapa sih? Aku tuh capek mau istirahat di rumah, aku males juga harus ngobrol sama kamu disini!" ucap Keira.


"Terus kamu maunya kita bicara dimana sayang? Di rumah aku?" tanya El sambil tersenyum.


"Ya enggak lah, aku maunya pulang dan gak mau bicara sama kamu. Lagian menurut aku udah gak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya udah jelas El." ucap Keira ketus.


"Jelas gimana? Kamu itu masih salah paham loh sama aku dan Sahira, jadi kita harus selesaikan semuanya sekarang juga!" ujar El.


"Yaudah, cepetan kamu ngomong!" pinta Keira.


"Aku sama Sahira itu gak ada apa-apa, kita cuma sebatas teman. Kamu kan tahu sendiri, aku cinta sama kamu. Mana mungkin aku menjalin hubungan lebih dengan Sahira?" ucap El.


"Masa sih? Terus gimana kamu jelasin soal suap-suapan di kamar Sahira itu?" tanya Keira.


"Ohh, itu mah aku cuma mau bikin Sahira terhibur aja sayang. Aku gak ada maksud apa-apa sayang, kamu jangan cemburu ya!" jawab El.


"Gimana bisa aku gak cemburu kalau pacar aku suap-suapan sambil ketawa-ketawa bareng perempuan lain di depan mata aku?" ujar Keira.


"Iya okay, aku minta maaf ya sama kamu sayang! Aku gak bermaksud bikin kamu cemburu, emang sih seharusnya aku gak berbuat kayak gitu sama Sahira. Maafin aku ya cantik!" ucap El.


"Aku udah maafin kamu kok," ucap Keira singkat.


"Lalu, kenapa kamu masih marah dan jutek gitu sama aku?" tanya El heran.


"Gak ada yang marah atau jutek kok," elak Keira.


"Terus kenapa kamu lebih banyak diam dan gak kayak biasanya? Kamu juga gak mau bicara sama aku, itu apa artinya kalau bukan marah?" ujar El.


"Aku gak marah kok, itu cuma kesel aja karena kamu dekat banget sama Sahira." kata Keira.


El tersenyum, kemudian menarik tangan Keira ke dekatnya dan mengecupnya lembut sembari mengusap rambut gadis itu perlahan.


"Kamu cantik banget sih!" ucap El.


"Udah gak ada yang mau kamu bicarain lagi kan? Kalo gitu aku mau pergi sekarang, kamu tolong jangan tahan aku lagi ya!" ucap Keira.


Keira kembali menarik tangannya lepas dari genggaman El dan bangkit dari duduknya bersiap untuk pergi.


"Sayang, jangan pergi dong!" ucap El memohon.


"Kenapa lagi El? Kamu kan udah bicara semuanya tadi, dan aku juga udah ngerti kok kalau antara kamu sama Sahira gak ada apa-apa. Jadi, aku mau pulang sekarang." kata Keira.


"Yaudah, aku antar kamu pulang ya? Aku gak bisa biarin kamu pergi sendiri," ujar El.


"Emangnya kenapa? Aku lebih senang pergi sendiri kok daripada diantar sama kamu," ucap Keira.


"Jangan lah sayang, aku antar aja ya!" bujuk El kembali memegang dua tangan Keira.


"Haish, yaudah iya terserah kamu!" ucap Keira.


"Nah gitu dong!" ucap El tersenyum senang.




Farhan dan Sahira baru tiba di depan restoran, mereka bertatapan sejenak sebelum turun dari mobil itu.


Entah mengapa Farhan selalu merasa nyaman saat menatap wajah Sahira dan menggenggam tangan gadis itu.


"Kamu gak keberatan kan kalau aku pegang tangan kamu?" tanya Farhan seolah meminta izin.


"Tentu tidak, untuk apa aku harus keberatan? Kamu juga udah sering pegang tangan aku," jawab Sahira.

__ADS_1


"Ahaha, iya juga sih. Yaudah, kalo gitu berarti kamu gak masalah kan kalau kita masuk ke restoran itu sambil gandengan tangan?" ucap Farhan.


"Kenapa gitu?" tanya Sahira menggoda.


"Ya gak kenapa-napa sih, aku cuma pengen sesuatu yang beda aja gitu. Soalnya kan selama ini aku gak pernah jalan sambil pegang tangan cewek, eh pernah sih tapi ceweknya itu mama aku." ucap Farhan sambil terkekeh kecil.


"Hahaha, berarti kamu cowok baik-baik ya?" ucap Sahira tertawa pelan.


"Gak juga sih, aku sadar diri aku belum baik banget. Aku masih suka berbuat salah juga, tapi apapun itu aku selalu berkomitmen untuk tidak menyakiti hati wanita." ucap Farhan.


"Oh gitu, bagus deh!" ucap Sahira.


Farhan tersenyum dan terus memandangi wajah Sahira dengan tatapan penuh arti, Sahira dapat merasakan cinta dari pandangan mata pria itu.


"Ayo kita turun!" ucap Farhan singkat.


Sahira mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari mobil dan berjalan bersama menuju ke dalam restoran tersebut dengan bergandengan tangan.


Sahira memang sengaja membiarkan Farhan menyentuh tangannya, ia juga sedang berusaha membuka hati untuk pria tersebut.


"Semoga aja dengan kedekatan gue sama Farhan, bisa bikin El sadar dan gak deketin gue terus! Selain itu, semoga hubungan El sama Keira langgeng dan gak ada masalah lagi!" batin Sahira.


Sahira terkejut saat Farhan mencolek dagunya, ia reflek menoleh ke arah pria itu dengan heran.


"Kamu ngapain sih colek-colek begitu?" tanya Sahira agak kesal.


"Gak kok, iseng aja. Abisnya kamu diem mulu kayak gitu, mikirin apa sih?" jawab Farhan sambil tersenyum renyah.


"Eee aku..." Sahira tampak gugup dibuatnya.


"Gausah bingung gitu, aku paham kok. Kamu pasti gak nyaman ya kalau aku gandeng tangan kamu begini? Mau aku lepas?" potong Farhan.


"Bu-bukan gitu, aku nyaman-nyaman aja kok. Udah, kamu gak perlu lepas gandengannya ya!" ucap Sahira justru mengeratkan genggaman tangan Farhan padanya.


"Oh oke, ini kamu yang minta ya bukan aku yang paksa." kata Farhan.


"Iya," ucap Sahira tersenyum singkat.


Disaat mereka hendak memasuki restoran itu, tanpa sengaja mereka justru berpapasan dengan El serta Keira yang baru keluar dari sana.


Tentu saja mereka merasa kaget sekaligus syok, tak menyangka jika tempat yang mereka datangi ternyata juga didatangi oleh El dan Keira.


"Eh ada kalian berdua juga ternyata, udah mau pulang ya?" ucap Farhan.


El hanya diam menatap Sahira di depannya, matanya juga mengarah ke arah tangan sang gadis yang tengah bergandengan dengan Farhan.


"Farhan, ayo kita masuk aja ke dalam! Aku gak mau lama-lama disini, panas tau. Lagian kita kan mau makan siang, bukan bengong disini." pinta Sahira dengan nada manja pada Farhan.


"Oh iya, yaudah yuk masuk!" ucap Farhan.


Farhan dan Sahira pun langsung melangkah melewati sepasang kekasih di hadapan mereka tanpa berbicara apa-apa lagi.


"Kenapa El? Kamu sakit hati ya lihat Sahira jalan sama cowok lain?" tanya Keira curiga.


"Hah? Enggak lah sayang, kamu ngada-ngada aja deh. Yuk aku antar kamu pulang!" jawab El berbohong.


Sesekali El menoleh ke belakang, tanpa diduga Sahira juga melakukan hal yang sama hingga mata keduanya bertemu.


"Sahira, kalau memang benar kamu sudah pacaran sama Farhan, aku cuma bisa doakan yang terbaik buat kamu! Semoga Farhan pilihan yang tepat untuk kamu!" batin El.




Singkat cerita, Farhan dan Sahira baru selesai menghabiskan makan mereka disana.


Pria itu pun tampak tersenyum menatap Sahira yang sedang meminum minumannya.


"Kamu kenapa? Ada yang salah ya sama aku?" tanya Sahira keheranan.


"Ah enggak, aku cuma terpesona dengan kecantikan kamu. Makin lama dilihat, makin aku cinta sama kamu!" jawab Farhan.


"Hah??" Sahira terkejut dan nyaris tersedak.


"Iya, aku semakin yakin kalau aku ini cinta sama kamu." ucap Farhan seraya meraih satu tangan Sahira dan digenggamnya dengan dua tangan miliknya.


"Sahira, kamu mau kan jadi pacar aku?" ucap Farhan bertanya pada Sahira penuh harap.


Sahira masih melongok lebar mendengar ucapan Farhan, biarpun ia memang sudah tau kalau pria itu menyukainya karena dulu pun Farhan sudah pernah menyatakan cinta kepadanya.


"Eee pacar? Kalau kita bisa jadi sahabat dekat yang selalu bersama dikala senang maupun susah, kenapa kita harus pacaran?" ucap Sahira.


"Itu beda arti Sahira, aku mau kedekatan kita ini diberi status yang jelas. Supaya aku juga bisa putuskan kemana hubungan kita nantinya, dan apa aku harus tetap mempertahankan rasa cintaku ini atau enggak." kata Farhan.


"Maaf Farhan! Sebenarnya aku juga pengen kita berdua punya hubungan khusus, tapi gak tahu kenapa aku masih ragu untuk itu. Tolong beri aku waktu, sampai aku bisa mengerti sikap kamu!" ucap Sahira.


"Okay, aku akan sabar menanti sampai kamu dapat menentukan pilihan kamu. Aku juga akan tunjukkan ke kamu, kalau aku ini bisa menjadi pasangan yang baik untuk kamu!" ucap Farhan.


"Semoga aja ya!" ucap Sahira tersenyum.

__ADS_1


Farhan mengangguk pelan sembari mengelus punggung tangan Sahira yang ada dalam genggamannya.


"Yaudah, kamu mau pulang sekarang? Biar aku antar kamu ke rumah, ya?" tanya Farhan.


"Umm, apa enggak ngerepotin kamu? Takutnya kamu ada urusan atau apa gitu," ujar Sahira.


"Enggak kok, aku mana pernah ngerasa direpotin sama kamu? Justru aku senang karena aku bisa anterin wanita yang aku sayang ini pulang," ucap Farhan.


"Ah bisa aja! Oke deh, kalo gitu aku mau diantar sama kamu." kata Sahira.


"Makasih ya Sahira! Sebentar, aku bayar dulu semua makanan ini." ucap Farhan.


"Iya," ucap Sahira singkat.


Farhan melepas genggamannya, lalu memanggil pelayan dan membayar semua makanan yang ia pesan termasuk milik Sahira.


Sementara Sahira masih memikirkan pertemuan yang tidak disengaja tadi antara dirinya dengan El dan Keira di depan restoran itu.


"*El udah kelihatan dekat sama Keira lagi, apa mungkin mereka udah baikan ya?" batin Sahira.


"Semoga aja benar deh kalau mereka udah baikan! Jadi, aku gak perlu merasa bersalah lagi." sambungnya*.


Setelah selesai membayar, Farhan kembali menatap Sahira dan tampak penasaran melihat Sahira lagi-lagi melamun seperti itu.


"Ehem ehem.." Farhan berdehem pelan hingga membuat Sahira terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Ah iya, udah bayarnya?" tanya Sahira kaget.


"Udah kok barusan. Kamu lagi ngelamunin apa sih? Kayaknya serius banget, sampai-sampai kamu gak sadar kalau aku udah selesai bayarnya." ucap Farhan penasaran.


"Eee bukan apa-apa, udah yuk kita pulang sekarang aja!" ucap Sahira mengalihkan pembicaraan.


Sahira langsung beranjak dari kursinya dan mengajak Farhan untuk segera pulang.


"Oh oke, kamu gak sabar ya pengen ketemu sama ibu kamu di rumah?" ujar Farhan.


"Iya, itu dia." jawab Sahira asal.


Akhirnya mereka pun keluar dari restoran itu dan kembali ke mobil.


Namun, Sahira masih saja memikirkan tentang El dan Keira yang tadi ia temui disana.


Entah mengapa Sahira belum bisa tenang, karena ia belum mendapat maaf dari sahabatnya itu.




Keira telah sampai di rumahnya bersama El yang mengantarnya, gadis itu langsung hendak turun dari mobil begitu mereka tiba tepat di depan gerbangnya.


Namun, El segera mencekal lengan Keira dan tak membiarkan gadis itu pergi begitu saja.


"Tunggu dulu sayang!" ucap El.


"Kenapa lagi? Aku capek mau istirahat, tolong jangan tahan aku!" ujar Keira.


"Iya iya, aku ngerti sayang. Tapi, kamu beneran kan udah gak marah lagi sama aku?" ucap El.


"Kamu gausah takut, kan daritadi juga aku udah bilang kalau aku gak marah. Kamu jangan tahan-tahan aku lagi ya!" ucap Keira.


"Bagus deh, kalo gitu aku boleh kan ikut masuk ke dalam rumah kamu?" tanya El.


"Hah? Mau ngapain kamu ikut masuk sayang?" ucap Keira terkejut.


"Duh, mleyot deh aku dipanggil sayang sama kamu. Tapi syukur deh, itu artinya kamu emang benar udah maafin aku." ucap El sembari mencolek pipi Keira.


"Yaudah El, kamu pulang aja ya! Buat apa sih kamu masuk ke rumah aku segala? Disana gak ada papa atau mama, jadi kamu mau apa?" ucap Keira.


"Oh ya? Wah kebetulan dong!" ucap El ceria.


"Kebetulan apa maksudnya?" tanya Keira.


"Ya gapapa, kebetulan aja. Udah yuk aku antar kamu sampai ke dalam!" jawab El.


"Enggak ah! Aku tau pikiran kamu, pasti kamu mau berbuat yang enggak-enggak kan!" ujar Keira.


"Kamu kok mikirnya gitu sih? Gak mungkin lah aku kayak gitu, aku ini kan lelaki baik-baik tau. Aku cuma mau anterin kamu sampai ke dalam rumah sayang, soalnya kan kata kamu di dalam gak ada orang makanya aku harus pastiin kamu baik-baik aja sayang!" ucap El.


"Terserah kamu aja lah!" ucap Keira pasrah.


El pun mendekatkan wajahnya ke arah Keira sembari menarik dagu gadis itu dan secara tiba-tiba mengecup bibir Keira sekilas.


Cupp!


Keira melongok lebar seakan tak percaya kalau ia baru saja dicium oleh kekasihnya yang sebenarnya sudah membuatnya kecewa.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2