
#SangPemilikHati Episode 47.
•
•
Keira masih berada di rumah Sahira, sahabat masa kecilnya dulu yang sangat ia rindukan. Mereka tampak menikmati santap siang yang sudah disediakan oleh pelayan disana, kebetulan memang Jordan memilih mempekerjakan seorang pelayan untuk membantu istrinya beberes rumah.
Biarpun begitu, tetap saja Nur masih ikut memasak karena tak bisa jika harus diam saja sesuai arahan dari Jordan, menurutnya hal tersebut sungguh membosankan dan ia ingin melakukan kegiatan walau hanya memasak.
Nur pun ikut bergabung bersama dua gadis remaja itu, ia mengobrol santai sembari menikmati kue.
"Jadi kalian ini udah sahabatan dari waktu umur lima tahun?" tanya Nur penasaran.
"Iya kak, benar! Waktu itu Keira datang ke komplek perumahan di dekat rumah ku yang dulu, terus sejak itu kita kenalan deh dan barengan terus sampai SD!" jawab Sahira tersenyum.
"Hooh, sayangnya gak lama setelah itu kita malah berpisah karena aku harus pergi ke luar negeri buat berobat sama mama papa!" sahut Keira.
"Oh jadi begitu cerita kalian berdua? Pantas aja aku lihat kalian ini deket banget, pasti kalian pada kangen ya sama masa-masa kecil kalian dulu? Beruntung banget ya karena kalian masih bisa dipertemukan kembali saat ini!" ucap Nur.
"Bener banget kak! Aku ini kangen banget sama Keira, hampir tiap malam aku selalu peluk boneka ini dan berharap Keira bisa kembali bersamaku! Eh akhirnya doaku dikabulkan sama Tuhan!" ucap Sahira.
"Yaudah, sekarang kalian kan udah ketemu nih, jaga selalu ya persahabatan kalian! Jangan sampai kalian bertengkar hanya karena masalah kecil, ingat loh kalian kan sahabat lama!" ucap Nur.
"Siap kak!" ucap Sahira dan Keira bersamaan.
Tak lama kemudian, Jordan datang ke rumah setelah puas bekerja mencari uang dan langsung menuju meja makan menghampiri ketiganya.
"Selamat sore semua!" ucap Jordan menyapa mereka sambil tersenyum.
Sontak Sahira, Keira dan juga Nur menoleh ke arah Jordan lalu bangkit secara bersamaan bersalaman dengan pria tersebut.
"Sore bang/mas!" ucap mereka serentak.
Jordan tampak keheranan begitu melihat Keira, ya karena baru kali ini ia bertemu dengan gadis itu.
"Loh, dia siapa Sahira?" tanya Jordan bingung.
"Halo bang! Masa bang Jordan gak ngenalin aku sih?" ucap Keira terkekeh.
"Tau ih, coba lihat dengan teliti bang!" sahut Sahira.
Jordan pun menatap seluruh tubuh Keira secara rinci dari atas sampai bawah, ia coba mengenali sosok gadis tersebut. Namun, nampaknya Jordan masih sulit untuk mengenali siapa gadis di depannya itu.
"Hah? Gue emang pernah ketemu sama dia? Perasaan baru kali ini lu bawa dia ke rumah, udah sih lu kenalin aja dia ke gue Sahira!" ucap Jordan.
"Hahaha, payah dasar! Dia ini Keira, bang! Teman kecil aku dulu, yang selalu nemenin aku dan main sama aku kalau abang lagi kerja! Gimana? Sekarang udah inget belum?" jawab Sahira sambil memegang dua pundak Keira.
Keira pun tersenyum ke arah Jordan, lalu mendekat dan mencium punggung tangan pria itu.
"Iya bang, aku Keira temannya Sahira yang dulu! Bukan cuma dulu sih, tapi seterusnya!" ucap Keira.
"Ohh ya ampun! Iya sekarang gue inget sama lu, ya ampun Keira lu makin cakep aja sih! Pas kecil udah cantik, eh gedenya tambah cantik! Kok bisa sih kalian ketemu lagi? Gimana ceritanya?" ujar Jordan.
Sahira dan Keira saling melirik satu sama lain sambil tersenyum, lalu Keira meminta pada Sahira untuk menjelaskan semuanya pada Jordan.
"Eee jadi gini bang...."
•
•
Sementara itu, Elargano yang tengah kesepian memilih pergi ke danau untuk merenung dan menghibur dirinya selagi tidak ada Keira sang kekasih yang bisa menemani dirinya disana.
Pria itu berdiri tepat di pinggir danau, menatap air yang tenang namun jangan disangka tak ada buaya itu dengan dingin. Elargano menaruh dua tangannya di saku celana, lalu menghembuskan nafas kasar.
"Haahh... gue gak nyangka kalau Sahira ternyata sahabat kecilnya Keira, padahal selama ini gue selalu sakitin dia dan cari gara-gara sama dia! Bahkan gue juga suka ganggu dia di sekolah dan ngatain dia cewek beasiswa, huft parah banget gue!" gumamnya.
Elargano duduk dengan kedua kaki yang ditekuk dan melipat dua tangannya pada tulang kering kaki-kaki miliknya itu sambil terus menatap ke danau, ia mengambil sebuah kerikil lalu melemparkannya ke arah danau sembari tersenyum.
"Rasanya tenang banget abis lempar batu kayak gitu! Jadi pengen lagi, boleh deh mumpung sepi!" ujarnya.
Disaat Elargano hendak mengambil batu yang agak besar di sampingnya, tiba-tiba saja tanpa sengaja sebuah kaki justru menginjak punggung tangannya.
Ia pun reflek merintih.
"Awhh!" pekik El kesakitan dan menarik tangannya.
__ADS_1
Seseorang yang menginjak tangan El pun reflek mengangkat kakinya, ia syok lalu coba meminta maaf pada Elargano karena merasa bersalah sudah menginjak tangan pria itu.
"Aduh, maaf banget aku gak sengaja!" ucapnya panik.
"Ah lu gimana sih? Sakit tau tangan gue!" bentak El.
"I-i-iya, maaf ya mas!" ucap wanita itu lagi.
Elargano terus memegangi telapak tangannya yang sakit itu dan sesekali meniupnya, ia masih belum menoleh ke arah si wanita karena lebih mementingkan kondisi tangannya.
"Fuuhhh fuuhhh..." suara El meniup tangannya.
Sementara si wanita tampak keheranan saat melihat wajah pria yang tadi diinjak olehnya, ya wanita itu coba melihat lebih dekat ke arah El untuk memastikan bahwa ia tidak salah kira.
"Kamu Gano kan? Anaknya pak Erlangga rekan bisnis papaku?" ujar si wanita.
"Hah??"
El terkejut lalu reflek menoleh ke arah wanita itu, ya kini sepasang matanya mengenali bahwa si wanita merupakan Adelia alias anak dari teman papanya.
"Kamu? Eee kita pernah ketemu di acara peresmian usaha teman papaku kan? Siapa dah nama kamu? Aku lupa, maklum kita ini kan baru ketemu sekali di acara itu!" ujar Elargano bingung.
"Ahaha, iya wajar kok! Namaku Adelia, kamu bisa panggil aku Adel!" ucap Adelia sambil tersenyum.
"Ah iya itu aku ingat! Nama yang bagus Adel, cantik sesuai orangnya!" ucap Elargano.
"Bisa aja! Oh ya, kamu lagi ngapain disini? Aku baru tau anak seorang pengusaha terkaya di negara ini, ternyata bisa main ke danau juga! Aku kira kamu tuh sukanya nongkrong di mall, cafe atau tempat-tempat berkelas lainnya!" ucap Adelia.
"Eee iya ini aku lagi tenangin diri aja sih, soalnya kan pacar aku juga gak bisa temenin aku! Makanya aku kesini, gabut aja sih sebenarnya!" jawab Elargano.
"Oh kamu udah pacar? Waw pasti pacar kamu cantik banget ya!" ujar Adelia.
"Ya begitulah, mirip mirip sama kamu Del!" ucap El.
"Ah bisa aja! Jelas cantikan pacar kamu lah, aku ini kan cuma wanita biasa!" ucap Adelia.
"Sama kok, jangan merendah gitu!" ujar Elargano.
Adelia tersenyum sembari mengusap rambutnya, lalu meminta izin pada Elargano untuk ikut duduk disana bersamanya menikmati pemandangan indah di danau yang sepi itu.
"Ya boleh dong! Yuk sini duduk samping aku!" jawab Elargano tanpa ragu.
"Makasih!"
Tanpa basa-basi, Adelia pun bersiap untuk duduk bersimpuh di samping Elargano karena ia memang mengenakan rok selutut. Namun, El mencegahnya secara tiba-tiba sehingga membuat Adelia keheranan tak mengerti.
"Eh tunggu!" ujar Elargano.
"Loh kenapa? Kamu berubah pikiran dan gak bolehin aku duduk disini?" tanya Adelia.
"Bukan begitu, tapi ini masih ada kotoran di rumputnya. Jadi harus dibersihin dulu supaya rok kamu gak kotor nanti!" jawab Elargano.
"Oh gitu, pake repot-repot segala sih kamu!" ucap Adelia.
"Gapapa lah, wanita itu memang harus diperlakukan seperti ini Del!" ucap Elargano tersenyum.
Pria itu pun mulai mengusap-usap rumput dengan tangannya bermaksud membersihkan kotoran yang ada disana agar Adelia bisa duduk nyaman tanpa perlu takut roknya terkena noda.
"Nah udah bersih, kamu boleh duduk deh!" ucap El.
"Oke!"
Adelia mengangguk tersenyum, kemudian duduk dan menaruh tasnya di pinggir sebelah kanan tubuhnya. Ia menatap wajah El dari samping seakan terpesona pada ketampanan serta perhatian dari pria itu.
"Tampan sekali! Sungguh beruntung wanita yang mendapat pria seperti kamu, El!" batin Adelia.
•
•
Keira pamit pada Jordan serta Nur, karena ia hendak meneruskan perjalanan bersama Sahira menuju rumahnya dan membawa gadis itu menemui sosok Lingga serta Zahra alias orangtuanya.
"Kak Nur, bang Jordan, aku pamit dulu ya? Sekalian aku juga minta izin sama kalian buat bawa Sahira ikut sama aku ke rumah!" ucap Keira.
"Iya Kei, boleh kok! Asal Sahira balik ke rumahnya jangan lewat dari jam sembilan malam, karena itu merupakan batas waktu yang udah gue tentuin buat Sahira! Supaya dia gak macam-macam jadi cewek, karena itu emang gak baik!" ucap Jordan.
"Iya bang, gue paham kok! Udah lah, gausah lebay gitu!" ujar Sahira malu.
__ADS_1
Jordan langsung mengarahkan sorotan matanya yang tajam ke arah Sahira, seketika itu juga Sahira merunduk tak berani menatap wajah abangnya.
"Eee yaudah, kalian berdua hati-hati ya di jalan! Salam buat mama papa kamu Kei!" ucap Nur.
"Oke kak! Yuk Sahira, kita langsung jalan aja! Tuh supir aku udah sampe di depan!" ucap Keira.
"Yuk! Dah abang, dah kak Nur!" ucap Sahira melambai ke arah abang serta kakak iparnya.
"Iya hati-hati...!!"
Setelahnya, Keira dan Sahira pun bergandengan tangan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan jalan.
Sementara Jordan melipat kedua tangannya di depan masih sambil mengamati adiknya yang perlahan menjauh dan masuk ke dalam mobil itu, ia ikut senang karena melihat Sahira bahagia.
"Aku senang banget! Akhirnya Sahira bisa tersenyum bahagia seperti itu setelah sekian lama!" ujar Jordan.
"Iya mas, ini semua berkat kedatangan Keira!" ucap Nur tersenyum.
"Rencana Tuhan memang luar biasa! Tidak ada yang menyangka kalau mereka bisa dipertemukan kembali, aku sangat bersyukur karena sekarang Sahira pasti akan terus bahagia dan tidak lagi bersedih seperti sebelumnya!" ucap Jordan.
"Aamiin!" ucap Nur mengaminkan.
Jordan mengarahkan tangannya ke pundak sang istri, lalu mencium kening dan mengajak Nur masuk ke dalam.
Cupp!
❤️
Sahira dan Keira rupanya mengamati tindakan Jordan serta Nur dari dalam mobil, mereka terkekeh sendiri saat Jordan mencium Nur dan berjalan secara bersamaan memasuki rumah.
"Hihihi, abang kamu romantis juga ya Sahira! Aku kira dia orangnya galak!" ujar Keira cekikikan.
"Ya begitulah Kei, namanya juga orang lagi bucin! Wajar aja kan mereka suami-istri, kamu juga begitu kan sama kak El?" ucap Sahira.
"Eh iya, aku baru ingat! Sekarang El lagi ngapain ya? Dia pasti bosen deh gak sama aku!" ucap Keira.
"Nah kan, baru juga aku bilang tadi udah kejadian aja! Dasar bucin kamu Kei! Tadi kan kamu sendiri yang minta supaya kak El gak ikut, sekarang jangan nyesel lah kalau kamu kangen sama dia!" ujar Sahira.
"Bukan kangen, aku cuma cemas aja takutnya dia gak bisa hidup tanpa aku gitu!" ujar Keira.
"Ya ampun bucin tingkat akut itu mah!" ujar Sahira.
"Sebentar ya, aku mau telpon dia dulu! Biar gimanapun, aku takut El kesepian dan malah cari wanita lain buat nemenin dia!" ucap Keira.
"Hahaha lebay kamu! Yaudah, kamu telpon gih mumpung kita masih disini!" ucap Sahira.
"Eh iya ya, kok kita gak jalan jalan sih? Pak, ayo buruan berangkat jangan diem aja!" ucap Keira memerintahkan supirnya melaju.
"Baik non!" ucap sang supir.
Setelahnya, mobil pun melaju perlahan meninggalkan rumah Sahira dan menuju rumah Keira. Tampak Keira mengambil ponsel miliknya dari dalam saku bajunya, lalu menghubungi Elargano yang sangat ia cemaskan.
Namun, Keira tidak dapat menelpon El karena nomor pria tersebut sedang sibuk, sehingga Keira pun khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak pada kekasihnya tersebut.
"Kenapa?" tanya Sahira bingung.
"Ini loh, nomor El gak bisa aku hubungin! Katanya sedang sibuk, kira-kira dia lagi telponan sama siapa ya? Apa jangan-jangan cewek lain?" ujar Keira.
"Hah? Tenang aja Kei, jangan cemas dulu! Mungkin aja kak El lagi telpon keluarga atau teman dekatnya, kamu gak boleh mikir yang enggak-enggak gitu!" ucap Sahira menasehati.
"Huft, iya Sahira! Aku cuma takut aja dia berpaling ke lain hati!" ucap Keira.
"Gak mungkin lah! Aku tau kok dia sayang sama kamu, lagian kamu itu kan macan manis dan cantik! Jadi mana mungkin kak El mau ninggalin kamu demi wanita lain, Kei? Dia pasti bakalan nyesel banget deh!" ujar Sahira menghibur Keira.
"Ahaha, bisa aja kamu! Makasih ya Ra, kamu emang selalu bisa bikin perasaan aku tenang dan gak cemas lagi mikirin si El!" ucap Keira.
"Sama-sama, namanya seorang sahabat ya harus begitu Kei! Apalagi kita udah sahabatan dari lama, aku pasti tau dong cara buat hibur kamu dan bikin kamu gak cemas lagi!" ucap Sahira.
"Iya Ra, aku bersyukur banget bisa ketemu kamu lagi sekarang!" ucap Keira.
"Aku juga!" ucap Sahira tersenyum.
Lalu, Keira memeluk Sahira dari samping dengan erat sambil tersenyum, mereka sama-sama memejamkan mata mengusap punggung masing-masing dengan waktu yang cukup lama, sepertinya mereka saling merindukan momen seperti ini yang dahulu sering mereka lakukan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1