
Selamat membaca...
Langit biru telah berganti warna..
Rendy tersenyum menatap sang istri yang tertidur pulas, memejamkan mata efek dari kekenyangan plus kecapekan.
Rendy mengikhlaskan menahan rasa kantuk yang mulai merambatinya. Demi keselamatan Dewi cantiknya yang berada di sampingnya.
Chantika membuka kedua mata indahnya, disaat merasakan tidak ada pergerakan lagi pada mobil yang dikemudikan Rendy.
"Kita ada dimana ini?" tanya Chantika, pupil matanya membesar. Pandangannya terfokus pada sekelilingnya saat ini.
Tak bisa dipungkiri, kecantikan yang melekat pada diri Chantika bisa membius otak Rendy dan telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang terus membayangi di setiap siang dan sepanjang malam yang dilalui Rendy, setelah pertemuan yang tidak disengaja waktu itu.
Mata yang sempat beradu pandang, semalam yang tidur seranjang, bahkan khilaf karena saling memeluk. Lalu terbangun dengan sebuah jeritan yang mengenaskan. Namun, nasib baik masih menaungi Chantika dari khilaf Rendy yang tak berlanjut.
Siapa yang tak berdesir ketika melihat wajahnya. Tatapan yang teduh dari mata indahnya, dilengkapi bulu mata yang lentik, juga senyum yang manis memancarkan keluguan dan kepolosan.
Mustahil bagi Rendy tidak memiliki desiran aneh di hatinya. Hingga gejolak bergelora bergelombang menjadi satu dengan syahwat, yang ingin segera dihalalkan untuk menuntaskan ibadah yang berpahala sekaligus memberikan kenikmatan surga dunia. Karena satu pengalaman yang pertama kali terjadi diantara mereka tercipta bernama malam pertama atau yang disebut juga making love membuat adonan donat hingga kalis. Pertempuran yang benar-benar menjadi petualangan indah bagi keduanya. Disaat getar cinta yang membara, mencampur bahan-bahan dengan takaran sesuai insting mereka untuk mempelajari anatomi tubuh manusia yang berbeda, yang dulu hanya dikenal dalam pelajaran biologi. Dan kini mereka terjun bebas dalam medan magnet yang mengalirkan sengatan listrik saling tarik menarik, menglalang buana untuk saling melengkapi dan menyatu tak terpisahkan, bahkan tidak ada penghalang portal yang menutupnya. Karena kini mereka telah memiliki SIM (surat ijin menerobos). Tanpa takut ada yang menilang atau menyemprit, jika mereka saling adu gulat dalam ring yang tidak hanya menghasilkan keringat yang berlebih. Namun juga mencetak satu penerus bangsa yang berakhlak mulia di malam pemersatu bangsa, mereka juga berdoa sebelum turun di medan perang.
"Sayang, kita ada dimana?" tanya Chantika lagi yang membuyarkan lamunan Rendy.
"Eh, sayang.." sahut Rendy membuat sebuah senyuman tipis yang bertengger di wajah tampannya. "Sudah bangun?"
"Eheem" Chantika mengangguk sembari menahan kantuk yang sepenuhnya belum menghilang dari kedua matanya.
"Ayo turun, lanjutkan tidurnya di dalam saja" ajak Rendy sembari tak henti-hentinya mengulas senyum manis ke arah istrinya.
"Hoaam" tiba-tiba Chantika menguap, segera ia memalingkan wajahnya dari hadapan Rendy. Ia tak mau terlihat jelek ekspresinya. "Kenapa juga harus menguap di sini. Memalukan" bathinnya seraya menangkup pipinya dengan kedua tangan. Wajahnya langsung memerah, rasanya panas. Malu sekali.
"Masih ngantuk? Sini, sayang. Gendong depan apa belakang?" tawar Rendy pada Chantika yang terkejut.
__ADS_1
"Emang kuat, gendong?"
"Kuatlah! Kan belum keropos tulangnya! Tapi, di lap dulu itu. Tamunya yang berdiri depan pintu! Hilang nanti cantiknya!" sindiran Rendy yang mencolos buat Chantika sedikit sewot.
Rendy mengambil tisu kering yang ada di atas dashboard mobil. Lalu, mengelap bagian yang terlihat mengganggu pemandangan di wajah cantik istrinya.
"Kalau tak ikhlas, tak usah sok perhatian!" Chantika memalingkan wajahnya ke depan kaca jendela mobil, sambil mengelap area bibirnya. "Menyebalkan!" dumelnya lagi.
"Bisa tidak sehari tak pakai acara ngedumel di bathin? Nanti aku tambahin uang belanjanya!" goda Rendy, segera turun dari mobil. Berlari kecil setengah memutar, membukakan pintu mobil untuk Dewi Chantiknya.
"Silahkan, Nyonya Rendy Suryodinata" Rendy membuka pintu mobil untuk sang istri dengan senyum manis yang menempel di bibir seksinya. Teduh, tenang, yang tak lekang oleh waktu, bagi Chantika.
"Kita dimana ini? Dari tadi kamu belum menjawab juga!" ungkap Chantika kesal.
"Kita berlibur dulu untuk menenangkan pikiran sejenak"
"Indah sekali pemandangannya, di malam hari" kata Chantika menikmati pemandangan di sekelilingnya.
"Lebih indah lagi, di pagi hari. Memandang panorama alam hijau ciptaanNya. Dengan orang yang tercinta. Pasti akan membuat kita tenang" sahut Rendy yang berdiri disamping Chantika, sama-sama berpijak di paving block.
"Selamat malam, tuan muda Rendy" sapa pak Surip, pria yang berbeda generasi darinya. Tapi masih memiliki badan yang tegap.
"Malam, juga pak Surip" jawab Rendy menyalami pria yang berjalan mendekatinya. Ramah, tak ada ekspresi angkuh atau sombong pada semua pekerjaannya.
"Kenapa tuan tidak mengabari terlebih dulu? Kalau tahu Tuan Rendy mau kemari. Pasti saya akan memasakkan makanan favorit, Tuan Rendy," kata wanita separuh baya yang berdiri disamping pak Surip.
"Tidak apa-apa, Mbok Tri. Santai saja, kita sudah makan tadi" jawab Rendy tetap dengan senyum ramahnya. "Besok pagi saja, Mbok Tri bisa menyiapkan makanan kesukaan saya dan istri saya ini" titah Rendy pada Mbok Tri.
"Maksud Tuan Rendy. Wanita cantik yang bersama Tuan Rendy ini adalah istrinya?" Mbok Tri memperjelas perkataan Tuannya. Dan sekaligus menyindir pada putrinya yang sedari tadi asyik menatap wajah tampan Tuan mudanya.
Hal itu langsung membuat netra indah Chantika memutar arah pada perempuan yang masih berusia dua puluh tahun, lebih muda darinya. Yang tengah melamun menikmati wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Ini anak berani-beraninya memandang gratis tanpa berkedip ke arah suamiku! Awas saja kalau berani berulah. Aku jambak rambutnya sampai botak. Aku cakar habis itu muka!" ancam Chantika dalam hatinya. Yang merasakan sesak di dada, tak ikhlas miliknya dipandang seperti itu oleh kaum hawa lainnya.
"Iya, Mbok Tri. Kenalkan ini Chantika, istri saya" Rendy memperkenalkan istrinya pada Mbok Tri dan pak Surip.
"Namanya cantik, seperti wajahnya" sahut Mbok Tri, juga memperkenalkan dirinya.
"Saya Mbok Tri dan suami saya pak Surip. Yang menjaga villa milik Mama nya Tuan Rendy"
"Saya Chantika, Mbok Tri" Chantika menyalami keduanya.
"Silahkan masuk Tuan Rendy dan Nyonya Chantika" Mbok Tri mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam villa.
"Baik, Mbok Tri" jawab Rendy.
Mbok Tri berjalan menghampiri putrinya, yang masih berdiam tak bergeming menatap Pria tampan yang berbadan tegap, tinggi dengan body yang perfect.
"Ayo cepat masuk" ucap Mbok Tri, sembari menjewer telinga kiri Yuyud putri tunggalnya, yang sangat mengagumi ketampanan Rendy
"Oh, iya-iya. Bu. Maafkan Yuyud" ucapnya gugup, tiba-tiba lidahnya beku.
"Jangan mikir yang macam-macam! Tuan muda Rendy sudah mempunyai seorang istri yang cantik! Lagian mana mungkin Tuan Rendy mau dengan kamu yang kucel, hitam!" ancam Mbok Tri pada Yuyud putrinya.
Sebelum masuk ke dalam villa, Chantika ingin memberikan peringatan kecil pada Yuyud putri dari Mbok Tri dan Pak Surip. Dengan menunjukkan bahwa dia adalah istri sah dari Rendy Suryodinata.
"Sayang.. Gendong!" rengeknya manja yang bergelayut di lengan kokoh Rendy.
"Benaran ini minta di gendong?"
"Huum" sahut Chantika dengan mimik yang mengemaskan.
"Aku suka gayamu yang selalu mengemaskan! Terkadang menjadi Singa Betina di saat milikmu terancam direbut wanita lain! Dan akan berubah menjadi kucing yang manja di saat membuat kaum hawa lainnya iri padamu!"
__ADS_1
💞💞💞💞
Selamat hari Senin.. Keluarga Besar LOVE BEE tersayang.. Terimakasih sudah selalu mendukung karya Wawa dengan ikhlas dan setulus hati.. 🙏🥰🥰