Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Muntah


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 104.




Ting nong ting nong...


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, membuat Nur agak cemas dan berusaha melepaskan pelukan tersebut agar ia bisa membuka pintu.


"Mas, aku ke depan dulu ya? Takutnya ada tamu penting yang datang," ucap Nur.


"Hadeh ganggu aja deh tuh orang! Yaudah, tapi kamu jangan lama-lama ya sayang!" ucap Jordan.


"Iya mas.." Nur tersenyum dan segera melangkah menuju pintu depan.


Sementara Jordan menarik kursi, kemudian duduk disana menyantap gorengan yang sudah tersedia di atas meja.


Nur sangat penasaran siapa yang datang ke rumahnya di siang hari seperti ini, pasalnya tak biasa ada orang yang bertamu ke rumahnya pada jam segini.


Ceklek...


"Siapa ya... eh mama? Papa?" ucap Nur terkejut saat melihat kedua orangtuanya ada di depan.


"Halo sayang! Apa kabar kamu?" ucap Azizah, alias ibunda dari Nur.


"Alhamdulillah aku baik, mah! Mama sama papa gimana? Baik-baik juga kan?" ucap Nur gembira.


"Alhamdulillah, kita juga sehat-sehat kok. Suami kamu dimana sayang? Kemarin mama dengar kabar katanya Jordan kecelakaan, sekarang dia udah di rumah kan?" ucap Azizah.


"Iya Nur, Jordan gak kenapa-kenapa kan? Gak ada luka serius?" sahut Anwar, ayah Nur.


"Enggak kok mah, pah, mas Jordan baik-baik aja. Dan Alhamdulillah sekarang dia udah pulih, terus bisa pulang lagi ke rumah." ucap Nur.


"Oh syukurlah kalau begitu!" ucap Anwar lega.


"Eh iya pah, mah, ayo masuk! Gak enak lah masa ngobrolnya di depan pintu kayak gini, sini aku bawain kopernya biar gampang!" ucap Nur meminta orangtuanya masuk ke dalam.


"Iya iya... kebetulan kita juga udah haus nih, kepanasan tadi di jalan." kata Anwar.


"Ahaha, tenang pah nanti aku buatin minuman yang segar buat papa sama mama!" ucap Nur.


"Nah cakep itu!" ucap Anwar tersenyum renyah.


Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam rumah itu, Nur melebarkan pintu dan terlihat menarik koper milik orangtuanya.


Disaat mereka sedang berjalan, tiba-tiba saja Jordan muncul karena penasaran siapa yang datang ke rumahnya.


"Eh ada papa sama mama ternyata, ya ampun apa kabar pah, mah?!" ucap Jordan cukup terkejut.


Jordan pun mencium tangan kedua mertuanya itu sambil tersenyum renyah.


"Ah kita baik kok, kamu gimana Jordan? Udah sehat kan? Gak ada yang sakit lagi?" ucap Anwar coba memastikan kondisi menantunya itu.


"Alhamdulillah pah, aku udah membaik kok! Buktinya sekarang aku ada disini, bisa jalan terus nyapa papa sama mama disini." kata Jordan disertai senyum lebar.


"Ya syukurlah kalau memang kamu sudah membaik! Oh ya, ini papa sama mama bawain kue dan buah-buahan untuk kamu." kata Anwar.


"Waduh pake repot-repot segala pah, harusnya gausah lah pah, mah! Aku kan jadi gak enak sama papa mama!" ucap Jordan.


"Gapapa, waktu itu kan pas kamu di rumah sakit kita berdua gak bisa jenguk, jadi sebagai balasannya ya kita beliin ini untuk kamu. Semoga kamu suka ya Jordan!" ucap Azizah.


"Pasti aku suka kok mah!" ucap Jordan tersenyum.


"Eh yaudah, ayo papa sama mama masuk aja kita duduk-duduk di sofa sambil minum!" ucap Jordan mengajak mertuanya masuk.


"Iya nak Jordan, terimakasih!" ucap Anwar.


"Sayang, kamu bikinin minum aja buat papa sama mama! Biar aku yang bantu bawain kopernya," ucap Jordan pada Nur.


"Iya mas. Pah, mah, sebentar ya aku tinggal dulu!" ucap Nur pamit.


"Iya Nur, bikin minumnya jangan lupa pake es ya!" ucap Anwar terkekeh.


"Hahaha... siap papa!" ucap Nur tersenyum.


Lalu, Nur pun melangkah ke dapur menemui pelayan yang bekerja disana untuk membuatkan minuman bagi keduanya.


Sementara Jordan bersama kedua mertuanya itu melangkah menuju ruang tamu, tak lupa Jordan juga membawakan koper milik mereka sembari berbincang-bincang.




"Huweekk... huweekk..."


Grey berada di toilet sekolah, entah mengapa ia tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah saat sedang belajar di kelasnya.


"Huh gue kenapa ya? Gak biasanya gue kayak gini, apa gue masuk angin?" ujar Grey bingung.


Disaat ia tengah memuntahkan cairan tubuhnya, tanpa sengaja Grey mendengar ada yang masuk ke dalam toilet tersebut.


Sontak Grey pun menghentikan kegiatannya, ia khawatir jika orang-orang tersebut mendengar dan akan salah paham padanya.


"Gue harus tahan rasa mual ini!" gumamnya.

__ADS_1


"Eh guys, kalian tadi dengar gak sih kayak ada yang lagi muntah gitu disini?"


"Iya, gue juga dengar kok. Tapi, siapa ya?"


"Gak tahu deh, coba kita cek yuk!"


"Gas!"


Mendengar itu, tentu saja Grey panik dan langsung reflek menyalakan keran air agar mereka tidak curiga padanya.


Ceklek...


Grey keluar dari toilet setelah rasa mual yang ia rasakan sudah hilang, gadis itu melihat ada tiga orang wanita disana tengah menatapnya dengan wajah heran.


"Kenapa kalian ngeliatin gue kayak gitu? Gak pernah dengar orang muntah ya?" tanya Grey.


"Eee jadi lu yang abis muntah?" ucap wanita itu.


"Iya, kenapa emangnya? Masalah buat kalian? Disini kan gak ada larangannya gak boleh muntah, jadi suka-suka gue dong!" ujar Grey.


"Santai aja kali Grey! Gausah marah-marah begitu!" ucap si wanita.


Grey menggeleng sebentar, kemudian berlalu pergi dari toilet tersebut meninggalkan tiga orang wanita yang masih saling berbincang.


Grey sebenarnya sangat bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa mual dan pusing dalam waktu yang bersamaan, bahkan wajahnya juga terlihat sedikit pucat.


"Duh, gue kok pusing banget ya? Apa gue ke UKS aja? Atau langsung izin pulang?" gumam Grey.


"Eh eh eh..." hampir saja Grey terjatuh karena rasa pusingnya itu, untunglah ada seseorang yang sigap membantunya dan menahan tubuhnya dari samping.


"Kamu gapapa?" orang itu ialah Alzi, sahabat El yang tak sengaja bertemu Grey disana.


"Eee gue gapapa kok, makasih ya kak!" ucap Grey sembari memegangi dahinya.


"Lu sakit? Muka lu pucat begini, gue bawa ke UKS aja ya biar diperiksa?" ucap Alzi tampak cemas.


"Enggak kok, gue baik-baik aja. Gue harus balik ke kelas, masih ada dua jam pelajaran lagi." kata Grey menolak tawaran Alzi.


"Udah, jangan dipaksa belajar kalo lagi sakit! Guru juga pada ngerti kok, mending sekarang lu ke UKS sebelum parah!" usul Alzi.


"Iya deh, tapi gue sendiri aja." kata Grey.


"Yakin? Emang lu bisa jalan sendiri ke UKS dalam kondisi kayak gini? Tadi aja lu hampir jatuh gara-gara pusing," tanya Alzi.


"Yakin kok, gini-gini gue masih bisa buat jalan. Lu boleh pergi kok kak, makasih ya udah tolong gue tadi!" ucap Grey tersenyum.


"Sama-sama. Yaudah, kalo gitu lu hati-hati jalannya!" ucap Alzi.


Grey mengangguk pelan, lalu perlahan Alzi mulai melepas pegangannya terhadap lengan Grey dan melangkah pergi meninggalkan Grey disana.


Grey yang hendak pergi menuju UKS, lagi-lagi kembali merasakan pusing yang amat hebat sampai kepalanya pun terasa berputar-putar.


Grey coba berpegangan pada tembok di dekatnya, ia tidak kuat lagi menahan rasa pusing itu dan bahkan pandangannya pun sudah mulai kabur.


Tubuhnya juga sudah tidak kuat bertahan, hampir saja Grey terjatuh kalau tak ditolong lagi oleh Alzi yang rupanya masih berada disana.


"Nah kan, gue bilang juga apa tadi. Makanya lu jangan ngeyel jadi cewek! Kalo mau dibantu sama orang tuh terima aja, gausah sok kuat deh!" ujar Alzi sedikit kesal.


"Ma-maaf kak! Gue cuma gak mau ngerepotin lu," ucap Grey.


"Yaudah, sekarang gue bawa lu ke UKS! Gak ada penolakan lagi, gue juga gak ngerasa direpotin kok. Gue malah senang bantu orang yang lagi kesusahan!" ucap Alzi.


"Iya kak, makasih banyak ya!" ucap Grey lemas.


"Lu masih kuat jalan gak? Atau mau gue gendong aja biar cepet?" tanya Alzi.


"Hah? Gu-gue..." ucap Grey gugup.


"Gue gendong aja ya!" ucap Alzi.


"Ta-tapi kak..." ucapan Grey terpotong, karena Alzi langsung mengangkat tubuhnya ala bridal style dan membuat Grey tidak bisa berkata-kata lagi.


"Lu ternyata lebih ringan dari dugaan gue, kalo gini sih gue bisa bawa lu kemana aja." kata Alzi.


"Maksud lu? Jangan aneh-aneh deh kak, kan lu katanya mau bantu gue!" ujar Grey.


"Hahaha... gue bercanda kok!" ucap Alzi tertawa.


Alzi pun mulai melangkah membawa tubuh Grey dan berjalan menuju UKS.




Kriiinggg... Kriiinggg...


Bel pulang telah berbunyi, Sahira dan Raisa pun melangkah keluar kelas bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Namun, kedua gadis itu ditahan oleh Saka yang entah kenapa tiba-tiba meminta mereka untuk bertahan sejenak disana.


"Eh tunggu tunggu, kalian jangan pulang dulu!" pinta Saka.


"Apaan sih? Emangnya kenapa kita berdua gak boleh pulang? Ini kan udah jam pulang tau," ujar Sahira terheran-heran.


"Iya gue tahu, tapi masalahnya gue mau tanya sesuatu dulu sama kalian." kata Saka.

__ADS_1


"Tanya soal apa?" Sahira penasaran sekaligus kesal juga pada Saka.


"Ini loh, kerja kelompok nanti kita mau kumpul dimana? Biar gampang aja gitu, jadi udah ditentuin dari sekarang. Soalnya gue kalo di rumah tuh jarang pegang hp, seringnya pegang janji yang gak ditepati." kata Saka.


"Haish, yaudah di rumah lu aja gimana?" ucap Sahira ketus.


"Hah? Kok jadi di rumah gue sih? Gak bisa gak bisa, jangan di rumah gue! Sempit tau, sesempit anu kalian!" ucap Saka.


"Otak lu gak beres ya Saka! Terus kalo enggak di rumah lu, dimana lagi?" tanya Sahira.


"Ya dimana kek asal jangan di rumah gue! Kenapa gak di rumah lu aja yang gampang?" ucap Saka.


"Iya Ra, udah di rumah lu aja." sahut Raisa.


"Ish apaan sih! Di rumah gue tuh gak bisa, udah di rumah lu aja Rai." ujar Sahira.


"Apalagi di rumah gue, tambah gak bisa. Paling cocok itu ya di rumah lu Sahira, kan rumah lu lebar tuh, selebar daun kelor." kata Raisa.


"Ngada-ngada aja lu! Yaudah, nanti coba gue minta izin dulu sama abang gue boleh apa enggak kita kerja kelompok di rumah gue." kata Sahira.


"Katanya rumah lu, kenapa harus minta izin sama abang lu coba?" tanya Saka.


"Yeh maksud rumah gue disini tuh ya tempat tinggal gue, tapi bukan berarti itu rumah punya gue. Jangan kayak anak kecil deh Saka!" geram Sahira.


"Hehe santai!" ujar Saka nyengir.


Tak lama kemudian, Elargano muncul disana menemui Sahira dan langsung menyapa gadis itu sambil tersenyum.


"Hai Sahira!" ucap Elargano.


"Kak El? Ngapain lagi sih lu kesini?" ujar Sahira.


"Gak ngapa-ngapain, gue pengen kasih tahu lu aja kalau Grey tadi sakit dan dibawa ke rumah sakit sama Alzi. Siapa tahu lu lagi cariin dia gitu kan, makanya gue infoin ke lu." jelas El.


"Hah? Serius lu? Emangnya Grey sakit apa?" tanya Sahira kaget.


"Mana gue tahu, orang si Alzi belum kasih kabar. Mending lu susul aja sana ke rumah sakit kalo penasaran!" ucap Elargano.


"Boleh tuh, rumah sakitnya dimana?" tanya Sahira.


"Umm... tadi Alzi sih bilang mau ke rumah sakit dekat sini, coba aja lu ke raja hospital di sebrang jalan depan. Atau biar gampang, lu biar gue antar aja!" jawab Elargano.


"Gak, gausah. Gue udah dijemput sama abang gue, jadi lu gak perlu repot-repot antar gue!" tolak Sahira.


"Oh gitu, yaudah deh gue gak maksa." kata El.


"Rai, lu mau ikut apa enggak jenguk Grey?" tanya Sahira pada Raisa.


"Boleh, tapi berhubung gue bawa mobil jadi gue ngikutin lu aja dari belakang ya." jawab Raisa.


"Oke, yaudah yuk!" ucap Sahira.


Dua gadis itu langsung melangkah pergi dari sana meninggalkan El dan juga Saka.


"Bang, gue juga mau balik. Duluan ya?" ucap Saka.


"Ya," ucap El singkat dan dingin.




"Bang Jordan!" Sahira berteriak cukup keras dan gembira ketika melihat abangnya itu sudah berada di depan sekolahnya.


"Eh Sahira, udah pulang?" ucap Jordan berbalik dan tersenyum ke arah adiknya.


Tanpa basa-basi, Sahira memeluk Jordan dengan erat sembari membenamkan wajahnya pada dada bidang sang abang.


"Bang, gue seneng banget lu bisa jemput gue lagi! Aaaaa gue kangen tahu suasana begini!" ucap Sahira di dalam pelukan abangnya.


"Iya iya... gausah lebay ah, malu tuh sama temen lu!" ujar Jordan terkekeh.


"Ih abang mah gitu! Padahal aku kan pengen peluk abang tahu, malah dibilang lebay!" cibir Sahira.


"Hahaha... yaudah, lu boleh peluk gue lagi nanti di rumah. Sekarang kita harus langsung pulang, soalnya di rumah udah ada mama Azizah sama papa Anwar. Mereka mau ketemu kamu katanya," ucap Jordan.


"Hah? Mertua abang datang ke rumah? Dari kapan?" tanya Sahira kaget.


"Baru aja, tadi siang mereka sampai di rumah. Udah yuk kita pergi sekarang!" jawab Jordan.


"Tapi bang, gue... eh maksudnya aku mau jenguk teman aku yang dibawa ke rumah sakit dulu, aku khawatir sama dia bang!" ucap Sahira.


"Oh ya? Emang siapa teman lu itu?" tanya Jordan.


"Dia Grey namanya bang, bisa kan abang anterin aku kesana dulu?" ucap Sahira.


"Eee gimana ya...??" gumam Jordan bingung.


"Udah Ra, lu mending pulang aja sama abang lu! Grey biar gue yang susulin, nanti kalau ada apa-apa pasti gue kabarin ke lu kok!" ucap Raisa.


"Nah, gue setuju sama saran temen lu!" ucap Jordan tersenyum.


"Yaudah deh, kabarin gue ya Rai!" ucap Sahira.


"Pasti!" ucap Raisa mengangguk pelan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2