Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Part 4


__ADS_3

" Huh terserah mbak Zanara aja deh Sifa bingung"


" lo aja yang ngomong bingung apalagi gue"


Ucap Ara frustasi, anjani dan haifa pun hanya geleng geleng kepala atas tingkah Sifa yang lugu.


Zanara yang pusing karena berhadapan dengan Sifa pun keluar untuk mencari ketenangan tanpa ada Sifa yang merecokinya.Dengan mendongak kelangit yang di terangi oleh bulan


"Bunda, apa bunda melihatku dari atas sana, apa Ara sudah bertindak benar dengan meninggalkan pria itu, bunda bantu aku melewati semua ini" batin Ara


Hap..


Ketika sedang melamun dan melihat bulan yang terang, Ara di kagetkan seseorang yang tengah memeluknya dengan tiba tiba.


"Umi"


Cicit Ara tau yang memeluknya adalah umi.


"Umi ada bersamamu sayang, jangan tanggung semua sendiri"


Ucap umi yang masih memeluk Ara dengan menangis.


"Apa maksud umi?"


"E-eh Maksud umi kamu bisa tinggal disini dengan umi dengan abah, Zay dan para santri lainnya"


" Tapi Ara akan pergi, Setelah kaki ini sembuh"


" Tapi kamu akan pergi kemana kamu kan.."


Umi menghentikan ucapannya ketika tersadar dengan perkataan nya.


"Kamu bisa tinggal disini dan belajar bersama santri yang lain nak"


"Tapi Ara akan tetap pergi umi"


"aku harus menahannya agar tetap tinggal disini" batin umi


Flashback On


*Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum"


Seorang santri mengetuk pintu rumah Abah dan umi.


Cklek


"Waalaikumsalam,"


"Abah, umi ada tamu dari jakarta yang ingin bertemu dengan abah dan umi"


Ucap santri itu


"Dimana tamunya"


Tanya Abah pada seorang Santri.


"Ada di Aula depan, Abah"


Abah dan umi pun menuju Aula untuk menemui tamu tersebut.


"Assalamaualaikum wr.wb."


"Waalaikumsalam wr. wb"


Umi terkejut saat melihat seorang pria sebagai tamunya.


"Kamu suaminya Zarah kan?


Tanya umi tanpa basa basi, yang di balas anggukan oleh pria itu.


" Lalu dimana Zarah?, kenapa kamu bersama wanita lain?"


Tanya Umi bertubi tubi


"Umi"


Tegur Abah lembut dengan menggenggam tangan umi.

__ADS_1


"Zarah sudah meninggal dan wanita ini bukan wanita lain tapi istri kedua saya"


Ucap Pria itu yang membuat umi terkejut dan menutup mulutnya.


"Innalillahiwainnailaihirojiun"


ucap abah.


"Tidak mungkin, Zarah dia.."


Umi tak dapat melanjutkan kata katanya.


"Lalu ada keperluan apa anda kemari Tuan Arman?


"Saya kesini ingin menitipkan Putri saya dan Zarah di sini"


Mendengar ucapan Tuan Arman umi pun angkat bicara.


"Putri Zarah? dimana dia"


"Iya dia sudah berada disini Tiga hari yang lalu"


"Tiga hari yang lalu? Siapa? atau dia.."


"Zanara?"


"Ya anda benar Zanara adalah putriku dengan Zarah"


"Aku berniat menitipkannya di pesantren ini tidak hanya sebagai Santri tapi juga seperti anak kalian sendiri"


"Saya percayakan putriku pada kalian"


"Saya mohon tolong jaga dia untuk saya, Saya yakin jika Zanara berada disini bersama kalian, dia akan menjadi jauh lebih baik dari pada bersama saya ayahnya"


Ucap Tuan Arman dengan mata yang berkaca kaca. Umi dan abah pun bingung dengan Perkataan tuan Arman.


"Apa perlu aku memanggilkannya ke sini?


" Tidak perlu, Saya tak mau dia pergi lagi dari jangkauan saya, jika dia tau kalo saya mengetahui keberadaannya"


"Tapi kenapa?


Tanya Abah dengan mengernyit bingung. Dan Tuan Arman pun menceritakan kejadian dan hubungannya dengan sang putri.


Permintaan Tuan Arman langsung di setujui oleh abah dan umi.


" Ayah, Apa Arka bisa tinggal disini juga agar bisa menjaga kakak"


Ucap Arka angkat bicara setelah pembicaraan orang dewasa telah usai.


Tuan Arman yang mendengar itu pun terkejut sama halnya dengan Tuan Arman, Arini juga sama terkejutnya.


"Apa maksudmu Arka?


"Arka benar Arini, dia bisa menjaga kakaknya dari dekat"


"Tapi.."


"Aku tak apa bunda, aku akan menyembunyikan diriku dari kakak"


"Jangan mengkhawatirkan aku bunda, Ada..?


" Panggil kami abah dan umi ya"


Ucap lembut umi pada Arka*


"Iya benar kami akan membantunya Nyonya Arini " Ucap Abah


Flashback Of


"Umi"


Panggil Ara yang membuat umi terkejut


"Y-ya Ada apa Ara?


Ucap umi dengan gugup.


" Kenapa umi melamun?


"A-a umi tidak apa apa, kamu kembali lah kekamarmu sudah malam"


"Baiklah umi Ara pergi dulu"

__ADS_1


Ucap Ara yang dibalas senyuman oleh umi.


"Ara kamu sangat mirip dengan bundamu nak" gumam umi dalam hati seraya menatap kepergian Ara dengan senyuman.


Setelah masuk kedalam kamar Ara di sambut oleh suara milik Sifa.


"Wah Mbak Zanara dari mana aja to, sampek malem lo"


Tanpa menjawab ucapan Sifa Ara berjalan ke arah kasur miliknya ia merebahkan badannya.


"Mbak Zanara, Mbak nggak makan mbak "


Ucap Anjani menawari Ara makan


"Tidak, lo makan aja"


" Emang Mbak Zanara nggak laper dari siang nggk makan"


Celetuk Sifa.


"Gue masih kenyang"


" Kenyang makan apa mbak? Makan angin?


" Diam gak lo gue mau tidur jangan ganggu gue.


Ucap Ara yang membuat Sifa terdiam.


Ara pun memejamkan matanya hingga tertidur para santri pun juga ikut tidur karena hari sudah larut malam.


"Mbak? Mbak Zanara bangun udah subuh mbak"


Dini hari Sifa membangunkan Ara dan mengajaknya sholat shubuh.


"Aduuh, apaan sih berisik tau gak?


"Ini udah shubuh mbak, Mbak Zanara nggak Sholat shubuh?


" Lo sholat aja sendiri jangan ganggu gue"


" Tapi mbak..."


"Pergi nggak, Gue tabok lo"


Ancaman Ara sukses membuat Sifa lari keluar.


" Ganggu aja, masih malem juga"


" Loh Sifa kenapa lari lari kamu kenapa"


" Enggak papa kok mbak, Cuma takut ketinggalan jamaah"


Ucap Sifa pada Ayumi.


" Oh iya, Mbak Zanara itu tidurnya di kamur kan"


Tanya Ayumi yang di jawab Anggukan oleh Sifa.


"Terus mana dia nya, Gak ikutan sholat ya, Pasti dia nggak mau sholat kan"


"Udah deh mbak Sifa mau sholat takut ketinggalan jamaah jangan ajak Sifa bergosip"


Ucap Sifa menghentikan perkataan Ayumi dan meninggalkannya.


" Huh sok banget bilang aja takut sama cewek bar bar itu toh"


Dumel Ayumi bicara sendiri.


Semua santri pun berbondong bondong menuju ke aula untuk sholat berjamaah bersama umi.


Berdiri tak jauh dari aula sosok Ara melihat aktivitas para santri dengan serius, dari hatinya yang paling dalam dia ingin ikut tapi ego mengalahkannya.


Suara lantunan Ayat ayat suci mengalihkan perhatiannya, dia berjalan menyusuri lorong asrama putri mencari sosok pelantun Al-Qur'an.


Hingga tiba di Sebuah masjid yang terletak di tengah pembatas Asrama putra dan putri.


Ara sangat menikmati setiap lantunan yang keluar dari bibir pelantun hingga tak menyadari, pria itu telah usai.


"Sedang apa kamu di sini"


Deg


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa Kritik, saran dan juga dukungannya dengan Vote like dan komen dari kalian💪


__ADS_2