Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Grey dibawa orang


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 87.




Sahira dan Farhan tiba di cafe tempat gadis itu janjian dengan Grey untuk bertemu, mereka pun sama-sama turun dari mobil dengan tergesa-gesa mengingat waktu sudah semakin mepet.


Namun, Sahira mencegah Farhan untuk masuk ke cafe dan memintanya tetap disana sesuai permintaan Grey sebelumnya yang tidak ingin ada orang lain dalam pertemuan mereka itu.


"Kak, sorry ya! Kayaknya lu tunggu disini aja deh, atau kalo lu mau pulang juga gapapa. Soalnya tadi Grey titip pesan ke gue, katanya dia gak mau ada orang lain yang ikut ketemu sama dia sekarang. Apalagi dia juga masih trauma sama laki-laki, gapapa kan kak?" ucap Sahira.


"Oh gitu, ya gapapa kok. Gue wajar kok dia begitu, kan dia baru tertimpa masalah besar!" ucap Farhan.


"Syukurlah! Kalo gitu gue masuk dulu ya ke dalam cafe? Terserah lu mau pulang atau tetap disini!" ucap Sahira.


"Iya, gue disini kok tunggu sampe lu selesai ngobrol sama Sahira. Kan gak mungkin gue tinggalin lu gitu aja, masa udah gue antar kesini terus gak gue antar lu balik ke rumah? Rasanya kurang afdol dong!" ucap Farhan tersenyum.


"Yaudah, suka-suka lu aja!" ucap Sahira lalu melangkah pergi memasuki cafe tersebut.


Sementara Farhan tetap di parkiran menunggu Sahira sampai selesai berbicara dengan Grey. Ia sejujurnya malas sekali harus menunggu seperti ini, namun demi Sahira ia rela melakukan apapun itu termasuk menunggunya.


"Yah ayolah Farhan lu pasti bisa! Cuma ini cara buat deketin Sahira, mumpung si El lagi gak sama dia sekarang!" ujar Farhan senyum-senyum sendiri.


Sahira kini sudah berada di area dalam cafe, ia celingak-celinguk mencari keberadaan Grey di sekitar sana. Akan tetapi, tak nampak satupun pelanggan yang memiliki wajah seperti Grey.


"Loh, Grey kemana ya? Dia kok gak ada disini sih? Apa dia udah pulang karena gue kelamaan?" gumam Sahira terheran-heran.


"Waduh! Kalau emang benar Grey udah pulang, gimana dong caranya gue bisa bicara sama dia dan bujuk dia buat gak kabur terus kayak gini? Ah sialan, sia-sia aja dong gue datang kesini kalau gak jadi ketemu Grey!" ujarnya bingung.


Akhirnya gadis itu memutuskan untuk coba menghubungi Grey, ia ingin memastikan apakah Grey memang benar sudah pergi dari sana atau hanya sedang pergi ke toilet.


❤️


Drrttt..


Drrttt...


"Siapa yang telpon?" pak Panca bertanya pada gadis di sampingnya itu setelah mendengar getaran ponsel berbunyi.


Grey mengecek ponselnya dan melihat nama Sahira terpampang disana, tentu saja ia bingung harus apa saat ini karena tak mungkin ia mengangkat telpon dari Sahira di hadapan pak Panca.


"Hey, kenapa diam saja? Siapa yang telpon kamu itu?" pak Panca kembali bertanya pada Grey.


"Eee bukan siapa-siapa, nomor gak dikenal." Grey menjawab asal lalu mereject telpon dari Sahira.


"Kenapa gak coba diangkat?" tanya pak Panca.


"Saya malas berurusan dengan orang yang tidak saya kenal, itu hanya buang-buang waktu saja." jawab Grey pelan.


Pria itu mengangguk-angguk cepat dan kembali fokus mengemudi, sedangkan Grey merasa bersalah pada Sahira karena telah mereject telpon dari sahabatnya itu.


"Maafin gue Ra! Sekarang gue gak tahu harus gimana, pak Panca udah ancam gue lagi!" batin Grey.


Flashback


"Halo Grey! Apa kabar kamu?" Grey terkejut melihatnya, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka dengan jantung berdetak kencang.


"Pak Panca?" pria yang tak lain ialah guru olahraga di sekolah Grey itu tersenyum lebar menatap wajah gadis di hadapannya sambil melangkah lebih dekat ke arah Grey.


"Bapak mau apa temui saya lagi disini? Ada urusan apa?" tanya Grey gemetar.


"Saya tahu teman-teman kamu itu sedang menyelidiki saya, mereka ingin menangkap saya karena saya sudah melecehkan kamu. Sekarang saya minta sama kamu untuk jelaskan ke mereka yang sebenarnya terjadi diantara kita, bukan saya yang meminta dipuaskan, tetapi kamu yang menggoda saya dan memulai semuanya!" ucap pak Panca.


Grey terdiam dengan jantung yang berdebar-debar, ia sangat khawatir pak Panca akan berbuat nekat padanya dan kembali berbuat buruk.


"Bapak jangan asal bicara! Saya tidak pernah sekalipun menggoda bapak, jadi saya gak akan mau bicara seperti itu sama teman-teman saya! Lagipun, mereka menyelidiki anda atas dasar keinginan mereka sendiri. Saya gak minta kok, jadi bapak jangan tekan saya!" ujar Grey.


"Saya tidak menekan kamu Grey, saya hanya minta sama kamu untuk hentikan teman-teman kamu itu menyelidiki saya. Kalau tidak, maka video panas kita akan segera tersebar di sosial media dan dalam sekejap kamu akan menjadi seleb terkenal Grey!" ucap pak Panca tersenyum smirk.


"Cukup pak! Saya tidak akan mempan lagi dengan ancaman bapak itu! Sahira sudah bilang kok sama saya, ponsel bapak sudah ada di tangan dia sekarang. Jadi, bapak gak bisa ancam saya lagi!" ucap Grey.


"Oh ya? Memangnya kamu kira saya sebodoh itu, Grey? Saya sudah menyimpan videonya di laptop saya dan flashdisk ini, kalau kamu mau lihat saya bisa perlihatkan videonya ke kamu sekarang juga kok, di hadapan para pengunjung cafe ini!" ucap pak Panca sambil menunjukkan sebuah flashdisk pada Grey.


"Jangan pak, saya mohon!" ucap Grey memelas.


"Baiklah, saya tidak akan lakukan itu. Asal kamu mau ikut dengan saya sekarang dan jadi tahanan saya! Gak lama kok, hanya sampai kamu bisa meyakinkan Sahira dan kawan-kawannya itu untuk berhenti selidiki saya!" ucap pak Panca.

__ADS_1


"Jangan berpikir untuk teriak! Saya bisa permalukan kamu kapanpun saya mau, jadi ikut saja dengan saya dan semuanya akan selesai!" sambung pak Panca.


Grey tak memiliki pilihan lain, akhirnya gadis itu terpaksa ikut dengan pak Panca pergi dari sana.


Flashback off




Sahira merasa bingung karena Grey berkali-kali mereject telponnya, ia tak tahu apa yang terjadi pada Grey saat ini karena tiba-tiba gadis itu tidak ada kabar.


Padahal sebelumnya Grey selalu mengangkat telpon darinya dan sudah berjanji untuk tidak kabur-kaburan lagi, namun sekarang justru Sahira kehilangan jejak mengenai Grey.


"Haish, Grey lu kenapa sih? Gue kan udah bilang sama lu buat tetap disini, kenapa lu malah pergi gitu aja?" gumam Sahira kebingungan.


Akhirnya Sahira coba bertanya pada seorang pelayan disana, ia juga menyiapkan foto Grey untuk ditunjukkan pada pelayan tersebut.


"Permisi mbak!" ucap Sahira.


"Eh iya, kenapa kak?" ucap pelayan itu.


"Saya mau tanya dong, mbaknya lihat gak cewek ini ada di cafe ini tadi?" Sahira bertanya pada pelayan itu sembari menunjukkan foto Grey di ponselnya.


Pelayan itu terlihat menatap foto dengan teliti lalu mengingat-ingat.


"Oh iya iya... tadi cewek ini emang sempat datang dan pesan lemon tea, tapi terus dia pergi gak lama setelah minumnya habis." jawab pelayan itu.


"Apa? Dia pergi sendiri apa sama orang ya mbak?" tanya Sahira.


"Eee tadi sih kalo gak salah ada laki-laki yang samperin dia, terus mereka pergi barengan deh."


"Ohh, orangnya itu kayak gimana ya mbak?" tanya Sahira.


"Waduh! Kalau itu saya kurang tahu kak, soalnya saya gak perhatiin wajahnya. Tadi kan saya juga sibuk layanin pelanggan yang lain, emang ada apa ya kak?" ucap pelayan.


"Eh, gapapa kok. Makasih ya mbak!" ucap Sahira.


"Sama-sama kak," pelayan itu tersenyum kemudian pergi kembali untuk bekerja.


"Kira-kira siapa ya orang itu?" gumam Sahira.


Setelahnya, Sahira pun berjalan keluar dari cafe menemui Farhan yang masih setia menunggu disana.


Farhan tampak heran melihat Sahira bersedih seperti itu, Farhan pun menghampiri gadis itu dan bertanya langsung padanya.


"Sahira, kamu kenapa sedih gitu? Udah ketemu sama si Grey nya?" tanya Farhan bingung.


"Eee gue belum ketemu sama Grey, tadi pas gue datang ternyata Grey udah gak ada disana." jawab Sahira sambil menunduk.


"Hah? Duh, aku minta maaf ya Sahira! Gara-gara aku sekarang kamu jadi gagal ketemu sama Grey, harusnya dari awal tadi aku paksa kamu aja buat bareng sama aku!" ucap Farhan.


"Ini bukan salah lu kok," ucap Sahira singkat.


"Yaudah, sekarang kamu mau ngapain?" tanya Farhan.


"Gue pulang aja deh, abisnya Grey gue telpon gak diangkat-angkat sih!" jawab Sahira.


"Oh gitu, yaudah aku anterin lagi yuk!" ucap Farhan.


"Beneran nih kak? Lu emangnya gak ada acara lain? Gue bisa naik taksi atau ojek kok, jadi lu gak perlu anterin gue!" ucap Sahira.


"Gapapa, acara aku sekarang ini ya cuma anterin kamu. Udah yuk kita masuk ke mobil!" ucap Farhan sambil tersenyum.


Sahira mengangguk cepat, kemudian mengikuti Farhan masuk ke dalam mobilnya.


Saat di dalam, Sahira kembali mencoba menghubungi nomor Grey untuk mencari tahu dia ada dimana sekarang. Namun, hasilnya tetap sama karena Grey tidak mau mengangkat telponnya.


"Kamu telpon Grey lagi?" tanya Farhan.


"Iya nih, tapi gue bingung kenapa dia gak angkat telpon gue ya? Gue jadi cemas sama dia, soalnya tadi pelayan cafe tuh bilang kalau ada laki-laki yang bawa Grey pergi dari cafe. Gue takut banget laki-laki itu punya niat jahat sama Grey!" ujar Sahira.


"Sabar ya Sahira! Kita sekarang berdoa aja dulu buat keselamatan Grey, semoga dia gak sama orang jahat!" ucap Farhan.


"Aamiin! Tapi, gue pengen tahu deh siapa ya kira-kira cowok yang sama Grey itu?" ujar Sahira.


"Aku juga gak tahu, Sahira. Eee gimana kalau sekarang kita mampir dulu ke tempat makan gitu? Atau kita masuk aja ke cafe itu, soalnya aku haus nih!" ucap Farhan.

__ADS_1


"Ohh lu haus? Yaudah, lu masuk aja ke cafe nya sana! Gue tungguin lu disini, sambil coba-coba telpon Grey siapa tahu diangkat." ucap Sahira.


"Loh kok gitu? Aku kan pengen ditemenin sama kamu, gak enak lah kalo minum sendirian. Sekalian aja kamu juga pesan minum, biar aku traktir!" ucap Farhan.


"Gausah kak! Lu pesan aja minuman di dalam, terus dibungkus bawa kesini. Nah, lu minumnya disini aja biar gue temenin!" usul Sahira.


"Iya deh, kamu jangan kemana-mana ya! Tunggu aku disini sampai kembali! Eh ya, kamu mau aku pesenin minuman apa?" ucap Farhan.


"Umm... samain aja sama lu," jawab Sahira.


"Oke deh!" Farhan turun dari mobil, lalu masuk ke dalam cafe untuk memesan minuman.


Sementara Sahira tetap disana memanfaatkan kesempatan untuk menghubungi El.


"Nah kalo gini kan gue jadi bisa telpon El, gue harus minta El buat cari tahu tentang Grey! Soalnya gue cemas banget sama tuh anak!" gumam Sahira.


Sahira pun mengambil ponselnya, lalu menghubungi Elargano.




El dan Keira tiba di rumah Ibrahim, mereka berdua turun dari mobil lalu menghampiri Ibrahim yang sudah lebih dulu sampai disana.


"Nah, ini rumah aku. Sekarang kita masuk aja yuk! Biar aku bantu buka kunci layar hp itu di dalam, kebetulan aku punya banyak alat-alat disana." ucap Ibrahim mengajak El dan Keira masuk.


"Oke! Tapi, awas ya kalo lu bohongin kita!" ujar El.


"El, kamu kenapa sih?" tegur Keira.


"Ya kan aku cuma mau mastiin aja, supaya cowok ini gak bohongin kita! Kamu kan tahu sendiri dia kayak gimana," ucap Elargano.


"Tenang aja bang! Aku gak mungkin lah berani bohongin kalian," ucap Ibrahim tersenyum.


"Yaudah, kalo gitu lu buktiin sekarang ke kita! Gue gak mau cuma sekedar omongan!" ucap El.


"Iya bang, yuk kita langsung masuk aja ke dalam!" ucap Ibrahim.


Disaat mereka hendak memasuki rumah itu, tiba-tiba ponsel El berdering membuat langkahnya terhenti dan mengecek sejenak siapa yang menghubunginya saat ini.


"Eh sebentar, aku angkat telpon dulu!" ujar El.


"Iya," ucap Keira singkat.


Elargano pun mengangkat telepon yang ternyata dari Sahira itu, ia sedikit menjauh agar Ibrahim atau Keira tidak mendengarnya.


📞"Halo Sahira! Ada apa? Eee lu udah temuin Grey kan?" tanya Elargano.


📞"Justru itu El, gue belum sempat ketemu sama Grey. Tadi begitu gue datang ke cafe, tiba-tiba Grey udah gak ada disana. Gue juga gak tahu dia pergi kemana, tapi masalahnya tuh pelayan cafe bilang sama gue kalau Grey dibawa pergi sama seorang cowok!" jawab Sahira.


📞"Apa? Grey dibawa sama cowok? Kok bisa sih? Yaudah yaudah, terus lu tahu gak ciri-ciri cowok yang bawa Grey pergi dari cafe? Biar gue coba cari orang itu," ucap Elargano panik.


📞"Nah itu dia, gue juga gak tahu cowok itu siapa dan ciri-cirinya kayak gimana. Soalnya si pelayan cafe juga gak perhatiin dengan jelas, tapi gue khawatir orang itu punya niat jahat sama Grey! Tolong ya El, lu coba cari dimana Grey sekarang! Gue cemas banget!" ucap Sahira.


📞"I-i-iya iya... gue bakal usaha kok buat cari Grey, sekarang lu tenang dulu ya! Lu lagi dimana sekarang?" ucap Elargano.


📞"Gu-gue masih di cafe nih, gue juga bingung harus gimana sekarang?" ucap Sahira.


📞"Yaudah, kalo gitu gue jemput lu sekarang ya? Gue anterin lu pulang ke rumah, supaya lu bisa istirahat!" ucap Elargano.


📞"Eh gausah, gue bisa sendiri kok. Lagian lu kan harus ngurusin hp nya pak Panca, eh ya udah bener belum?" ucap Sahira.


📞"Ini gue lagi usaha buat buka hp nya kok, yaudah kalo gitu lu pulang ya dan jangan panik! Urusan Grey dimana nanti biar gue urus juga, hati-hati ya lu!" ucap Elargano.


📞"Iya El," ucap Sahira singkat.


Tuuutttt...


Telpon pun terputus, El masih terlihat cemas pada Sahira dan sejujurnya ia ingin sekali menjemput gadis itu saat ini.


Sementara Keira merasa heran melihat El yang begitu cemas dan panik setelah menerima telpon dari Sahira, ia juga tidak sengaja mendengar sedikit obrolan El tadi.


"El segitu khawatirnya sama Sahira, emang ada apa sih?" gumam Keira dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2