Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Carikan jodoh untukmu


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 127.




"Jadi begini mah, mama masih ingat kan sama kejadian pelecehan yang baru aku alami beberapa waktu lalu?" ucap Grey.


"Iya sayang, mama ingat kok. Gak mungkin mama lupain kejadian itu, sampai sekarang aja mama masih emosi dan gak terima karena anak mama dilecehkan begitu!" ujar Fadia.


"Lalu, apa yang mau kamu kasih tahu ke mama dan papa sayang?" sambung Fadia.


"Aku hamil mah, pah." jawab Grey pelan.


"Apa??" Fadia sontak terkejut mendengarnya, ia reflek menutup mulutnya setelah mendengar pengakuan Grey barusan sambil menatap suaminya.


"Grey, kamu serius sayang? Kamu hamil karena ulah guru kamu itu?" tanya Agus masih syok.


Grey mengangguk pelan, air matanya juga sudah mulai menetes satu persatu membasahi pipinya akibat menahan kesedihan di hatinya.


"Oh my God!" ucap Agus bertambah syok.


"Sayang, dari kapan kamu tahu tentang kehamilan kamu ini?" tanya Fadia syok.


"Iya sayang, sudah berapa Minggu usia kehamilan kamu?" sahut Agus.


"Maafin aku mah, pah! Aku tahu ini sebenarnya udah lama, dan sekarang usia kehamilanku sudah mendekati dua bulan." jawab Grey terisak.


Fadia menggeleng pelan, wajahnya sudah dibanjiri oleh air mata.


Fadia pun memeluk erat tubuh putrinya dari samping, mengusap serta mengecup puncak kepala gadis itu sambil menangis deras.


"Kamu yang kuat ya sayang! Mama akan selalu ada disisi kamu, jangan sedih lagi!" ucap Fadia.


Agus terus menggelengkan kepalanya, satu tangannya sudah terkepal dan tampak kalau ia sangat emosi kali ini.


"Kurang ajar laki-laki itu!" geram Agus.


"Pah, papa sabar ya! Papa gak boleh emosi! Kita harus bantu tenangin Grey dulu saat ini, kasihan kalau sampai Grey kehilangan semangatnya!" ucap Fadia.


"Iya Fadia, aku juga tidak mau Grey putus asa." kata Agus menatap wajah istri dan anaknya.


"Grey, sudah ya nak jangan menangis lagi! Mama dan papa janji akan bantu kamu mengurus anak ini, biar gimanapun anak ini gak bersalah dan dia pantas untuk hidup. Kamu tenang aja ya sayang, ada mama papa disini!" ucap Fadia.


"Hiks hiks... tapi mah, gimana nanti kalau anak ini bertanya soal papanya? Apa aku harus kasih tahu yang sebenarnya?" tanya Grey.


"Tidak sayang, kamu gak boleh kasih tahu dia tentang semua ini! Mama gak sudi anak kamu anggap pak Panca itu sebagai ayahnya, lebih baik kamu berbohong saja." jawab Fadia.


"Benar itu, papa setuju dengan mama kamu! Lebih baik sekarang kamu istirahat!" ucap Agus.


"Iya Grey, kamu kembali ke kamar ya sayang!" pinta Fadia.


"Iya mah. Makasih ya mah, pah! Aku beruntung banget punya orang tua sebaik mama sama papa, padahal tadinya aku kira papa mama bakalan marah sama aku." ucap Grey.


"Masa iya kita marah sih sayang? Kejadian ini kan bukan kesalahan kamu, justru mama dan papa kasihan sama kamu sayang!" ucap Fadia.


"Mama papa emang baik banget!" ucap Grey.


Mereka bertiga kembali berpelukan erat seperti sebelumnya, tampak Grey lebih merasa nyaman kali ini dan tidak cemas seperti tadi.


"Aku bahagia banget punya orang tua seperti mama dan papa! Aku jadi merasa lebih tenang sekarang, itu semua berkat mama dan papa yang selalu support aku!" batin Grey.


"Yaudah sayang, kamu sekarang istirahat dulu ya di kamar!" ucap Fadia.


"Iya sayang, ini sudah malam dan kamu harus istirahat yang cukup!" sahut Agus.


"Benar tuh! Ingat loh, sekarang ini kan kamu lagi mengandung juga!" ucap Fadia tersenyum.


"Iya mah, aku ke kamar dulu ya?" ucap Grey.


"Okay, good night sayang! Tidur yang nyenyak ya cantik!" ucap Fadia mengecup kening putrinya.


"Selamat malam Grey!" sahut Agus.


Grey tersenyum sembari mengangguk pelan, lalu beranjak dari duduknya dan melambaikan tangan ke arah kedua orangtuanya.


Barulah Grey melangkah keluar dari kamar mama dan papanya itu, menuju ke kamarnya dengan perasaan lega setelah mengatakan semuanya.




Sahira tersenyum saat ibunya datang ke kamarnya, gadis itu reflek menyingkirkan ponselnya dan beranjak dari ranjang mendekat ke arah sang ibu.

__ADS_1


"Sayang, kamu belum tidur kan?" ucap Ratna.


"Iya Bu, ini aku masih melek. Emangnya ada apa ya Bu? Tumben ibu masuk ke kamar aku gak ketuk dulu, aku jadi kaget deh." ucap Sahira.


"Iya maaf ya, tadi ibu gak ketuk pintu dulu. Soalnya ibu takut kamu udah tidur, kalau ibu ketuk nanti kamu malah kebangun. Jadinya ibu langsung masuk aja deh," ucap Ratna.


"Yaudah, gapapa Bu. Terus, ibu mau ngapain kesini?" tanya Sahira penasaran.


"Ini loh sayang, ibu bawain susu jahe buat kamu. Ada roti bakar juga tau, sengaja ibu buatin untuk kamu. Sekalian ibu nanti mau ngobrol-ngobrol sama kamu, bisa kan?" jawab Ratna.


"Bisa kok Bu, udah yuk sini duduk Bu!" ujar Sahira.


Sahira menggandeng lengan ibunya, mengajak sang ibu untuk duduk di pinggir ranjang bersamanya dan berbincang disana.


"Cobain sayang rotinya! Itu enak loh, tadi aja abang kamu doyan banget." ucap Ratna.


"Iya Bu, aku tau kalau buatan ibu pasti enak." kata Sahira mencomot satu roti dari piring.


"Ah bisa aja kamu sayang!" ujar Ratna tersipu.


Sahira pun memakan roti bakar tersebut, ia tampak takjub dengan rasanya yang sangat enak.


"Wah Bu ini enak banget!" ucap Sahira.


"Hahaha, syukurlah sayang kalau emang enak dan kamu suka! Habisin aja sayang, ini ibu sengaja kok bikinin buat kamu!" ucap Ratna tersenyum.


"Iya Bu," ucap Sahira memakan rotinya dengan lahap.


"Eee ibu boleh tanya sesuatu sama kamu sayang?" ucap Ratna meminta izin pada Sahira.


"Boleh dong Bu, tanya apa?" Sahira penasaran.


"Hubungan kamu sama nak El itu sebenarnya gimana sih? Ibu masih khawatir loh sayang, soalnya kalian berdua kelihatan dekat banget." tanya Ratna.


"Kita berdua cuma teman kok, bu. Gak mungkin lah aku ada apa-apa sama kak El, dia itu kan pacarnya Keira sahabat aku." jawab Sahira tersenyum.


"Ya bagus deh sayang, tapi seenggaknya kamu jaga jarak ya dari nak El. Ibu gak mau kalau nantinya persahabatan kamu dengan Keira jadi rusak," ucap Ratna.


"Iya Bu, aku juga maunya begitu. Tapi, tadi El malah datang kesini dan bilang kalau dia pengennya kita berdua itu dekat terus. Aku juga bingung sama dia, dia bilang katanya gak bisa jauh-jauh dari aku." ucap Sahira terheran-heran.


"Yang benar sayang? Kok nak El bicara begitu sih? Memangnya dia lupa kalau dia sudah punya Keira?" tanya Ratna tak mengerti.


"Gak tahu deh Bu, aku bingung banget sama El. Aku udah bilangin ke dia buat jaga jarak, tapi dia gak pernah mau dengerin aku. Malahan dia selalu aja deketin aku di sekolah," ujar Sahira.


"Hah? Kok gitu sih Bu? Aku tuh belum mau pacaran dulu, aku masih pengen fokus ke sekolah." ujar Sahira terkejut.


"Ya mau gimana lagi sayang? Emang cuma itu caranya supaya El gak deketin kamu lagi," ucap Ratna.


"Iya sih Bu, tapi..."


"Nanti biar ibu carikan laki-laki yang pantas buat kamu," potong Ratna.


Sahira manggut-manggut saja mengikuti kemauan ibunya.




Sementara itu, Nawal dan Thoriq masih berada di apartemen. Mereka memang sengaja menetap disana, biarpun Ratna memilih tinggal bersama Jordan dan Sahira.


Sebenarnya Thoriq juga ingin tinggal disana, namun keinginan adiknya untuk tetap berada di apartemen membuat Thoriq tak memiliki pilihan lain saat ini.


Sekarang ini mereka berdua masih berada di sofa, menonton tv sembari menikmati spaghetti yang dibuat oleh Nawal.


"Nawal, kamu itu kenapa sih? Kan udah berulang kali kakak bilang sama kamu, baikan sama Sahira dan terima dia jadi saudara kamu. Kenapa kamu masih aja kayak gini sih? Sekarang kamu rasain sendiri kan tinggal tanpa ibu," ucap Thoriq.


"Biarin aja, pokoknya sampai kapanpun aku gak bakal bisa terima Sahira ataupun Jordan buat jadi saudara aku. Karena memang kita itu bukan saudara, dan saudara aku cuma bang Thoriq." ucap Nawal tetap kekeuh dengan pendiriannya.


"Haish, susah amat sih dikasih taunya! Mau sampai kapan kamu begini terus?" ujar Thoriq kesal.


"Kan tadi aku udah bilang, sampai kapanpun. Udah deh bang, jangan paksa aku buat terima Sahira dan Jordan!" ucap Nawal cemberut.


"Apa sih masalah kamu sebenarnya?" tanya Thoriq keheranan.


"Enggak ada, emang aku males aja punya saudara kayak mereka." jawab Nawal.


"Haish, taubat Nawal taubat! Kamu gak boleh kayak gitu sama saudara kamu sendiri, itu dosa loh sayang! Ayolah, apa salahnya sih kamu berbaikan sama Sahira dan Jordan?" ujar Thoriq kesal.


"Bang, sekali aku bilang gak mau ya selamanya tetap gak mau. Abang gak bisa paksa aku begitu dong!" ucap Nawal.


Nawal yang kesal dengan abangnya, langsung beranjak dari sofa dan hendak pergi membawa piring berisi spaghetti itu.


Namun, Thoriq mencekal lengannya dan meminta pada gadis itu untuk tetap disana. Ia juga tak mau Nawal terus-terusan marah begitu.

__ADS_1


"Tunggu Nawal, jangan pergi!" pinta Thoriq.


"Kenapa lagi sih bang? Aku gak mau bahas itu lagi, aku mau ke kamar aja." kata Nawal.


"Jangan sayang! Iya iya, abang gak bahas itu lagi kok sekarang. Kamu tetap disini ya, jangan ngambek gitu ah!" ucap Thoriq memaksa.


"Huft, lagian suruh siapa abang maksa-maksa aku buat terima Sahira!" ucap Nawal.


"Iya iya, aku minta maaf ya sama kamu! Yaudah, sekarang semuanya terserah kamu aja. Mau kamu terima Sahira atau enggak, itu urusan kamu. Abang gak akan paksa kamu lagi buat terima mereka, okay?" ucap Thoriq pasrah.


"Ya, itu lebih bagus. Kalo gitu aku bakal tetap disini temenin abang. Awas loh ya, kalau abang masih bahas tentang Sahira dan paksa-paksa aku lagi kayak tadi!" ucap Nawal mengacungkan jarinya.


"Tenang aja, kan abang udah janji tadi." kata Thoriq.


"Masa sih? Kapan? Perasaan belum," tanya Nawal.


"Oh iya, belum ya? Oke deh, sekarang abang janji sama kamu kalau abang gak akan paksa kamu buat terima Sahira lagi." ucap Thoriq.


"Nah gitu dong, sekarang baru aku percaya sama abang." ujar Nawal tersenyum renyah.


"Yaudah, sekarang ayo duduk lagi dan jangan ngambek kayak tadi!" ucap Thoriq.


Nawal mengangguk setuju, kemudian kembali duduk disana bersama abangnya dan lanjut memakan spaghetti.




Keira yang tengah berada di rumah neneknya, kini memilih pergi ke air mancur yang terletak di belakang rumah sang nenek.


Keira pun duduk pada kursi yang tersedia, melamun sembari menatap air mancur yang sangat indah itu.


Banyak ikan-ikan berenang di kolam tersebut, Keira beranjak dari duduknya dan mengambil pakan ikan yang tersedia lalu memberikan itu kepada ikan disana.


Entah mengapa Keira cukup senang melakukannya, ia tersenyum sambil terus menabur pakan tersebut cukup banyak.


"Makan yang banyak ya!" ucap Keira.


Tak lama kemudian, seseorang datang mendekatinya dari belakang sambil perlahan menyentuh pundak Keira.


Gadis itu spontan terkejut saat pundaknya disentuh, ia menoleh lalu terlihat seorang pria tengah tersenyum menatapnya.


"Maaf ya Kei, aku gak bermaksud bikin kamu kaget!" ucap pria itu.


"Ah gapapa, kamu mau apa susul aku kesini?" tanya Keira penasaran.


"Eee aku sebenarnya khawatir sama kamu, daritadi aku perhatiin kamu kayak lagi sedih dan banyak pikiran. Makanya aku milih buat samperin kamu, siapa tahu kamu butuh teman curhat." jawabnya.


"Enggak kok, Nav. Aku baik-baik aja, makasih ya udah perduli dan perhatian sama aku! Tapi, aku cuma pengen kasih makan ikan disini aja. Lihat mereka tuh kayaknya lucu banget," ucap Keira.


"Emang sih, kadang memberi makan hewan peliharaan itu bisa bikin kita bahagia dan merasa tenang." kata pria bernama Arnav.


"Oh iya, nenek udah tidur belum?" tanya Keira.


"Belum kok, nenek sama papa mama kamu masih ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Biasalah, nenek emang suka gitu. Dia baru mau tidur, kalau bulan di atas udah ketutup awan." jawab Arnav.


Sontak Keira reflek melihat ke langit, menatap bulan purnama yang bersinar terang.


"Waw! Terus, kalau bulan itu gak ketutup awan sampai pagi gimana? Masa iya nenek tetap gak mau tidur?" tanya Keira penasaran.


"Entahlah, selama ini kejadian itu belum pernah terjadi. Ya jangan sampai lah, nanti yang ada nenek sakit gara-gara gak tidur!" ucap Arnav.


"Hahaha, iya ya.." Keira tertawa kecil.


"Eee kita duduk yuk! Aku pengen tahu lebih banyak tentang kamu, selama ini kan kita jarang bertemu sejak kamu tinggal di Jakarta. Taruh saja pakan itu disana, nanti kamu bisa beri makan ikan-ikan itu lagi kok." ucap Arnav.


"Ah iya, aku juga memang ingin mengobrol dengan sepupuku yang tampan ini." kata Keira.


"Aduh bisa aja kamu ya Kei! Yaudah, kita duduk disitu yuk biar santai ngobrolnya!" pinta Arnav.


Keira mengangguk saja, entah mengapa darahnya berdesir hebat saat Arnav menyentuh tangannya dan menggandengnya.


Bahkan, Keira reflek terus menatap wajah Arnav dari samping saat melangkah menuju tempat duduk tanpa sepengetahuan pria itu.


Mereka pun duduk disana berdampingan, namun Arnav masih tetap menggenggam tangan Keira seakan tidak ada yang terjadi.


"Eee kamu bisa lepasin tangan aku gak?" ujar Keira.


"Eh iya iya, sorry ya! Tangan kamu lembut banget sih, aku jadi keenakan deh." ucap Arnav.


"Hahaha, gapapa kok." ucap Keira tertawa kecil.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2