
#SangPemilikHati Episode 126.
•
•
"Gue mau ketemu sama pak Panca disana, kan gue belum datengin dia. Beda sama Riki kemarin, gue udah sempat temuin dia dan bahkan caci maki dia di depan bokap nyokap gue." jawab Grey.
"Hadeh, buat apa sih lu temuin pak Panca? Ngapain coba?" tanya Anisa.
"Gue emang harus temuin dia, Nis. Gue pengen minta tanggung jawab dari dia atas segala perbuatan yang udah dia lakuin ke gue, gue gak terima dong kalo dia cuma enak-enakan di penjara!" jawab Grey.
"Udah lah Grey, biarin aja si Panca itu membusuk di penjara! Lu jangan ganggu-ganggu dia lagi!" ucap Anisa.
"Gak bisa Nis, dia harus tau kalau sekarang di rahim gue ada anak dia! Dan gue pengen dia tanggung jawab untuk menafkahi anaknya yang ada di rahim gue ini," ucap Grey.
"Hah? Apa??" Anisa tersentak kaget mendengar pengakuan Grey barusan.
"Maksudnya gimana Grey? Masa iya lu hamil anaknya pak Panca??" tanya Anisa terbelalak.
Grey terdiam menunduk, jujur ia malu mengakui semua itu bahwa ia kini tengah mengandung anak dari orang yang sudah melecehkannya.
"Benar Nis, gue sekarang lagi hamil. Dan gue yakin ini anaknya pak Panca, karena gue gak pernah begituan sama lelaki selain dia." jawab Grey lesu.
"Ya ampun Grey! Terus, dari kapan lu hamil begini? Lu udah periksa ke dokter atau cek lewat testpack?" tanya Anisa penasaran.
"Iya, udah kok. Sebenarnya gue tahu ini udah lama, usia kehamilannya juga udah masuk bulan kedua kok. Tapi, gue belum kasih tahu siapapun tentang ini kecuali lu." jelas Grey.
"Hah? Kenapa?" tanya Anisa heran.
"Gue malu Nis, gue gak bisa bayangin gimana reaksi nyokap dan bokap gue kalau tahu tentang kehamilan gue." jawab Grey.
"Duh Grey, ya iya sih emang pasti mereka bakalan syok banget kalau tahu. Tapi, itu lebih baik lah daripada mereka tahunya dari orang lain atau malah tau sendiri." kata Anisa.
"Makanya sekarang gue mau minta bantuan lu, kira-kira gue harus gimana ya?" ujar Grey.
"Eee ya lu jujur aja sama nyokap bokap lu, gue yakin mereka bakal ngerti kok." ucap Anisa.
"Huft, gue takut aja kalo mereka marah besar dan perpanjang masalah ini. Gimana kalau mereka labrak pak Panca di penjara?" ucap Grey.
"Gapapa lah Grey, yang penting ini kan demi kebaikan lu dan juga anak lu. Emang lu mau terus sembunyiin ini semua? Dengar ya Grey, kalo orang tua lu tau tentang kehamilan lu pasti mereka bakal bantu lu buat urus anak itu." ucap Anisa.
"Iya ya, yaudah deh nanti gue bakal bicara sama mereka. Tapi, sekarang lu temenin gue ya ke penjara buat ketemu sama pak Panca!" pinta Grey pada Anisa.
"Mau ngapain?" tanya Anisa.
"Tadi kan gue dah bilang, gue mau kasih tahu pak Panca kalau gue lagi hamil anak dia. Gue pengen dia tanggung jawab gitu!" ucap Grey.
"Aduh Grey, mending gausah deh! Lagian lu mau pak Panca tanggung jawab kayak gimana coba? Dia kan di penjara, mana bisa dia tanggung jawab kasih nafkah buat lu dan anaknya? Yang ada nanti lu malah kena mental sendiri, karena pak Panca gak mungkin perduli sama anak itu." kata Anisa.
"Terus, gimana dong sama anak gue nanti kalo udah lahir? Dia pasti bakal tanyain siapa ayahnya, gue harus jawab apa? Setidaknya gue pengen pak Panca tahu lah kalau ada anaknya di rahim gue," ucap Grey.
"Itu mah masih lama, lu pikirin yang sekarang aja dulu!" usul Anisa.
"Jadi, menurut lu sekarang gue gausah temuin pak Panca?" tanya Grey.
"Iya benar, gausah deh pake acara temuin pak Panca segala! Mendingan sekarang lu mikir gimana caranya buat cerita ke bokap sama nyokap lu!" jawab Anisa.
"Okay, lu bantuin ya!" ucap Grey.
"Tenang aja!" Anisa mengangguk pelan, lalu membantu Grey berpikir.
•
•
Sahira dan El tengah berbincang berdua di teras depan rumah Jordan, segelas minuman juga telah diberikan kepada El oleh pelayan yang bekerja disana sebelumnya.
Sejujurnya Sahira cukup risih karena harus bicara berdua dengan El disaat masalah mereka belum terselesaikan, apalagi Keira masih belum dapat dihubungi hingga saat ini.
"Jadi, apa yang mau lu omongin kali ini ke gue? Sampai lu maksa-maksa begitu tadi, gue harap ini hal yang penting ya!" tanya Sahira penasaran.
"Ini penting kok, dan juga terkait kecemburuan Keira sama lu." jawab El.
"Yaudah, cepetan lu bicara sekarang! Gue gak punya banyak waktu nih, apalagi gue kan harus jaga jarak dari lu." kata Sahira.
"Ra, kenapa sih lu pengen kayak gitu? Emang lu bisa jauh-jauh dari gue? Kalo gue pribadi sih enggak, gue selalu pengen ada di dekat lu. Apa lu gak ngerasain hal yang sama kayak gue? Itu juga sebabnya kenapa gue selalu berusaha bantu lu, ya karena gue pengen dekat sama lu." ucap El.
"Hah? Lu sadar gak sih sama apa yang lu omongin barusan? Itu sama aja lu punya niat buat nyakitin perasaan Keira, dan gue gak suka itu! Keira sahabat gue, gue gak mau dia terluka!" ucap Sahira.
__ADS_1
"Tenang dulu Sahira! Emang apa salahnya sih kalo kita dekat? Gue cuma mau lu jadi sahabat gue kok, karena gue selalu merasa nyaman tiap kali ada di dekat lu. Kita kan bisa bersahabat tanpa menyakiti perasaan Keira," ucap El.
"Gak bisa El, udah jelas Keira pasti tambah sakit hati nantinya. Lu gausah ngada-ngada deh, mending lu balik sana!" ujar Sahira.
Sahira langsung beranjak dari tempat duduknya, mengusir El pergi dari sana.
"Gue gak mau pergi, gue akan tetap disini sampai lu setuju dengan kata-kata gue tadi!" ucap El.
"Mau lu apa sih El? Emang lu gak sadar kalau selama ini kedekatan kita itu bikin Keira sakit hati? Dia ngerasa lu udah gak perduli lagi sama dia, makanya sekarang Keira jadi kayak gitu." ucap Sahira sedikit kesal.
"Iya, gue tahu itu. Gue sadar Keira ngerasa kalau gue udah gak perduli lagi sama dia, karena gue lebih sering bantu lu." kata El.
"Yaudah, terus kenapa lu masih pengen dekat-dekat sama gue lagi?" tanya Sahira heran.
"Kan gue udah bilang sama lu, gue gak bisa jauh dari lu Sahira. Tiap kali gue coba buat menjauh, hasilnya nihil dan gue malah jadi kepikiran sama lu terus." jawab El.
"Kalo gitu lu harus terbiasa buat jauh dari gue! Dengan begitu, lu pasti bisa deh lupain gue dan Keira juga gak akan marah lagi." usul Sahira.
"Entahlah, gue masih bingung." kata El lesu.
"Lu gausah bingung, lakuin aja apa yang gue bilang barusan! Gue gak mau ada masalah sama Keira, please El nurut sama gue!" tegas Sahira.
El terdiam menundukkan kepalanya, sungguh rasanya ia sangat bingung saat ini karena ia tidak ingin jauh dari Sahira, dan juga tidak mau berpisah dengan kekasihnya alias Keira.
•
•
Saka dipindahkan ke sel yang sama dengan Riki, sontak pria itu langsung merasa ngeri begitu mengetahui ia akan berada di dalam sel yang sama dengan Riki.
Ya hingga kini Saka memang masih takut jika Riki sampai menghajarnya di sel itu, Saka pun terus berusaha bernego dengan pihak kepolisian untuk membatalkan perpindahan itu.
"Pak, saya mohon pak jangan pindahan saya ke sel di sebelah ya!" pinta Saka.
"Halah diam kamu! Kamu itu disini tahanan, jadi kamu harus nurut!" ucap si polisi.
"Tapi pak, saya betah kok di sel ini. Kalau saya pindah ke sebelah, terus siapa yang ngisi sel disini nanti pak?" ucap Saka memelas.
"Kami bakal tangkap lagi orang-orang jahat di luaran sana. Sudah lah, kamu ikut saja dengan kami sekarang!" ujar polisi itu.
"I-i-iya pak.." ucap Saka pasrah.
"Aduh mampus, mati dah gue!" batinnya.
Setibanya di sel baru tersebut, benar saja yang pertama kali Saka lihat adalah tatapan amarah dari Riki yang sepertinya sudah bersiap untuk menghajarnya saat ini juga.
Glekk..
Saka menelan saliva nya dengan susah payah, kakinya seakan kaku dan tidak bisa digerakkan.
"Hey, ayo cepat!" bentak si polisi.
"Iya pak, santai dong!" ucap Saka gemetar.
Polisi itu mulai membuka gembok sel, Saka pun diminta untuk masuk ke dalam.
"Ayo masuk!" perintah si polisi.
Saka melangkahkan kakinya masuk ke dalam sel tersebut, ia bergidik ngeri dan terus menunduk saat Riki terus menatapnya tajam.
"Pak, saya mohon pak jangan masukin saya ke sel ini! Saya takut pak!" ucap Saka.
"Takut kenapa? Kamu sewaktu berbuat kejahatan gak ada rasa takut, kenapa begitu masuk ke penjara kamu bisa takut?" ujar pak polisi.
"Ta-tapi pak.."
"Diam kamu! Sudah pak, ayo kita pergi!" ucap polisi itu mengajak rekan polisinya pergi.
"Siap pak!" ucap polisi itu patuh.
"Pak, jangan tinggalin saya pak! Saya gak mau ada di sel ini pak, saya mohon pak!" teriak Saka memohon pada polisi itu.
Namun, polisi tersebut seakan tak mendengar teriakan Saka dan pergi begitu saja.
Setelah dapat dipastikan dua polisi tadi pergi, kini Riki bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Saka yang masih berdiri memegang besi disana.
Riki menepuk pundak Saka, membuat Saka gemetar hebat plus keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuhnya.
"Heh!" ucap Riki singkat.
__ADS_1
"Eee Rik, hai Rik! Apa kabar lu? Makin ganteng aja gue lihat-lihat, hehe.." ujar Saka nyengir.
"Lu kenapa ketakutan gitu? Takut kalau gue bakal habisin lu disini?" tanya Riki tersenyum smirk.
"Ya gitulah Rik, soalnya gue masih pengen hidup. Gue belum mau mati sekarang Rik, gue aja masih jomblo dan belum ngerasain nganu nganu sama istri gue nanti. Tolong Rik, ampuni gue ya jangan hajar gue!" ucap Saka memelas.
"Lu gausah ngerengek gitu, gue gak akan apa-apain lu kok disini! Lu tenang aja ya Saka, gue ini kan orangnya baik dan suka mengampuni orang walau dia berbuat salah." ucap Riki tersenyum.
"Serius Rik? Lu gak bakal apa-apain gue?" tanya Saka memastikan.
"Iya, tenang aja ya!" jawab Riki.
"Huh syukurlah...!!" ucap Saka merasa lega.
Bughh..
Tiba-tiba saja Riki memukul perut Saka dengan kuat, hingga Saka perlahan-lahan merendahkan posisi tubuhnya sampai terduduk disana memegangi perutnya.
"Akkhh!" Saka memekik kesakitan, ia menatap wajah Riki dengan keheranan.
"Anggap aja itu hukuman buat lu, karena lu udah berkhianat dari gue." ucap Riki santai.
•
•
TOK TOK TOK...
Malam hari setelah selesai makan dan belajar, Grey kembali turun ke bawah menuju kamar mamanya dengan memakai piyama kuning di tubuhnya.
Tak lama, pintu pun terbuka memperlihatkan Fadia yang juga sudah bersiap untuk tidur karena waktu memang sudah larut.
Ceklek...
"Eh Grey sayang? Kamu mau apa malam-malam ke kamar mama sama papa?" tanya Fadia heran.
"Eee ada yang mau Grey bicarain sama papa dan mama, bisa kan?" jawab Grey.
"Bisa kok, yuk masuk!" ucap Fadia.
Fadia melebarkan pintu kamarnya, meminta Grey untuk masuk ke dalam dan berbicara dengannya di dalam sana.
Grey menurut, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu bersama sang mama.
Sebenarnya Grey masih ragu untuk mengatakan semua itu kepada orangtuanya, tapi ia tak memiliki pilihan lain karena ia harus melakukan itu.
Grey dan mamanya duduk di sofa, Agus sang ayah yang baru keluar dari kamar mandi merasa heran melihat putrinya ada disana.
"Loh, kamu ngapain disini Grey? Belum tidur?" tanya Agus keheranan.
"Iya pah, aku mau bicara sama papa dan mama disini. Boleh kan?" jawab Grey.
"Oalah, boleh kok sayang. Mau bicara apa kamu emangnya?" ujar Agus sembari duduk di sebelah istri dan putrinya itu.
"Iya Grey, ada masalah apa sama kamu? Kelihatannya kamu cemas gitu," sahut Fadia.
"Sebenarnya aku udah lumayan lama sembunyiin ini dari mama dan papa, aku ngerasa gak enak aja kalo aku cerita ke mama atau papa. Tapi, aku bingung dan gak mau juga kalau papa mama tahu tentang ini dari orang lain." ucap Grey.
"Memangnya tahu apa sih Grey?" tanya Fadia.
Grey terdiam sejenak, menundukkan kepala sembari menyatukan jari-jarinya. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha menguatkan dirinya sebelum mulai bercerita.
"Jadi begini mah, mama masih ingat kan sama kejadian pelecehan yang baru aku alami beberapa waktu lalu?" ucap Grey.
"Iya sayang, mama ingat kok. Gak mungkin mama lupain kejadian itu, sampai sekarang aja mama masih emosi dan gak terima karena anak mama dilecehkan begitu!" ujar Fadia.
"Lalu, apa yang mau kamu kasih tahu ke mama dan papa sayang?" sambung Fadia.
"Aku hamil mah, pah." jawab Grey pelan.
"Apa??" Fadia sontak terkejut mendengarnya, ia reflek menutup mulutnya setelah mendengar pengakuan Grey barusan sambil menatap suaminya.
"Grey, kamu serius sayang? Kamu hamil karena ulah guru kamu itu?" tanya Agus masih syok.
Grey mengangguk pelan, air matanya juga sudah mulai menetes satu persatu membasahi pipinya akibat menahan kesedihan di hatinya.
"Oh my God!" ucap Agus bertambah syok.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...