Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Pelakunya...


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 110




"Ohh yaudah ya, kalo gitu gue balik dulu! Sekali lagi sorry karena tadi gue udah nabrak lu!" ucap El pamit pada Adelia.


Elargano hendak pergi, namun Adelia menahan tangannya dari belakang.


"Tunggu El!" teriaknya.


El pun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Adelia dengan wajah bingungnya.


"Ada apa Del?" tanya El lembut.


"Ka-kamu jangan pergi dulu dong! Temenin aku yuk ketemu sama teman aku di dalam!" pinta Adelia sembari melingkarkan tangannya di lengan El.


"Loh loh, kamu kan mau ketemu sama teman kamu terus ngapain kamu minta aku buat temenin kamu?" tanya El heran.


"Iya El, masalahnya teman aku ini tuh orangnya rada-rada. Dan dia sebenarnya bukan teman aku sih, tapi mantan aku yang selalu deketin aku dan minta buat balikan." jelas Adelia.


"Ohh ya kalo kamu gak mau balikan, yaudah kamu gausah temuin dia lagi dong!" ujar Elargano.


"Itu dia El, dia terus aja paksa aku buat temuin dia. Bahkan dia juga ngancem bakalan teror aku, kalau aku gak mau temuin dia!" ucap Adelia.


"Lah kok gitu? Biadab banget tuh cowok!" ujar El.


"Makanya El, kamu bantu aku ya!" pinta Adelia.


"Tapi, bantu apa Del?" tanya El bingung.


"Eee kamu cukup mau jadi pacar pura-pura aku di depan Pasha," jawab Adelia.


"Pasha?" El tampak kebingungan.


"Iya, itu nama teman aku. Kenapa? Kamu kenal?" ujar Adelia.


"Enggak kok, cuma nanya aja." kata El.


"Oh gitu, jadi gimana El? Kamu mau gak bantuin aku buat yakinin Pasha kalau aku emang udah punya pacar baru?" tanya Adelia berharap.


"Eee aku sih mau-mau aja, tapi masalahnya kalo sekarang tuh aku gak bisa Del." jawab El.


"Yah kenapa gak bisa? Padahal sebentar doang kok, cuma ketemu terus kenalan aja. Abis itu kamu boleh pergi deh!" ucap Adelia.


"Maaf banget Adel! Aku gak bisa bantu kamu sekarang, karena aku udah ada urusan penting yang harus aku urus. Tolong kamu ngerti ya, jadi aku harus pergi sekarang! Mungkin lain kali baru aku bisa bantu kamu," ucap Elargano.


"Tapi El, aku mohon sama kamu sebentar aja! Aku udah muak dideketin terus sama Pasha, ayolah El bantu aku!" ucap Adelia membujuk El untuk membantunya.


"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, tapi aku gak bisa bantu kamu Del!" ujar El tetap sama.


Adelia pun cemberut dan memalingkan wajahnya, El justru melepaskan tangan Adelia dari lengannya dan berniat pergi.


"Aku pergi ya? Permisi Del!" ucap El tersenyum tipis.


Elargano pun melangkah menuju mobilnya, masuk ke dalam dan melaju pergi meninggalkan Adelia yang masih cemberut disana.


"Ish, El kok gitu sih? Jahat banget gak mau bantu gue!" geram Adelia kesal sendiri.


Akhirnya Adelia masuk ke dalam cafe itu, walau sebenarnya ia tidak ingin menemui sang mantan di dalam sana karena sudah tak mencintai lelaki itu lagi.




Sahira pulang ke rumah setelah selesai membantu Grey menceritakan semuanya kepada mamanya.


Sahira sungguh senang karena Grey bisa bercerita apa yang menimpa dirinya itu pada sang mama.


Dan reaksi mama dari Grey pun sesuai ekspektasi Sahira sebelumnya, dimana beliau merasa kasihan dan justru membela Grey.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, yang mana Sahira merasa cemas kalau ia akan dimarahi oleh abangnya.


"Duh, gue dimarahin gak ya?" gumamnya.


Sahira pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah secara perlahan, sembari terus celingak-celinguk khawatir kalau ada seseorang yang melihatnya.


Disaat Sahira hendak membuka pintu, ia terkejut lantaran pintu sudah terbuka lebih dulu dan membuat gadis itu spontan berbalik.


Ceklek...


"Eh kamu baru pulang Sahira?" ucap orang itu.


Sahira merasa aneh mendengar suara tersebut, ia pun menoleh lalu benar saja bahwa yang dilihatnya adalah sang ibu alias Ratna.


"Ibu? Kok ibu ada disini?" tanya Sahira terkejut.


"Iya sayang, ibu sama Nawal dan Thoriq lagi main kesini sekalian silaturahmi sama kedua orang tua Nur. Kan kamu tahu sendiri, ibu ini belum kenal sama besan ibu." jawab Ratna.


"Ah iya sih Bu, tapi kenapa ibu gak bilang ke aku kalau ibu mau kesini? Tahu gitu, pasti aku gak bakal pulang selarut ini." kata Sahira.


"Gapapa sayang, ibu tahu kamu pasti sibuk di sekolah." ujar Ratna.

__ADS_1


"Eee aku mau peluk ibu dong, boleh gak?" tanya Sahira sembari bergerak maju.


"Ya boleh dong sayang! Ibu kan juga mau peluk kamu, tapi daritadi kamu disitu-situ aja!" jawab Ratna sembari melebarkan tangannya.


"Hehe.." Sahira nyengir lalu memeluk ibunya.


"Mmhhh kamu keringetan sayang, pasti capek ya?" ucap Ratna.


"Iya Bu, maaf ya ibu jadi kebauan deh." kata Sahira.


"Oh enggak kok, walau kamu keringetan begini kamu tetap wangi tau. Mana mungkin anak ibu yang cantik ini bau?" ucap Ratna.


"Ah ibu bisa aja, udah deh Bu aku lepas aja. Takutnya ibu malah ketularan bau," ucap Sahira.


Sahira pun melepas pelukannya karena merasa tidak enak pada ibunya.


"Yeh harusnya mah gapapa sayang! Walau kamu keringetan, ibu gak masalah kok!" ucap Ratna.


"Biarin Bu, aku udah puas kok peluk ibu. Oh ya, Nawal sama bang Thoriq dimana Bu? Apa mereka masih di dalam?" ucap Sahira menanyakan dua saudaranya yang lain.


"Ohh mereka ada di dalam sayang, yaudah yuk masuk kita temuin mereka!" ucap Ratna.


"Iya Bu," ucap Sahira mengangguk setuju.


Ratna pun merangkul pundak putrinya itu, lalu melangkah secara bersamaan memasuki rumah yang lumayan besar itu.




Fadia mengajak suaminya alias ayah Grey yang bernama Agus itu untuk menemui putri mereka di dalam kamar.


Agus yang baru pulang kerja, belum mengetahui apa-apa tentang Grey dan bahkan belum tahu jika Grey sudah pulang ke rumah.


"Mah, emangnya Grey sudah kembali? Kok mama bilang dia ada di kamarnya?" tanya Agus heran.


"Iya pah, tadi siang Grey pulang diantar sama teman-temannya. Makanya ayo kita temui di kamar, sekalian papa harus tau apa yang terjadi sama putri kita!" jawab Fadia.


"Maksud mama gimana? Memangnya ada apa sama Grey putri kita, mah?" tanya Agus.


"Udah deh pah, kita masuk aja dulu!" ucap Fadia.


"Iya iya.." ucap Agus pasrah.


TOK TOK TOK...


"Sayang, ini mama nak. Mama sama papa mau ketemu sama kamu, buka dong pintunya sayang!" teriak Fadia sembari mengetuk pintu.


Ceklek...


"Grey, syukurlah kamu sudah pulang nak! Papa rindu sekali sama kamu!" ucap Agus yang langsung memeluk putrinya dengan erat.


"Iya pah, aku juga kangen sama papa! Maafin aku ya karena aku pergi lama!" ucap Grey.


"Gapapa sayang, yang penting kamu sudah pulang sekarang! Kamu baik-baik aja kan nak?" tanya Agus sembari menangkup wajah putrinya.


"Eee aku..."


"Itu dia pah yang mama mau bicarain sama papa, papa harus tau semuanya!" potong Fadia.


"Tahu apa sih, mah?" tanya Agus heran.


"Kita bicara di dalam kamar kamu ya Grey! Boleh kan?" ucap Fadia.


"I-i-iya mah, ayo masuk aja!" ucap Grey.


Grey melebarkan pintu, memberi jalan bagi kedua orangtuanya untuk masuk ke dalam.


Mereka sama-sama duduk di sofa kamar Grey, gadis itu tampak bingung untuk mulai bercerita.


"Jadi, ada apa sih mah?" tanya Agus penasaran.


"Grey, kamu mau mama yang cerita atau kamu sendiri yang ceritain ke papa kamu ini?" ucap Fadia bertanya pada putrinya.


"Eee mama aja deh, aku gak sanggup kalau harus ceritain itu semua lagi." ucap Grey.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu gak sanggup? Memangnya kenapa Grey?" tanya Agus semakin penasaran.


"Jadi begini pah, Grey itu..." Fadia menggantung ucapannya karena ia pun tidak tega menceritakan apa yang dialami putrinya.


"Kenapa mah? Ada apa sih? Ayolah kasih tahu papa, jangan digantung terus begini!" ujar Agus.


"Iya pah, Grey itu mengalami kasus pelecehan yang dilakukan oleh gurunya sendiri. Itu sebabnya dia gak mau pulang ke rumah selama beberapa hari ini, karena dia trauma." jawab Fadia.


"Apa? Dilecehkan??" ujar Agus terkejut.


Grey pun tampak menangis, apalagi tatapan mata Agus begitu tajam menyorot ke arahnya.




Keesokan paginya, Elargano sudah tiba di depan rumah Sahira untuk menjemput gadis itu dan mereka akan pergi ke sekolah bersama-sama.

__ADS_1


El tahu bahwa Sahira pasti menolaknya, maka dari itu ia coba menggunakan penyelidikan kasus Grey sebagai alasan agar bisa pergi bersama Sahira.


Tak lama kemudian, terlihat Sahira keluar dari rumah bersama Jordan.


Elargano pun tersenyum, lalu melangkah menghampiri keduanya.


"Halo Sahira, bang, selamat pagi!" ucap El menyapa kakak-adik di depannya itu.


"Iya, pagi juga." ucap Jordan keheranan.


Sementara Sahira masih menatap bingung ke arah Elargano, ia tak mengerti apa maksud El datang kesana pagi-pagi begini.


"Lu mau ngapain kesini kak?" tanya Sahira bingung.


"Aku pengen anterin kamu, pake ditanya lagi. Kita ke sekolah barengan aja!" jawab El santai.


"Hah? Gausah kak, gue bisa pergi sendiri kok. Lu gak perlu lah repot-repot datang kesini buat jemput gue, karena gue juga bukan tipe orang yang suka pergi berdua sama pacar orang." kata Sahira.


"Kamu itu kenapa sih Sahira? Aku ajak kamu berangkat bareng, itu karena ada satu hal penting yang mau aku sampaikan ke kamu!" ucap El.


"Apa?" tanya Sahira kebingungan.


"Soal pelaku yang udah sebarin foto-foto Grey ke grup sekolah, gue berhasil temuin siapa pelakunya itu. Makanya sekarang gue mau kasih tahu ke lu," jawab Elargano.


"Oh ya? Lu serius kan gak bohong? Terus, siapa pelakunya?" tanya Sahira tampak ceria.


"Gue gak bisa kasih tahu sekarang, kita bicara aja di mobil nanti. Gue juga bakal kasih info lengkapnya sama lu," jawab El.


"Yaudah deh, gue mau bareng sama lu. Tapi, ini cuma karena gue penasaran sama pelaku yang udah sebarin foto Grey." kata Sahira.


"Iya Sahira, gue ngerti kok. Yaudah, yuk kita jalan sekarang!" ucap El.


Sahira mengangguk pelan, kemudian menatap wajah abangnya dan berpamitan sambil mencium tangan.


"Bang, gue berangkat ke sekolah bareng El ya?" ucap Sahira.


"Iya Sahira, kamu hati-hati!" ucap Jordan.


"Iya bang," ucap Sahira tersenyum singkat.


"El, gue titip adik gue sama lu. Jaga dan antar dia sampai ke tempat tujuannya! Lu bawa mobilnya juga jangan terlalu ngebut, bahaya!" ucap Jordan kepada El.


"Siap bang, tenang aja! Sahira insyallah aman kok kalau sama gue!" ucap El tersenyum.


Setelahnya, Sahira dan El pun pergi bersamaan ke dalam mobil.


Sementara Jordan tetap disana sampai mobil El sudah benar-benar pergi jauh dan tak terlihat lagi di matanya.


"Mereka kelihatan makin dekat, apa mungkin kalau mereka saling mencintai?" batin Jordan.




Di dalam mobil, Sahira langsung menanyakan pada Elargano terkait siapa pelaku yang sudah menyebarkan foto-foto Grey itu di grup sekolah.


"El, mana katanya lu mau cerita?" ujar Sahira.


"Ya sabat dong Sahira! Nanti di depan kita mampir dulu ke warkop buat bahas ini ya!" ucap El.


"Haish, kelamaan ah! Gue tuh mau tau sekarang, udah mending lu langsung kasih tahu deh ke gue siapa pelakunya! Gue udah penasaran banget ih!" ucap Sahira memaksa El segera bercerita.


"Hadeh lu gak sabaran banget ya jadi cewek! Gue kan udah bilang, kita bicaranya nanti di warkop biar enak sambil minum!" ucap El.


"Gue gak perlu minum El, gue gak haus. Udah deh lu jangan kebanyakan alasan! Bilang aja lu sebenarnya belum tahu kan siapa pelakunya, tapi lu pengen berangkat sekolah bareng gue makanya lu bilang kayak gitu tadi!" ucap Sahira.


"Eee gak gitu Sahira, gue beneran kok udah tahu siapa pelakunya. Cuma gue gak bisa ceritain disini sama lu, kita mampir dulu ya ke warkop di dekat sini!" ucap Elargano.


"Halah ngeles aja lu! Kalo emang lu udah tahu, yaudah cerita aja sekarang!" ujar Sahira.


"Tadi pas di rumah gue, lu bilang mau cerita di mobil. Eh pas udah di mobil, lu malah ganti lagi jadi di warkop. Nanti alasan apa lagi yang mau lu pake, ha?" sambungnya.


"Ahaha, lu galak amat sih Sahira! Iya deh iya, gue kasih tahu nih sama lu sekarang!" ucap El.


"Yaudah cepetan kasih tahu, jangan kebanyakan ngomong!" ucap Sahira kesal.


"Hehe, iya iya..." ujar El nyengir.


Akhir Elargano menghentikan mobilnya ke pinggir untuk bisa mengatakan semuanya kepada Sahira terkait siapa pelaku penyebar foto Grey.


"Jadi gini, gue udah minta bantuan ke teman gue si hacker yang jago melacak segala hal. Cuma dengan bukti nomor pengirim, dia berhasil temuin siapa pelakunya yang udah kirim foto Grey ke grup sekolah." kata Elargano.


"Terus, siapa pelakunya yang kirim foto Grey itu?" tanya Sahira makin penasaran.


"Pelakunya itu..." El menggantung ucapannya sembari mendekati wajah Sahira.


Sahira reflek mundur menjauh dari El dan mendorong bahu El agar tidak terus mendekati wajahnya.


"Ish, gausah dekat-dekat!" bentak Sahira.


"Ahaha, pelakunya itu si Riki. Dia yang sebarin foto Grey ke grup sekolah," ucap El santai.


"Apa??" ujar Sahira terkejut.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2