Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Dalang dibalik semuanya


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 67.




"Keira!"


Gadis itu menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya, ia menoleh menatap ke asal suara dan rupanya itu ialah Lingga sang ayah dari Keira.


Lingga berhenti tepat di hadapan putrinya, menatap intens Keira dengan sorot tajam yang memandang dari atas sampai bawah tubuh gadis itu tanpa ada yang tertinggal.


Keira menunduk gugup, ia menaruh dua tangan di depan merasa cemas jika ayahnya itu akan memarahinya karena pulang malam dan masih memakai baju seragam sekolah.


"Darimana aja kamu? Kenapa pulang sekolah gak ke rumah dulu?" tanya Lingga tegas.


"Pah, papa jangan marah dulu ya! Kei punya alasan kok kenapa Kei gak pulang tadi, papa dengerin Kei dulu oke!" pinta Keira.


"Yasudah, coba jelaskan ke papa!" ujar Lingga.


"I-i-iya pah... jadi, tadi itu sewaktu pulang sekolah Kei gak sengaja lihat El lagi pelukan sama Sahira, teman Kei sendiri! Maka dari itu, Kei kesal pah dan Kei mutusin buat pergi sama teman Kei supaya Kei bisa tenangin diri!" jelas Keira.


"Ohh jadi kamu lagi bertengkar dengan pacar kamu itu? Pantas aja tadi El kesini dan nanya sama papa dimana kamu, ya papa jawab aja kalau papa gak tahu orang papa aja baru pulang!" ujar Lingga.


"Iya pah, jelaslah Kei marah! Abisnya El malah peluk-peluk cewek lain sampe segitunya! Ya biarpun yang dipeluk sahabat aku, tapi kan tetap aja rasanya Kei gak terima kalau pacar Kei peluk cewek lain selain Kei! Maaf ya pah, Kei janji deh gak bakal ngelakuin ini lagi!" ucap Keira.


"Gapapa, kamu gak perlu minta maaf! Tapi, ada baiknya sekarang kamu temuin nak El dulu di depan biar semuanya jelas dan gak ada lagi pertengkaran diantara kalian! Kamu udah dengar penjelasan dari dia belum, soal kenapa El peluk Sahira tadi?" ucap Lingga.


"Eee belum sih pah, tapi buat apa aku minta penjelasan? Semuanya udah jelas kok, pasti karena El itu udah gak sayang lagi sama aku!" ujar Keira.


"Oh gitu, tetap aja sayang kamu butuh penjelasan dari El biar semuanya jelas! Papa ngerti kamu marah dan cemburu sama El, tapi gimanapun juga dia kan pacar kamu dan kamu harus coba dengerin dulu penjelasan dari dia!" ucap Lingga.


"Gak perlu, pah! Aku tuh males bicara sama El sekarang, aku lagi kesel banget sama dia!" ujar Keira cemberut kesal.


"Iya iya, papa ngerti kok! Yaudah ya, kamu jangan cemberut gitu terus nanti jelek loh!" ujar Lingga.


"Abisnya papa malah belain El bukan aku, padahal kan yang anaknya papa itu aku! Harusnya papa belain Kei dong, bukannya malah desak Kei buat ketemu sama El di depan!" ujar Keira kesal.


"Gak gitu sayang, papa cuma—"


"Ah udah lah! Mending sekarang aku ke kamar aja, aku malas sama papa!" potong Keira yang langsung pergi menjauh dari Lingga.


Namun, belum sempat gadis itu melangkah lebih jauh Lingga sudah lebih dulu menahannya dari belakang dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.


"Kei, jangan gitu ah! Masa kamu marah sama papa kamu sendiri sih?" bujuk Lingga.


"Ih papa lepasin aku ah!" ujar Keira berusaha berontak dari dekapan papanya.


"Enggak sayang, papa bakal lepasin kamu kalau kamu mau nurut sama papa dan gak marah lagi!" ucap Lingga dengan tegas.


"Nurut apa sih pah?" tanya Keira kesal.


"Ya itu tadi, kamu temui El dan selesaikan masalah kalian malam ini juga! Papa gak mau diantara kalian ada kesalahpahaman, apalagi sampai bertengkar begini!" jawab Lingga.


"Ish, papa itu kenapa sih? Kok maksa banget supaya aku mau ketemu sama El?" ujar Keira.


"Karena papa gak mau anak kesayangan papa ini salah jalan! Papa lebih suka kamu dekat dengan El, dibanding pria lain sayang! Sudahlah, lebih baik kamu keluar dan temui saja El sekarang jangan membantah!" tegas Lingga.


"Aku gak mau!" bentak Keira.


Keira berontak dan berhasil mendorong tubuh Lingga menjauh darinya, ia terlepas dari dekapan sang ayah, kini Lingga terhuyung cukup jauh akibat dorongan keras dari Keira.


"Sayang! Bisa-bisanya kamu dorong papa kamu sendiri seperti itu, dimana sopan santun kamu?!" ujar Zahra yang muncul dan menghampiri mereka.


"Mama gausah ikut campur deh! Kalau mama gak tahu urusannya, lebih baik mama diam aja! Aku dorong papa karena papa terus-terusan paksa aku buat temuin El, padahal aku udah bilang kalau aku gak mau ketemu sama cowok itu! Aku ini cuma suka sama Ibrahim, bukan El lagi! Dia masa lalu aku dan aku gak akan pernah mau bersatu lagi sama lelaki seperti dia!" ujar Keira.


Keira pun langsung bergegas pergi menaiki anak tangga meninggalkan ayah dan ibunya disana, terlibat Zahra cukup syok dengan sikap putrinya yang sangat berbeda dari biasanya itu, begitu pula dengan Lingga.


"Mas, kamu gapapa?" tanya Zahra cemas.

__ADS_1


"Gak kok, aku baik-baik aja! Sepertinya benar apa yang dikatakan El tadi, Keira memang sudah terkena pengaruh jahat!" ucap Lingga.


"Benar pah! Seumur-umur baru kali ini mama dengar Keira membentak kita!" ucap Zahra.


"Sabar ya sayang! Aku bakal berusaha kok buat singkirin gelang itu dari tangan Keira, kita harus bisa bikin Keira kembali seperti dulu lagi!" ucap Lingga.


"Iya mas, tapi tadi kamu dengar gak Keira sebut nama siapa?" ujar Zahra.


"Dengar, dia menyebut nama Ibrahim!" ucap Lingga.


"Nah, bisa jadi semua ini ulah laki-laki itu mas! Ibrahim yang udah kirim pelet buat Keira putri kita, sampai dia bisa berubah kayak gitu!" ucap Zahra.


"Benar juga! Kita harus beritahu ini semua ke nak El, siapa tahu info ini dapat membantu dan kita bisa membebaskan Keira dari pelet itu!" ujar Lingga.


"Iya mas," Zahra mengangguk setuju.




Sementara itu, di luar Elargano masih terlibat pertikaian dengan Ibrahim mengenai masalah perubahan sikap Keira itu. El belum bisa percaya seratus persen dengan apa yang dikatakan Ibrahim, ia cukup yakin kalau Ibrahim ada dibalik ini semua dan itu sebabnya ia tak melepaskan Ibrahim begitu saja dari cengkeramannya.


"Lepasin saya! Kamu kenapa sih gak percaya sama saya dan nuduh saya yang enggak-enggak? Kamu udah gila apa gimana?!" geram Ibrahim.


"Diam lu! Selagi lu masih belum ngaku kalo lu yang udah pelet Keira, gue gak akan pernah lepasin lu! Karena gue yakin seyakin-yakinnya, pasti lu yang udah ngelakuin itu ke Keira!" tegas Elargano.


"Kamu ngomong apa sih? Saya benar-benar gak paham sama kamu!" ujar Ibrahim.


"Masih aja lu ngelak ya, kita lihat sampai berapa lama lu bisa tahan dari siksaan yang bakal gue kasih ke lu!" ucap Elargano.


"Apa yang mau kamu lakukan ke saya?" tanya Ibrahim mulai cemas.


"Hahaha, let's see!" ujar Elargano tertawa jahat.


Elargano membawa tubuh Ibrahim ke dekat pohon besar yang tinggi menjulang itu, membuat Ibrahim semakin merasa cemas dan ketakutan tak dapat memikirkan apa yang akan dilakukan Elargano padanya saat ini.


"Aaarrgghh!! Nih orang maunya apa sih?" geram Ibrahim dalam hati.


"Diam lu, jangan berpikir buat kabur!" tegas El.


Ibrahim hanya mengangguk pelan, untuk kabur pun juga sangat sulit karena dua tangannya masih dicengkeram erat oleh satu tangan Elargano.


📞"Halo! Ada apa ya om?" ucap El di dalam telpon.


📞"Iya halo, begini El ada yang mau om bicarakan sama kamu dan ini terkait Keira!" ucap Lingga.


📞"Keira? Ya ya om, memangnya apa yang terjadi sama Keira? Dia baik-baik aja kan om?" ujar El tampak panik mencemaskan kekasihnya.


📞"Dia baik kok, cuma ya itu sikapnya mulai berubah drastis seperti yang kamu katakan tadi. Barusan saja dia berani bentak om, bahkan sampai dorong om hanya karena om minta dia buat temui kamu di depan!" jelas Lingga.


📞"Duh, ini pasti efek dari gelang itu om! Kayaknya gelang itu harus segera dicopot dari lengan Keira, supaya Keira gak semakin menjadi-jadi!" ucap El semakin cemas.


📞"Kamu benar! Tapi, gimana caranya supaya om bisa lepasin gelang itu dari Keira?" tanya Lingga.


📞"Eee om coba aja tunggu sampai Keira tidur, dengan begitu akan lebih mudah untuk lepas gelang yang dipakai Keira!" usul Elargano.


📞"Baiklah, om ikuti saran kamu itu! Yasudah ya, itu saja yang ingin om sampaikan ke kamu! Eh sebentar sebentar, om kelupaan ada satu lagi yang perlu om beritahukan sama kamu El!" ujar Lingga.


📞"Iya om, apa itu?" tanya Elargano.


📞"Barusan Keira sebut nama Ibrahim, sewaktu om minta dia buat temui kamu. Katanya dia lebih milih Ibrahim dibanding kamu, El!" jawab Lingga.


📞"Apa? Beneran om, Keira sebut nama itu?" tanya Elargano penasaran.


📞"Iya El, kamu cari tahu ya siapa yang dimaksud Keira itu! Om yakin kalau kemungkinan laki-laki itulah yang ada dibalik ini semua, bisa jadi dia yang sudah mengirim pelet untuk Keira melalui gelang aneh itu!" jelas Lingga.


📞"Baik om, saya tahu siapa orangnya kok!" ucap Elargano tersenyum tipis menatap Ibrahim yang masih bersamanya.


📞"Yang benar? Oh syukurlah, semoga kamu berhasil menemukan orang itu dan masalah ini segera terselesaikan! Om juga akan coba melepas gelang itu dari Keira!" ucap Lingga.

__ADS_1


📞"Iya om, tenang aja!" ucap El santai.


Tuuutttt...


Telpon terputus, El pun memasukkan ponselnya ke saku celana dan kembali menatap Ibrahim yang tampak ketakutan itu.


"Heh! Sekarang lu gak bisa nyangkal lagi, ngaku aja kalau semua ini ulah lu kan!" tegas Elargano.


"Apaan sih? Saya gak pernah ngapa-ngapain, kamu jangan asal tuduh begitu dong! Punya bukti gak kalau saya pelakunya?" elak Ibrahim.


"Cih! Om Lingga alias papanya Keira tadi bilang, kalau Keira sebut-sebut nama Ibrahim sewaktu dia lagi marah di dalam. Dari situ aja udah jelas, lu yang udah kirim pelet buat Keira lewat gelang itu! Gue gak akan pernah ampunin lu, kecuali lu mau bantu gue lepasin Keira dari pengaruh pelet itu!" ucap Elargano mengancam Ibrahim.


Ibrahim terdiam bingung, dirinya amat ketakutan dan cemas jika nantinya El akan berbuah nekat.


"Saya harus gimana sekarang?" batin Ibrahim.




Disisi lain, Thoriq geleng-geleng kepala saat melihat Sahira tertidur pulas di kursi tunggu rumah sakit dengan kepala bersandar pada tembok. Thoriq cukup kasihan melihatnya, ia pun berinisiatif membantu Sahira agar lebih nyaman.


Pria itu pun duduk di sebelah Sahira, menatapnya sekilas dengan senyum manis sebelum akhirnya ia berusaha memindahkan kepala Sahira ke atas bahunya, tentunya ia sangat berhati-hati dalam melakukan itu agar tak mengejutkan Sahira.


"Sahira, kamu tidurnya di pundak aku aja ya supaya lebih nyaman!" batin Thoriq.


Tanpa disadari, rupanya kejadian itu dilihat oleh Nur yang berada tepat di seberangnya, kebetulan Thoriq mengira jika Nur serta ibunya sudah tertidur dan tidak akan melihat adegan itu, tapi ternyata Nur justru terbangun dari tidurnya saat Thoriq sudah memindahkan kepala Sahira ke bahunya.


"Kamu cantik sekali Sahira! Seandainya kamu bukan adik aku, mungkin aku bisa berusaha untuk mendapatkan hati kamu!" batin Thoriq.


Thoriq mengelus wajah Sahira dengan lembut dan terus memandanginya, keindahan itu memang tidak bisa dipungkiri lagi karena Thoriq sangat terpesona melihatnya.


Sementara Nur hanya terdiam menyaksikan apa yang dilakukan Thoriq di hadapannya itu, ia tersenyum merasa senang melihat Thoriq begitu perduli dengan adiknya itu.


Cupp!


Thoriq memberi kecupan manis pada kening Sahira, membuat Nur terbelalak tak menyangka Thoriq bisa melakukan itu.


"Aku sayang sama kamu, Sahira! Aku gak akan biarin siapapun menyakiti kamu!" batin Thoriq.


Setelahnya, Thoriq beralih menatap lurus ke depan memastikan apakah ada yang melihatnya. Sontak Nur langsung berpura-pura tertidur agar tak membuat Thoriq curiga.


❤️


Tengah malam, tepatnya pukul satu dinihari, Sahira terbangun dari tidurnya merasa ingin buang air kecil dan tidak dapat menahannya lagi, ya suasana di lorong rumah sakit itu memang lumayan dingin sehingga ia harus buang air.


Namun, Sahira cukup heran ketika menyadari posisi tidurnya tadi yang menempel pada Thoriq. Ia pun mengangkat kepalanya menjauh dari pria itu dan menatap penuh kebingungan, seingatnya ia tak pernah melakukan itu sebelumnya.


"Duh, gue kok tidur di pundak bang Thoriq sih? Perasaan semalam enggak deh, masa iya kepala gue dipindahin sama dia?" ujar Sahira bingung.


Sahira pun bangkit dari duduknya, lalu hendak pergi ke toilet untuk buang air. Akan tetapi, tiba-tiba tangan Thoriq mencekal lengannya seakan tak membiarkan gadis itu pergi.


"Mau kemana?" tanya Thoriq dengan mata tertutup.


"Eee lu kebangun ya? Pasti gara-gara gue gak hati-hati tadi, sorry ya bang! Ini gue cuma mau ke toilet kok!" jawab Sahira gugup.


"Ohh yaudah, mau aku temenin gak?" ujar Thoriq.


"Hah? Gausah deh bang, lu lanjut aja tidurnya! Tuh buktinya lu masih merem gitu, pasti ngantuk! Biar gue sendiri aja, lagian cuma mau buang air sebentar kok!" ucap Sahira.


"Yakin?" tanya Thoriq.


"Iya bang," jawab Sahira.


"Oke!" Thoriq melepas tangannya dari Sahira, lalu kembali tertidur.


Sahira pun hanya tersenyum tipis, kemudian melangkah menuju toilet disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2