
#SangPemilikHati Episode 61.
•
•
"Eh Keira!" teriak seseorang memanggil Keira dari jauh, membuat gadis itu menoleh ke asal suara lalu menghentikan langkahnya sejenak.
Ya saat ini Keira masih berada di lorong sekolah, ia bingung memikirkan perkataan Ibrahim tadi mengenai Elargano yang ingin mengakhiri hubungan mereka.
Orang yang memanggilnya tadi, sudah tentu adalah Alma, sahabat sekaligus teman sebangkunya.
"Alma? Ada apa?" tanya Keira singkat.
"Lu kok malah akrab banget sih sama Ibrahim? Tadi gue lihat sendiri loh dari sana, lu sama tuh cowok lagi bicara berdua di lobi. Sebenarnya lu benci sama dia atau malah suka sih? Kok begitu dia deketin lu, lu langsung senyum kayak orang yang lagi jatuh cinta?" ucap Alma keheranan.
"Lu ngomong apaan sih, Ma? Mana ada gue suka sama Ibrahim? Gue tuh cuma kagum sama dia, karena dia rajin dan pintar! Lagian apa salahnya sih kalo gue akrab sama tuh cowok? Kan kita cuma temenan doang, gak salah dong?" ujar Keira.
"Yaelah dia pake bilang gak salah! Nih ya Kei, setiap hubungan juga awalnya dari kata cuma temen! Nah terus berkembang dah tuh, mulai suka dan akhirnya saling berhubungan jadi sepasang kekasih deh! Emang lu mau hubungan lu sama kak El rusak gara-gara itu?" ujar Alma.
"Biarin aja. Gue juga udah males sama El, dia terlalu posesif dan banyak ngekang gue! Padahal dia baru jadi pacar gue, tapi udah banyak maunya! Gimana kalo kita nikah coba? Bisa-bisa gue dikurung di rumah gak boleh kemana-mana!" ucap Keira malas.
"Kok lu jadi gini sih, Kei? Perasaan sebelumnya lu selalu bucin akut sama kak El, eh ini sekarang kenapa tiba-tiba lu bilang gitu? Lu udah bosen pacaran sama kak El?" tanya Alma.
"Hadeh, lu sama aja kayak si El!" ucap Keira.
"Hah? Sama apanya?" Alma tak mengerti.
"Iya, sama sama bilang gue berubah! Padahal gue rasa gue masih biasa aja tuh, justru kalian yang pada berubah! Gue juga heran deh sama lu, Ma! Ngapain coba lu terlalu dalam ikut campur ke hubungan gue sama El? Lu mana tau yang gue rasain Ma, jadi lu diem aja deh gausah ikut campur dan sok paling tau tentang gue!" bentak Keira.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, membuat Alma semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dari Keira saat ini.
"Lu kenapa sih Kei? Sadar Kei, ini gue sohib lu!" ucap Alma menepuk-nepuk wajah Keira.
"Ish jangan sentuh gue! Lu gak berhak atur-atur gue! Udah ah gue mau ke kelas, awas lu kalo ngikutin gue lagi!" ucap Keira kesal.
Keira langsung melangkah melewati Alma begitu saja dan berbelok ke arah tangga, membuat Alma semakin bingung dengan tingkah sohibnya yang berubah seratus persen.
"Tuh anak kenapa sih?" batin Alma bingung.
•
•
Thoriq masih mengantar Sahira dengan mobilnya menuju sekolah, mereka lebih banyak diam saat di dalam mobil karena Thoriq memang tipe laki-laki yang pendiam dan jarang bicara, walau sebenarnya Thoriq sangat ingin berbicara dengan Sahira.
Sahira pun juga ikut diam seperti Thoriq, ia lebih memilih menatap sekitar melihat pemandangan di luar mobil yang cukup indah, namun tak jarang pula ia melirik ke arah Thoriq dan tersenyum ketika sadar bahwa pria itu juga meliriknya.
"Ra!" akhirnya satu kata keluar dari mulut Thoriq, itu pun hanya sebatas 'Ra'.
"Ya, kenapa Riq?" tanya Sahira penasaran.
"Gapapa. Aku cuma mau tanya satu hal sama kamu, boleh gak?" ucap Thoriq.
"Apa tuh?" Sahira makin penasaran.
"Eee tipe cowok kamu tuh kayak gimana sih?" ujar Thoriq bertanya pada Sahira.
"Emangnya kenapa?" Sahira justru bertanya kembali pada abang tirinya itu.
"Aku mau memantaskan diri!" jawab Thoriq spontan.
"Hah??" Sahira terkejut bukan main mendengarnya.
"Eee maksudnya tuh supaya aku bisa bantu kamu buat cari cowok yang pantas buat kamu gitu, maaf maaf kalau kata-kata aku tadi salah!" ucap Thoriq mengoreksi perkataannya.
"Ohh, gak perlu lah gue juga masih sekolah! Urusan jodoh gue serahin aja ke Tuhan, kalau udah waktunya juga ketemu nanti!" ucap Sahira.
"Iya sih, tapi kan pasti kamu punya tuh kriteria cowok yang kamu pengenin. Boleh kali spil dikit ke aku gitu, soalnya aku penasaran nih!" ucap Thoriq tersenyum lebar.
"Hahaha iya deh boleh," ujar Sahira.
"Yaudah, jadi kriterianya apa aja nih?" tanya Thoriq sangat penasaran.
"Gak muluk-muluk sih, gue cuma pengen cowok yang pintar dan bisa bimbing atau ajarin gue ke jalan kebaikan. Terus gue juga suka cowok yang rajin olahraga, supaya kita bisa olahraga bareng gitu kalo udah jadian!" jawab Sahira.
__ADS_1
"Oh ya? Serius cuma itu aja? Gak ada ciri yang lain dan lebih spesifik gitu? Misalnya yang tinggi, ganteng, atau kaya!" tanya Thoriq.
"Udah sih itu aja, gue mah gak terlalu pilih-pilih cowok yang penting dia orangnya tuh bisa bikin gue nyaman dan bahagia tiap kali gue ada di samping dia!" ucap Sahira.
"Ahaha, siap! Nah terus kalo aku, kira-kira masuk gak ke kriteria kamu itu?" ujar Thoriq.
"Apa? Kok lu nanya gitu sih?" ujar Sahira kaget.
"Ya cuma tanya aja, barangkali gitu kan aku termasuk ke dalam kriteria cowok idaman kamu. Tapi, kalau enggak juga gapapa!" ucap Thoriq.
"Eee gue kurang tahu sih, kan kita juga baru ketemu dan kenal dua hari. Mungkin gue butuh waktu buat mengenal lu lebih jauh, supaya gue bisa jawab pertanyaan lu barusan!" ucap Sahira.
"Oh iya sih, lagian aku cuma bercanda kok, gausah terlalu dipikirin ya lupain aja!" ucap Thoriq.
"Oke!" Sahira mengangguk lalu membuang muka.
Thoriq masih terus memandangi wajah Sahira dari samping, sesekali menepuk jidatnya merasa bodoh karena sudah berkata seperti tadi pada Sahira.
"Aaarrgghh dasar payah! Ngapain coba lu pake bilang gitu ke Sahira?" gumam Thoriq.
Samar-samar ucapan Thoriq itu terdengar di telinga Sahira, namun ia tidak dapat mendengarnya dengan jelas sehingga hanya diam tak mau kepo atau bertanya pada abang tirinya itu.
•
•
Sesampainya di halaman sekolah, Sahira langsung berpamitan pada Thoriq untuk segera turun dari mobil dan masuk ke sekolahnya mengingat jam juga sebentar lagi menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Riq, gue masuk sekolah dulu ya?" ucap Sahira.
"Ah iya iya, belajar yang rajin ya! Udah ada uang jajan belum buat hari ini?" tanya Thoriq.
"Uang? Eee belum ada sih, soalnya kan bang Jordan lagi kritis di rumah sakit. Biasanya dia yang selalu kasih gue uang jajan setiap hari, tapi kali ini kan gak bisa. Ya gapapa deh, gue makan bekal yang disiapin kak Nur aja!" jawab Sahira.
"Duh kasihan banget sih kamu!" ucap Thoriq.
"Yaudah ya, gue turun dulu!" ucap Sahira.
"Eh bentar bentar!" Thoriq menahan Sahira yang ingin turun dari mobilnya, satu tangannya ia gunakan untuk mencekal lengan Sahira dan satunya lagi merogoh kantong celananya.
"Ini uang jajan buat kamu!" ucap Thoriq sembari menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu pada Sahira.
Sontak gadis itu melongok, ada apa gerangan Thoriq memberinya uang sebanyak itu?
"Lu serius?" ujar Sahira yang masih syok.
"Iyalah, ini ambil aja udah! Aku kan juga abang kamu, jadi gapapa dong kalo aku kasih kamu uang buat jajan? Anggap aja ini uang dari bang Jordan buat kamu, ayo ambil!" ucap Thoriq.
"Ta-tapi ini banyak banget!" Sahira masih ragu untuk menerima uang itu.
"Gapapa, kan bisa buat traktir teman kelas kamu atau ditabung!" ucap Thoriq.
"Ya iya sih, yaudah deh gue ambil karena lu maksa! Makasih ya Riq, eh atau gue harus panggil lu bang Thoriq nih?" ucap Sahira.
"Bebas, terserah kamu!" ucap Thoriq.
"Yaudah, makasih ya bang Thoriq!" ucap Sahira.
"Oh pake bang nih?"
"Iya, biar sopan. Emang kenapa? Lu gak suka ya gue panggil gitu?"
"Suka kok, malah aku senang!"
"Bagus deh!"
Sahira pun mengambil uang itu dari tangan Thoriq, lalu juga mencium punggung tangan pria itu secara tiba-tiba dan langsung turun dari mobil sambil melambaikan tangan ke arah Thoriq.
"Benar-benar cantik adik tiri gue itu!" gumam Thoriq sembari menggelengkan kepalanya.
•
•
Sahira tak sengaja melihat Elargano yang tengah menyendiri di samping sekolah dan jauh dari keramaian, ia pun penasaran karena tak biasanya seorang Elargano duduk sendirian dengan kondisi wajah masam seperti sedang ada masalah.
__ADS_1
Akhirnya Sahira memutuskan untuk menghampiri Elargano dan menghiburnya, walau ia agak malas juga harus berurusan dengan Elargano yang selalu membuatnya kesal, namun tak ada pilihan lain karena ia sangat penasaran.
"Si Gano kenapa ya? Apa dia lagi ada masalah sampai murung begitu? Gue samperin aja deh, biar gimanapun dia kan kemarin udah bantu gue dan gue sekarang harus bantu dia juga!" batin Sahira.
Gadis itu berhenti tepat di samping Elargano, ia menatapnya merasakan kalau pria tersebut tengah dilanda masalah yang cukup besar sampai tak sadar jika ada dirinya disana.
"Ehem ehem..." Sahira berdehem pelan.
Elargano yang sedang melamun itu terkejut, ia menoleh dan menghela nafas saat melihat ada Sahira di sampingnya.
"Sahira? Lu sejak kapan disitu?" tanya El yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Baru aja, lu lagi ada masalah ya?" ucap Sahira.
"Hah? Sok tau lu! Gue cuma lagi ngadem aja, emangnya gue ini lu yang punya banyak masalah!" ucap Elargano sewot sendiri.
"Lah ngapa jadi bawa-bawa gue? Lagian kalo cuma mau ngadem, kan di dalam juga ada AC! Pasti ini mah lu lagi ada problem kan? Udah ngaku aja kali, gausah malu!" ucap Sahira.
Gadis itu pun duduk di samping Elargano sembari menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Gue juga tahu kok, orang kaya itu punya masalah yang sama kayak orang miskin! Biarpun harta lu banyak, tapi bukan berarti lu bisa lepas dari yang namanya masalah! Mending lu cerita sama gue, pasti bakal gue dengerin kok!" ucap Sahira.
"Huft iya sih lu bener! Gue emang lagi ada masalah sedikit sama Keira, makanya gue sekarang pengen tenangin diri disini!" ucap Elargano menghela nafas.
"Nah kan, gue tahu kalo orang itu lagi ada masalah! Emangnya diantara lu sama Keira, kenapa sih? Kok bisa ada masalah gini? Kalian berantem apa gimana?" ucap Sahira penasaran.
"Iya, kayaknya dia marah sama gue. Karena gue paksa dia buat lepas gelang yang dia pakai, tapi gue ngelakuin itu bukan tanpa alasan Ra! Gue ngeliat ada sesuatu yang gak beres dari gelang itu, apalagi setelah pake tuh gelang sikap Keira juga berubah dan sering cuekin gue!" ucap Elargano.
"Oh ya? Mungkin cuma perasaan lu aja kali, mana mungkin gelang bisa bikin sikap seseorang berubah gitu?" ucap Sahira tak percaya.
"Ya terserah lu deh, kalo lu belum lihat langsung emang pasti gak bakal percaya!" ucap Elargano.
"Sorry deh! Coba nanti gue temuin Keira, udah ya lu jangan murung terus gitu! Mending sekarang masuk ke dalam, bentar lagi bel nih!" ucap Sahira memegang pundak pria itu.
"Lu aja duluan, tar gue nyusul!" ucap Elargano.
"Jangan! Kita bareng aja ayo, kalo lu disini terus nanti yang ada malah sedih terus! Lagian kan Keira mungkin cuma kesel aja sama lu, karena dia mikirnya lu terlalu berlebihan gitu! Ya maklum aja lah namanya juga cewek!" ucap Sahira.
"Oke! Tapi, nanti lu temenin gue ya bujukin Keira supaya dia gak marah sama gue?" pinta Elargano.
"Iya, gue bantu kok! Gue juga gak mau hubungan sahabat gue dan pacarnya retak, tapi sekarang lu masuk dulu ke kelas yuk!" ucap Sahira.
El mengangguk setuju, kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah bersama Sahira menuju ke dalam sekolah.
•
•
Alma yang baru masuk kelas, tampak heran melihat Keira tengah duduk di bangkunya sambil menunjukkan wajah cemberut penuh kekesalan disertai tangan yang terkepal.
Gadis itu terus melangkah mendekati Keira, karena tempat duduknya juga ada di samping gadis itu. Namun, ia tampak berhati-hati ketika hendak duduk khawatir kalau Keira akan marah padanya.
Deg!
Benar saja Keira langsung menoleh ke arahnya, menatap Alma dengan tajam hingga membuat gadis itu terkejut takut.
"Ngapain lu kesini? Lu pindah sana, jangan duduk di samping gue! Gue gak mau ya duduk sebelahan sama orang kayak lu!" bentak Keira.
"Ta-tapi Kei, disini gak ada tempat yang kosong lagi. Emangnya kenapa sih lu gak suka gitu gue duduk disini? Apa salah gue, Kei? Kenapa lu jadi kayak gini?" ucap Alma terheran-heran.
"Gausah drama deh lu! Pokoknya gue gak mau lu duduk disini!" tegas Keira.
Alma merasakan ada yang aneh dari sorot mata Keira, ya dirinya seperti bukan melihat Keira yang biasanya.
"Terus gue harus duduk dimana, Kei?" tanya Alma.
"Ya terserah lu!" ujar Keira.
Alma yang bingung akhirnya memilih untuk mencari tempat duduk yang lain, ia meminta pada salah satu teman kelasnya bertukar tempat karena Keira tak mau duduk bersebelahan dengannya.
"Huft, gini amat nasib gue sekarang! Keira kenapa jadi kayak gitu sih?" gumam Alma dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1