
#SangPemilikHati Episode 100.
•
•
Elargano masih mencemaskan kondisi Keira yang hingga kini belum juga sadarkan diri.
Pria itu sudah membawa Keira ke rumah sakit, ia berharap Keira bisa segera sadar setelah diperiksa oleh dokter.
"Aduh! Semoga Keira baik-baik aja!" ujarnya.
Elargano terus mondar-mandir di depan ruangan tersebut, ia tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar mengenai Keira.
"Gimana ini ya kalau sampai Keira kenapa-napa? Gue gak mau kehilangan dia!" gumamnya cemas.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan itu setelah selesai memeriksa Keira di dalam sana.
Ceklek...
Elargano pun langsung menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi gadisnya.
"Dok, gimana keadaan pacar saya dok? Dia baik-baik aja kan dok?" tanya El cemas.
"Kamu yang tenang ya! Kondisi pasien sudah membaik kok, hanya saja saat ini beliau masih belum bisa sadarkan diri. Biarkan saja pasien beristirahat sejenak ya, mas!" jawab dokter itu.
"Syukurlah kalau pacar saya gak kenapa-napa dok! Tapi, apa yang jadi penyebab dia bisa pingsan seperti tadi dok?" ujar El bingung.
"Hal itu disebabkan oleh kondisi pasien yang lemah dan kurang nutrisi, bisa jadi karena pasien belakangan ini sering begadang dan telat makan. Sebaiknya memang pasien banyak beristirahat, karena kondisinya sangat lemah." jelas dokter itu.
"Ya ampun sayang! Kamu ngapain sih pake telat tidur segala?" gumam El.
"Yasudah ya mas, saya permisi dulu! Kalau masnya mau masuk, silahkan saja! Tetapi, mohon untuk jangan diajak bicara dulu ya pasiennya! Selain demi kebaikan pasien, saat ini pasien kan juga belum sadar dan tidak bisa diajak bicara." ucap dokter mengingatkan El sambil tersenyum.
"Baik dok, saya mengerti!" ucap El patuh.
Dokter itu pun melangkah pergi, sedangkan El yang cemas langsung memasuki ruangan itu dan menemui Keira di dalam sana.
El menarik kursi, lalu duduk di samping tubuh Keira yang sedang pingsan itu. Ia tatap wajah cantik Keira dan mengelus lengan gadis itu dengan lembut.
"Sayang, kamu kenapa harus begadang sih? Apa yang kamu lakukan coba?" ujarnya heran.
Drrttt..
Drrttt...
Disaat ia tengah asyik menatap wajah Keira, tiba-tiba saja ponselnya berdering yang mengharuskan pria itu mengangkat telpon sejenak.
"Sebentar ya sayang, aku angkat telpon dulu." ucap El pada Keira.
Elargano melihat layar ponsel, terpampang nama papanya disana. El pun bingung mengapa papanya harus menelpon disaat seperti ini.
📞"Halo pah! Ada apa ya?" ujar El penasaran.
📞"Halo El! Kamu dimana sekarang? Lagi apa?" tanya Erlangga dengan nada tinggi.
📞"Eee ini pah, aku lagi di sekolah kayak biasa. Papa gimana sih? Sekarang kan masih jam sekolah, masa nanya aku dimana sih." jawab El berbohong.
📞"Kamu jangan bohongi papa, El! Papa tahu kalau kamu gak sekolah, jujur aja sama papa dimana kamu sekarang!" ujar Erlangga.
Elargano terdiam kebingungan, sejujurnya ia tak mau memberitahu pada papanya mengenai kondisi Keira yang saat ini sedang pingsan.
📞"El, kenapa kamu diam aja? Jawab El! Barusan papa telpon pihak sekolah, dan kamu tidak ada disana. Apa kamu sekarang sudah berani bolos sekolah?" ujar Erlangga kesal.
📞"Bukan gitu pah, aku gak niat bolos sekolah kok. Aku ini lagi di rumah sakit sekarang, pah." kata El.
📞"Apa? Ngapain kamu di rumah sakit? Sakit apa kamu?" tanya Erlangga mulai cemas.
📞"Enggak pah, aku gak kenapa-napa kok. Bukan aku juga yang sakit pah," jawab Elargano.
📞"Terus, siapa yang sakit ha?" tanya Erlangga.
📞"Keira, pah." jawab Elargano.
📞"Keira? Memangnya dia sakit apa El?" tanya Erlangga kebingungan.
📞"Tadi dia pingsan sewaktu di sekolah, pah. Makanya aku langsung bawa Keira ke rumah sakit buat diperiksa, terus katanya Keira itu kurang istirahat." jelas Elargano.
📞"Oh gitu, yaudah semoga Keira cepat sembuh ya! Maafin papa karena udah suudzon sama kamu! Sekarang kamu jagain aja pacar kamu itu ya, jangan sampai dia kenapa-napa!" ucap Erlangga.
📞"Iya pah, aku pasti bakal jaga Keira dengan baik! Aku kan sayang banget sama Keira," ucap El.
📞"Oh ya, kamu udah kasih tahu orang tua Keira belum?" tanya Erlangga.
📞"Belum pah," jawab Elargano.
📞"Kenapa gitu? Mereka pasti khawatir sama kondisi Keira, mending kamu kabarin sekarang!" ujar Erlangga.
📞"Justru itu pah, aku gak mau bikin orang tua Keira khawatir. Makanya aku pilih buat gak kasih tahu mereka," ucap Elargano.
📞"Yasudah, terserah kamu aja. Papa mau lanjut kerja dulu ya!" ucap Erlangga.
📞"Iya pah, serahin aja masalah Keira ke aku. Pasti aku bisa urus semuanya kok!" ucap Elargano.
__ADS_1
📞"Oke deh! Salam ya buat Keira!" ucap Erlangga.
📞"Siap pah!" ucap El.
Tuuutttt...
Setelah telpon terputus, Elargano kembali melirik ke arah Keira dan mengelus tangan Keira yang mulus itu.
"Sayang, ayo sadar dong! Aku cemas banget loh sama kamu!" ucap El bersedih.
•
•
Sahira tengah berada di kantin seorang diri, ia pun heran mengapa El hingga kini tidak datang mendekatinya, padahal biasanya pria itu selalu saja mengganggunya setiap kali ia di sekolah.
"Tumben banget nih si El gak deketin gue, biasanya dia selalu muncul." ujar Sahira sembari menoleh ke sekeliling seperti mencari keberadaan El.
"Ehem ehem..." tiba-tiba saja seseorang muncul dan berdehem di dekatnya.
Sahira pun terkejut, ia menoleh ke samping melihat siapa yang datang.
Rupanya itu adalah Farhan, pria yang menyukai Sahira.
"Kamu lagi nyariin siapa sih? Aku ya?" tanya Farhan dengan pedenya.
"Hah? Lu kok bisa sepede itu sih? Yakali gue nyariin lu, buat apa juga?" jawab Sahira ketus.
"Hahaha... iya iya, aku cuma bercanda kok. Eh ya, aku boleh gak ikut duduk disini temenin kamu? Aku lihat-lihat kamu sendirian aja, kayaknya butuh temen nih." ujar Farhan sambil nyengir.
"Duduk aja!" ucap Sahira memberi izin.
"Seriusan nih? Kamu bolehin aku buat duduk disini?" tanya Farhan tak menyangka.
"Iyalah, ini kan tempat umum. Siapapun boleh lah duduk disini, gue gak punya hak buat larang." jawab Sahira.
"Iya juga sih, kamu emang paling pintar Sahira!" ucap Farhan memuji gadis itu.
Sahira hanya diam memalingkan wajah, ada perasaan tak suka dengan kehadiran Farhan di sampingnya saat ini, karena yang ia tunggu adalah kehadiran Elargano.
"Ih kenapa malah jadi dia sih yang datang?" gumam Sahira dalam hati.
"Sahira, kamu kenapa sendirian? Emangnya teman kamu tuh pada kemana?" tanya Farhan penasaran.
"Biasalah mereka kan udah pada punya cowok, jadi gue ditinggal sendiri deh. Tapi gapapa, gue emang udah biasa sendiri kok." jawab Sahira.
"Oh gitu, kasihan ya kamu!" ucap Farhan.
"Gue gak perlu dikasihani, karena gue gak butuh itu!" ucap Sahira.
"Apaan sih!" ujar Sahira.
"Daripada kamu sendirian terus begini gak ada yang nemenin, mending kamu terima aja aku buat jadi pacar kamu. Ya kan?" ujar Farhan.
"Udah lah kak, gue gak mau bahas soal pacar atau apalah itu! Kalo emang lu mau nemenin gue yaudah temenin aja, gausah pake segala bahas pacar!" ucap Sahira kesal.
"Iya deh iya, aku gak akan bahas itu lagi kok. Yang penting aku bisa dekat sama kamu," ucap Farhan.
Farhan terus tersenyum memandangi Sahira, menopang dagunya dengan kedua tangan disertai kedua alis yang naik bermaksud menggoda Sahira.
•
•
TOK TOK TOK...
Thoriq baru saja hendak duduk di sofa untuk menikmati secangkir kopi dan cemilan, namun sudah ada seseorang yang mengetuk pintu apartemennya dari luar.
"Haish, ganggu aja sih! Siapa coba yang datang?" geram Thoriq.
Akhirnya Thoriq terpaksa mengurungkan niatnya, berjalan ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang kesana.
Ratna sang ibu muncul dari kamar, ia juga penasaran siapa yang mengetuk pintu.
"Thoriq, itu siapa ya yang datang?" tanya Ratna penasaran.
"Aku juga gak tahu Bu, ini baru mau aku cek ke depan." jawab Thoriq.
"Yaudah, coba kamu buka sana pintunya!" ujar Ratna.
"Iya Bu.." ucap Thoriq menurut.
Thoriq pun berjalan ke arah pintu, sedangkan ibunya tetap menunggu disana.
Ceklek...
Thoriq membuka pintu, melihat ke arah pria yang sedang berdiri di depannya saat ini bersama seorang wanita cantik.
"Assalamualaikum," ucap wanita yang tak lain ialah Nur itu.
"Waalaikumsallam, kalian ngapain datang kesini?" tanya Thoriq terheran-heran melihat kehadiran sepasang suami-istri itu disana.
"Eee kita mau ketemu sama kamu dan ibu, boleh kan?" jelas Nur.
__ADS_1
"Bo-boleh kok, tapi ada perlu apa ya? Tumben banget kalian pengen ketemu sama ibu, biasanya juga gak suka kan ngeliat ibu ada di depan kalian." ujar Thoriq.
"Tenang dulu Thoriq! Justru sekarang kita mau minta maaf sama ibu, makanya kita datang kesini." kata Nur.
"Oh ya, darimana kalian dapat alamat apartemen saya ini? Perasaan saya gak pernah kasih tahu ke kalian dimana saya tinggal," tanya Thoriq heran.
"Eee soal itu, kita tau dari Sahira. Kebetulan tadi sebelum kesini kita udah sempat tanya sama Sahira dimana alamat apartemen kamu," jawab Nur menjelaskan.
"Ohh, jadi benar nih kalian mau minta maaf sama ibu sekarang?" tanya Thoriq memastikan.
"Iya benar Thoriq, boleh kan kita ketemu sama ibu?" ucap Nur.
"Tadi kan saya sudah bilang, boleh aja. Tapi, emang cowok ini udah bisa terima ibu dan janji gak akan marah-marah lagi sama ibu? Jujur saya gak terima kalau dia berani bikin ibu sakit hati, biar gimanapun saya ini anaknya dan saya tidak akan berdiam diri melihat dia menyakiti ibu saya!" ujar Thoriq.
Nur melihat ke arah suaminya yang masih terdiam sedari tadi, ia menyenggol lengan Jordan berharap pria itu mau berbicara saat ini.
"Umm... kita janji kok, kali ini kita gak akan bikin ibu sakit hati. Kamu bisa pegang kata-kata aku, mas Jordan ini sudah berubah dan dia gak akan seperti itu lagi sama ibu!" ucap Nur mewakili suaminya.
"Betul, gue udah berubah." kata Jordan.
"Baguslah, saya harap kalian memang benar-benar sudah berubah!" ucap Thoriq.
Nur tersenyum senang, karena akhirnya ia akan diizinkan masuk menemui Ratna.
Namun, tiba-tiba Ratna muncul lebih dulu sebelum Thoriq mempersilahkan kedua manusia itu masuk.
"Thoriq, siapa yang datang sayang?" tanya Ratna.
"Eee ini Bu..." Thoriq terlihat gugup dan bingung menjawabnya.
Ratna akhirnya melihat sendiri siapa yang ada di depan apartemen itu, matanya menatap heran ke arah Jordan serta Nur yang ada di hadapannya.
"Halo Bu! Assalamualaikum," ucap Nur menyapa ibu mertuanya.
Nur langsung bergerak maju mencium tangan Ratna, ia juga meminta Jordan melakukan hal yang sama dan pria itu menurut saja.
"Waalaikumsallam, ternyata kalian!" ujar Ratna kaget.
•
•
"Eh Sahira!"
Sahira sedikit terkejut saat seseorang meneriakkan namanya dari belakang, padahal ia sedang fokus menatap pelangi di langit yang sangat indah.
Sahira tersenyum karena yang datang adalah Boy, sahabatnya dari kecil yang selalu setia menemaniku itu.
"Kenapa sih Boy? Lu demen banget kayaknya ngagetin gue!" ujar Sahira bingung.
"Lu jangan kelamaan ngeliatin pelangi!" ucap Boy.
"Loh kenapa?" tanya Sahira heran.
"Ya iya jangan! Nanti lu bisa nemuin jalan pulang ke khayangan lagi, terus gue mau main sama siapa kalo lu gak ada?" jawab Boy sambil nyengir.
"Ish, lu mah malah bercanda! Gue udah serius tau dengerinnya!" ujar Sahira kesal.
"Hahaha... itu gue serius, makanya udah lu jangan kelamaan ngeliatin pelangi nya ya!" ucap Boy.
"Suka-suka lu aja dah Boy! Terus, ngapain lu sekarang kesini? Tahu darimana kalo gue ada disini?" tanya Sahira.
"Gue gak ada niatan buat nyamperin lu sih, orang gue kesini tuh mau lihat danau. Eh kebetulan aja ketemu lu disini lagi ngeliatin pelangi, yaudah gue kasih tahu aja." jawab Boy.
"Oh gitu, kirain lu emang sengaja ngikutin gue sampe kesini." kata Sahira.
"Ya enggak lah, ge'er banget sih lu!" ujar Boy.
Sahira pun memalingkan wajahnya kembali menatap pelangi di atas sana.
"Eh udah gue bilangin juga, jangan kelamaan lihat pelangi nya!" tegur Boy.
"Diem lu Boy! Gue tuh ngerasa nyaman aja tiap kali ngeliat pelangi, rasanya hati gue jadi tentram gitu." ucap Sahira.
"Iyalah, itu kan tempat asal lu, di khayangan. Jadi, lu pasti nyaman ngeliatnya!" ucap Boy.
"Lu bisa berhenti gak sih gombal kayak gitu!" ujar Sahira kesal.
"Hehe galak amat sih lu, gue kan cuma bercanda. Kalem atuh kalem! Emang lu lagi kenapa sih? Ada masalah apa? Cerita sini cerita, soalnya tumben aja lu kesini masih pake seragam sekolah. Emang gak dicariin sama abang lu?" ucap Boy.
"Gak kok, abang gue lagi ke apartemen ibu. Dia bilang katanya mau minta maaf dan damai sama ibu, tapi gue masih cemas Boy." kata Sahira.
"Loh cemas kenapa? Bukannya bagus ya kalau abang lu damai sama nyokap lu? Kan jadinya kalian bisa tinggal satu atap lagi tuh, gak ada deh yang namanya pisah rumah." tanya Boy heran.
"Lu gak ngerti Boy, gue itu masih ngerasa bang Jordan belum sepenuhnya bisa terima ibu. Gue takut aja kalau bang Jordan ngelakuin ini terpaksa, karena dia gak pengen gue terus tinggal di apartemen ibu." jawab Sahira.
"Jangan suudzon dulu! Siapa tahu abang lu emang beneran mau damai sama nyokap lu," ujar Boy.
"Iya sih," ucap Sahira singkat.
Gadis itu akhirnya melipat kedua tangannya di depan, menatap pelangi yang perlahan memudar sembari menghela nafas.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...