
#SangPemilikHati Episode 74.
•
•
Elargano kini tengah dalam perjalanan menuju sekolah Keira untuk menjemput kekasihnya itu, namun ia masih tampak kesal mengingat kejadian di sekolahnya tadi saat berdebat dengan Farhan.
Hingga kini pikirannya pun terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Farhan, menurutnya semua itu benar karena memang sikap El ke Sahira sudah berbeda tak seperti dulu, bahkan El menjadi lebih perhatian dengan sahabat kekasihnya itu.
"Aaarrgghh!! Bener juga yang dibilang Farhan tadi, gue terlalu care sama Sahira! Padahal gue udah punya cewek," ucapnya.
"Kayaknya gue emang terlalu berlebihan sama Sahira, seakan-akan Sahira itu cewek gue. Aduh! Lu itu kenapa sih, El? Bisa-bisanya lu anggap Sahira kayak pacar lu sendiri, kalau Keira tahu bisa berabe semuanya! Kenapa ya belakangan ini gue jadi suka banget dekat-dekat Sahira?" ujarnya bingung.
Saat sedang asyik memikirkan Sahira, ia baru teringat tentang Ibrahim yang ia tahan sebelumnya.
"Oh iya, si Ibrahim gimana kabarnya? Apa gue cek aja langsung ke gudang? Kasihan juga dia, tapi semua itu emang pantas buat dia! Gue gak akan biarin ada satu orangpun yang berani sentuh Keira, atau dia bakal berurusan sama gue!" ujar El.
Akhirnya Elargano memutuskan untuk pergi menemui Ibrahim, namun lagi-lagi pikirannya berubah karena ia ingat belum menjemput Keira di sekolahnya.
"Aduh! Gue kan belum jemput ayang gue, bisa-bisa dia ngamuk nanti kalo gue gak jemput. El El, lu kenapa jadi gampang pikun gini sih?" ucapnya.
Disaat pria itu hendak memutar balik mobilnya, sebuah mobil berwarna merah dari arah berlawanan melaju cukup kencang dan membuat Elargano terkejut saat melihatnya.
Ciiitttt....
Terdengar bunyi rem dari mobil tersebut, bahkan terlihat juga asap mengepul akibat tindakannya.
"Mampus gue!" umpat El mulai panik.
Sedangkan si pemilik mobil merah yang emosi itu keluar dari mobil, El cukup terkejut saat melihat pengemudi itu adalah seorang wanita.
Wanita cantik yang mengenakan dress merah dengan lengan terbuka itu menghampiri El, ia mengetuk-ngetuk kaca mobil El sambil sedikit membungkuk dan menampakkan wajah mulusnya di dekat kaca.
Elargano melongok dibuatnya, ia kenal jelas siapa sosok wanita yang ada di depannya itu.
"Adelia?" ucapnya sedikit bernafas lega setelah mengetahui pengemudi mobil yang hampir menabraknya adalah Adelia, paling tidak masalah ini tak akan panjang mengingat Adelia adalah anak dari rekan bisnis papanya, begitulah yang terbesit di dalam pikiran Elargano.
Dengan cepat El turun dari mobilnya, ia membuka pintu membuat wanita itu mundur ke belakang sembari melepas kacamata hitamnya, kini semakin jelas aura kecantikan dari wanita itu.
"Lu tuh bisa bawa mobil gak sih? Punya SIM gak lu?" tegur Adelia.
"Sorry!" ucap El singkat sembari menunjukkan wajahnya di hadapan Adelia.
Sontak wanita itu terkejut, ia menganga tipis saat mengetahui pria di depannya adalah Elargano, seketika amarahnya pun mereda.
"El?" Adelia masih terkejut.
"Iya, ini aku Elargano. Sekali lagi aku minta maaf ya Adelia! Aku tadi gak lihat ke kanan kiri dulu, main langsung putar balik aja. Kamu ada yang luka gak? Biar aku bantu obatin kalau misal ada," ucap El.
"Enggak kok, aku cuma kaget aja tadi. Abisnya kamu kalo mau muter tuh yang bener dong, jangan kayak tadi! Untung aku masih bisa ngerem, kalo enggak pasti kita udah tabrakan. Ya sebenarnya gak sepenuhnya salah kamu, aku tadi juga terlalu ngebut bawa mobilnya," ucap Adelia.
"Sssttt! Kamu jangan salahin diri kamu sendiri, orang ini aku yang salah kok! Aku minta maaf ya, mau aku bantu gak?" ucap Elargano.
"Eh gausah, aku gak kenapa-napa kok. Oh ya, kamu mau kemana nih?" ucap Adelia.
"Eee ini aku mau jemput pacar aku, kamu sendiri mau kemana?" ucap Elargano.
"Oh, aku sih ada janji sama temanku. Yaudah ya, aku pergi dulu El? Kamu hati-hati loh, jangan kayak tadi lagi!" ucap Adelia.
"Hahaha, iya pasti kok!" ujar El tertawa kecil.
Setelahnya, Adelia pun kembali ke mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Elargano. Sedangkan El tetap disana sampai mobil Adelia tak terlihat lagi, barulah ia ikut pergi menuju sekolah Keira.
•
•
__ADS_1
Sementara itu, Sahira juga telah sampai di rumah sakit dan menjenguk Jordan. Terlihat Jordan sudah lebih membaik, bahkan pria itu sudah bisa bangkit bersandar di tempat tidurnya juga berbicara pada adik tercintanya itu.
Saat ini Jordan juga sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP karena kondisinya telah membaik, Sahira pun amat senang melihat abangnya semakin sehat dan tidak sabar menanti waktu sampai Jordan bisa pulang ke rumah nanti.
"Bang, aku senang deh lihat abang udah sehat dan membaik kayak gini! Aku jadi makin gak sabar pengen bawa abang pulang," ucap Sahira.
"Gue juga gak sabar, gue pengen banget pulang terus kumpul sama kalian lagi!" ucap Jordan.
"Itu dia bang, apalagi sekarang juga ibu udah kembali. Akhirnya yang aku impikan dari dulu bisa terwujud juga, kita kumpul sekeluarga di rumah!" ucap Sahira tersenyum.
Tiba-tiba saja raut wajah Jordan langsung berubah begitu mendengar Sahira menyebut ibu, tentu Sahira tahu akan itu dan berusaha untuk membuat abangnya tenang tidak terbawa emosi.
"Bang, kenapa?" tanya Sahira bingung.
"Ah eee gak kok, gue gapapa. Lu udah makan apa belum nih? Soalnya lu kan pulang sekolah langsung kesini, seragam juga belum diganti."
"Belum sih, bang. Lagian gue belum lapar kok, nanti aja lah makan mah gampang. Sekarang gue mau temenin abang dulu disini, kan aku kangen ngobrol berdua sama abang," ucap Sahira.
"Ya ampun Sahira! Lu mending makan dulu sana, gue gak mau lu sakit!" ujar Jordan.
"Gak bakal lah, bang. Gue baik-baik aja kok! Justru kalau aku keluar buat makan, itu malah bikin aku jadi gak baik-baik aja!" ucap Sahira.
"Hah? Kenapa emang?" tanya Jordan heran.
"Ya karena aku gak bisa jauh dari abang, aku kan pengen temenin abang terus disini. Yaudah ya bang, biarin aku disini dulu dong! Nanti kalau misal aku udah lapar, baru deh aku keluar buat makan siang," pinta Sahira.
"Aduh sayang! Lu kok ngeyel banget sih dibilangin sama yang tuaan? Sekarang lu keluar sana, makan biar gak sakit! Emang mau begitu gue keluar dari rumah sakit, terus gantian lu yang dirawat disini? Jangan aneh-aneh deh Ra, badan lu udah kurus kering gitu masih suka telat makan!" ujar Jordan.
"Ih kok abang jadi marah-marah sih? Aku bukan gak mau makan, tapi aku belum lapar bang. Nanti juga kalo lapar aku bakal makan sendiri, abang gak perlu ngomel gitu juga kali!" ucap Sahira cemberut.
"Hadeh, gimana gue gak ngomel kalo punya adik kayak lu? Dikasih tahu sama abangnya malah gak mau dengar, gue ini cuma gak mau lu sakit Sahira!" ucap Jordan tegas.
"Haish, iya iya aku ngerti kok abang cemas sama aku!" ucap Sahira.
"Yaudah, sana makan!" ujar Jordan.
"Ish, kenapa lagi sih bang? Tadi kan abang sendiri yang suruh aku buat keluar dan makan, terus sekarang abang malah tahan aku. Sebenarnya abang maunya apa sih? Aku heran deh sama abang, ngeselin banget!" ujar Sahira.
"Hey, emang iya gue suruh lu makan di luar. Tapi, lu jangan cemberut gitu dong! Coba senyum gitu, gue gak mau lihat lu begitu!" ucap Jordan.
"Ya suka-suka aku lah, abisnya abang ngeselin banget!" ujar Sahira kesal.
"Iya iya, gue minta maaf ya! Udah lu jangan cemberut begitu ah, coba senyum dong sayang!" ucap Jordan tersenyum.
"Gak!" Sahira melepas paksa tangannya dari genggaman Jordan, lalu pergi keluar meninggalkan Jordan disana.
Namun, Sahira berpapasan dengan ibunya di depan pintu yang membuat Sahira terkejut.
"Eh ibu?" ucap Sahira kaget.
"Sayang, kamu mau kemana? Kok cemberut gitu sih?" tanya Ratna bingung.
"Eee ini aku mau makan, Bu. Tadi bang Jordan minta aku buat makan siang dulu," jawab Sahira.
"Oalah, iya ini kebetulan ibu juga udah beliin makan siang buat kamu. Yuk kita makan sama-sama di dalam bareng abang kamu! Udah, kamu gak perlu cemberut gitu dong sayang!" ucap Ratna.
"Iya Bu, tapi abang...."
Sahira menggantung ucapannya dan melirik ke arah Jordan, ia khawatir jika abangnya itu tak suka dengan keberadaan ibunya disana.
"Sahira, udah yuk kita makan!" ucap Ratna.
"I-i-iya Bu," ucap Sahira agak gemetar.
Akhirnya Sahira kembali ke dekat abangnya bersama sang ibu, terlihat Jordan langsung memalingkan wajahnya begitu melihat sosok Ratna menghampirinya.
"Jordan sepertinya masih belum bisa terima aku sepenuhnya, biarpun aku sudah ceritakan semua yang terjadi sama dia," batin Ratna.
__ADS_1
•
•
Keira bersama kedua sahabatnya bertemu dengan seorang wanita yang datang ke sekolahnya, Keira menatap sosok wanita tersebut, terlihat kalau wanita itu sedang kebingungan dan membuat Keira juga ikut bingung apa maksud dia kesana.
"Keira!" wanita itu menyebut nama Keira, berhenti tepat di hadapannya dan bertatapan dengannya.
"Iya mbak, ada apa ya? Mbak ini kakak tirinya Ibrahim kan? Kesini mau apa?" tanya Keira penasaran.
Ya wanita itu ialah Leani, kakak Ibrahim.
"Iya gue kakaknya Ibrahim, gue kesini mau tanya sama kalian. Dari semalam adik gue itu gak pulang ke rumah, gue udah cari dia kemana-mana dan coba hubungin dia tapi gak bisa. Kira-kira kalian tahu gak Ibrahim dimana? Atau tadi dia ke sekolah apa enggak?" jelas Leani.
"Hah? Enggak tuh kak, Ibrahim hari ini gak datang ke sekolah. Justru kita mikirnya dia lagi sakit atau berhalangan hadir, karena emang sih Ibrahim itu jarang banget gak masuk!" ucap Alma.
"Iya, Ibrahim kan murid rajin. Kita juga bingung kenapa dia gak datang tadi," sahut Kartika.
"Eee emang terakhir kali Ibrahim itu kemana ya, mbak? Apa dia gak ada bilang sama mbak kalau dia pengen pergi kemana gitu?" tanya Keira.
"Itu dia Kei, gue sama sekali gak tahu si Ibrahim itu kemana. Gue udah berusaha cari dia ke tempat saudaranya atau teman-temannya, tapi tetap aja gue gak berhasil temuin dia. Handphone nya pun juga gak aktif," ucap Leani cemas.
"Sabar mbak! Bisa jadi Ibrahim lagi main atau menyendiri menghibur dirinya, ya tapi aku gak tahu pasti sih mbak karena aku juga jarang berhubungan sama Ibrahim," ucap Keira.
"Oh ya, kemarin dia kan anterin lu pulang tuh sehabis kalian dari rumah Ibrahim yang ada di Bogor. Lu emang gak tahu kemana dia pergi gitu abis anterin lu pulang?" tanya Leani.
"Hah? Emangnya kemarin aku datang ke rumah Ibrahim di Bogor?" ujar Keira tak mengerti.
"Hadeh, lu ini gausah pura-pura gitu deh! Jelas-jelas kemarin gue bicara sama lu di rumah itu, masa iya lu gak ingat?" ucap Leani.
"Eee maaf mbak, tapi aku emang gak ingat apa-apa soal kemarin. Aku malah ngerasa kalau kemarin tuh aku gak ketemu sama Ibrahim, makanya aku heran pas mbak Lea bilang begitu tadi!" ucap Keira.
"Gimana ceritanya lu bisa lupa?" tanya Leani.
"Sabar dulu kak! Teman kita ini emang lagi agak hilang ingatan, jadi dia gak ingat apa-apa tentang kejadian kemarin," ucap Alma.
Leani pun menggelengkan kepala tak mengerti bagaimana bisa Keira melupakan semua itu, padahal kejadiannya baru terjadi kemarin dan hal yang mustahil jika Keira tak mengingatnya.
"Kei, emang beneran lu gak ingat apa-apa?" tanya Alma berbisik di telinga Keira.
"Iya Ma, gue juga heran."
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Keempat gadis itu kompak menoleh ke arah mobil itu, tampak Elargano keluar dari mobil tersebut dan tersenyum ke arah gadisnya sembari melepas kacamata yang ia kenakan.
"Hai sayang!" ucap El menyapa dan mencubit pipi Keira sambil tersenyum.
"Iya hai," ucap Keira singkat.
"Kamu kenapa sih? Kok kayak lagi mikirin sesuatu gitu? Oh atau kamu gak senang ya lihat aku datang kesini jemput kamu?" tanya El curiga.
"Bu-bukan, ini aku lagi bingung tau. Barusan mbak ini bilang kalau aku kemarin sempat pergi sama Ibrahim ke rumahnya, tapi aku kok gak ingat apa-apa ya El?" ucap Keira kebingungan.
Sontak El mengalihkan pandangannya ke arah Leani, ia menyipitkan matanya berusaha mencari tahu siapa wanita tersebut.
"Anda siapa ya?" tanya Elargano.
"Gue Leani, kakaknya Ibrahim. Gue kesini mau cari adek gue yang udah semalaman lebih gak pulang, terakhir itu gue lihat dia sama nih cewek dan dia bilangnya mau anterin dia pulang. Tapi, pas tadi gue tanya dia malah pura-pura gak tahu!" jawab Leani menjelaskan pada Elargano.
"Bukan pura-pura, aku emang gak ingat apapun!" ucap Keira merevisi ucapan Leani.
Elargano pun mulai panik, karena saat ini Ibrahim ada bersamanya dan ia sedang memberi hukuman bagi Ibrahim yang sudah berani mengirim pelet untuk kekasihnya.
"Duh, ini gimana ya? Gawat banget kalo dia tahu Ibrahim ada sama gue, bisa-bisa rencana gue berantakan!" gumam El dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1