
#SangPemilikHati Episode 73.
•
•
Sahira masih dibuat bingung oleh kedua pria yang tengah berdebat di dekatnya itu, ya hingga kini El dan Farhan belum juga selesai berdebat untuk memilih siapa yang lebih pantas mengantar Sahira pulang ke rumah.
Gadis itu juga tak mengerti mengapa El ataupun Farhan terus saja bersikap seperti itu, padahal sudah berulang kali ia mengatakan untuk keduanya berhenti berdebat, namun tak ada yang mau mendengarkannya.
"Heh! Sekarang mending lu cabut deh dari sini, biar Sahira gue yang antar!" ucap El mengusir Farhan.
"What? Apa lu bilang? Cabut? Yakali gue cabut, mending lu aja sana yang cabut dari sini dan jangan berharap bisa deketin Sahira lagi! Sahira itu jatah gue, lu sendiri kan udah punya cewek. Jangan maruk deh jadi cowok, nanti rezeki lu seret baru tau rasa!" ujar Farhan tak mau kalah.
"Kurang ajar lu ya! Berani banget lu ngomong kayak gitu sama gue, emang lu lupa kalo gue anak dari bapak Erlangga Setiabudi yang kekayaannya dimana-mana?" ucap El menyombongkan diri.
"Inget, harta gak dibawa mati!" ujar Farhan.
Sahira makin emosi mendengar perdebatan kedua pria itu yang tak kunjung usai, ia akhirnya kembali bertindak untuk memisahkan keduanya.
"Udah udah cukup, stop jangan debat lagi! Gue gak akan pulang bareng El atau lu Farhan, karena gue udah dijemput sama abang gue di depan. Jadi, kalian gak perlu berantem kayak gini cuma karena rebutan pengen antar gue!" ucap Sahira tegas.
"Hahaha, lu pikir gue bisa dibohongin dengan mudah apa? Abang lu aja di rumah sakit, gimana bisa dia jemput lu? Gausah ngada-ngada deh Sahira, udah lu ikut gue aja!" ujar El tertawa.
"Siapa yang ngada-ngada? Beneran kok di depan ada abang gue, kalo gak percaya yaudah ayo kalian ikut gue ke depan buat lihat langsung!" ucap Sahira dengan wajah seriusnya.
"Oke, siapa takut!" ucap El.
Setelahnya, kedua pria itu pun pergi mengikuti Sahira melangkah ke depan sekolah untuk memastikan apakah benar Sahira sudah dijemput oleh abangnya atau gadis itu hanya berbohong.
Sesampainya di depan sekolah, Sahira pun tersenyum begitu melihat sosok Thoriq berdiri di dekat badan mobilnya sambil bermain ponsel, ia langsung menunjuk ke arah Thoriq dan mengenalkan pria itu kepada El serta Farhan.
"Nah, itu abang gue. Dia namanya Thoriq, dan dia udah jemput sekarang," ucap Sahira.
Sontak El dan Farhan kompak menoleh ke arah yang ditunjukkan Sahira secara bersamaan, mereka masih tak percaya jika pria kaya itu adalah abang dari Sahira.
"Ah gue gak percaya! Gak mungkin dia itu abang lu, secara dia aja kaya begitu, lah lu sendiri sekolah disini pake beasiswa!" cibir El tak percaya.
"Sama, gue juga gak percaya!" sahut Farhan.
"Ya terserah kalian! Dah ah gue mau balik! Rai, gue duluan ya?" ucap Sahira tersenyum.
"I-i-iya Sah..." ucap Raisa agak gugup.
Sahira berlalu pergi begitu saja menghampiri Thoriq di depan sana, sedangkan yang lain tetap berdiri menatap Sahira yang memang tampak akrab dengan pria kaya tersebut.
"Gue baru inget, tuh cowok kayaknya emang pernah gue lihat deh sebelumnya!" batin El.
Disaat El tengah melamun memikirkan Thoriq, tiba-tiba Farhan menyenggol lengannya membuat ia terkejut dan reflek menoleh.
"Apaan sih lu!"
"Kalem bro kalem! Gue cuma mau bilang aja sama lu, mending lu jauhin deh Sahira dan jangan dekati dia lagi! Lu udah punya cewek bro, harusnya lu bersyukur bukan malah deketin cewek lain dan khianati cewek lu!" ucap Farhan.
"Lu tahu apa tentang kehidupan gue? Lu tuh cuma cowok cupu yang gak bisa apa-apa! Dengar ya, gue sama Sahira itu cuma sahabatan. Sahira juga teman kecil cewek gue, jadi wajar aja dong kalo gue sama dia temenan juga? Kalo lu mau deketin Sahira, ya silahkan aja gak ada yang larang kok!" ucap Elargano.
El langsung melangkah pergi setelah mengucapkan kalimat itu, ia mendekat ke arah Sahira serta Thoriq sambil terus tersenyum berharap dapat berkenalan dengan Thoriq.
Sementara Raisa dan Farhan tetap disana, tampak Raisa mendekati Farhan sambil tersenyum genit lalu menyibakkan rambutnya ke belakang, menyebar aroma wangi di hidung Farhan.
"Eee kak, saran gue sih mending lu pepet aja terus Sahira! Dia emang cuek dan jutek banget sih ke setiap cowok yang dia temui, tapi gue yakin lambat laun dia pasti bisa luluh kalo lu terus deketin dia tanpa lelah!" ucap Raisa.
"Gak perlu lu kasih tahu, gue juga bakal terus kayak gitu kok! Gue cinta sama Sahira, dan gue akan terus perjuangkan cinta gue!" ucap Farhan tegas.
"Bagus itu kak, gue setuju sama kata-kata lu!" ucap Raisa tersenyum renyah.
Raisa memang senang jika Sahira dekat dengan laki-laki, karena ia ingin melihat sahabatnya itu bahagia dan tidak terlalu fokus dengan pelajaran.
"Gue gak yakin El cuma anggap Sahira sahabat, dari sorot matanya waktu natap Sahira juga udah kelihatan, dia suka sama Sahira!" batin Farhan.
__ADS_1
•
•
"Halo bang!" Elargano tersenyum mendekati Thoriq yang tengah bersama Sahira disana.
Sontak Thoriq terkejut, ia reflek mengarahkan matanya pada sosok pria yang sedang tersenyum ke arahnya. Ya itulah Elargano, Thoriq tak mengerti hendak apa El menghampirinya.
"Ah iya, kenapa? Lu ini temannya Sahira yang waktu ke rumah sakit juga kan?" tanya Thoriq mengingat kembali mengenai Elargano.
"Betul bang! Gue El teman sekaligus sahabat Sahira yang baik hati dan tidak sombong, salam kenal ya bang!" jawab Elargano memuji dirinya sendiri sambil tersenyum.
"Dih najis! Ngapain sih lu ngikutin gue kesini? Kan udah gue bilang, gue mau bareng abang gue. Lu mending jemput Keira sana cepetan, nanti dia pulang sama cowok lain lagi terus lu ngamuk!" ujar Sahira mengusir Elargano.
"Lu kenapa sih, Sahira? Kok sensi banget sama gue? Bukannya tadi lu bilang pengen ikut gue ya ketemu Keira? Kok sekarang tiba-tiba berubah pikiran? Apa karena si Farhan?" tanya Elargano.
"Gausah bawa-bawa kak Farhan! Gue emang kangen sama Keira, tapi gue pengen jenguk abang gue dulu. Udah ah gue gak punya banyak waktu buat ladenin lu!" ujar Sahira kesal.
"Bang, ayo pergi sekarang!" pinta Sahira pada Thoriq.
"Loh, terus teman kamu gimana?" tanya Thoriq.
"Dia mah gausah diperduliin, emang orangnya rada gak waras jadi wajar aja! Udah yuk bang, gue pengen ketemu sama bang Jordan!" ucap Sahira.
"Iya iya..." Thoriq menurut lalu membuka pintu mobil dan meminta Sahira masuk lebih dulu.
"Masuk!" Sahira mengangguk setuju, dengan senang hati ia masuk ke dalam mobil abangnya dan meninggalkan Elargano.
"Eh Sahira, tunggu dong!" teriak El.
Namun, Sahira tak perduli dengan itu. Thoriq pun mencegah El yang hendak mendekati Sahira.
"Jangan paksa Sahira!" tegas Thoriq.
El terdiam saat ditatap seperti itu oleh Thoriq, nyalinya seketika ciut karena tatapan dari pria itu benar-benar membuatnya takut. Belum pernah ada satu orangpun yang bisa menakuti dirinya.
"Yaudah, cukup dari sini aja." tegas Thoriq.
"Oke bang!" El tak mau membantah perkataan Thoriq, karena khawatir akan membuat Thoriq semakin marah.
Setelahnya, Thoriq menyusul masuk ke dalam mobil duduk di samping Sahira. Sedangkan El melambaikan tangan sambil tersenyum menatap Sahira dari tempatnya berdiri sekarang.
"Huh galak amat tuh abangnya si Sahira, untung gue orangnya sabar!" gumam El.
Tak lama kemudian, Farhan menghampiri El dan berhenti di samping pria itu kembali. Farhan sengaja menyenggol El menggunakan lengannya, membuat El terkejut lalu spontan menoleh ke arah pria tersebut.
"Mau apa lagi lu deketin gue?" tanya El ketus.
"Santai bro! Gak usah galak-galak gitu lah, gue kan cuma mau ngobrol sama lu. Oh ya, tadi abangnya Sahira galak juga ya? Gue lihat lu sampe gemetar gitu ditatap sama dia," ujar Farhan terkekeh.
"Berisik lu! Gue males dengerin cocot lu itu, jadi mending lu pergi sana!" ucap El kesal.
"Lah kenapa gue yang harus pergi? Lu aja sana yang pergi, bukannya lu harus jemput cewek lu ya? Oh atau lu udah mulai lupain dia gara-gara Sahira? Kasihan banget tuh cewek lu, punya pacar tukang selingkuh kayak lu!" ujar Farhan geleng-geleng kepala.
"Heh lu jaga omongan lu ya!" bentak El sembari menarik kerah seragam Farhan dan melotot ke arahnya penuh emosi.
•
•
Sahira masih merasa pusing sekaligus bingung dengan kelakuan Elargano serta Farhan di sekolah tadi, ia tak mengira jika kedua pria itu bisa berdebat hanya karena dirinya.
Thoriq yang berada di samping Sahira, mencoba menenangkan adiknya itu. Ia mengusap puncak kepala Sahira secara tiba-tiba dengan usapan lembutnya, membuat Sahira agak kaget dan reflek menoleh ke arahnya.
"Lu ngapain usap-usap kepala gue? Emang lu kira gue kucing?" tanya Sahira ketus.
"Galak amat sih! Aku cuma mau hibur kamu, soalnya kelihatan kan kalo kamu lagi sedih. Aku cemas sama kamu, Sahira!" jawab Thoriq.
"Lu gausah sok lembut gitu deh sama gue! Yang ada gue jadi jijik tahu gak!" ujar Sahira.
__ADS_1
Thoriq tertawa sembari mencubit pipi Sahira yang spontan merona akibat itu, "Hahaha, kamu makin lucu deh kalo marah begitu."
"Bang, lu apaan sih?!" cibir Sahira kesal.
"Sssttt jangan marah-marah terus! Nanti kamu cepat tua loh, santai aja kali gausah ngegas gitu!" ucap Thoriq tersenyum sembari mengelus wajah adiknya.
Sahira kini terdiam memalingkan wajahnya, ia membiarkan Thoriq mengusap wajah serta punggung tangannya karena sudah malas memberitahu abangnya itu.
"Sahira, sebenarnya kamu lagi mikirin apa sih? Ada masalah di sekolah tadi?" tanya Thoriq penasaran.
"Iya itu dia bang, gue kesel banget sama El. Dia maksa-maksa gitu buat anterin gue, udah gitu sampe ribut tadi sama cowok lain di lobi. Gue kan malu tahu bang, gue bingung kenapa dia jadi kayak posesif gitu! Padahal gue sama dia sahabatan, tapi seakan-akan dia tuh gak mau gue dekat sama cowok lain!" jawab Sahira menjelaskan.
"Hah? Wah ini jangan-jangan si El itu ada rasa sama lu, gue juga udah duga sih dari awal, soalnya tatapan mata El sewaktu ngeliat lu kayak beda gitu!" ucap Thoriq.
"Ah sok tahu lu bang!" ujar Sahira.
"Bukan sok tahu cantik, aku ini cowok dan aku tahu sikap kalau cowok suka sama cewek. Ya kayak si El itu, dia suka sama kamu!" ucap Thoriq.
"Apaan sih? Mana mungkin dia suka sama gue? Sedangkan El udah punya pacar, dan pacarnya itu sahabat gue. Lu gausah ngada-ngada deh, mending fokus nyetir!" ucap Sahira mengelak.
"Aku udah terbiasa nyetir sambil ngobrol kayak gini, kamu gak perlu cemas gitu sayang!" ujar Thoriq.
"Dih, bang tolong ya jangan panggil gue pake sebutan sayang! Biarpun lu abang gue, tetep aja gue jijik tahu gak!" ujar Sahira.
"Iya iya...." Thoriq geleng-geleng kepala tersenyum.
"Bang, gue balikin nih uang dollar yang tadi lu kasih ke gue." Sahira menyerahkan empat lembar uang sisa miliknya kepada Thoriq.
Thoriq melongok tak mengerti, "Maksudnya apa? Kenapa dibalikin? Itu kan uang udah aku kasih buat kamu, jangan dibalikin lagi dong cantik! Pegang aja ya!" pinta Thoriq.
"Tapi bang, ini kebanyakan. Tadi aja yang seratus dollar buat makan di kantin masih belum habis, jadi besok-besok gue gak perlu bayar kalo mau makan atau minum di kantin," ucap Sahira.
"Gapapa, kamu ambil aja ya cantik! Uang aku tuh udah banyak, itu buat kamu aja!" ujar Thoriq.
"Haish, iya iya gue simpan!" ucap Sahira menurut.
Thoriq tersenyum dan kembali mencolek pipi serta bibir Sahira, entah mengapa itu membuat Thoriq merasa nyaman.
"Kira-kira rasanya gimana ya bibir dia...??" pikirnya.
•
•
Disisi lain, Keira tengah menunggu jemputan dari sang kekasih. Ia bersama Alma dan Kartika duduk di halte depan sekolah, mereka berbincang sejenak karena Elargano juga belum datang.
"Eh guys, seharian ini gue gak lihat si Ibrahim, dia kemana ya?" ujar Keira kebingungan.
"Aduh Keira! Lu ngapain sih nanyain Ibrahim? Kalo dia gak ada, ya biarin aja gausah dipikirin! Emang lu mau Ibrahim tiba-tiba nongol nanti dan deketin lu lagi? Terus kak El ngeliat lu lagi sama dia, beuh bakal jadi perang dunia deh!" ucap Alma.
"Bukan gitu, gue heran aja. Gelang yang dia kasih ke gue hilang, terus sekarang Ibrahim nya juga ikut ngilang. Aneh kan?" ucap Keira.
"Eh tapi iya juga sih, kok bisa samaan gitu ya hilangnya gelang punya lu sama si Ibrahim itu? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu yang kita gak tahu!" ujar Kartika dengan teorinya.
"Terjadi sesuatu gimana maksud lu?" tanya Alma.
"Ya gue juga gak tahu, mungkin aja Ibrahim yang ambil gelang lu Kei. Terus dia ngilang sekarang bareng sama gelang itu," jawab Kartika.
"Hah? Ngada-ngada aja deh lu! Buat apa Ibrahim ambil gelangnya lagi?" ujar Keira terkekeh.
"Ya kan itu teori gue..."
"Hahaha..." Keira dan Alma tertawa bersamaan.
"Keira!" Tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang meneriakkan nama Keira, ketiganya pun berhenti tertawa lalu menoleh ke wanita tersebut.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1