
#SangPemilikHati Episode 129.
•
•
"Sahira!" ucapan Sahira terjeda dengan suara panggilan dari seorang lelaki yang muncul secara tiba-tiba di dekatnya.
Mereka berdua pun kompak menoleh ke asal suara, Sahira sangat terkejut melihat kehadiran El di tempat yang sama dengannya.
"Kak El?" ucap Sahira masih syok.
"Hai Sahira! Aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini, kamu kenapa gak bilang kalau kamu mau ke mall? Tau gitu tadi aku ajak kamu aja, biar kita bisa kesini berdua." ujar El tersenyum.
"Justru itu kak, gue gak mau kasih tau lu karena gue gak pengen lu ikut." ucap Sahira.
"Kenapa begitu sih? Emang apa alasan kamu gak mau pergi ke mall bareng aku? Apa karena udah ada dia, si cowok cupu yang suka sama kamu ini?" tanya El sedikit merendahkan Farhan.
"Heh, lu ngomong dijaga ya! Biarin gue cupu, yang penting gue gak suka nyakitin hati perempuan kayak lu!" ujar Farhan emosi.
"Sabar kak sabar!" ucap Sahira menenangkan.
"Hahaha, gausah emosi gitu dong. Lu jadi galak gini apa karena ada Sahira di samping lu, iya? Sok jagoan banget sih lu!" cibir El.
"Kurang ajar lu ya!" geram Farhan.
"Tenang kak, jangan kepancing!" ucap Sahira.
"Hahaha..." El tertawa lepas.
Tak lama kemudian, muncul seorang wanita mendekati El sembari memanggilnya.
"El, kamu ternyata disini. Aku cariin kamu daritadi loh, bukannya temenin aku yang lagi milih tas." ucap seorang wanita di dekatnya.
"Adel?" El menganga lebar ketika Adelia sudah ada di sebelahnya saat ini.
"Tuh kan, lu udah kesini sama cewek lain. Terus, lu masih mau deketin gue lagi? Dimana sih perasaan lu, kak El? Apa emang lu suka ya permainkan hati perempuan?" ucap Sahira.
"El, dia siapa sih?" tanya Adelia keheranan.
"Eee dia teman sekolah aku, namanya Sahira." jawab El.
"Ohh, hai Sahira! Aku Adel, teman El juga." ucap Adelia menyapa Sahira dengan senyum manisnya.
"Iya, hai juga Adel!" balas Sahira singkat.
"Yaudah, kamu ngapain malah kesini sih El? Ayo temenin aku pilih-pilih tas disana, kamu mah main tinggalin aku gitu aja!" ujar Adelia dengan nada manja dan terus menggandeng lengan El.
"I-i-iya iya, sebentar ya Del! Aku mau bicara dulu sama Sahira, kamu duluan aja gih kesana nanti aku nyusul!" ucap El.
"Beneran ya kamu nyusul?" tanya Adelia.
"Iya Del, bener kok." jawab El.
"Oke deh aku percaya, awas loh kalo gak nyusul nyusul!" ucap Adelia.
"Iya iya..." ucap El mengangguk pelan.
"Sahira, aku duluan ya? Bye!" ucap Adelia.
"Bye juga!" ucap Sahira.
Adelia pun pergi kembali ke tempat tas untuk memilih tas yang ingin ia beli, sedangkan El tetap disana bersama Sahira serta Farhan.
"Eee Sahira, aku—"
"Sssttt udah udah! Lu pergi aja sana, temenin tuh cewek lu yang lain!" potong Sahira.
"Lu ngomong apa sih, Sahira? Dia cuma teman gue, bukan siapa-siapa." ujar El.
"Iya iya, terserah lu aja mau bilang dia siapa! Bukan urusan gue juga kan. Gue cuma gak habis pikir aja sama lu El, di keadaan kayak gini lu masih bisa jalan-jalan berdua sama cewek lain. Harusnya lu tuh mikir gimana caranya biar Keira gak marah terus sama lu!" ucap Sahira kesal.
"Asal lu tahu aja Sahira, gue dari semalam juga terus mikirin itu. Ya tapi mau gimana lagi, sekarang Keira lagi di rumah neneknya dan gue gak bisa ketemu sama dia. Jadi, gue ajak Adelia pergi ke mall buat refreshing otak aja." jelas El.
"Oke deh, semua terserah lu! Gue gak mau terlibat atau ikut campur lagi ke dalam masalah lu, dan lu juga jangan libatin gue okay!" ucap Sahira.
"Ayo kak Farhan, kita pergi!" sambungnya sembari menggandeng tangan Farhan.
"I-i-iya Sahira.." Farhan terkejut tapi senang karena Sahira menggandeng tangannya.
Sahira dan Farhan pun pergi melewati El, tampak pria itu masih berusaha menahan Sahira namun tak digubris oleh gadis itu.
"Sahira, tunggu dong Sahira!" teriak El.
__ADS_1
•
•
Arnav mengajak Keira berkeliling desa dengan motor miliknya, pria itu sengaja membawa Keira pergi agar Keira dapat melupakan semua masalah yang menimpanya belakangan ini.
Keira pun tampak senang dan lebih merasa tenang dibanding sebelumnya, ia dapat merasakan hawa kesejukan menerpa di sekitarnya yang membuat kepalanya menjadi lebih dingin.
Kini mereka tiba di sebuah air terjun yang terletak di tengah-tengah lembah, tempat itu memang cukup sepi karena jalurnya yang terlalu sempit dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Namun, Keira merasa lebih nyaman saat berada disana memandangi air terjun yang indah dan menyejukkan. Bahkan gadis itu ingin berendam di bawahnya untuk merasakan dinginnya air itu.
"Nav, aku boleh gak mandi di bawah air terjun itu?" tanya Keira sembari menatap Arnav.
"Hah? Emang kamu bawa baju ganti? Sok-sokan mau mandi disana, yang ada masuk angin loh." jawab Arnav sambil terkekeh.
"Eh iya ya.." ucap Keira manyun.
"Kalau kamu mau berenang disana, minimal tuh bawa baju ganti atau handuk lah. Soalnya itu dingin banget loh, nanti yang ada kamu kedinginan terus masuk angin deh. Emang mau kamu gak bisa pulang ke Jakarta gara-gara masuk angin?" ucap Arnav.
"Oh iya, nanti sore aku sama papa mama udah harus balik ke Jakarta. Bakalan kangen banget deh sama suasana disini," ucap Keira bersedih.
"Kangen sama suasana disini, atau sama aku nih?" tanya Arnav sengaja menggoda Keira.
"Dih, ngapain amat aku kangen sama kamu? Aku lebih kangen sama nenek, dibanding kamu yang nyebelin ini! Lagian kalau cowok modelan kayak kamu, di Jakarta tuh banyak tau!" ujar Keira.
"Apa iya?" ujar Arnav mengejek.
"Iyalah, di Jakarta malah lebih banyak cowok-cowok buaya yang sering godain aku. Jadi, buah apa aku kangen sama kamu?" ucap Keira.
"Hahaha, aku mah beda Keira. Aku gak suka gombalin cewek-cewek, tapi entah kenapa kalau sama kamu bawaannya tuh aku pengen gombal terus." ujar Arnav tersenyum.
"Halah tuh kan gombal lagi! Udah deh, mending kita agak majuan yuk! Aku pengen deh ngerasain percikan air terjun itu, kayaknya seger." ucap Keira.
"Oh boleh, supaya kepala kamu jadi dingin dan kamu gak kepikiran sama pacar kamu itu terus. Yaudah yuk kita maju kesana!" ucap Arnav menggandeng tangan Keira.
Keira mengangguk saja tak memprotes sedikitpun saat tangannya disentuh oleh Arnav.
Mereka bergerak maju mendekat ke air terjun di depan sana sambil saling bertatapan.
Lalu, Keira duduk di atas batu besar yang berada tepat di bawah air terjun tersebut dengan Arnav ada di sebelahnya.
"Nah Kei, gimana rasanya duduk disini?" tanya Arnav sambil menatap wajah Keira.
"Hah? Oh iya, maaf maaf aku lupa!" ucap Arnav terkekeh dan reflek melepas tangannya dari telapak tangan Keira.
"Ahaha, gapapa Nav." ucap Keira tertawa kecil.
"Abisnya tangan kamu halus banget sih, jadinya enak deh buat dielus." kata Arnav.
"Ah bisa aja kamu!" cibir Keira tersipu.
"Nanti kapan-kapan kalau kamu kesini lagi, sekalian ajak aja pacar kamu itu buat ikut main kesini! Jadi, kamu bisa mandi di air terjun itu bareng sama dia deh." ucap Arnav memberi usul.
"Kamu bicara apa sih? Aku sama El aja kan lagi gak akur, gimana kita bisa kesini?" ujar Keira.
"Bisa aja kok, asal kamu sama dia baikan dan gak berantem lagi." jawab Arnav.
"Iya sih, tapi gak segampang itu. Masalahnya El itu udah bikin aku sakit hati, karena dia dekat sama sahabat aku sendiri." ucap Keira.
"Kei, pertanyaannya kamu cinta gak sama si El itu?" ucap Arnav mendekat ke wajah Keira.
"Ya kalau kamu tanya soal itu sekarang, aku masih cinta lah sama dia. Tapi, gak tahu kalau nanti. Bisa aja rasa cintaku ke dia hilang karena dia selalu bikin aku sakit hati," jawab Keira bersedih.
"Saran dari aku sih, mending kamu coba dulu perbaiki hubungan kamu dengan El! Kalian itu kan saling mencintai, jadi kalian harus bisa berbaikan dulu dan jangan langsung ambil keputusan disaat kamu sedang emosi!" ucap Arnav.
Keira terdiam berpikir, ia menundukkan wajahnya dan merasa bingung dengan perkataan Arnav barusan.
•
•
Nawal terpaksa datang ke rumah Jordan bersama abangnya, walau ia sangat-sangat tidak ingin datang kesana.
Kini mereka telah tiba tepat di depan rumah Jordan, tampak Thoriq tersenyum dan mengajak adiknya itu untuk mendekat ke rumah itu.
"Wal, ayo kita masuk ke dalam! Kamu bawa gih pempek yang udah dibeli tadi!" ucap Thoriq.
"Males ah! Lu aja yang bawa sana! Gue mau dateng kesini aja udah bagus, jadi lu jangan paksa gue lagi buat bawain tuh makanan yang tadi lu beli." ucap Nawal emosi.
"Haish, emang nyebelin ya lu!" cibir Thoriq.
"Berisik! Sekarang kita mau masuk ke dalam rumah itu, atau tetap disini sampai besok?" ucap Nawal terheran-heran.
__ADS_1
"Iya iya, ayo kita turun!" ucap Thoriq tersenyum.
Disaat Nawal hendak turun, Thoriq justru mencekal lengannya dengan kuat.
"Ish, kenapa lu tahan gue?" tanya Nawal heran.
"Tunggu dulu! Lu gak bisa turun dan ketemu ibu dalam keadaan kayak gitu! Lu harus senyum dan jangan cemberut begitu!" jawab Thoriq.
"Gue mau aja senyum kalau buat ibu, tapi di rumah itu kan bukan cuma ada ibu, ada si Jordan sama Sahira juga yang gak jelas itu. Gue gak mau lah senyum buat mereka!" ujar Nawal.
"Lu jangan begitu lah, Nawal! Mereka itu saudara lu, jadi seharusnya lu bersikap layaknya seorang saudara!" ucap Thoriq.
"Ah banyak maunya lu!" bentak Nawal.
Nawal menghentakkan tangannya, lepas dari genggaman Thoriq dan pergi begitu saja meninggalkan Thoriq di dalam mobilnya.
Nawal melangkah dengan wajah emosinya ke arah pintu depan rumah Jordan, sedangkan Thoriq berupaya menyusulnya.
"Wal, tunggu Wal!" teriak Thoriq sambil berlari.
Namun, Nawal terdiam saja dan meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan Thoriq disana.
"Hey, jangan cepat-cepat dong!" teriak Thoriq.
Barulah Nawal menghentikan langkahnya, saat pintu terbuka dari dalam dan Nur alias istri Jordan muncul dari dalam sana.
"Eh ada kamu Nawal?" ucap Nur terkejut.
"Nawal tunggu!" Thoriq kini sudah tiba di dekat adiknya dan tersenyum begitu melihat Nur.
"Eh Nur, halo!" ucap Thoriq menyapa Nur.
"Iya Thoriq, kalian datang kesini kok gak bilang dulu sih? Hampir aja loh aku sama mas Jordan mau pergi ke rumah sakit," ucap Nur.
"Hah? Ke rumah sakit? Siapa yang sakit emangnya?" tanya Thoriq terkejut.
"Gak ada kok, aku cuma mau cek aja siapa tahu aku lagi hamil. Soalnya aku udah beberapa hari ini telat datang bulan, terus tadi juga sempat mual-mual gitu." jawab Nur.
"Oalah, aku ikut senang kalo gitu! Semoga aja ya kamu emang beneran hamil, jadi kalian bisa segera dikaruniai anak deh!" ucap Thoriq.
"Aamiin!" ucap Nur tersenyum.
"Jangan kege'eran dulu! Siapa tahu lu cuma sakit atau apa, nanti kalau gak sesuai ekspektasi kan bisa sedih deh." ucap Nawal.
"Nawal!" tegur Thoriq sembari mencubit lengan gadis itu dari samping.
"Akh! Lu kenapa sih? Gue kan cuma kasih tau buat jangan terlalu berharap, nanti kalau gak sesuai ekspektasi kan sakit! Kenapa lu malah cubit gue?" ujar Nawal.
"Heh! Lu bisa gak sih jaga sopan santun? Kata-kata lu itu nyakitin tau gak!" ujar Thoriq.
"Udah udah, Thoriq gapapa kok! Benar yang dibilang Nawal, emang aku gak boleh terlalu berharap juga." ucap Nur bersedih.
"Eh eh, tuh kan jadi sedih. Udah ya Nur, kata-kata si Nawal mah jangan didengar! Kita sama-sama berdoa aja supaya kamu beneran hamil!" ucap Thoriq menenangkan Nur.
"Iya Thoriq, aamiin!" ucap Nur.
Thoriq dan Nawal pun masih terus berselisih, Thoriq tak suka sekaligus merasa tidak enak pada Nur atas apa yang sudah dilakukan adiknya tadi.
Sementara Jordan kini muncul dari balik pintu, ia sedikit syok melihat kehadiran Thoriq serta Nawal disana dan istrinya yang kelihatan bersedih.
"Eh, ada kalian berdua." ujar Jordan.
"Ah iya Jor, kita kesini mau ketemu ibu sekalian silaturahmi juga." ucap Thoriq tersenyum.
"Oh iya iya, ibu ada di dalam kok. Kalian masuk aja! Ini gue mau anterin Nur ke rumah sakit dulu. Loh sayang, kamu kenapa sedih gitu?" ucap Jordan.
"Eee enggak kok mas, aku gapapa." ucap Nur.
"Jor, sorry ya! Tadi Nawal yang udah bikin istri lu jadi sedih gitu. Gue juga heran nih sama dia, kenapa ya tingkah dia tuh selalu aja bikin orang lain sakit hati!" ucap Thoriq.
"Ih apaan sih?! Aku kan gak ngapa-ngapain." protes Nawal.
"Halah udah diem lu!" bentak Thoriq.
"Oh gitu, gapapa lah Riq wajar namanya juga Nawal kan masih belum dewasa. Yaudah, sayang kamu jangan sedih lagi ya! Kita kan mau periksa ke dokter sekarang," ucap Jordan.
"Iya Nur, jangan sedih lagi ya! Insyaallah kok kamu bisa hamil!" ucap Thoriq tersenyum.
"Aamiin!" ucap Jordan dan Nur bersamaan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1