
#SangPemilikHati Episode 105.
•
•
Grey telah selesai diperiksa oleh dokter, ia amat penasaran dengan apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini.
Dokter pun menghampirinya, mencoba memberi penjelasan kepada gadis itu terkait masalah yang menimpanya.
"Dok, gimana? Saya ini kenapa?" tanya Grey cemas.
"Kamu tenang aja ya! Rasa mual dan pusing kamu itu bukan karena penyakit, tapi karena ada janin di dalam rahim kamu. Usianya sudah sekitar tiga Minggu," jawab dokter menjelaskan.
Sontak Grey langsung menganga lebar dan membelalakkan matanya.
"Apa dok? Dokter serius kan? Mana mungkin saya bisa hamil dok? Saya ini masih sekolah, saya belum menikah." ujar Grey panik.
"Itu juga saya kurang tahu, tadi pun saya agak syok saat mengetahui hasilnya. Tapi, memang itulah yang terjadi sama kamu." ucap dokter itu.
Grey memalingkan wajahnya, seketika air mata mengalir membasahi pipinya.
Gadis itu baru teringat pada kejadian yang sempat menimpanya beberapa waktu lalu, dimana pak Panca selaku gurunya sendiri dengan tega melakukan hal keji padanya.
"Ini semua gara-gara pak Panca! Pasti anak ini tuh anak dia! Gue gak sudi mengandung anak dari pria busuk seperti dia!" batin Grey.
"Baiklah, saya permisi dulu ya! Kamu rebahan saja dulu disini sampai kondisi tubuh kamu agak enakan, nanti saya kembali lagi." kata dokter.
"Iya dok. Tapi, boleh saya minta dokter buat rahasiakan ini gak? Tolong jangan kasih tahu ke siapapun orang yang ada di luar sana, saya gak mau mereka tahu kalau saya hamil dok!" pinta Grey pada dokter itu.
"Baiklah, saya mengerti perasaan kamu. Saya tidak akan memberitahukan soal ini pada mereka, semoga kamu bisa cepat enakan ya!" ucap dokter itu sambil tersenyum.
"Terimakasih dok!" ucap Grey merasa lega.
"Sama-sama," ucap si dokter.
Dokter itu pun melangkah keluar dari sana, sedangkan Grey tetap berbaring dan masih tak menyangka dengan apa yang dialaminya saat ini.
Grey terus memegangi perutnya, ia sungguh bingung bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup dengan kondisi seperti ini.
"Gue harus gimana sekarang? Mama sama papa pasti bakal marah banget kalau tahu tentang ini, bisa jadi mereka usir gue dari rumah dan gak anggap gue anak lagi!" gumam Grey.
Akhirnya Grey menangis sejadi-jadinya, ia sangat terluka mendapati dirinya tengah mengandung anak dari seseorang yang telah melecehkannya.
•
•
Di luar, Alzi menunggu dengan wajah panik dan tak sabar menanti dokter keluar dari ruangan tersebut agar ia bisa memastikan kondisi Grey.
Tak lama kemudian, dokter yang ia tunggu-tunggu itu akhirnya muncul dari dalam.
Tentu saja Alzi langsung bergerak dari tempatnya dan mendekati dokter tersebut, ia ingin tahu bagaimana kondisi Grey saat ini setelah diperiksa.
"Dok, gimana kondisi teman saya?" tanya Alzi.
Dokter itu terdiam sejenak, sepertinya dia agak ragu untuk mengatakan bahwa Grey sedang hamil.
Pasalnya, Grey sudah meminta padanya untuk merahasiakan tentang itu kepada siapapun.
"Dok, kenapa diam aja dok? Katakan sama saya, teman saya itu kenapa!" ujar Alzi kesal.
"Jangan-jangan pasien tadi hamil karena ulah laki-laki ini? Dia kelihatan cemas banget, bisa jadi dia udah punya firasat kalau temannya itu hamil karena mereka sudah sempat berhubungan badan." gumam si dokter dalam hati.
Alzi semakin heran dengan tingkah dokter itu, karena si dokter terus menatapnya sembari mengangguk-angguk kecil.
"Ada apa sih dok? Saya ini nanya loh sama dokter, kok dokter malah diam sambil tatap saya kayak gitu? Ayolah dok, kasih tahu saya kenapa teman saya bisa pingsan!" ucap Alzi.
"Maaf ya! Kamu tenang dulu, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan tentang teman kamu itu! Dia hanya kurang istirahat kok, selebihnya tak ada masalah yang berarti." jelas si dokter berbohong.
"Yang benar dok? Teman saya berarti baik-baik aja kan dok?" tanya Alzi masih cemas.
"Benar, teman kamu gak kenapa-napa kok. Dia hanya butuh istirahat sebentar di dalam, mungkin selama ini dia kekurangan istirahat." kata dokter.
"Baik dok! Tapi, apa saya boleh masuk ke dalam buat temuin dia dok?" tanya Alzi.
"Tentu saja, silahkan dek! Saya juga ingin pamit ke ruangan saya dulu, permisi!" ucap dokter itu.
"Iya dok," ucap Alzi tersenyum mengangguk.
Dokter itu pun pergi meninggalkan Alzi, sedangkan Alzi sendiri hendak masuk ke dalam ruangan itu dan menemui Grey.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menahannya sehingga Alzi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.
"Tunggu kak!" teriak orang itu.
Alzi menoleh dan mendapati sosok Raisa di hadapannya.
"Raisa? Ngapain lu kesini?" tanya Alzi heran.
"Gue dikasih tahu sama kak El, katanya lu bawa Grey ke rumah sakit ini. Yaudah deh gue susulin kesini, soalnya gue cemas banget sama kondisi Grey. Dia gimana kak sekarang? Baik-baik aja kan?" ucap Raisa dengan cemas.
"Dia baik kok! Barusan aja dokter selesai periksa dia, kalo lu mau masuk dan jengukin dia silahkan aja! Biar gue ngalah dan nunggu disini," ucap Alzi.
"Loh kenapa lu gak sekalian ikut masuk ke dalam, kak?" tanya Raisa bingung.
"Nanti aja giliran, mending lu duluan kan lu sohibnya si Grey. Siapa tahu dengan kehadiran lu di dalam, bisa bikin Grey cepat sembuh." kata Alzi.
"Oke deh! Makasih ya kak! Kalo gitu gue masuk ke dalam dulu, permisi!" ucap Raisa.
"Silahkan!" ucap Alzi memberi jalan.
Raisa pun masuk ke dalam ruangan tersebut, sedangkan Alzi tetap berada disana menanti giliran untuk bisa masuk dan menemui Grey.
•
•
Sahira pamit kepada abang dan juga iparnya untuk pergi keluar menemui Grey di rumah sakit.
"Bang, kak, aku mau keluar sebentar ya? Aku harus jenguk teman aku di rumah sakit, aku pengen tahu aja gimana kondisinya sekarang. Boleh kan?" ucap Sahira saat menghampiri mereka di ruang tamu.
"Ah sayang, boleh kok. Kamu mau perginya sama siapa? Diantar abang kamu atau pergi sendiri?" tanya Nur.
"Aku sendiri aja kak, biar abang disini aja temenin kak Nur. Lagian kan juga ada mama mertua dan papa mertua disini, gak enak lah kalo abang pergi-pergian." jawab Sahira.
"Lu yakin mau pergi? Udah sih lu disini aja, gausah jenguk teman lu segala!" ujar Jordan.
"Bang, aku tuh cemas sama kondisi teman aku. Emang abang gak pernah ya di posisi aku?" ucap Sahira.
"Iya mas, biarin aja Sahira pergi! Lagian dia pasti kembali kok kesini, ya kan Sahira?" ucap Nur.
"Iya kak, aku pulangnya kesini kok bukan ke apartemen ibu. Abang gak perlu cemas gitu, toh abang sama ibu juga udah baikan kan?" ucap Sahira.
"Enggak lah bang, selama ini aku juga selalu kabarin abang tiap kali aku mau nginep di apartemen ibu." kata Sahira.
"Iya, tapi kasih kabarnya setelah lu sampe disana. Itu mah namanya bukan izin, tapi kasih tahu doang." cibir Jordan.
"Hehe... aku kan takut gak diizinin sama abang kalo bilang dulu," ucap Sahira sambil nyengir.
"Yaudah, kamu pergi aja ke rumah sakit sayang! Abang kamu kasih izin kok," kata Nur tersenyum.
"Beneran bang? Aku boleh kan pergi sekarang?" tanya Sahira pada abangnya.
"Iya iya... kalau gue larang pun, lu pasti juga bakal tetap maksa kan buat ke rumah sakit? Jadi, yaudah lu pergi aja sana! Tapi, hati-hati loh di jalan dan pulangnya jangan sore-sore!" ucap Jordan.
"Oke bang!" ucap Sahira ceria.
Gadis itu langsung tampak gembira, ia mencium tangan Jordan serta Nur lalu pergi dari rumah untuk menjenguk Grey di rumah sakit.
Sementara Nur dan Jordan tetap duduk berdua disana, tampak sekali bahwa Jordan masih belum bisa tenang setelah Sahira pergi.
"Mas, kamu kenapa sih? Kamu masih marah karena Sahira maksa buat jenguk temannya? Udah lah mas, dia kan cuma mau lihat kondisi temannya di rumah sakit." bujuk Nur.
"Aku cuma takut aja kalau dia ternyata malah datang ke apartemen ibu," ucap Jordan.
"Kenapa mesti takut sih, mas? Kamu sama ibu bukannya udah baikan? Biarin aja dong kalau misal Sahira pengen tinggal disana, atau kamu emang masih belum bisa terima ibu ya mas? Dan kemarin itu kamu cuma pura-pura aja," tanya Nur.
"Aku emang udah baikan sama ibu, tapi kan tetap aja aku gak mau Sahira jauh-jauh dari aku sayang. Aku minta maaf sama ibu, supaya Sahira gak terus nginep disana!" ucap Jordan.
"Ya ampun mas! Bisa-bisanya kamu begitu loh, aku pikir kamu tulus minta maaf sama ibu." kata Nur.
"Aku tulus kok, kalau enggak tulus buat apa waktu itu aku pelukan sama ibu?" ucap Jordan.
"Yaudah, aku gak ngerti lagi harus bilang apa sama kamu. Semoga secepatnya kamu bisa sadar dan terima ibu dengan tulus!" ucap Nur kesal.
Bahkan Nur beranjak dari sofa dan hendak pergi meninggalkan suaminya, ia benar-benar kecewa pada Jordan karena pria itu ternyata hanya ingin Sahira tinggal bersamanya dan oleh karena itu Jordan meminta maaf pada ibunya.
Namun, Jordan berusaha menahan Nur dengan mencekal lengan wanita itu dari belakang.
"Tunggu sayang! Kamu mau kemana sih? Jangan tinggalin aku dong!" ujar Jordan.
"Aku mau ke kamar, abisnya aku bete sama kamu! Aku pikir kamu tulus loh minta maaf sama ibu, tapi nyatanya itu cuma supaya Sahira gak tinggal disana lagi!" ucap Nur kesal.
__ADS_1
"Jangan gitu dong sayang! Aku beneran tulus baikan sama ibu, bukan cuma supaya Sahira gak terus-terusan kesana!" bujuk Jordan.
"Halah kamu bohong, mas!" bentak Nur.
"Enggak sayang, aku gak bohong. Aku—"
"Udah lah, kamu disini aja jangan kemana-mana! Aku mau istirahat dulu di kamar!" potong Nur.
Nur melepaskan tangan Jordan dari lengannya, lalu beranjak pergi dengan perasaan jengkel.
Jordan hanya bisa berdiam diri sembari mengacak-acak rambutnya saat melihat Nur pergi meninggalkannya.
•
•
Sementara itu, saat di luar Sahira tanpa sengaja bertemu dengan Thoriq yang datang ke rumahnya.
Ya tentu saja Thoriq langsung menghampiri Sahira disana sambil tersenyum mengarah padanya.
"Hai cakep!" Thoriq menyapa Sahira sembari mencubit pipi gadis itu.
"Ish, ngapain sih lu? Gue tuh namanya Sahira, bukan cakep. Lagian lu ngapain datang kesini? Mau ketemu bang Jordan?" ujar Sahira ketus.
"Bukan kok, gue itu mau ketemu sama lu. Gue pengen jemput lu dan bawa lu ke apartemen gue, ibu sama Nawal udah nunggu tuh." kata Thoriq.
"Hah? Tapi, gue mau ke rumah sakit dulu bang. Gue harus jenguk teman gue!" ucap Sahira kaget.
"Ohh yaudah biar sekalian aja gue antar kesana, jadi abis dari rumah sakit lu bisa langsung ke apartemen ketemu sama ibu." usul Thoriq.
"Beneran bang? Tapi, masalahnya gue udah pesan ojek online nih." kata Sahira.
"Udah, itu mah masalah gampang. Nanti begitu abang ojeknya sampai, gue yang bicara ke dia kalo lu biar gue aja yang antar." ucap Thoriq tersenyum.
"Emang bisa gitu ya?" tanya Sahira bingung.
"Bisa kok, biar gue yang urus nanti. Yang penting tuh lu mau aja dulu gue anterin ke rumah sakit," jawab Thoriq.
"Eee gimana ya bang...?? Gue..." Sahira menggantung ucapannya.
"Halah udah gausah banyak mikir! Diantar sama gue kan gratis gak pake bayar, jadi lu untung dong cakep!" ucap Thoriq lagi-lagi mencolek pipi Sahira.
"Ish, lu bisa berhenti gak sih colek-colek pipi gue? Dikata pipi gue sabun apa!" ujar Sahira kesal.
"Hahaha... maaf cakep! Abisnya lu kelamaan banget sih mikirnya, tinggal bilang iya aja gitu susah amat!" ucap Thoriq.
"Yaudah iya, gue mau diantar sama lu." kata Sahira.
"Nah gitu dong!" ucap Thoriq tersenyum puas.
Tak lama kemudian, tukang ojek online yang dipesan Sahira akhirnya muncul. Thoriq langsung menghampiri ojek tersebut untuk bernegosiasi dengannya.
"Pak, bapak kan orang baik nih. Saya gak mau lah bikin bapak sakit hati, jadi gimana kalau saya aja yang antar gadis ini dan bapak cukup lanjut kerja aja. Tapi bapak gausah khawatir, saya tetap bayar ongkos ojeknya kok." ucap Thoriq pada ojek itu.
"Waduh mas, saya gak bisa terima ongkos kalau gak anterin penumpang saya." kata ojek itu.
"Gapapa pak, jadi anggap aja bapak tetap ngojek dan anterin cewek ini ya pak. Nah, ini ongkosnya pak!" ucap Thoriq menyerahkan uang tersebut.
"Hah? Ini mah kebanyakan mas, saya gak bisa terima. Ongkosnya cuma tiga puluh ribu aja kok," ucap ojek itu menolak.
"Gapapa pak, yang sisanya tuh sebagai permintaan maaf saya ke bapak karena saya udah batalin orderan bapak." ucap Thoriq.
Akhirnya ojek itu mengalah dan mau menerima uang seratus ribu pemberian Thoriq.
Setelahnya, si ojek pun pergi membawa uang tersebut tanpa mengantar Sahira.
"Kalo kayak gitu jadinya keenakan si tukang ojek itu dong bang, dia gak ngojek tapi bisa dapat uang seratus ribu dari lu." ucap Sahira pada abangnya.
"Gapapa, itung-itung sedekah." jawab Thoriq.
"Iya deh iya yang orang kaya mah beda," ucap Sahira.
"Yeh bukan gitu, gue kan cuma mau lu diantar sama gue." kata Thoriq sambil memeluk Sahira dari samping.
Sontak Sahira terkejut saat Thoriq memeluknya, namun entah mengapa ia hanya diam membiarkan Thoriq terus menyentuhnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...MAU VOTE JUGA BOLEH🥰...
__ADS_1