Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Kejutan Elargano


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 77.




Sahira saat ini sudah berada di dalam mobil Thoriq dan tengah menuju ke rumahnya, tampak gadis itu terus cemberut melipat kedua tangannya di depan sembari memalingkan wajahnya ke arah samping menatap kaca seakan tak mau melihat wajah abangnya tersebut.


Sementara Thoriq hanya tersenyum sambil sesekali mengusap puncak kepala Sahira dan membujuknya, ia merasa gemas dengan sikap Sahira yang seperti ini karena gadis itu terlihat lebih menggemaskan dari biasanya, walau tentu ia juga sedikit kesal lantaran Sahira cuek padanya.


"Heh! Kamu kenapa sih diam aja kayak gitu? Kamu marah sama aku karena aku udah ganggu waktu kamu berduaan sama El di taman tadi, iya?" tanya Thoriq kepada adiknya itu.


"Bukan masalah itunya bang, gue cuma malu aja tadi dilihatin banyak orang waktu lu ribut sama El. Lagian kenapa sih lu harus kasar gitu ke dia? Lu bikin gue malu tahu gak, harusnya kan lu bisa pake cara baik-baik gitu gausah kayak tadi!" ujar Sahira.


"Eee iya iya aku minta maaf ya! Aku kan kebawa emosi aja sayang!" ucap Thoriq lembut.


"Hah? Sayang? Please deh bang, jangan panggil gue pake sebutan itu! Gue dengernya jijik tau gak!" ucap Sahira.


"Yaelah salah mulu aku!" cibir Thoriq.


"Bukan gitu, lu kan bisa panggil nama gue kayak biasa, gausah pake sayang-sayangan! Lagian gue juga masih marah sama lu, jadi jangan sok manis gitu deh!" ujar Sahira memajukan bibirnya.


"Mau sampai kapan sih kamu marah terus sama aku, Sahira?" tanya Thoriq agak kesal.


"Eee ya enggak tahu, mungkin tergantung gimana mood aku nantinya. Udah deh, jangan banyak bicara kalo lagi nyetir nanti gak fokus!" ucap Sahira.


"Makanya kamu maafin aku dulu dong Sahira! Masa cuma gara-gara aku marahin El aja kamu sampai kayak gini sih?" ujar Thoriq.


"Hadeh, yaudah gue maafin deh daripada lu nangis nantinya. Tapi, lain kali tolong lu jangan kayak gitu lagi ya! Gue tuh gak suka ada orang yang paling sok tahu padahal dia gak tau, apalagi lu udah bikin malu gue di depan banyak orang tadi. Kasihan juga loh kak El, dia pasti kesel banget!" ujar Sahira.


"Iya iya sayang, udah lah gausah dibahas terus! Atau jangan-jangan kamu ini suka ya sama si El? Makanya kamu perduli banget sama dia dan gak terima aku tadi marahin dia, ya kan?" ujar Thoriq.


"Apaan sih bang? Kok jadi bawa-bawa perasaan begitu? Gue kan udah pernah bilang sama lu, antara gue dan El itu cuma teman gak lebih! Lagian nih ya, tadi gue bisa disana sama El itu juga karena kak Nur sama bang Jordan kok!" ucap Sahira.


"Lah kenapa bisa gitu?" tanya Thoriq heran.


"Iya, jadi tadi tuh kak Nur sama bang Jordan yang minta ke gue buat ladenin El. Padahal awalnya gue udah nolak loh, tapi mereka malah maksa gue dan nyuruh gue buat begitu!" jelas Sahira.


"Ah masa? Kamu gausah ngarang deh, orang tadi Nur telpon aku terus katanya suruh jemput kamu di rumah sakit!" ujar Thoriq.


"Ish, gue gak ngarang! Emang itu beneran terjadi, kalo gak percaya tanya aja nanti sama kak Nur sendiri! Makanya lu kalo gak tahu apa-apa, ya gausah sok tahu jadi orang!" ujar Sahira.


"Ahaha, iya iya santai aja kali gausah emosi kayak gitu!" ucap Thoriq tersenyum renyah.


Gadis itu kembali dibuat kesal oleh Thoriq, ia membuang muka dan tak mau bicara lagi pada pria tersebut, namun Thoriq tetap mengajaknya mengobrol dan bahkan sambil sesekali mengelus punggung tangannya dengan lembut.


"Kamu jangan buang muka dong!" pinta Thoriq.


"Bodo! Abisnya gue kesel sama lu, udah deh jangan kebanyakan ngomong!" ujar Sahira ketus.


Akhirnya Thoriq hanya bisa mendengus pasrah mendengar jawaban dari Sahira, ia sempat menggelengkan kepala sebelum kembali fokus menyetir mobilnya.




Sementara itu, Elargano mendatangi tempat dimana ia menyandera Ibrahim untuk memberi pelajaran pada lelaki tersebut. Ya El memang masih melakukan itu karena ia merasa belum puas untuk menghukum Ibrahim.


Elargano turun dari mobilnya, lalu melangkah masuk ke dalam tempat tersebut dengan langkah tergesa-gesa. Ia tak lupa juga menyapa para penjaga yang berjaga disana sebelum memasuki area itu.


"Lihat aja Ibrahim, gue gak akan lepasin lu sebelum gue puas balas semua perbuatan yang udah lu lakuin ke cewek gue kemarin!" batin Elargano.


Biarpun sebelum ini El sempat berpikir ingin melepaskan Ibrahim, namun ia segera menepis semua pikiran itu setelah mengingat kembali apa yang dialami Keira ketika dipelet oleh Ibrahim.


"Gue gak akan pernah maafin lu! Karena lu yang udah bikin Keira menderita!" batin El.


Ceklek...


Ia membuka pintu, tampaklah sosok pria tengah terduduk lemas bersandar di tembok dengan dua kaki lurus ke depan dan terikat cukup kuat beserta kedua tangannya. Pria itu ialah Ibrahim yang sedang terpejam akibat siksaan dari El semalam, tentunya siapapun itu pasti akan mengalami hal yang sama jika diperlakukan dengan kejam.


"Hahaha, ternyata dia masih pingsan. Emang dasar cowok lemah!" ujar Elargano.


Elargano mendekati Ibrahim, kemudian menarik rambut kepala pria itu dengan kasar dan menepuk-nepuk pipi Ibrahim berkali-kali bermaksud membangunkan pria tersebut.


"Heh bangun lu dasar cupu! Bangun!!" teriak El.

__ADS_1


Perlahan-lahan Ibrahim mulai membuka matanya, El pun tersenyum smirk tanpa melepaskan tarikan pada kepala Ibrahim hingga pria itu menjerit.


"Awhh! Sa-sakit..." ringis Ibrahim menahan sakit yang dirasakannya.


"Hahaha, bangun juga lu pengecut! Gue gak nyangka kalau cowok tukang pelet kayak lu ternyata lemah! Lu cuma berani main dukun, harusnya kalo emang lu pengen dapetin Keira, lu lawan gue satu lawan satu bukan lewat cara pelet kampungan kayak gitu!" bentak Elargano.


"Gu-gue minta maaf! Tolong ampuni gue, gue udah gak tahan lagi!" ucap Ibrahim memohon pada El untuk dilepaskan.


"Apa? Ampuni lu? Sorry, gak ada di kamus gue kata-kata mengampuni itu. Lu bakal tetap disini sampai lu mau minta maaf langsung ke Keira, paham lu!" bentak Elargano.


"I-i-iya iya... gue bakal minta maaf kok sama Keira, gue janji!" ucap Ibrahim lemas.


"Bagus! Kalo gitu lu tetap disini, gue bakal bawa Keira datang kesini. Semuanya tergantung Keira, nasib lu ada di tangan Keira! Mending lu banyak-banyak berdoa aja supaya Keira mau maafin lu dan lu bisa bebas dari sini, karena cuma Keira yang bisa selamatin lu!" ucap Elargano.


Elargano pun menghempaskan kepala Ibrahim dengan kasar hingga pria itu terbentur ke tembok, Ibrahim kembali meringis membuat El merasa senang walau belum puas.


"Sekarang lu diam disini! Gue mau keluar temuin Keira, abis ini lu siap-siap karena siksaan selanjutnya sudah menanti!" ucap Elargano.


"Ja-jangan tolong! Gue udah gak kuat lagi, gue butuh air! Tolong kasih gue keringanan, gue pengen minum!" ucap Ibrahim merengek pada El.


"Hah? Minum? Hahaha...."


"Ke-kenapa? Apa lu gak mau kasih gue minum? Gue haus, gue juga lapar! Dari semalam lu gak kasih gue makan ataupun minum, lu benar-benar kejam!" ucap Ibrahim.


"Gue kejam? Oh itu emang benar, tapi gue begini juga karena ulah lu sendiri! Suruh siapa lu berani sentuh Keira? Sekarang rasakan akibatnya, karena gue gak akan kasih lu makan atau minum sampai lu dapat maaf dari Keira!" bentak Elargano.


Ibrahim terdiam, ia menangis meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


"Gausah nangis lu! Udah kayak cewek aja, yang begini kok pengen dapetin Keira! Lain kali sebelum bertindak tuh dipikir dulu, supaya lu gak menyesal di kemudian hari!" ucap Elargano.


Setelahnya, El pun berbalik lalu keluar dari ruangan tersebut. Tak lupa ia menguncinya kembali agar Ibrahim tidak bisa pergi kemana-mana.


Ibrahim pun hanya bisa pasrah menanti keajaiban untuk bisa lepas dari sana, rasa haus dan lapar terus menyerangnya bercampur dengan rasa sakit yang diberikan oleh Elargano sebelumnya.




Jordan serta Nur tiba di rumahnya, mereka turun dari taksi lalu memasuki halaman rumah dengan Nur mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh suaminya.


"Pastinya senang banget dong!" jawab Jordan.


Mereka saling berbalas senyum, kemudian masuk ke teras rumah dan mengetuk pintu agar orang yang ada di dalam bisa membukakan pintu.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, Bu ini aku sama mas Jordan udah sampai." Nur agak berteriak sembari mengetuk pintu memanggil ibu mertuanya yang memang dari semalam tinggal di rumah itu bersama Thoriq.


"Kamu kok manggil-manggil ibu? Emang ibu siapa yang ada di dalam? Ibu kamu?" tanya Jordan.


"Ya ibu kamu lah, mas. Emangnya kamu lupa kalau ibu kamu udah pulang dan tinggal disini?" jawab Nur memberitahu suaminya.


"Ohh," ucap Jordan singkat.


Jordan langsung berubah jutek begitu mengetahui ibunya tinggal di dalam sana, Nur yang tahu pun berusaha menghibur suaminya agar tidak terlalu jutek jika nanti bertemu dengan ibunya.


"Mas, kamu jangan jutek begitu dong! Gak enak nanti kalau dilihat ibu," ucap Nur.


"Gak bisa sayang, ini udah bawaan dari sananya. Lagian ngapain sih kamu bolehin ibu tinggal disini? Kenapa kamu gak minta izin dulu sama aku?" ujar Jordan jutek.


"Ya aku pikir kan itu ibu kamu, jadi gapapa gitu kalau ibu kamu tinggal disini. Udah lah mas, kamu jangan kayak gitu terus sama ibu! Coba dong sesekali kamu senyum pas ketemu ibu, aku yakin ibu pasti senang deh!" ucap Nur.


"Ibu yang senang, tapi aku enggak. Rasanya aku males banget deh ketemu ibu lagi, boleh gak sih aku balik ke rumah sakit aja?" ujar Jordan.


"Mas ih jangan begitu! Biar bagaimanapun, ibu itu tetap ibu kamu mas!" ucap Nur.


Jordan hanya mendengus sembari membuang muka, sedangkan Nur tersenyum mengusap wajah suaminya berharap Jordan mau menuruti kemauannya untuk tidak jutek lagi.


Ceklek...


Pintu terbuka, tampak Ratna beserta dua orang wanita berpakaian seperti pelayan muncul dari balik pintu sambil tersenyum ke arah Jordan.


"Waalaikumsallam, syukurlah kalian sudah sampai disini! Ibu tunggu-tunggu loh daritadi, ibu senang sekali bisa lihat kamu Jordan sembuh dan kembali kesini!" ucap Ratna tersenyum.


Jordan hanya diam tanpa memperdulikan ucapan ibunya, walau sang ibu terus berusaha mendekat dan mengambil simpatinya.

__ADS_1


"Eee iya Bu, Alhamdulillah emang mas Jordan bisa pulang hari ini! Oh ya, ibu sama siapa itu?" ucap Nur coba mengalihkan situasi.


"Oh, kenalin ini Sisi dan Chika. Mereka tuh pelayan baru di rumah ini, supaya kerjaan kamu bisa ditangani sama mereka. Kamu kan harus mengurus suami kamu, jadi pasti kerepotan kalau sambil beberes rumah juga!" jelas Ratna.


"Ya ampun Bu, harusnya gak perlu pake sewa pelayan kayak gini juga! Aku udah biasa kok lakuin semuanya sendiri, insyaallah aku bisa kok bagi waktu!" ucap Nur.


"Gapapa sayang, anggap aja ini hadiah dari ibu buat menantu kesayangan ibu!" ucap Ratna tersenyum.


"Duh, makasih banyak ya Bu!" ucap Nur.


"Halah bilang aja pengen cari muka! Biarpun anda sewa seratus pelayan disini, tetap aja saya gak akan tertarik buat berbaikan dengan anda!" ujar Jordan menyindir ibunya.


"Mas!" tegur Nur merasa tindakan suaminya terlalu berlebihan.




Malam harinya, Elargano mengajak Keira ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Ia menuntun Keira yang menggunakan penutup mata menuju meja yang sudah disediakan sebelumnya, ya Elargano memang telah menyiapkan semuanya dari siang agar bisa memanjakan sang kekasih.


"Sayang, kapan aku bisa buka penutup mata ini? Aku udah gak sabar nih pengen lihat apa yang kamu siapin!" ucap Keira.


"Sabar ya cantik! Sebentar lagi kita sampai kok, tuh di depan udah kelihatan. Kamu tenang ya, aku pegangin kamu kok supaya kamu gak jatuh!" ucap Elargano sambil terus menuntun gadisnya.


"Iya iya aku tahu, tapi aku penasaran aja kamu bawa aku kemana sih sayang?" ucap Keira.


"Ada deh, nanti kamu juga tahu!" ucap El.


Keira pun semakin penasaran setelah El mengucapkan itu, ia ingin sekali membuka penutup matanya namun khawatir kalau El akan marah padanya, sehingga ia harus bersabar lebih dulu sampai tiba waktunya nanti.


"Nah kita udah sampai sayang," ucap El.


"Serius? Kalo gitu aku boleh dong buka penutup mata aku?" tanya Keira.


"Nanti ya, aku mau siapin sesuatu dulu!" ucap El.


"Ih apa lagi sih sayang? Kamu mah bikin aku penasaran aja tau! Aku udah gak sabar nih, ayo dong cepetan sayang!" ujar Keira.


"Hahaha, iya iya ini sebentar kok!" ucap El.


Elargano pun memerintahkan para pelayan yang ada disana untuk membuka tirai di depan, dan seketika pemandangan indah bukit serta pegunungan terpampang nyata di matanya.


"Gimana sayang? Udah belum?" tanya Keira.


"Iya, udah kok. Nih aku buka ya penutup mata kamu?" ucap Elargano.


Keira mengangguk cepat, ia sudah tidak sabar ingin menyaksikan apa yang diberikan oleh El padanya. Elargano membuka penutup mata itu dengan lambat, hingga Keira semakin tidak sabar.


"Ish cepetan dong sayang! Kamu mah sengaja lama-lamain!" ujar Keira.


"Hahaha iya iya..." El menurut lalu melepas seluruh penutup mata itu, kini Keira bisa melihat dimana ia berada saat ini.


"Nah, ayo buka mata kamu!" perintah El.


Perlahan Keira membuka matanya, ia langsung dibuat takjub oleh pemandangan yang ada disana serta beberapa hiasan yang sudah disiapkan oleh Elargano, ia sungguh tak menyangka kekasihnya begitu romantis.


"Sayang, kamu..."


"Sssttt!" Elargano memotong ucapan Keira dan menaruh telunjuknya di bibir Keira, lalu menjentikkan jari sebagai kode pada bagian musik.


Tak lama kemudian, iringan musik biola terdengar di telinga mereka. Keira pun semakin dibuat terpesona oleh Elargano, makan malam kali ini sungguh berbeda dari biasanya.


"El, ini semua kamu yang siapin?" tanya Keira sembari menatap wajah kekasihnya.


"Iya dong, spesial buat kamu sayangku! Yaudah, kita dansa dulu yuk!" ucap El mengulurkan tangan di hadapan Keira mengajak gadis itu berdansa.


"Ta-tapi, aku gak bisa dansa," ucap Keira.


"Gapapa, aku yang ajarin!" ucap Elargano.


Akhirnya Keira mengangguk setuju, ia pun meraih tangan El lalu mulai berdansa diiringi musik.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2