Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Diculik??


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 113.




Sahira dan Farhan kembali melaju pergi mencari Riki agar pria itu dapat mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah dia lakukan terhadap Grey.


Walau mereka tak tahu harus mencari kemana, namun Sahira tetap meminta pada Farhan untuk terus melaju lurus ke depan sesuai jalan.


"Ra, serius nih kita lurus terus? Kalau misal ternyata Riki ada di sebelah kanan atau kiri gimana?" tanya Farhan pada Sahira.


"Eee gue juga gak tahu sih, tapi ini kan feeling gue. Bisa bener bisa salah, tergantung tingkat keberuntungan gue aja. Ya semoga deh kita bisa temuin Riki sekarang!" jawab Sahira.


"Yaudah deh, gue ngikut lu aja. Biasanya sih feeling cewek gak pernah salah," ucap Farhan.


"Nah itu lu tau!" ucap Sahira tersenyum.


"Oh ya, terus Grey sendiri sekarang gimana? Kondisi dia masih memburuk atau udah baikan?" tanya Farhan penasaran.


"Eee gue belum tahu sih, soalnya Raisa atau Anisa belum ada yang kabarin gue. Positif aja mungkin mereka lagi usaha buat tenangin Grey," jawab Sahira.


"Oh gitu, kasihan ya si Grey!" ucap Farhan.


"Hooh, gue juga gak tega tiap kali lihat Grey yang sekarang. Mental dia kayak benar-benar terguncang setelah dapat masalah yang bertubi-tubi, selesai satu masalah eh muncul masalah yang lain." kata Sahira.


"Itu dia, semoga si Grey bisa kuat jalani semua ini walau berat! Dan dia hilangin pikiran dia buat bunuh diri, karena itu bukan cara untuk menghilangkan masalah." ucap Farhan.


Sahira mengangguk setuju, kemudian beralih menatap keluar kaca mobil.


Namun, Sahira malah menangkap sebuah mobil yang tampaknya tengah mengikuti mereka dari belakang.


Sontak Sahira bergegas memberitahu itu kepada Farhan agar Farhan dapat menghindarinya.


"Kak, kayaknya ada yang ngikutin kita deh dari belakang. Soalnya itu mobil mepet banget sama mobil lu ini, gue curiga dia emang lagi intai kita!" ucap Sahira panik.


"Hah? Masa sih? Kebetulan aja jalannya sama kali, jangan suudzon dulu!" ucap Farhan.


"Iya juga ya, semoga aja dugaan gue salah dan dia emang searah aja sama kita!" ucap Sahira.


"Aamiin!" ucap Farhan mengaminkan.


Lalu, Sahira menyadari bahwa mobil itu berbelok dan sudah tidak mengikuti mereka lagi. Ia pun merasa lega karena dugaannya tadi salah.


"Huh syukurlah! Ternyata benar kata lu kak, mobil itu cuma kebetulan searah aja." kata Sahira.


"Nah kan, gue bilang juga apa. Makanya lain kali jangan berpikiran negatif dulu!" ucap Farhan.


"Iya kak, tadi gue panik aja!" ucap Sahira ngeles.


Ciiitttt...


Tanpa diduga, mobil yang tadi mengikuti mereka dari belakang tiba-tiba sudah berada di depan dan mencegat mobil milik Farhan.


Farhan terpaksa menginjak rem secara mendadak dan membuat Sahira hampir terdorong ke depan, bahkan jantungnya sudah hampir copot.


"Hah? Itu kan mobil yang tadi gue bilang ngikutin kita, kok dia bisa udah ada di depan aja?" ujar Sahira masih tampak syok.


"Entahlah, kayaknya bener deh kata lu. Itu mobil emang sengaja ngikutin kita," ucap Farhan.


Mereka berdua sama-sama panik, apalagi saat tiga orang pria turun dari mobil di depan mereka dan menuju ke arah mereka disana.


"Woi keluar lu!" teriaknya.


Tiga orang itu terus berteriak meminta Sahira dan Farhan keluar, mereka juga memukul-mukul badan mobil Farhan berharap Sahira bisa segera keluar.


"Kak, gimana ini?" tanya Sahira panik.


"Eee lu tetap disini ya! Gue mau keluar dulu buat hadapin mereka, gue pengen tahu apa maksud mereka cegat mobil gue!" jawab Farhan.


"Hah? Lu udah gila ya? Gimana kalau mereka hajar lu nantinya?" ujar Sahira.


"Tenang aja, gausah panik gitu! Gue pasti baik-baik aja kok, lu tunggu disini ya jangan kemana-mana!" ucap Farhan tersenyum.


"Tapi kak—"


"Sssttt udah santai aja! Gue bisa hadapin mereka kok, percaya sama gue ya!" potong Farhan.


"Okelah! Tapi, lu hati-hati ya kak!" ucap Sahira.


"Pasti!" ucap Farhan mengangguk singkat.


Farhan memutuskan keluar dari mobilnya, namun ia langsung ditarik oleh tiga orang pria tersebut dan dibawa menjauh dari mobil.


"Kak Farhan!" Sahira berteriak histeris sambil menutup mulutnya, ia tidak tega saat melihat Farhan dibawa oleh ketiga pria tadi.


"Mau apa kalian?!" tanya Farhan dengan nada tegas kepada tiga pria di depannya.


"Gausah banyak omong lu!" jawab salah satu mereka yang kemudian meninju perut Farhan.


Bughh...


"Aaaakkkhh!!" pekik Farhan kesakitan.


Tak berhenti sampai disitu, mereka bertiga masih terus memukuli Farhan hingga tak berdaya lagi dan hanya bisa terkapar di aspal.

__ADS_1


Sahira yang masih berada di dalam mobil, tampak syok saat Farhan dipukuli oleh tiga pria itu.


"Ya ampun kak Farhan! Kan gue udah bilang tadi, jangan belagu! Eh lu malah nekat buat keluar, tuh kan jadinya lu dipukulin gitu. Mana gak bisa ngelawan lagi!" ujarnya cemas.


Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu mobilnya dari samping dan mencengkeram lengannya secara mengejutkan.


"Eh eh apa-apaan ini?!" ujar Sahira kaget.


"Sssttt lu diem aja Sahira! Gue gak bakal nyakitin lu, kalau lu mau nurut sama gue!" ucap orang itu.


"Riki?" ucap Sahira syok.


"Iya, ini gue. Sekarang ayo lu ikut sama gue! Kalau enggak, temen lu itu gak bakal selamat!" ucap Riki mengancam Sahira.


"Lu bener-bener jahat Rik! Lu kejam!" geram Sahira.


"Hahaha, silahkan aja lu maki gue sepuas lu! Tapi, sekarang lu udah jadi tawanan gue!" ucapnya.


"Gak! Lu gak bisa tangkap gue! Lepasin!" ucap Sahira berusaha berontak.


"Diam Sahira!" bentak Riki.


Riki pun membekap mulut Sahira dengan kain yang sudah ia taburi dengan obat bius.


"Mmppphhh.. mmppphhh..."




Ceklek...


Grey akhirnya mau membuka pintu kamarnya, terlihat dua orang sahabatnya serta sang mama yang sudah berdiri menunggu disana sedari tadi.


"Grey, syukurlah lu mau keluar juga! Kita pengen bicara sama lu, sebentar aja!" ucap Anisa.


"Iya Grey, boleh ya kalo kita bertiga masuk ke kamar lu?" sahut Raisa.


"Kalian mau ngapain datang kesini?" tanya Grey dengan dingin.


"Eee kita pengen hibur lu Grey, kita tahu sekarang lu lagi sedih banget setelah semua kejadian yang terjadi sama lu. Maka dari itu, kita kesini karena kita gak mau lu terus-terusan begini!" jawab Anisa.


"Kalian boleh masuk, tapi mama tunggu disini aja! Aku cuma mau bicara sama Raisa dan Anisa," ucap Grey ketus.


"Oh, iya gapapa kok sayang. Yaudah, kalian bicara ya di dalam! Mama mau ke bawah lagi, kalau butuh apa-apa bilang aja sama mama oke!" ucap Fadia.


"Oke tante!" ucap Raisa tersenyum.


Fadia pun berbalik, lalu pergi menuruni tangga dengan perlahan.


Setelah pintu ditutup, ketiga gadis itu kompak duduk di pinggir ranjang Grey sembari merangkul pundak gadis itu secara bersamaan.


"Grey, lu yang sabar ya! Jangan putus asa! Kita yakin kok lu pasti bisa lewatin semua cobaan ini!" ucap Anisa coba menenangkan Grey.


"Bener Grey, kita selalu ada buat lu kok. Kapanpun lu butuh kita, insyaallah kita bakal bantu lu Grey!" sahut Raisa.


"Thanks ya!" ucap Grey tersenyum singkat.


"Sama-sama Grey, sekarang lu harus semangat terus ya! Jangan ada pikiran buat bunuh diri atau apapun itu! Karena semua itu gak bikin masalah lu kelar, tapi malah bikin tambah masalah." kata Anisa.


"Gue sebenarnya juga gak pengen bunuh diri, tapi mau gimana lagi? Gue udah gak kuat hidup dalam keadaan kayak gini, rasanya gue pengen mati aja tau!" ucap Grey.


"Sabar dulu! Gue yakin kok lu bisa lewatin ini semua Grey!" ucap Anisa.


"Iya Grey, lagipula ada gue sama Anisa yang bakal bantu lu. Selain itu, di luar sana Sahira dan kak El juga lagi berusaha buat cari pelaku yang udah sebarin foto-foto lu itu. Kita sama-sama berdoa aja supaya mereka bisa temuin pelakunya, terus kasih hukuman ke si pelaku itu!" ucap Raisa.


"Oh ya? Emangnya mereka udah tau siapa pelakunya? Atau mereka cuman mau cari-cari aja?" tanya Grey penasaran.


"Setahu gue, mereka udah tahu kok pelakunya siapa. Dan sekarang ini, mereka itu lagi nyari si pelaku ke seluruh penjuru kota. Jadi, lu jangan sedih lagi ya Grey!" jawab Raisa.


"Emang siapa pelakunya?" tanya Grey.


"Eee nanti juga lu tahu sendiri kalo mereka udah berhasil tangkap pelakunya," jawab Raisa.


"Iya deh," ucap Grey mengangguk singkat.


Anisa pun mengeratkan pelukannya sembari mengusap punggung Grey dengan lembut, begitu juga Raisa yang melakukan hal yang sama.


"Gue cerita gak ya ke mereka kalau gue lagi hamil anak pak Panca?" batin Grey.




Elargano masih kelimpungan mencari dimana keberadaan Riki serta teman-temannya.


Pria itu terus mengelilingi jalan walau tanpa tujuan yang jelas, mengingat dirinya belum tahu dimana Riki berada saat ini.


Ia juga berpencar dengan kedua temannya, Roger dan Alzi mencari ke arah lain yang berbeda dengannya.


"Duh, gue cari kemana lagi ya?" gumamnya.


Drrttt..


Drrttt...

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering, El pun berhenti sejenak untuk mengangkat telpon itu.


"Farhan? Ada apa ya?" ujarnya bingung.


📞"Halo! Kenapa lu telpon gue?" tanya El pada Farhan melalui telpon.


📞"Halo El! Gawat El, ini gawat banget!" jawab Farhan dengan nada panik.


📞"Hah? Apanya yang gawat?" tanya El bingung.


📞"Sahira El, Sahira barusan dibawa sama Riki. Gue gak tahu dia pergi kemana, soalnya gue dipukulin sama teman-temannya. Lu tolongin Sahira ya El, selamatin dia!" jawab Farhan.


📞"Apa? Sahira dibawa sama El? Lu gimana sih, Han? Kalo lu gak bisa jaga Sahira, lu jangan berani deketin dia! Kan gue udah bilang, biar gue aja yang sama Sahira. Lu itu gak becus jadi cowok!" ujar El emosi.


📞"Iya El, gue tahu gue salah. Tapi, sekarang bukan waktunya buat ribut. Sebaiknya lu segera kejar Riki dan bebasin Sahira!" ucap Farhan menahan sakit.


📞"Lu shareloc sekarang, gue bakal kesana!" pinta El pada Riki.


📞"Oke!" ucap Farhan singkat.


Tuuutttt...


Telpon diputus oleh El, pria itu tampak geram dan memukul setirnya akibat mendengar kabar mengenai Sahira.


"Aaarrgghh sial!" teriak El emosi.


Tliingg...


Tak lama kemudian, muncul pesan dari Farhan yang berisi lokasi dimana dia berada.


"Ini dia, gue harus kesana sekarang!" ucap El.


Tanpa basa-basi lagi, El pun segera meluncur menuju lokasi yang dikirimkan Farhan.


"Sahira, gue pasti bakal bebasin lu!" ucap El.


El benar-benar kalut, ia tidak bisa tenang memikirkan Sahira yang saat ini belum diketahui dimana keberadaannya.


Ditambah lagi El tahu bahwa Sahira dibawa pergi oleh Riki, ia pun semakin khawatir kalau Riki akan berbuat yang tidak-tidak pada Sahira.




TOK TOK TOK...


"Iya sebentar," Nur yang baru saja hendak duduk di sofa, mengurungkan niatnya saat ada yang mengetuk pintu rumahnya.


Nur pun melangkah ke depan untuk memastikan siapa yang datang, karena kebetulan di rumah itu hanya ada dirinya saat ini.


Ceklek...


Pintu terbuka, Nur cukup syok saat melihat El berdiri di depan pintu dengan wajah cemas.


"Eh El, kamu sendiri? Sahira mana?" ucap Nur.


El terdiam kebingungan, menundukkan kepalanya dan menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya karena tak tahu harus menjawab apa.


"El, ada apa? Kenapa kamu diam?" tanya Nur.


"Eee maaf kak! Aku datang kesini mau kabarin ke kak Nur, kalau Sahira..." ucap El menggantung.


"Sahira kenapa? Jawab El!" ucap Nur penasaran.


"Iya kak, sebelumnya maafin aku ya karena aku gak bisa jaga Sahira! Jadi, Sahira itu dibawa sama orang dan aku gak tahu dia ada dimana sekarang. Sekali lagi maafin aku kak!" jelas El.


"Apa? Maksud kamu gimana El? Kamu gak serius kan El? Mana mungkin Sahira dibawa sama orang? Kamu bohong kan El?!" ujar Nur panik.


"Enggak kak, aku gak bohong. Emang berat buat aku sampein kabar ini ke kakak, apalagi aku tahu kalau kak Nur itu sayang banget sama Sahira. Tapi, kalau aku gak kasih tahu pasti nantinya kak Nur dan yang lain bakal kebingungan cari-cari dimana Sahira." kata Elargano.


"Jadi, kamu serius El? Bener Sahira diculik?" tanya Nur yang sudah mulai berderai air mata.


El mengangguk pelan, "Benar kak! Tadi sore Sahira dibawa sama orang. Tapi, kakak jangan cemas! Aku pasti bakal cari Sahira sampai ketemu."


Nur menggeleng dan perlahan memundurkan langkahnya sembari berpegangan pada pintu.


Nur terus memegangi kepalanya yang terasa pusing, air mata terus mengalir membuat Nur merasa sangat bimbang.


El yang masih disana pun bingung harus bagaimana, ia coba melirik ke dalam memastikan apakah ada orang atau tidak.


"Sahira... gak mungkin, ini gak mungkin!" ujar Nur.


"Eh eh kak!" El panik saat Nur hampir terjatuh dan pingsan, pria itu bergerak cepat menangkap tubuh Nur agar tidak terjatuh ke bawah.


"Duh pingsan lagi!" ujar El bingung.


"Gimana ini ya? Mana kayaknya gak ada orang, masa iya gue pegangin terus kayak gini? Lama-lama pegel juga lah!" gumamnya.


El terus celingak-celinguk berusaha mencari bantuan, namun disana cukup sepi karena memang hanya ada Nur seorang di dalam rumah itu.


Akhirnya mau tidak mau, El terpaksa membawa tubuh Nur ke dalam rumah itu karena ia tak memiliki pilihan lain.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2