Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Harus dihukum berat


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 72.




Keira, Alma serta Kartika tengah berada di kantin. Mereka bertiga menikmati makanan serta minuman yang baru dipesan itu sembari mengobrol ria membahas hal-hal yang tidak penting, hingga Alma tersadar bahwa kini Keira sudah tak memakai gelang pemberian Ibrahim.


Alma pun menarik lengan Keira untuk lebih memastikan bahwa gadis itu sudah tak mengenakan gelang lagi, dan Alma juga bertanya pada Keira mengapa dia melepas gelang tersebut padahal sebelumnya Keira sangat menyukai gelang itu dan tak mau melepaskannya.


"Eh Kei, lu kok udah gak pake gelang dari si Ibrahim lagi sih? Bukannya lu suka banget ya sama tuh gelang, kenapa dilepas?" tanya Alma heran.


"Iya juga ya, gue baru sadar kalo si Keira udah gak pake gelang lagi. Emang sejak kapan lu lepas tuh gelang Kei, dan alasannya apa?" sahut Kartika yang sama herannya dengan Alma.


"Eee sebenarnya gue emang gak mau lepas tuh gelang, kan kalian tahu sendiri Ibrahim ngancam bakal terus deketin gue kalo gue berani lepas gelang itu. Tapi, masalahnya sekarang gelang itu hilang gak tahu kemana. Gue jadi bingung deh mau berbuat apa sekarang, pasti si Ibrahim bakal marah terus deketin gue lagi kayak dulu!" jawab Keira menjelaskan secara rinci.


"Lah gimana ceritanya bisa hilang gitu? Bukannya lu selalu pake terus ya gelang itu?" tanya Alma.


"Entahlah, padahal semalam masih gue pake tuh gelang di lengan gue. Eh paginya udah gak ada aja, gue curiga ada seseorang yang ambil itu gelang dan sembunyiin di suatu tempat. Tapi, gue gak tahu siapa orangnya," jawab Keira.


"Hah? Gini deh Kei, emang di rumah lu itu ada siapa aja semalam? Kalau menurut gue nih ya, pasti yang ambil gelang itu ya salah satu orang rumah lu. Soalnya gak mungkin ada orang dari luar yang bisa nyusul ke rumah lu, secara rumah lu udah pake pengamanan super ekstra!" ucap Alma.


"Iya ya, tapi siapa dong? Di rumah gue itu semalam cuma ada papa sama mama, terus pembantu. Masa iya mereka yang ambil gelang gue? Alasannya apa coba?" ucap Keira bingung.


"Kalo itu ya gue juga gak tahu, coba aja lu tanya ke mereka! Mungkin mereka bisa bantu lu temuin tuh gelang, biar lu gak dideketin terus sama Ibrahim. Kan pasti kak El bakalan cemburu banget sama lu, kalau tahu lu dekat sama cowok lain!" ujar Alma.


"Kayaknya mending gausah deh Kei, lu biarin aja itu gelang hilang jangan dicari!" ucap Kartika.


"Lah kenapa, Kar?" tanya Alma bingung.


"Iya, biarin aja tuh gelang dari si Ibrahim hilang. Pasti Ibrahim juga gak bakal bisa apa-apa, toh gelang itu hilang bukan atas dasar keinginan lu Kei. Kalo emang Ibrahim masih berani deketin lu, ya lu lapor aja ke kak El! Gue yakin Ibrahim juga gak bakal berani sama cowok lu itu, dia aja cuma cowok cupu di sekolah!" jawab Kartika.


Keira termenung memikirkan perkataan Kartika, menurutnya benar juga apa yang diungkapkan temannya itu, ia tak perlu repot-repot mencari dimana gelangnya berada sekarang.


"Kata-kata si Kartika bener juga, Kei! Udah lu gausah takut lagi sama ancaman Ibrahim, kan lu punya cowok jagoan!" ucap Alma.


"Iya sih, yaudah deh gue lupain aja tuh gelang. Tapi, gue cuma penasaran aja apa alasan orang rumah gue ambil tuh gelang? Emangnya gelang kayak gitu bisa dijual ya? Setahu gue, gelang begituan gak ada harganya deh!" ucap Keira kebingungan.


"Eee kalo soal itu sih jangan tanya kita, Kei! Kita mana tahu alasannya apa!" ucap Alma.


Keira manggut-manggut saja, namun ia masih memikirkan apa alasan gelang pemberian Ibrahim itu diambil dari lengannya, ia juga tak mengerti mengapa dirinya sama sekali tidak mengingat kejadian-kejadian yang ia alami sebelumnya, seperti saat ia bermusuhan dengan Alma bahkan sampai meminta gadis itu pindah tempat duduk.


"Eh ya Kei, gue mau tanya sesuatu deh sama lu." Tiba-tiba Alma berbicara setelah teringat sesuatu mengenai kejadian kemarin.


"Tanya apa?" Keira penasaran.


"Kemarin kenapa lu pulang sama Ibrahim? Padahal cowok lu udah nungguin loh di depan sekolah, dia sampe marah gitu pas tahu lu pulangnya bareng Ibrahim. Gue juga heran deh, kok lu bisa akrab banget sama dia?" tanya Alma penasaran.


"Hah??" Keira terkejut mendengar perkataan Alma, ia tak ingat sama sekali akan kejadian itu.



__ADS_1


Waktu pulang sekolah tiba, El menemui Riki si anak pemilik sekolah yang sedang kumpul bersama teman-temannya di tempat parkir sekolah. Seperti biasa mereka memang senang sekali berada disana ketika jam pulang sekolah, mereka merokok sambil berbincang-bincang ria menyegarkan pikiran setelah berjam-jam belajar di kelas.


"Riki!" El memanggil pria itu, berhenti tepat di hadapannya dan menatap tajam ke arah wajah Riki yang sedang duduk di atas motor Vespa.


Melihat kedatangan El disana, Riki pun beranjak dari motornya lalu menghampiri El dengan rokok yang masih ada di mulutnya, bahkan asap rokok itu mengarah ke wajah El membuat El terpejam.


"Mau ngapain lu?" tanya Riki singkat.


Bukannya menjawab, El justru mengambil rokok di mulut Riki dan membuangnya ke bawah, tak lupa El juga menginjak rokok tersebut hingga membuat Riki terperangah coba menahan emosi atas kelakuan El padanya.


"Lu kenapa sih, ha? Orang nanya baik-baik, malah ambil rokok orang sembarangan!" ujar Riki kesal.


"Gak sopan bicara sambil ngerokok. Gue ini mau ngomong sama lu, duduk dan jangan bersikap sok paling berkuasa di depan gue! Karena semua yang lu atau bapak lu punya, itu gak ada apa-apanya dibanding sama gue!" ucap El tegas.


"Iya iya, yaudah langsung aja lu mau bicara apa! Gue gak punya banyak waktu buat bicara hal yang gak penting!" ujar Riki.


"Gue mau minta bantuan sama lu. Bokap lu pemilik sekolah ini kan?" ucap Elargano.


"Ya iyalah, kan lu udah tahu dari lama. Udah deh gausah basa-basi, buruan lu mau minta bantuan apa dari gue!" ucap Riki tegas.


"Salah satu murid wanita disini dilelehkan sama guru. Sekarang gue mau minta sama lu buat kasih pelajaran ke tuh guru, biar gimanapun pelecehan itu gak dibenarkan! Gue gak mau si pelaku santai-santai aja setelah ngelakuin itu, bahkan dia masih bebas mengajar disini. Maka dari itu, gue minta lu bicara ke bokap lu dan kasih sanksi yang berat ke tuh guru!" ucap El panjang lebar.


Riki terdiam tak berkutik, ia terkejut mendengar apa yang diucapkan Elargano barusan. Riki tak menyangka jika di sekolah itu bisa terjadi kasus pelecehan yang melibatkan salah satu murid perempuan disana.


"Lu serius El?" tanya Billy, salah satu teman Riki.


"Emangnya dari muka gue kelihatan bercanda? Lu pikir masalah kayak gini bisa dijadiin candaan gitu? Gue serius, dan murid yang dilecehin itu teman gue. Makanya sekali lagi gue tekankan ke lu Riki, bilang sama bokap lu buat pecat tuh guru! Kalau bisa juga jeblosin dia ke penjara dengan hukuman berat, gue gak mau dia berbuat seenaknya di lingkungan sekolah!" ucap Elargano.


"Tunggu dulu El! Gue gak bisa main lapor aja ke bokap kalo gue belum tahu siapa pelakunya, sekarang lu kasih tahu gue nama dan identitas tuh guru yang udah lecehin murid disini!" ujar Riki.


"Iya iya, lu tenang aja! Semuanya bakal gue urusin kok, jangan panik!" ucap Riki santai.


"Yaudah, gue harap lu bisa dipercaya. Satu lagi, gue juga minta sama lu buat berhenti palakin murid-murid yang ada disini, tanpa terkecuali! Karena itu bisa merusak nama baik sekolah, lu gak mau kan lambat laun identitas sekolah ini jadi downgrade gara-gara ulah lu?" ucap Elargano.


"Ah berisik lu! Sekarang gue mau pulang, lu jangan urusin kehidupan gue! Masih untung gue mau bantu lu, banyak bacot!" ujar Riki.


Riki berbalik lalu pergi dari sana bersama teman-temannya, sedangkan El tetap berdiri disana menatap punggung Riki sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan pria tersebut.




Sementara itu, Sahira dan Raisa juga hendak keluar sekolah setelah jam pelajaran usai. Mereka berjalan bersamaan menyusuri lorong sekolah sambil berbincang membahas Grey yang hari ini tidak masuk sekolah, mereka khawatir jika Grey berbuat nekat akibat masalah yang menimpa dirinya.


"Eh Sah, lu ngerasa cemas gak sih sama si Grey? Masalahnya dia tuh gak ada kabar sampe sekarang, terus juga dia gak datang sekolah hari ini. Gue takut dia berbuat nekat Sah, apalagi dia pasti syok berat!" ucap Raisa.


"Iya sih, gue juga ngerasain yang sama kayak lu. Tapi kan mau gimana lagi? Kita gak tahu dia tinggal dimana, udah dihubungin berkali-kali juga gak direspon sama dia. Sekarang kita cuma bisa doain yang terbaik buat dia, tadi gue juga udah bilang sama El buat bicara ke Riki!" ucap Sahira.


"Ya syukurlah, semoga aja pak Panca bisa segera dihukum seberat-beratnya! Gue gak terima teman gue digituin sama dia!" ucap Raisa geram.


"Aamiin! Yaudah, kita pulang aja yuk! Gue mau jenguk abang gue lagi nih," ucap Sahira.


"Yuk!" ucap Raisa mengangguk setuju dan langsung merengkuh pinggang Sahira.

__ADS_1


Disaat mereka hendak mempercepat langkah menuju luar sekolah, tiba-tiba saja seseorang memanggil mereka dari belakang dan membuat keduanya terhenti lalu menoleh.


"Sahira." orang itu berteriak, kemudian berhenti tepat di samping Sahira serta Raisa sambil tersenyum menatap keduanya.


Ya itulah Farhan, lelaki yang menyukai Sahira.


"Kak Farhan? Aya naon?" tanya Sahira pada pria itu dengan logat sundanya, padahal dia orang Jawa.


"Kamu mau pulang kan?" Farhan justru balik bertanya pada Sahira sambil tersenyum penuh harap.


"I-i-iya, emang kenapa?" ujar Sahira keheranan.


"Kita bareng aja yuk! Sekalian sama Raisa deh, soalnya kebetulan aku pengen ajak kamu nyicipin roti durian yang baru buka di dekat sini. Kira-kira kamu mau gak Sahira?" ucap Farhan.


"Eee gue sih gak bisa kalo sekarang, soalnya abang gue lagi dirawat. Mungkin si Raisa bisa nih, lu sama dia aja ya?" ucap Sahira menolak ajakan Farhan.


"Hah? Kenapa jadi gue sih Sah? Kak Farhan tuh ngajak lu, lagian gue gak mungkin lah pergi sama cowok lain. Secara gue kan udah punya pacar, bentar lagi juga ayang bebeb gue yang paling ganteng nongol disini!" ucap Raisa.


"Tunggu deh Sahira, kamu bilang apa tadi? Abang kamu dirawat? Sejak kapan?" tanya Farhan kaget.


"Yeh ketinggalan berita lu, kak! Ganteng doang tapi gak up to date. Padahal hampir satu sekolah aja udah pada tahu kabar tentang abangnya Sahira yang kecelakaan," ucap Raisa.


"Wajar dong, aku kan sibuk latihan volley. Lagian aku bukan tipe orang yang suka penasaran sama urusan orang lain, kecuali emang penting contohnya kayak gini. Eee Sahira, yaudah gini deh gimana kalo aku anterin kamu ke rumah sakit? Aku juga pengen jenguk abang kamu," usul Farhan.


"Lu mau jenguk abang gue?" tanya Sahira kaget.


"Iya, boleh kan? Biar gimanapun, aku ini perduli sama seluruh murid disini termasuk anggota keluarganya," ucap Farhan memohon.


"Eee gu-gue...."


"Gak bisa!" selak seseorang dari arah belakang, yang membuat mereka bertiga menoleh secara bersamaan, menatap sosok pria yang muncul dari parkiran itu.


"Sahira pulang bareng gue, itu udah aturannya. Lu gak bisa main serobot gitu aja!" ucap El tegas.


"Wah wah wah... El, sekarang lu jadi ngincer Sahira nih? Bukannya dulu lu benci banget ya sama nih anak? Atau sekarang ini lu cuma mau pencitraan aja, karena Sahira satu-satunya cewek di sekolah yang gak suka sama lu?!" ujar Farhan.


"Ngomong apaan sih lu? Gue gak butuh yang kayak gitu, dari dulu juga gue udah terkenal. Justru lu yang lagi pansos ke Sahira, ya kan?" ucap El.


"Hahaha, kalo ngomong suka aneh lu. Gue deketin Sahira bukan karena pansos, tapi karena gue emang suka sama dia. Sedangkan lu? Lu itu udah punya pacar El, masa masih mau deketin cewek lain kayak gini? Gue tau lu ganteng, tapi bukan berarti lu bisa milikin semua cewek yang ada di dunia ini, bagi-bagi lah bro!" ucap Farhan.


"Dengar ya, gue—"


"Ah udah cukup cukup, stop berhenti!" potong Sahira yang sudah tak tahan lagi mendengar perdebatan diantara El serta Farhan itu, ia bergerak dan berdiri di tengah-tengah kedua pria itu.


"Kalian itu pada kenapa sih? Masa cuma karena masalah sepele jadi ribut gini?" ucap Sahira.


"Dia duluan yang mulai, Sahira. Aku kan cuma pengen pendekatan sama kamu, tapi dia sok ngalangin, emang dia siapa kamu?" ujar Farhan.


"Heh! Sahira ini udah janji mau ikut gue pas pulang sekolah, karena dia pengen ketemu sahabatnya. Lu kalau gak tahu apa-apa, mending diem deh! Jangan terlalu nunjukin kebegoan lu!" ucap El menunjuk ke arah Farhan.


"Haish..." Sahira geleng-geleng kepala sembari memegangi keningnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2