
#SangPemilikHati Episode 99.
•
•
Sahira masih bersama ibunya di apartemen, gadis itu tengah duduk menikmati segelas coklat panas di tangannya sembari menonton tv.
Ratna pun tersenyum melihat putrinya bisa bahagia dan tampak senang sekali disana, ia mendekati Sahira lalu duduk di samping gadis itu sembari merangkulnya.
"Sayang, kamu kok belum tidur? Emangnya kamu gak ngantuk?" tanya Ratna pada putrinya.
"Nanti aja Bu, aku masih mau nonton film ini, seru soalnya. Ibu sendiri kok gak tidur?" jawab Sahira.
"Ya ibu kan gak harus sekolah besok, jadi mau tidur jam berapapun juga gak masalah. Yang jadi masalah itu kamu, kenapa masih melek jam segini! Padahal besok kamu harus berangkat sekolah pagi-pagi, nanti kesiangan loh sayang!" ujar Ratna.
"Enggak dong Bu, aku kan pasang alarm. Kalaupun kesiangan, kan ada ibu yang bisa bangunin aku. Dari kecil aku selalu berharap dibangunin sama ibu, tapi nyatanya susah." kata Sahira.
"Maafin ibu ya sayang! Karena ibu sudah tinggalin kamu dan Jordan, jadinya kalian berdua kekurangan kasih sayang dari ibu. Ibu benar-benar menyesal sudah melakukan itu, maafin ibu ya!" ucap Ratna tampak bersedih.
"Gapapa Bu, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang kan ibu udah ada di dekat aku, jadi aku bisa rasain yang aku pengen dulu!" ucap Sahira.
"Iya sayang, besok pagi ibu bangunin kamu kok. Tapi, tetap aja kamu harus tidur sekarang! Kan kita itu harus tidur minimal delapan jam, supaya tubuh kita bisa kuat besoknya." kata Ratna.
"Iya Bu, ini sebentar lagi deh aku tidur. Tanggung soalnya filmnya lagi seru," ucap Sahira.
"Yaudah deh, ibu temenin kamu disini sampai filmnya selesai. Oh ya, kamu mau tidur di kamar sama ibu gak?" ucap Ratna.
"Emangnya boleh Bu?" tanya Sahira.
"Ya boleh dong sayang! Kamar ibu kan luas, jadi bisa kok buat kita tidur berdua. Sebenarnya ibu kasihan lihat abang kamu harus tidur di sofa malam-malam, pasti kan dingin banget. Jadi, kamu tidur sama ibu aja ya di kamar!" jawab Ratna.
"Oke Bu! Aku juga pengen banget tidur sama ibu!" ucap Sahira tersenyum renyah.
Sahira pun memeluk ibunya dengan erat, membenamkan wajahnya pada bahu sang ibu masih sambil memegang gelas berisi coklat panas di tangannya.
"Sayang, itu gelasnya ditaruh dulu dong! Nanti kalau tumpah kan berabe," ucap Ratna.
"Oh iya, maaf ya Bu!" ucap Sahira.
"Gapapa,"
Sahira mengangkat kepalanya, lalu menaruh gelas itu di atas meja dan kembali memeluk ibunya dengan erat.
"Bu, emang benar kalau Nawal adiknya bang Thoriq bakal datang kesini juga?" tanya Sahira.
"Iya sayang, itu benar. Tadi siang dia sudah bilang ke Thoriq kalau dia mau datang, tapi ibu gak tahu pasti kapan dia sampai disini. Memangnya kenapa sayang?" jawab Ratna.
"Gapapa sih Bu, aku cuma penasaran aja kira-kira Nawal itu kayak gimana. Mungkin aku nanti bisa berteman baik sama dia," ucap Sahira tersenyum.
"Itu harus dong sayang! Ibu kan maunya anak-anak ibu semuanya akur, termasuk juga Jordan." kata Ratna sambil mengusap rambut Sahira.
"Iya Bu, sayang aja bang Jordan masih belum bisa maafin ibu." ujar Sahira cemberut.
Disaat mereka tengah asyik berpelukan, tiba-tiba saja Thoriq muncul menghampiri ibu dan anak itu serta mengganggu keharmonisan mereka.
"Ehem ehem... asik banget kayaknya pelukan sambil ngobrol-ngobrol, mau juga dong aku!" ucap Thoriq tersenyum.
"Ish, lu itu gak diajak bang!" ujar Sahira ketus.
"Yeh sembarangan aja lu! Gue kan juga anak ibu, jadi gue boleh dong ikut pelukan sama ibu. Sekalian peluk lu juga, hehe.." ujar Thoriq nyengir.
Sahira seketika melotot mendengar ucapan Thoriq barusan.
"Ngaco aja! Gue gak mau dipeluk sama lu!" ucap Sahira.
"Udah udah, sini kalian berdua ibu peluk!" ucap Ratna merentangkan tangannya.
"Asik!" Thoriq beranjak dari duduknya, mendekati Ratna dan berpelukan dengan ibunya itu dari sisi kiri, sedangkan Sahira berada di kanan.
"Ibu sayang sama kalian!" ucap Ratna.
"Iya Bu, kita juga sayang kok sama ibu!" ucap Thoriq mewakili adiknya.
•
•
Keesokan paginya, Sahira terjebak macet saat hendak menuju ke sekolah.
Gadis itu terus ngedumel marah-marah karena kondisi jalanan yang begitu padat merayap.
Thoriq pun hanya bisa memegang kepala sembari menutup telinga mendengar ocehan Sahira yang tiada henti itu.
__ADS_1
"Ih ini kok gak gerak-gerak sih bang? Gue takut telat tau! Gimana kalau gue telat?" ujar Sahira.
"Lu sabar aja kenapa sih! Kalo emang macet, gue juga gak bisa apa-apa. Udah deh, mending lu diem sekarang dan jangan banyak protes! Pusing tau gue dengerinnya!" ucap Thoriq kesal.
"Ish, gimana gue gak protes? Ini daritadi kita disini-sini aja gak maju-maju, bang. Mana udah mau jam tujuh lagi, gue bisa telat dah ini mah!" ujar Sahira panik.
"Suruh siapa lu dibanguninnya susah banget tadi? Akhirnya kesiangan kan, giliran macet malah marah-marah!" ujar Thoriq.
"Dih, kok lu jadi nyalahin gue bang?" ucap Sahira.
"Ya emang salah siapa lagi kalau bukan salah lu?" ucap Thoriq menatap Sahira.
"Salah lu lah!" ucap Sahira asal.
"Hah? Maksud lu? Gimana bisa jadi salah gue?" tanya Thoriq tak mengerti.
"Ya pokoknya bukan salah gue, tapi salah lu!" jawab Sahira.
"Apaan sih? Gak jelas lu!" ujar Thoriq.
"Ah udah lah bang! Ini gimana dong gak maju-maju mobilnya? Gue takut telat tau. Gimana kalau pas sampai nanti pintu gerbang udah ditutup, terus—" ucapan Sahira terpotong saat Thoriq tiba-tiba mendekat dan mengecup bibirnya sekilas.
Cupp!
Gadis itu melongok lebar, memegangi bibirnya sembari menatap Thoriq seakan tak percaya dengan apa yang barusan dilakukan oleh abangnya itu.
"Sorry! Gue terpaksa cium bibir lu, abisnya lu berisik banget kayak petasan." kata Thoriq langsung membuang muka.
Sahira masih terdiam kaku, ia masih mengusap bibirnya dan mengingat apa yang barusan terjadi.
"Nah, kalau gini kan enak. Jadi, gue bisa fokus nyetirnya gak keganggu sama suara berisik lu. Harusnya dari awal aja gue cium bibir lu tadi," ucap Thoriq tersenyum lebar.
"Bang, gue kasihan deh sama lu!" ucap Sahira.
"Lah kenapa gitu?" tanya Thoriq heran.
"Iyalah, lu sangking jomblonya sampai-sampai lu harus cium bibir gue, adik lu sendiri. Ish ish, makanya cari pacar bang biar lu bisa ciuman tuh sama pacar lu. Masa bibir adik sendiri dicium sih? Ketara banget jomblonya tau!" jawab Sahira.
"Dih dih, malah menghina gue lagi lu. Emang lu sendiri udah punya pacar?" balas Thoriq.
"Ya emang gue belum punya pacar, tapi banyak cowok yang suka sama gue dan mau jadi pacar gue. Nah kalau lu gimana?" ucap Sahira menyombongkan diri.
"Idih sombong banget! Gue gini-gini juga banyak yang suka kali, bahkan lu aja suka kan sama gue?" ujar Thoriq.
"Hahaha... lagian soal cium bibir, itu hal yang lumrah di negara gue. Makanya gue gak masalah mau cium bibir lu atau bibir siapapun itu," ucap Thoriq menaikkan satu alisnya.
"Tapi ingat, sekarang ini lu bukan ada di negara lu. Kalo lu cium orang tiba-tiba nanti, yang ada lu bisa ditangkap polisi atas tuduhan pelecehan. Emang lu mau masuk penjara cuma gara-gara cium bibir orang?" ucap Sahira.
"Iya juga ya, gue baru ingat. Padahal tadi gue mau ciumin bibir cewek-cewek yang gue temuin di jalan," ujar Thoriq nyengir.
"Dih, tobat bang tobat! Kalau lu mau ciuman, cari pacar sana!" ucap Sahira.
"Santai aja! Gue mah kalo mau pacaran gampang, cewek-cewek pasti langsung deketin gue begitu melihat ketampanan gue yang rupawan ini." kata Thoriq dengan pedenya.
"Hahaha... iya deh suka-suka lu aja bang!" ujar Sahira membuang muka.
Thoriq ikut tersenyum renyah sembari menyentuh kepala belakang Sahira dengan tangannya.
"Bang, udah jalan buruan sebelum gue telat!" ucap Sahira kembali cemas.
"Iya iya..."
•
•
El tiba di sekolah Keira, mengantar gadis itu berangkat ke sekolahnya seperti biasa.
"Sayang, kita udah sampai nih. Kamu mau langsung turun atau kita mesra-mesraan dulu disini?" tanya El sambil tersenyum.
"Hah? Ngapain kita mesra-mesraan? Mending aku sekolah tau El, aneh aja kamu!" ucap Keira.
"Hahaha... eh sayang, kamu kok pucat gitu sih? Kamu lagi sakit apa gimana?" tanya El heran melihat wajah gadisnya tampak pucat.
Elargano mendekat ke arah wajah Keira, mengusap wajah itu dengan lembut dan sangat penasaran karena tak biasanya Keira pucat seperti itu, apalagi bibirnya juga terlihat kering.
"Aku gapapa kok, aku baik-baik aja. Kamu gausah cemas sayang!" ucap Keira tersenyum.
"Beneran? Tapi ini kamu pucat banget loh, aku jadi khawatir sama kamu!" ujar El cemas.
"Iya El, aku gapapa. Udah, kamu tenang aja! Sekarang aku mau sekolah dulu ya sayang, sampai nanti!" ucap Keira.
"Enggak enggak, aku gak akan biarin kamu turun gitu aja!" ujar El mencekal lengan gadisnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih El? Orang aku baik-baik aja, kenapa kamu cemas gitu sih!" ujar Keira.
"Baik-baik aja darimana? Ini kamu cemas banget loh, aku bawa kamu ke rumah sakit aja ya buat diperiksa!" ucap Elargano.
"Gak perlu El, aku mau sekolah aja." kata Keira.
"Kamu yakin? Emang kamu kuat sekolah dengan keadaan pucat kayak gini?" tanya El memastikan.
"Iya sayang, aku yakin!" jawab Keira.
"Yaudah, aku antar kamu sampai ke dalam ya? Aku takut kamu kenapa-napa kalau jalan sendiri," ucap El masih belum bisa tenang.
Keira mengangguk saja, lalu melepas sabuk pengaman dari tubuhnya dan bersiap turun.
Mereka berdua pun turun dari mobil, El menggandeng tangan gadisnya menemani Keira sampai ke dalam sekolah.
"Aduh! Kamu itu kenapa sih Keira? Aku jadi cemas banget sama kamu!" gumam El dalam hati.
"Udah El, sampai sini aja anterin nya. Gak enak juga kalau kamu masuk ke dalam, kamu kan bukan murid disini. Lagian aku juga baik-baik aja kok, kamu gausah khawatir ya!" ucap Keira.
"Beneran sayang? Kamu yakin?" tanya El cemas.
"Iya sayang, kamu gak lihat aku udah baik-baik aja nih? Udah kamu pergi aja, kamu kan juga harus sekolah sayang!" jawab Keira.
"Iya sih, tapi aku khawatir sama kamu! Aku mau pastiin dulu kamu gak kenapa-napa!" ujar El.
"Terserah kamu deh! Tapi, kamu jangan ikut masuk ke dalam ya!" ucap Keira.
"Oke! Aku lihatin kamu dari sini aja, buat mastiin kalau kamu gak akan kenapa-napa." kata El.
Keira mengangguk setuju, kemudian melepas genggaman tangan El dan melambaikan tangan sambil tersenyum.
Gadis itu mulai melangkah ke dalam sekolah, meninggalkan Elargano yang masih tampak cemas dan terus memperhatikan Keira itu.
"Semoga kamu gak kenapa-napa sayang!" batin El.
Keira merasa sangat pusing di kepalanya, gadis itu terus memegangi dahinya sepanjang jalan dan pandangannya mulai kabur membuat ia tidak bisa melihat jalan dengan jelas.
"Duh, aku kenapa ya? Kok tiba-tiba jadi pusing banget begini?" gumam Keira.
Keira mulai goyah, gadis itu tampak sulit berjalan seperti biasa dan harus berpegangan pada dinding sekolah untuk menopang tubuhnya.
"Awhh!!" rintihnya.
El yang melihat itu semakin cemas, ia bergerak cepat menghampiri Keira mencegah gadis itu kenapa-napa.
Benar saja, Keira yang sudah tidak kuat lagi akhirnya terjatuh pingsan. Untung saja ada seseorang yang tepat menangkap tubuhnya dari samping sehingga Keira tak terjatuh ke lantai.
"Keira! Kamu gapapa Kei?" ujar orang itu cemas sambil menepuk-nepuk pipi Keira.
Elargano terdiam sejenak melihat gadisnya berada di pelukan Ibrahim, entah mengapa ia emosi dan ingin menghajar pria itu saat ini.
"Hey!" El berteriak kencang sembari melangkah ke dekat Ibrahim dan Keira.
"Lepasin cewek gue! Biar gue yang bawa dia ke rumah sakit," pinta El.
Ibrahim tak memiliki pilihan lain, ia memberikan Keira kepada El dan membiarkan El membawa Keira pergi dari sana.
"Aku ikut ya!" ucap Ibrahim.
"Gak, gue gak kasih izin lu buat ikut! Jangan macam-macam ya lu, Keira ini pacar gue!" tegas El melarang Ibrahim ikut dengannya.
Tanpa berpikir panjang, El bergegas menggendong Keira dan membawa gadis itu kembali ke mobilnya dengan cepat.
Sementara Ibrahim tetap disana, memandang ke arah El yang tengah menggendong Keira.
"Kamu kenapa Keira? Kok bisa pingsan begitu? Aku jadi khawatir sama kamu!" ujar Ibrahim.
❤️
Elargano memasukkan tubuh Keira ke mobilnya, memasang seat belt lalu beralih duduk di kursi kemudi dengan tergesa-gesa.
"Aduh sayang! Kamu kenapa sih gak mau nurut sama aku? Tuh kan jadi kayak gini semuanya, kamu pingsan. Huh semoga aja kamu gak kenapa-napa ya sayang!" ucap El memandangi wajah Keira dan mengelusnya lembut.
Akhirnya El melajukan mobilnya pergi dari sana, ia melaju kencang membawa Keira ke rumah sakit.
Elargano sangat cemas melihat kondisi Keira, terlebih gadis itu semakin terlihat pucat dan belum sadarkan diri hingga saat ini.
"Ayolah sayang, kamu sadar dong!" ujar El cemas.
Pria itu terus menepuk-nepuk pipi Keira berharap agar gadis itu sadar, namun yang terjadi justru Keira tetap pingsan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...