
#SangPemilikHati Episode 57.
•
•
Elargano tak sengaja melihat Sahira yang tengah pergi tergesa-gesa bersama Bu Thalia di lorong sekolah saat ia hendak pergi ke toilet, karena penasaran akhirnya El memutuskan untuk menemui mereka dan bertanya langsung pada gadis itu, sebab tak biasanya ada murid yang jalan bersama seorang guru dengan membawa tasnya.
Begitu menyadari kemunculan Elargano di depannya, Sahira pun langsung membuang muka merasa malas karena sudah tentu pria tersebut akan mengganggunya lagi. Namun, ya mau tidak mau Sahira terpaksa meladeni El karena sekarang ia juga sedang bersama Bu Thalia dan tidak mungkin Elargano berani berbuat macam-macam padanya untuk saat ini.
"Sahira, lu mau kemana? Kok bawa-bawa tas segala kayak gitu? Mau pulang? Ini kan masih jam pelajaran, baru juga masuk beberapa jam udah mau pulang aja!" tanya El heran.
"Hadeh lu tuh kepo banget sih jadi orang! Bisa gak sekali aja lu jangan ganggu gue? Sekarang gue lagi ada urusan penting!" ujar Sahira ketus.
"Loh apa sih? Gue kan cuma nanya, abisnya lu aneh jam segini udah mau pulang aja! Emang ada urusan penting apa sih, Sahira? Enak banget udah pulang jam segini, gue juga mau kali!" ucap Elargano benar-benar penasaran.
"Ohh lu juga mau pulang cepet? Yaudah, berdoa aja supaya ada anggota keluarga lu yang kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sama kayak abang gue!" ucap Sahira.
"Hah? Maksudnya? Abang lu..."
"Iya, abang gue satu-satunya kecelakaan dan barusan kakak ipar gue kasih kabar kalau dia dirawat di rumah sakit, kondisinya kritis! Masih mau lu tanya-tanya ke gue lagi, ha? Gue tuh harus pergi sekarang, Gano!" potong Sahira kesal.
"Iya El, kamu tolong minggir ya jangan halangi kami! Ini genting loh!" ucap Bu Thalia.
"Eee i-i-iya Bu, maaf! Yaudah Sahira, gue anterin lu aja ya ke rumah sakitnya? Supaya lebih cepat, kan gak mungkin lu kesana naik angkot atau ojek! Pasti lama sampainya, sedangkan abang lu itu butuh banget kehadiran lu di sampingnya!" usul El.
"Oh iya, benar juga usul kamu El! Sahira, kamu diantar aja ya sama Elargano ke rumah sakitnya? Ini demi kebaikan abang kamu juga!" ucap Thalia.
"Tapi Bu, saya—"
"Udah gausah tapi tapi! Lu mah kebiasaan deh pake segala malu sama gue! Lagian ini bukan kali pertama lu naik mobil bareng gue, kan waktu itu juga udah pernah!" potong Elargano.
"Haish, yaudah deh serah lu aja! Yang penting gue bisa jenguk abang gue!" ujar Sahira kesal.
"Nah cakep, gue setuju sama lu!" ucap Elargano.
Gadis itu hanya memalingkan wajahnya, lalu berjalan pergi menuju lobi bersama Bu Thalia meninggalkan El yang masih terdiam disana.
"Heh, jangan tinggalin gue dong!" teriak El saat dirinya ditinggal.
"Udah dikasih tumpangan gratis, main ninggalin gitu aja!" umpat El yang tentunya didengar oleh Sahira.
"Bukan gue yang mau!" ucap Sahira ketus.
"Iya iya..."
•
•
Singkat cerita, kini Sahira sudah berada di mobil bersama Elargano. Ya mereka akan menuju rumah sakit tempat Jordan dirawat, karena El memang memaksa ingin mengantar Sahira walau gadis itu sudah berusaha menolaknya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tak ada pembicaraan berarti selain ketika Elargano bertanya dimana letak rumah sakit Jordan dirawat dan Sahira menjawab dengan memberitahu pesan yang dikirim Nur padanya sebelum ini, setelah itu mereka pun terdiam tak lagi berbicara.
Namun, sesekali Elargano melirik ke arah Sahira berharap agar gadis itu mau berbicara dengannya walau hanya sepatah dia patah kata, ya gimanapun juga ia merasa bosan jika hanya berdiam diri.
"Heh!" tegur Elargano mulai kesal.
"Apaan sih? Ngagetin aja orang lagi cemas juga!" ujar Sahira sewot.
"Yeh suruh siapa malah diem? Gue juga butuh ngobrol kali, kalo diem terus gue bosen gak ada yang bisa diajak bicara!" ucap Elargano.
"Nyetir itu harus fokus! Lu mau kita tabrakan nanti, ha?" Terus bukannya kita ke rumah sakit buat jenguk abang gue, tapi kita malah ikut dirawat disana!" ujar Sahira.
"Ya gapapa, yang penting masih sama lu!" ucap El.
"Hah? Apaan maksud lu barusan?" ujar Sahira terkejut dengan ucapan Elargano tadi.
"Eh eee gak kok, abaikan aja! Sekarang mending kita sama-sama ngobrol, supaya gue juga gak tegang nyetirnya! Ketegangan itu bahaya banget loh buat supir!" ucap Elargano.
"Serah lu aja lah, gue capek ladenin orang kayak lu! Yang penting kita bisa cepat sampe rumah sakit, gue udah khawatir banget sama bang Jordan!" ucap Sahira.
__ADS_1
"Iya iya, lu pegangan aja yang kuat ya! Gue bakal ngebut nih mumpung sepi, soalnya lu gak mau sih ngobrol sama gue!" ujar El tersenyum licik.
"Hah?? Lu udah gila ya? Kak El, jangan macam-macam deh gue masih sayang sama nyawa gue! Gue belum mau mati sekarang, kak! Udah cukup segini aja, biar pelan asal selamat!" ucap Sahira langsung panik.
"Hahaha belum apa-apa udah panik aja, cemen lu!" cibir Elargano menertawakan Sahira.
"Ya makanya jangan ngebut, gue takut tau! Pelan-pelan aja kayak biasa!" ucap Sahira masih sambil berpegangan erat pada kursi.
"Oke! Tapi, ada syaratnya!" ucap Elargano.
"Apa?" tanya Sahira bingung.
"Lu harus ngobrol terus sama gue, jadi gue gak kesepian dan gak perlu ngebut deh buat cepat sampai di rumah sakit! Gimana? Setuju gak?" jawab Elargano sembari menaikkan kedua alisnya.
"Huft, iya iya kita ngobrol iya! Puas lu?" ucap Sahira mendengus kesal.
"Hahaha, nah gitu dong kan gue jadi semangat lagi!" ucap El sambil mencolek pipi Sahira.
"Ish gausah colek-colek! Lu pikir gue sabun apa dicolek kayak gitu?" protes Sahira.
"Hahaha bercanda..." ujar El tertawa lepas.
Setelahnya, mereka pun terus mengobrol dan bercanda gurau di dalam mobil hingga tak terasa mereka telah tiba di rumah sakit tujuan mereka.
•
•
Begitu sampai di rumah sakit, El serta Sahira langsung menuju ruangan tempat dimana Jordan dirawat. Gadis itu cukup panik berlarian kesana kemari mencari ruangan itu ditemani Elargano.
Sangking paniknya, Sahira sampai bertabrakan dengan seorang pria dan hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh Elargano yang reflek langsung memeluk gadis itu.
Bruuukkk...
"Aduh mbak! Gimana sih? Jalan pelan-pelan aja dong, ini bukan stadion!" protes pria itu.
"Iya iya, maaf ya mas!" ucap Elargano mewakili Sahira.
"Huh dasar!"
"Lu gimana sih? Udah gue bilang jangan lari-lari di rumah sakit, masih aja ngeyel! Untung tadi sempat gue peluk, coba kalo enggak? Nih, lu bisa jatuh terus kebentur tembok ini!" ucap Elargano.
"Iya iya, gue minta maaf gue salah! Tapi, bisa gak lu lepasin tangan lu dari tubuh gue?" ucap Sahira.
"Yaelah jutek banget sih lu, udah gue tolongin juga! Bukannya makasih malah kayak gitu!" ujar El langsung cemberut dan melepaskan Sahira.
"Heh berisik lu!" ujar Sahira.
Gadis itu melangkah kembali meninggalkan El yang masih terdiam di tempatnya, namun kali ini Sahira tidak berlari seperti tadi karena takut kejadian menabrak orang itu terulang lagi.
Sementara Elargano masih berdiam diri mengamati punggung Sahira yang perlahan menjauh, ia tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala dan terus menatap kepergian gadis itu.
"Hadeh, jantung gue kenapa jadi berdegup kencang gitu ya pas peluk Sahira tadi?" gumamnya.
Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya Sahira menemukan keberadaan kakaknya. Ia pun berlari menghampiri Nur serta sang ibu yang sedang menunggu di depan ruang tempat Jordan dirawat, ia tak kuasa menahan air mata dan menangis saat tengah berlari.
"Kak Nur, ibu!" teriak Sahira sesenggukan.
Hug...
Gadis itu memeluk Nur dan juga ibunya, lalu melepas air mata yang mengalir deras di bahu sang ibu. Ketiganya sangat bersedih mengingat Jordan tengah dalam kondisi kritis saat ini.
"Bu, kak, apa yang terjadi sama bang Jordan? Kenapa dia bisa kecelakaan kayak gini?" tanya Sahira terisak.
"Aku juga gak tahu, Sahira. Tadi pihak rumah sakit hubungin kakak tiba-tiba dan kasih kabar kalau abang kamu itu kecelakaan, tapi kakak juga belum tahu apa yang terjadi sama abang kamu!" jawab Nur sesenggukan.
"Hiks hiks aku sedih banget, kak! Aku sama abang itu kan udah dekat banget!" ucap Sahira.
"Iya, kamu sabar ya sayang! Kita doakan buat kesembuhan abang kamu itu, ibu yakin abang kamu bisa sembuh dan lewati ini semua! Dia itu manusia yang kuat!" ucap Ratna.
"Benar Sahira! Kita duduk dulu yuk!" ucap Nur.
__ADS_1
Sahira hanya mengangguk pelan, Nur serta Ratna menuntun Sahira menuju tempat duduk sembari mengusap air mata yang ada di wajah gadis itu.
Elargano yang juga sudah sampai disana, ikut merasa sedih melihat Sahira menangis seperti itu bersama ibu dan kakak iparnya, bahkan pria itu tanpa sadar juga mengeluarkan air mata.
"Duh, gue kenapa ikut nangis sih? Apa gara-gara ngeliat si Sahira nangis?" batin Elargano.
Thoriq yang sedari tadi bersandar di tembok, merasa heran melihat El hanya berdiam diri saja mengamati tiga wanita yang sedang duduk disana, ia pun bergerak menghampiri El untuk bertanya apa keperluan pria itu.
"Ehem ehem..." Thoriq berdehem pelan.
"Eh iya, kenapa?" tanya El terkejut.
"Lu siapa? Ngapain lu disini dan ngeliatin mereka terus kayak gitu? Oh jangan-jangan lu punya niat jahat ya sama mereka?" ujar Thoriq curiga.
"Eh bukan bukan! Yakali tampang kayak gue gini dituduh orang jahat, gue tuh temannya Sahira yang antar dia kesini juga gue bro! Kenalin, nama gue Elargano cowok tampan kaya raya!" ucap El.
"Oh, yaudah jangan ngeliatin mereka terus kayak gitu kan gue jadi curiga!" ucap Thoriq.
Thoriq justru berbalik mengabaikan uluran tangan El yang mengajaknya berjabatan, tentu saja hal itu membuat Elargano kesal dan mengumpat dalam hatinya.
"Anj*ng!"
•
•
Disisi lain, Keira tengah bersama teman-temannya berjalan menuju kantin sambil saling merangkul satu sama lain dengan Keira berada di tengah-tengah dua temannya, gadis itu juga terus tersenyum bercanda tawa pada kedua temannya tersebut sepanjang perjalanan.
Sampai Alma serta Kartika menyadari adanya perbedaan di tangan Keira saat ini, ya gadis itu memakai gelang cantik yang sebelum ini tak pernah mereka lihat, tentu saja dua gadis itu langsung bertanya pada Keira karena mereka penasaran darimana dan sejak kapan Keira memakai gelang tersebut.
"Eh Kei, sejak kapan lu pake gelang di tangan lu? Perasaan sebelumnya lu gak pakai gelang kayak gitu deh, atau emang mata gue yang siwer?" tanya Alma terheran-heran.
"Iya dah aneh, masa tuh gelang bisa tiba-tiba ada di tangan lu sih Kei?" sahut Kartika kebingungan.
"Ahaha, yakali dia bisa nempel sendiri! Ini tuh dari Ibrahim tadi buat gue, katanya hadiah tapi gue gak tahu dalam rangka apa!" jawab Keira.
"Oh cie cie Ibrahim cie..." ledek Alma.
"Apaan sih lu? Gausah cie cie kayak gitu deh! Kan lu tahu sendiri gue udah punya pacar, ini gue terima karena dia janji gak bakal mau deketin lagi! Yaudah deh gue pake aja nih gelang supaya gue juga bisa aman tanpa gangguan dia, abisnya ngeselin banget tuh orang!" ucap Keira.
"Iya iya, tapi awas loh kalo sampe pacar lu tau! Nanti dia bisa marah dan terjadilah perang dunia ketiga!" ujar Alma.
"Ish, jangan nakut-nakutin gue kayak gitu deh!" ucap Keira cemberut.
"Bukannya begitu Kei, tapi kan yang namanya cowok pasti bakal cemburu kalo lihat ceweknya pakai gelang dari cowok lain! Mending pas lagi sama El, lu lepas dulu tuh gelang biar gak terjadi salah paham!" ucap Alma memberi saran.
"Nah gue setuju sama si Alma!" sahut Kartika.
"Yeh setuju setuju aja lu! Tapi, si Ibrahim tuh minta gue buat pakai gelang ini terus dan jangan dilepas! Gimana kalo dia lihat gue lepas gelang ini terus dia ingkari janjinya?" ucap Keira bingung.
"Hadeh, ribet juga ya jadi lu disukain dua cowok kayak gitu! Coba aja gue yang kayak gitu, beuh bakal ngerasa cantik banget gue!" ucap Alma.
"Hahaha ya wajarlah Keira digituin, dia kan emang cewek yang cantik! Nah kalau lu mending jangan berharap deh Ma, disukain satu cowok aja kagak boro-boro dua!" cibir Kartika sambil tertawa.
"Yeh sue banget lu! Gini-gini gue udah pernah pacaran, lah lu?!" balas Alma.
"Eee iya juga ya..." ujar Kartika nyengir.
"Hahaha udah udah, jangan ribut! Yuk kita cari tempat duduk yang masih kosong, gue udah laper banget nih!" ucap Keira mengusap perutnya.
"Gas!" ucap Alma dan Kartika bersamaan.
Gadis-gadis cantik itu pun lanjut berjalan menuju kantin, mencari tempat duduk yang masih kosong untuk bisa mereka duduki. Kebetulan suasana saat ini cukup ramai, karena orang-orang sudah lebih dulu berada di kantin.
Mereka tak sadar bahwa dari belakang ada Ibrahim yang diam-diam mengamati pergerakan mereka.
Cekrek...📸📸
Ibrahim mengambil satu foto dari belakang yang memperlihatkan lekuk tubuh Keira, ia tersenyum puas dan mencium kameranya sendiri.
"Uhh saya gak sabar mau lihat reaksi gelang itu, apa benar kalau itu bisa bikin Keira jadi tergila-gila dengan saya? Sabar Baim, pasti rencana kamu kali ini bakal berhasil!" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...