
#SangPemilikHati Episode 82.
•
•
"Hiks hiks gue sedih banget..."
Tiba-tiba saja Ibrahim justru muncul di dekat mereka dan terlihat penasaran ketika melihat Keira tengah menangis di dalam pelukan kedua sahabatnya.
"Loh loh, ini ada apa? Kenapa kamu nangis Keira?" ucap Ibrahim bertanya karena penasaran.
Sontak Keira serta kedua temannya pun terkejut, mereka menatap ke arah Ibrahim dengan mulut terbuka sedikit.
"Ibrahim? Lu ngapain lagi sih kesini? Emang lu gak kapok apa deketin Keira? Masih pengen kena hajar sama pacarnya, ha?" ujar Alma agak kesal.
"Aku cuma penasaran aja kok, kenapa Keira bisa nangis kayak gitu?" ucap Ibrahim.
"Lu gak perlu tahu Baim! Udah deh mending lu pulang aja sana, lu itu gak diajak! Lagian Keira juga gak mau dideketin sama lu, harusnya lu sadar bukan malah main dukun kayak kemarin!" ujar Kartika.
"Tau lu! Untung aja Keira bisa lepas dari pelet lu, coba kalo enggak? Kasihan banget teman kita ini harus kejebak sama lu! Emang dasar cowok gak bener!" sahut Alma emosi.
Ibrahim tertunduk diam, ia juga menyesal telah melakukan semua itu pada Keira. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dirubah lagi.
"Ngapain lu masih diem disitu? Udah sana pergi!" ucap Alma mengusir Ibrahim.
"Aku bakal pergi, tapi setelah aku tahu penyebab Keira menangis. Aku gak bisa lihat cewek yang aku cintai nangis kayak gini, kalian kasih tahu aku dong! Atau kalau enggak, kamu sendiri yang cerita sama aku, Keira! Kenapa kamu bisa sampai menangis begini?" ucap Ibrahim cemas.
"Gausah sok perduli deh lu! Keira mau nangis atau enggak tuh bukan urusan lu, jadi lu pergi dan jangan balik lagi!" ujar Alma geram.
"Iya ih susah banget sih dibilanginnya!" sahut Kartika ikut emosi.
Sementara Keira masih terus menangis seakan tak memperdulikan kehadiran Ibrahim disana, ia hanya memikirkan mengapa El tak kunjung membalas pesan darinya hingga kini.
"Heh! Udah sana pergi!" bentak Alma.
"Iya iya, aku pergi kok. Keira, kamu jangan nangis terus ya! Pokoknya apapun masalah kamu, kamu harus bisa sabar dan jangan terpancing emosi! Kalau kamu butuh sandaran, aku siap kok buat dengerin keluh kesah kamu!" ucap Ibrahim.
"Dih nih anak malah gombal! Lu kalo gak pergi juga lama-lama gue tendang nih!" geram Alma.
"I-i-iya iya..." Ibrahim berlari ketakutan keluar dari sekolah menuju parkiran tempat motornya berada.
Alma dan Kartika pun kembali fokus menenangkan Keira yang masih terus menangis sesenggukan, mereka meminta pada gadis itu untuk berhenti menangis karena tidak enak dilihat oleh banyak murid ataupun guru yang lewat di sekitar mereka.
"Kei, udah ya jangan nangis terus! Kita jadi panik nih takutnya nanti orang-orang pada ngira kalau kita yang bikin lu nangis," ucap Alma.
"Mana bisa Ma? Gue sedih karena El gak balas chat dari gue sampai sekarang, padahal harusnya ini udah jam pulang sekolah. Apa emang El udah gak perduli lagi ya sama gue?" ujar Keira.
"Hus jangan bilang gitu! Kak El mungkin lagi sibuk, lu tenang dulu jangan langsung berpikiran yang negatif!" ucap Alma.
"Iya Kei, be positive okay!" sahut Kartika.
Keira justru menggeleng dengan air mata yang terus mengucur menggenangi kelopak matanya, gadis itu amat sedih karena baru kali ini lah chat yang ia kirim tidak dibalas oleh Elargano.
Tiba-tiba saja seorang guru laki-laki disana muncul menghampiri mereka, sebut saja namanya Hartono. Beliau tidak sengaja melihat Keira sedang menangis disana, sehingga dia pun melangkah ke dekat Keira untuk menemukan jawaban mengapa gadis itu bisa sampai menangis.
"Eee ini kenapa belum pada pulang ya? Terus itu kok teman kalian nangis begitu?" tanya Hartono.
"Eh bapak!" Alma dan Kartika pun terkejut, mereka bingung harus menjelaskan bagaimana.
•
•
Sementara itu, Sahira serta El tiba di suatu tempat yang diduga adalah lokasi tempat tinggal Grey. Kabar burung itu mereka dapat dari salah seorang siswi di sekolah yang kebetulan pernah melihat Grey menuju kesana, tentu saja hal itu dijadikan kesempatan bagi mereka untuk mengecek apakah Grey memang tinggal disana atau tidak.
Tak jauh dari mereka, Farhan juga menghentikan mobilnya dengan sedikit menjaga jarak agar tak ketahuan oleh El maupun Sahira. Ya Farhan memang masih penasaran apa yang hendak dilakukan El dan Sahira di tempat itu, ia memilih terus mengikuti mereka sampai menemukan jawabannya.
Sahira pun turun dari mobil, ia celingak-celinguk ke kanan dan kiri mencari orang yang bisa ditanyakan mengenai keberadaan Grey.
"El, ini kira-kira benar gak ya Grey tinggal disini? Soalnya kosan ini kayak sepi banget tau, gue jadi ragu kalo ini emang kos-kosan. Lihat aja tuh, pagarnya aja berdebu gitu!" ucap Sahira.
__ADS_1
"Don't judge a book by it's cover! Jangan menilai cover dari bukunya! Eh apa sih itu..." ujar El belibet sendiri mengartikan ucapannya.
"Ah tau lah, ngobrol sama lu bukannya bener malah makin ngaco! Mending kita tanya langsung ke dalam, siapa tahu ada orang!" ucap Sahira kesal.
"Yeh malah ngomel-ngomel!"
Akhirnya Sahira dan El bergerak menuju ke depan gerbang rumah itu, suasana di sekitar sana cukup sepi padahal hari sudah memasuki waktu petang dan seharusnya lingkungan seperti ini pun ramai oleh orang-orang yang beraktivitas.
"Bel nya mana sih ini? Gimana cara kita manggil orang di dalam coba?" tanya El heran.
"Haish, kuno banget sih lu! Kalau mau manggil ya gak harus pake bel, kan bisa nih ketok-ketok lewat slot pagar biar kedengaran sampai ke dalam!" ucap Sahira.
"Oh gitu, yaudah lu ketok gih!" ujar El.
"Huft, emang parah lu ya! Dasar gak peka!" ujar Sahira.
"Hah? Apa sih?" El kebingungan dengan tingkah Sahira yang seperti itu.
Namun, Sahira tak lagi membahasnya dan malah fokus mengetuk-ngetuk pintu pagar rumah itu sembari mengucap salam berharap ada seseorang yang keluar dari dalam sana.
"Permisi! Selamat sore, permisi!" ucap Sahira agak meninggikan suaranya.
"Misi paket!" El langsung menyaut.
"Ish, apaan sih lu? Kalo mau bercanda sekarang bukan waktunya!" ujar Sahira.
"Yeh lu kenapa sih emosi terus daritadi? Orang gue tuh kayak gitu supaya orang yang di dalam mau keluar, biasanya kan begitu! Kalo ada paket yang datang, pasti orang-orang langsung buru-buru keluar buat ambil tuh paket!" ucap Elargano.
"Serah lu aja deh! Semoga bener kalo orangnya nanti mau keluar! Awas loh kalo gak ada yang keluar!" ucap Sahira.
"Buset serem amat Bu natapnya kayak gitu!" ucap Elargano spontan.
Tak lama kemudian, seorang wanita remaja keluar dari dalam rumah itu. Sahira dan El pun tersenyum senang melihatnya, terutama El yang langsung menyombongkan diri.
"Tuh kan keluar, gak percaya sih lu!" ujar El.
"Iye iye..."
"Ada apa ya?" tanya wanita itu.
"Eee ini kita lagi cari seseorang, katanya tuh dia tinggal di kosan ini. Eh tapi bentar deh, ini beneran kan kos-kosan? Bukan rumah kosong atau yang udah gak ditempati?" ucap Sahira.
"Iya, bener kok ini kos-kosan. Emang orang yang kakak cari itu siapa?" ucap wanita itu.
"Ah iya, sebelumnya kenalin saya Sahira! Dan ini El teman saya!" ucap Sahira mengenalkan dirinya serta El sembari mengulurkan tangan.
"Aku Vava," ucap wanita itu singkat lalu bersalaman dengan Sahira dan El.
Elargano tiba-tiba saja menyenggol Sahira dengan sikunya berulang kali, hingga membuat Sahira risih dan akhirnya menegur pria itu.
"Ish, lu kenapa sih?" geram Sahira.
"Gue bingung sama lu, kita ini mau cari Grey apa mau nyari temen sih? Kok pake kenalan segala?" ujar El berbisik di telinga Sahira.
"Ih lu bener-bener ya!" Sahira yang kesal pun langsung menginjak sepatu El dengan keras.
"Awhh sakit!" pria itu meringis memegangi kakinya sambil meloncat-loncat kesakitan.
Wanita bernama Vava itu tampak bingung melihat kelakuan Elargano, ia lalu menatap Sahira seakan bertanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Eee kalian ini mau cari siapa sih? Aku gak punya waktu banyak nih, tolong cepat ya!" ucap Vava.
"Eh iya iya, maaf! Sebentar aku tunjukin fotonya ke kamu supaya jelas!" Sahira merogoh tasnya dan mengambil ponsel miliknya untuk menunjukkan foto Grey kepada Vava. "Nah ini dia, orang ini yang lagi kita cari disini. Kira-kira kamu kenal atau pernah lihat orang ini gak? Apa mungkin juga dia salah satu penghuni kos disini?" sambungnya.
Vava mendekat ke layar ponsel, menatap foto Grey dengan teliti dan berusaha mengingat-ingat. Awalnya raut wajah Vava seperti tak mengenali sosok tersebut, akan tetapi ia berubah setelah melihatnya lebih teliti.
"Ohh cewek ini... kalau dia sih emang aku pernah lihat, tapi dia bukan penghuni kos sini. Dia itu—"
"Terus lu lihat dia dimana? Kasih tahu kita dong!" El memotong ucapan Vava.
"Ish El, bisa gak jangan main potong aja? Itu si kakaknya belum selesai ngomong, lu mending diem dulu deh!" ucap Sahira menegur El.
__ADS_1
"Iye iye..." El menurut dan mengunci mulutnya.
"Eee silahkan dilanjut, Vava!" pinta Sahira.
Vava mengangguk lalu meneruskan ucapannya, "Iya, jadi cewek ini tuh kemarin emang sempat datang kesini. Tapi, dia cuma teman salah satu anak kos disini dan kemarin dia kayaknya mampir buat main sebentar deh. Lumayan lama juga sih dia disini kemarin, dari siang sampai malam kalo gak salah!" kata Vava.
"Apa? Jadi, ada salah satu penghuni kos disini yang temenan sama cewek ini?" tanya Sahira.
"Iya kak, benar." jawab Vava.
"Umm... kalo gitu kita bisa gak ketemu sama orang itu? Soalnya kita mau cari tahu tentang cewek ini, dia tuh udah lebih dari dua hari gak ada kabar dan gak bisa dihubungi. Boleh kan kita ketemu sama orangnya?" ucap Sahira.
"Boleh boleh aja sih kak, tapi coba aku tanyain dulu ya ke orangnya? Kakak berdua masuk aja yuk ke dalam, tunggu sambil duduk!" ucap Vava membuka pagar dan meminta Sahira serta El masuk.
"Nah gitu kek daritadi disuruh masuk, kan pegel nih kaki!" celetuk El yang langsung dibalas dengan sebuah toyoran di kepalanya.
"Aduh duh duh! Lu apa-apaan sih Sahira? Kok kepala gue main ditoyor gitu aja?" ujar El.
"Ya suruh siapa lu ngeselin, ha?" ujar Sahira.
"Yeh kan gue cuma menyampaikan keluhan gue," ucap El sembari mengusap-usap kepalanya.
"Ahaha, udah yuk kak masuk dulu!" ucap Vava.
"Iya iya... maafin teman saya ya, dia emang orangnya begitu suka gak tahu diri!" ucap Sahira meminta maaf atas kelakuan El.
"Gapapa,"
Setelahnya, Sahira dan El pun masuk ke dalam kos-kosan tersebut. Mereka menunggu di sofa selagi Vava naik ke atas menemui orang yang diduga adalah teman Grey.
❤️
Farhan yang masih berada di luar merasa heran sekaligus penasaran setelah mengetahui niat dari Sahira serta El datang kesana untuk mencari seseorang, dia pun bingung siapa orang yang sedang dicari oleh Sahira serta Elargano.
"Gue jadi penasaran, mereka itu sebenarnya lagi cari siapa sih? Kok serius banget?" gumamnya.
Akhirnya Farhan memilih mendekat ke arah Sahira serta El, meskipun sulit dan cukup beresiko karena mereka sekarang sudah ada di dalam tempat tersebut.
•
•
Disisi lain, Keira datang ke rumah Elargano bersama supir pribadinya. Ia ingin tahu apakah El ada di rumah atau tidak, sekaligus Keira pun penasaran apa alasan El tak membalas pesan darinya hingga sekarang.
Keira turun dari mobilnya, melangkah ke depan rumah El dengan wajah murung dan masih terlihat sisa-sisa air mata disana. Keira berusaha tetap tenang dan tak terpancing emosi, walau saat ini hatinya cukup terluka karena kelakuan Elargano.
Sesampainya di teras rumah El, gadis itu kaget ketika seseorang muncul dari dalam sana.
Ya itu adalah Yolanda, ibu dari Elargano.
"Eh Keira? Kamu kok sendirian cantik? El nya kemana? Gak bareng sama kamu kesini nya?" ucap Yolanda bertanya pada Keira karena penasaran.
Mendengar itu, Keira pun yakin bahwa El belum pulang ke rumah, lantas kemanakah perginya El saat ini? Keira terus memikirkan soal itu, sampai ia tak sadar jika Yolanda sudah memegang wajahnya.
"Keira, kamu kenapa? Kok kelihatan sedih begitu?" tanya Yolanda bingung.
"Eh tante, eee aku ini kesini justru mau cari El. Soalnya daritadi aku chat gak dibalas sama dia, aku telpon juga gak bisa terus. Aku kira El udah pulang ke rumah, tapi ternyata belum ya tante?" ucap Keira menjelaskan pada Yolanda.
"Iya sayang, El belum pulang ke rumah. Yaudah, kamu masuk aja dulu yuk kita tunggu El di dalam!" ucap Yolanda merangkul Keira.
"Iya tante," ucap Keira singkat.
Yolanda tersenyum sembari mengusap wajah serta rambut Keira, ia yakin sekali bahwa Keira saat ini tengah bersedih akibat putranya yang tak kunjung memberi kabar.
"Aduh El! Kamu itu kenapa begini sih sama pacar kamu sendiri?" batin Yolanda.
Mereka berdua pun masuk ke dalam, Yolanda ingin membuat Keira berhenti bersedih dengan coba menghiburnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1