Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Sahira & teman-temannya


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 89.




"Heh janda!" seseorang pria memanggil Sahira yang sedang duduk sendirian di pinggir danau.


Sontak Sahira terkejut, ia menoleh ke asal suara lalu tersenyum saat mendapati Boy alias temannya yang datang kesana. Boy terkekeh kecil kemudian duduk di samping gadis itu.


"Ih janda, nikah sama siapa gue?" ujar Sahira.


"Sama gue. Tapi, begitu kita punya tiga anak langsung gue cerein. Hahaha..." sarkas Boy disertai tawa lebarnya.


"Ahaha, ada-ada aja lu ah!" Sahira tertawa sembari memukul lengan Boy.


"Eh, gue boleh kan ikut gabung disini sama lu?" tanya Boy sambil menatap wajah Sahira.


"Boleh lah, orang ini tempat umum kok. Tapi, lu kesini emang sengaja pengen nyusulin gue atau lu ada urusan lain?" ujar Sahira terheran-heran.


"Yang pertama benar," Boy menjawab disertai senyuman manisnya.


"Ohh mau ngapain lu susulin gue kesini? Terus, lu tahu darimana?" tanya Sahira bingung.


"Gue tahu dari abang lu, tadi kan gue ke rumah lu dulu niatnya mau ajak lu main. Eh tapi kata abang lu, lu lagi di danau. Nah gue tahu nih, pasti lu lagi galau sekarang. Soalnya gak biasanya lu ke danau kalau lagi gak ada masalah, ya kan?" ujar Boy.


"Sok tahu lu!" cibir Sahira.


"Bukan sok tahu, gue emang tahu. Apalagi kelihatan dari raut wajah lu tadi, lu kayak lagi galau gitu. Udah deh, cerita aja sama gue yuk!" ucap Boy menaruh tangannya di sandaran kursi.


"Ya emang sebenarnya gue ada masalah sih, gue tuh lagi bingung gimana caranya buat selamatin teman gue dari tangan orang jahat yang udah bikin dia menderita!" ucap Sahira.


"Hah? Emang teman lu kenapa? Dia dijahatin sama siapa?" tanya Boy penasaran.


"Iya, teman gue tuh cewek. Nah, dia dilecehin sama salah satu guru di sekolah gue. Abis itu, tuh guru malah bertindak semena-mena dan gak mau tanggung jawab atas perbuatannya. Dia juga bawa teman gue sekarang, dan ancam gue supaya gak ikut campur ke dalam masalah ini lagi. Gue takut banget Grey kenapa-napa!" jelas Sahira.


"Grey? Itu nama teman lu?" tanya Boy.


"Iya Boy. Lu ada ide gak kira-kira gue harus apa? Biasanya kan ide lu banyak tuh, siapa tahu lu bisa bantu gue!" ucap Sahira.


"Duh, sorry Sahira! Otak gue suka lemot kalo dipake buat mikir keras, tapi tenang pasti gue bakal bantu lu kok sebisa gue! Gini aja deh, lu punya bukti gak tentang kejahatan tuh guru?" ujar Boy.


"Punya sih, dan buktinya udah ada di tangan gue sekarang." kata Sahira.


"Nah cakep tuh! Emang buktinya apa?" ujar Boy.


"Video si guru itu waktu lagi lecehin Grey, dia sengaja videoin semua kegiatan itu supaya bisa ancam Grey buat sebarin videonya kalau dia lapor ke pihak sekolah atau polisi. Makanya gue bingung sekarang, sebenarnya bisa aja gue langsung kasih video itu ke polisi, tapi kan gue takut Grey kenapa-napa!" ucap Sahira.


"Waduh berat juga ya masalahnya! Pantas aja gue lihat lu ngelamun terus daritadi, ternyata lagi mikirin ginian toh," ujar Boy.


Sahira mengangguk-angguk pelan, lalu menatap ke depan memandangi danau tenang yang indah.


"Andai hidup bisa setenang danau itu, pasti gue bakalan nyaman banget. Tapi, nyatanya kehidupan tidak menarik tanpa adanya masalah yang datang. Layaknya sebuah film, kehidupan bisa dikatakan seru jika memiliki masalah!" ucap Sahira.


"Lu ngomong apa sih, Ra? Gue gak ngerti sama kata-kata lu kalo lagi galau kayak gini, soalnya lu mendadak jadi puitis! Nah gue mendadak jadi beg*!" ucap Boy.


"Hahaha... yaudah, gausah dipikirin kata-kata gue mah! Lu tadi mau ngajakin gue main kan?" ucap Sahira beralih menatap Boy.


"Iya, emang kenapa?" tanya Boy heran.


"Kalo gitu kita main aja yuk! Gue butuh refreshing kayaknya supaya bisa berpikir jernih, soalnya daritadi gue duduk disini gak dapat-dapat ide sama sekali!" ucap Sahira.


"Oh gitu, yaudah gas lah kita main ke lapangan! Disana juga udah ada anak-anak," ujar Boy.


"Hah? Masa kita main sama anak-anak sih? Emang lu kira gue bocil apa?" ujar Sahira keheranan.


"Hahaha... ya enggak gitu Sahira, maksud gue anak-anak tuh teman-teman kita. Mereka udah pada kumpul di lapangan, nungguin kita!" jelas Boy.


"Ohh ngomong tuh yang jelas dong, biar gue gak salah paham!" ucap Sahira.


"Iya iya..." Boy tersenyum renyah.


"Yaudah, gue mau ikut deh sama lu!" ucap Sahira.

__ADS_1


"Good!"


Disaat mereka hendak bangkit dan pergi, Elargano justru muncul menghampiri Sahira sambil tersenyum. Seketika Sahira terkejut tak menyangka dengan kehadiran El disana.


"Halo! Lu mau kemana sih? Gue baru juga dateng, lu udah mau pergi aja." kata Elargano.


"Eee ini gue sama teman gue pengen ke lapangan, lu sendiri ngapain kesini? Terus lu tahu darimana gue ada disini?" ucap Sahira keheranan.


"Gue mau ngobrol sama lu," ucap El tersenyum.


"Ngobrol apa?" tanya Sahira bingung.


"Soal Grey, ini gue udah bawa bukti videonya. Apa langsung aja ya kita kasih ke polisi?" ucap El.


"Hah?" Sahira menganga.


"Kenapa lu? Kata Keira ini tuh saran yang bagus, supaya pak Panca bisa langsung ditangkap. Kalo terus nunggu-nunggu begini mah kelamaan, kita harus bergerak cepat! Emangnya lu mau Grey ditahan terus sama pak Panca?" ucap El.


"Masalahnya, pak Panca semalam ancam gue. Dia minta ke gue buat berhenti ikut campur, kalau enggak nanti dia bakal sakitin Grey! Gue gak mau terjadi sesuatu sama Grey," ucap Sahira.


"Haish, kok jadi ribet gini sih? Lama-lama gue bisa botak nih mikirin beginian!" ujar El.


"Sabar lah! Gue juga disini daritadi tuh mikirin itu, eh gak ketemu-ketemu idenya. Makanya gue mau ke lapangan aja biar fresh," ucap Sahira.


"Oh, gue ikut dong!" ucap Elargano.


"Lah ngapain?" tanya Sahira.


"Ya ngikut aja, barangkali gue bisa refreshing juga disana. Emangnya lu mau ngapain ke lapangan?" jawab Elargano.


"Mau main sama teman-teman gue disana," ucap Sahira.


"Buset udah gede masih suka main di lapangan, gue kira cuma bocil aja yang begitu." ujar El.


"Yeh jangan salah! Justru di lapangan tuh banyaknya orang gede tau, ya gak Boy?" ujar Sahira menyenggol lengan Boy.


"Bener tuh!" ucap Boy tersenyum.


"Yaudah, kalo gitu gue boleh dong ikut sama kalian kesana?" ujar El nyengir.


Boy mengangguk saja menyetujui perkataan Sahira, lalu mereka pun pergi dari sana menuju lapangan di dekat sana.


Sementara El hanya tersenyum memandangi punggung Sahira, ia pun menyusul mereka karena El tidak tahu harus kemana lagi saat ini.




Disisi lain, Jordan tampak kesal melihat kehadiran Thoriq di rumahnya. Rasanya ingin sekali Jordan mengusir pria itu dari sana, karena ia tidak pernah mengizinkan Thoriq untuk datang kesana. Akan tetapi, Thoriq selalu saja datang ke rumahnya dengan alasan ingin bertemu ibunya.


"Mau apa lagi sih lu kesini? Ngapain ha? Gue kan udah bilang, lu gak diterima disini!" ujar Jordan.


Thoriq tersenyum tipis, merogoh kantong bajunya mengambil sebuah sisir rambut dan mulai menyisir rambutnya hingga membuat Jordan makin emosi.


"Santai aja kali bang, kalem!" ucap Thoriq.


"Gausah basa-basi lu! Bilang aja apa maksud lu datang kesini! Gue gak suka lihat muka lu ada di rumah gue, karena lu bukan bagian dari keluarga gue!" ujar Jordan tegas.


"Terserah lu mau anggap gue keluarga apa bukan, yang penting gue kesini karena gue pengen ketemu ibu gue. Gapapa juga lu gak anggap gue, asalkan lu bisa terima ibu dan gak benci terus sama ibu!" ucap Thoriq.


"Masalah gue mau terima ibu atau enggak itu bukan urusan lu! Suka-suka gue lah mau ngapain aja, gausah ikut campur deh lu!" geram Jordan.


"Hahaha... yaudah, sekarang gue boleh masuk kan? Gue ada urusan sama ibu," ucap Thoriq.


"Gak perlu, lu tunggu disini aja! Biar gue yang ke dalam panggil ibu, gue gak sudi kaki lu injak lantai rumah gue!" ujar Jordan.


"Oke fine!" ucap Thoriq singkat.


Jordan pun berbalik, lalu kembali ke dalam rumah meninggalkan Thoriq disana. Thoriq hanya geleng-geleng kepala karena hingga kini Jordan belum juga bisa menerimanya disana.


Kini Jordan sudah berada di dalam, ia bertemu dengan Nur sang istri yang hendak pergi keluar namun tidak jadi karena suaminya ternyata kembali lagi ke dalam.


"Loh mas, kamu kok balik lagi? Katanya mau senam di luar?" tanya Nur heran.

__ADS_1


"Aku jadi gak semangat lagi buat senam, itu di depan ada si Thoriq. Dia katanya mau ketemu sama ibu, kamu panggilin gih ibunya dia suruh temuin gitu di depan!" ucap Jordan.


"Mas, ibunya Thoriq kan ibu kamu juga. Kamu gak boleh kayak gitu dong! Lagian kamu sama Thoriq itu udah jadi saudara sekarang," ucap Nur.


"Dih ngada-ngada! Sampai kapanpun, aku gak pernah sudi terima Thoriq jadi saudara aku! Dan wanita itu juga bukan ibu aku, udah lah Nur kamu panggil aja tuh orang suruh ketemu sama Thoriq di depan!" ujar Jordan kesal.


"Iya mas iya, terus kamu mau kemana?" tanya Nur.


"Aku mau balik ke kamar, malas banget rasanya lihat tuh orang ada disini. Kalau dia udah pergi, baru kamu kabarin aku ya!" jawab Jordan.


"Kamu kok gitu sih, mas? Harusnya kamu belajar buat dekat sama Thoriq, bukan malah menjauh kayak gini!" ucap Nur.


"Buat apa aku dekat sama dia? Ogah banget!" ujar Jordan.


"Huft, yaudah deh terserah kamu aja mas! Kalo gitu aku mau panggil ibu dulu ya? Terus ini minuman kamu gimana? Mau aku antar ke kamar atau ditaruh disini aja?" ucap Nur.


"Sini biar aku bawa aja! Oh ya, Sahira pergi kemana sih? Dia kok belum balik-balik daritadi?" ucap Jordan bertanya mengenai adiknya.


"Umm... aku juga kurang tahu, mas. Palingan kayak biasa dia lagi di danau sama temannya. Emang kenapa mas? Kamu pengen ketemu sama Sahira?" ucap Nur.


"Enggak kok, nanya aja." kata Jordan singkat.


Jordan pun pergi dari sana membawa minuman yang dibuatkan Nur ke kamarnya.


Sementara Nur beralih menuju ke dapur untuk memanggil Ratna.




Elargano masih bersama Sahira di sebuah lapangan yang luas, mereka tidak hanya berdua karena ada cukup banyak orang disana yang tak lain ialah teman-teman Sahira.


Elargano sungguh bingung melihat teman Sahira mayoritas adalah para lelaki, bahkan yang perempuan masih bisa dihitung jari. Tak heran baginya jika Sahira sering bersikap kasar dan tidak takut pada siapapun, karena pergaulannya itu.


"Ra, lu beneran sering main sama cowok-cowok kayak gini? Terus, emangnya lu gak punya teman yang sejenis apa?" tanya El bingung.


"Apa sih El? Kan gue juga punya teman cewek, tuh si Keira pacar lu!" jawab Sahira.


"Ya iya, maksud gue gak ada yang lain apa? Kayaknya dari puluhan orang disini, itu tuh hampir semuanya cowok. Gue heran deh sama lu, apa emang lu mau ganti gender kayak lucinta luna?" ujar El terheran-heran.


"Lu gausah ngada-ngada deh! Emang apa salahnya sih kalo gue temenan sama mereka? Toh mereka orangnya baik-baik, gak kayak lu!" ujar Sahira.


"Lah ngapa jadi gue? Emangnya gue kenapa?" tanya Elargano.


"Gapapa. Udah ah lu jangan ganggu gue deh! Gue udah lama gak main sama mereka, jadi mending sekarang lu pergi sana!" ucap Sahira.


"Pergi kemana?" tanya El.


"Ya terserah lu lah! Lu mau kemana kek itu bukan urusan gue, lagian ngapain sih lu pake nyusul kesini segala? Kan kalau lu mau bahas Grey, bisa lewat telpon." ucap Sahira.


"Gak enak lah kalo lewat telpon, gue kan jadi gak bisa ketemu sama lu." kata El sambil tersenyum.


"Dih, dasar gak jelas lu! Emang lu gak ada janjian apa sama Keira? Dia kan pacar lu, harusnya lu ajak dia jalan atau ngapain kek! Kasihan tuh Keira bosen di rumah!" ucap Sahira.


"Nanti gue jemput dia kok," ucap El.


"Yaudah gausah nanti, sekarang aja sana! Jadi, gue bisa main dengan tenang deh bareng teman-teman gue tanpa gangguan lu!" ujar Sahira.


"Buset dah! Kayaknya lu gak seneng amat gue dateng kesini, ada masalah apa sih lu sama gue? Bukannya terimakasih udah dibantuin ngurus masalah Grey, malah ngusir!" ucap El.


"Ish, bukan ngusir. Gue cuma risih aja kalo lu terus-terusan deketin gue begini!" ucap Sahira.


"Emang kenapa sih?" tanya El tak mengerti.


"Dih malah pura-pura gak tahu! Jelas-jelas lu kan udah punya pacar, nah ngapain lu masih deketin gue? Gue gak mau ya dituduh jadi perusak hubungan orang, apalagi dia sahabat gue sendiri. Jadi, mending lu jauh-jauh deh dari gue kalo gak ada kepentingan!" jawab Sahira.


"Iya iya... terus, ini hp nya pak Panca gimana? Mau lu simpan atau gue aja?" tanya El sambil menunjukkan handphone milik pak Panca itu.


"Lu aja yang simpan. Nanti kalo gue udah nemu cara buat tangkap pak Panca, baru gue kabarin lu lagi!" ucap Sahira.


"Oke!" El mengangguk setuju.


Setelahnya, El pun membiarkan Sahira bermain dengan teman-temannya disana. Ia ikut senang ketika melihat Sahira tertawa gembira, biarpun sebenarnya ia juga ingin terus dekat dengannya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2