Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Boneka dari Ibrahim


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 50.




Kriiinggg.... Kriiinggg...


Bel istirahat sudah berbunyi, namun Sahira masih melamun di kelasnya dengan satu tangan menopang dagu mengingat permintaan Elargano pagi tadi padanya.


"Tuh cowok kenapa jadi aneh gitu ya? Masa dia minta gue makan berduaan sama dia? Udah gila apa gimana sih tuh orang?!" gumam Sahira dalam hati.


Raisa teman sebangkunya pun kebingungan, ia menegur Sahira dan mengipas-ngipas tangannya ke depan wajah Sahira, akan tetapi gadis itu tetap saja diam tak terpengaruh sedikitpun.


Hingga akhirnya Raisa menepuk pundak Sahira dengan tiba-tiba dan berteriak.


"Woi Sahira!" teriak Raisa.


"Eh iya kenapa?!" Sahira kaget dan reflek menegakkan tubuhnya menghadap ke arah Raisa.


"Hehe, kaget ya lu?" ujar Raisa nyengir.


"Ish lu mah Rai! Jelas lah gue kaget, orang lu kagetin begitu! Lagian kenapa sih lu pake teriak-teriak segala? Lu pikir gue budeg apa?" ujar Sahira.


"Yeh gue tadi udah panggil-panggil lu pelan, tapi lu malah diem aja gak mau noleh ke gue! Yaudah lah gue panggil lu teriak biar lu bisa dengar, emangnya lu lagi ngelamunin apa sih? Cowok ya?" ujar Raisa.


"Haish, kepo lu! Gue tuh gak pernah ngelamunin cowok atau apalah itu!" ucap Sahira mengelak.


"Ohh terus apa dong? Yakali kan lu ngelamunin cewek, udah belok lu?" ujar Raisa bingung.


Plaaakk...


Sahira menampar wajah sahabatnya itu dengan pelan tapi tidak terlalu pelan karena agak sakit juga dirasakan oleh Raisa.


"Anjir lu! Kok lu nampar gue sih?" ujar Raisa kesal.


"Ya abisnya lu nuduh gue belok! Gini gini gue masih waras tau, cuma belum ada aja cowok yang bisa bikin gue tertarik! Bukan berarti gue gak selera sama cowok, sembarangan aja kalo ngomong!" ujar Sahira.


"Ahaha yaelah bercanda doang kali, gausah marah gitu Sahira!" ujar Raisa nyengir.


"Iya iya gue juga gak marah kok! Udah yuk, kita ke kantin aja gue laper nih!" ucap Sahira memegangi perutnya yang kelaparan.


"Oke!"


Raisa mengangguk setuju, lalu keduanya pun beranjak dari kursi masing-masing dan berjalan keluar kelas. Namun, alangkah terkejutnya Sahira serta Raisa saat mendapati sosok Elargano ada di depan pintu kelas mereka.


"Kak El?" ucap Raisa kaget.


"Lo? Ngapain lu disini?" ujar Sahira yang sama kagetnya dengan Raisa.


Pria itu hanya tersenyum tipis, ia melangkah ke dekat Sahira dan meraih dua tangan gadis itu untuk digenggam olehnya. Terlihat Raisa menganga lebar menyaksikan momen tersebut.


"Ish, lu ngapain sih?! Jangan aneh-aneh deh, gue mau makan nih laper! Lepasin tangan gue!" ucap Sahira berontak dari genggaman Elargano.


"Nah pas banget!" ucap Elargano tersenyum.


"Hah? Apanya yang pas, kak?" tanya Raisa heran.


"Sahira lagi lapar, jadi pas banget gue dateng kesini mau ajak dia ke kantin! Sesuai permintaan gue pagi tadi, supaya kita berdua bisa makan bareng di kantin sebagai balas budi karena gue udah bantuin lu!" ucap Elargano menjelaskan.


"Loh emangnya bantuin apa sih, Ra? Lu punya utang budi sama kak El?" tanya Raisa menatap Sahira.


"Umm udah omongan dia mah gausah didengerin, gak jelas dia suka ngawur! Yuk Rai kita berdua aja ke kantinnya jangan perduliin dia, gak penting!" ucap Sahira coba menghindari Elargano.


Akan tetapi, El sama sekali tidak mau melepaskan gadis itu begitu saja darinya. Pria itu mencengkeram erat lengan Sahira untuk kedua kalinya hingga Sahira tak dapat bergerak kemana-mana.


"Eits, mau kemana sih? Lu harus ikutin kemauan gue, atau gue bakal kasih hukuman buat lu!" ucap El mengancam Sahira.


"Haish lu nyebelin banget ya! Yaudah deh iya, gue mau makan berdua sama lu di kantin! Tapi, abis ini lu jangan ganggu-ganggu gue lagi!" ucap Sahira kesal.


"Gak janji," ujar Elargano nyengir.


Sahira sangat geram dengan sikap Elargano itu, ia tak memiliki pilihan lain selain menuruti setiap kemauan yang diinginkan Elargano karena pria itu benar-benar membuat dirinya dalam bahaya jika tak mau mendengarkan perkataannya.


"Yaudah, Raisa lu makan sendiri dulu ya! Gue pinjem Sahira nya buat istirahat kali ini!" ucap Elargano.


"Dih, emang lu kata gue barang? Pake acara pinjem segala, lagian ngapain lu izin ke Raisa? Lebay lu!" ujar Sahira.


"Ahaha iya kak, gapapa kok bawa aja Sahira nya!" ucap Raisa tertawa kecil.


Raisa pun lumayan gembira dengan momen itu, karena ia bisa berduaan dengan Roger alias kekasihnya tanpa ketahuan Elargano.


__ADS_1



Sesampainya di kantin, Elargano pun langsung menarik kursi agar Sahira bisa duduk dengan mudah dan memilih tempat yang sepi untuk mereka bisa berduaan disana.


Sahira merasa bingung dengan kelakuan Elargano padanya saat ini, ia hanya menatap diam ke arah pria tersebut tanpa berbicara.


"Lu kenapa diem aja sih? Ayo duduk!" ujar El.


"Gue gak ngerti deh sama lu, kenapa lu jadi kayak gini sama gue? Biasanya lu ngeselin dan selalu ngatain gue, tapi kok sekarang malah baik-baik begini pake segala tarik kursi buat gue duduk! Lu kerasukan setan apaan sih, El?" ujar Sahira.


"Hahaha, mau lu apa sih? Gue baikin salah, gue jahat juga lu marah! Gue ini mau minta maaf sama lu Sahira, karena selama ini gue udah salah sama lu! Gue gak tahu kalo lu ternyata sahabat kecil cewek gue, makanya sekarang gue gak akan sakitin lu lagi kok! Justru gue bakal jagain lu dari orang-orang yang punya niat jahat!" ucap Elargano.


"Apaan sih? Lebay lu! Gue gak butuh dijagain kali, gue udah punya pelindung yang paling kuat dan gak ada tandingannya! Lu aja gak ada apa-apanya sama dia!" ucap Sahira tegas.


"Oh ya? Siapa?" tanya Elargano penasaran.


"Tuhan!" jawab Sahira.


Elargano terdiam mendengar jawaban Sahira, ia tersenyum tipis kemudian duduk disana.


"Yaudah, duduk aja yuk!" ucap Elargano.


"Kenapa lu? Baru sadar ya kalo diri lu gak ada apa-apanya dibanding Tuhan? Kalo gitu, jangan sombong lagi ya Elargano yang kaya dan ganteng!" ucap Sahira terkekeh.


"Iya iya, gausah banyak omong deh lu! Buruan sini duduk dan pesan makanan yang lu mau, biar gue traktir kali ini!" ucap Elargano.


"Gak ah! Kan yang punya utang budi tuh gue, bukan lu! Masa malah lu yang traktir gue sih? Kalo gitu mah sama aja utang gue belum terbayar, mending kita bayar sendiri-sendiri aja!" ucap Sahira.


"Gapapa, gue pengen traktir lu sebagai permintaan maaf gue ke lu!" ucap Elargano.


"Haish, lu sukanya maksa mulu ya!" ujar Sahira.


"Udah gausah banyak protes! Masih mending gue mau baikan sama lu, ini juga terpaksa karena lu ternyata sahabat cewek gue!" ucap Elargano.


"Dih, dasar lu masih aja nyebelin!" cibir Sahira.


Sahira pun duduk di hadapan Elargano, ia menaruh dua tangannya di meja sambil tersenyum.


"Udah buruan deh, lu mau pesen apa?!" tegas El.


"Samain aja kayak lu! Gue bingung lagi mau makan apa, soalnya kalo makan bareng lu, gue gak ada selera sih!" ucap Sahira.


"Sialan lu!" umpat Elargano. "Gimana kalo kita makan mie ayam? Kayaknya enak sih jam segini makan mie ayam, setuju?" sambungnya mengusulkan makanan pada Sahira.


"Umm, boleh! Terserah yang mau traktir aja, gue mah ngikut!" jawab Sahira tersenyum.


"Gue mau jus jeruk aja!" jawab Sahira.


El mengangguk sambil tersenyum, kemudian memanggil pelayan di kantin itu untuk memesan makan dan minum.


"Mas, sini mas mau pesan!" teriak Elargano.


"Yaelah El, lu tinggal pesen sendiri aja di depan sana pake manggil mas-mas nya!" ujar Sahira.


"Berisik lu! Gue males jalannya!" ujar Elargano.


Sahira geleng-geleng kepala, sedangkan Elargano tersenyum menatapnya sembari meraih satu tangan Sahira dan menggenggamnya.


"Ish, jangan pegang-pegang deh!" ujar Sahira berontak dan menarik tangannya dari pegangan El.


Tak lama, pelayan itu datang ke meja menghampiri mereka untuk mencatat pesanan.


"Iya mas El, mau makan apa?" tanya pelayan itu.


"Mie ayamnya dua, sama jus jeruk juga dua ya, mas!" jawab Elargano.


"Siap mas! Ditunggu ya!" ucap pelayan itu.


Setelah pelayan itu pergi, Elargano kembali menatap wajah Sahira dan terus tersenyum.


"Ngapa lu ngeliatin gue gitu?" tanya Sahira heran.


"Gapapa, gue baru tau ternyata lu secantik ini! Gak kalah dari cewek gue, tapi kok cewek cantik kayak lu masih jomblo ya? Padahal kalo menurut gue, lu itu tipe cewek idaman deh!" ucap Elargano.


"Haish, giliran udah tau gue sohib cewek lu aja lu langsung kayak gitu ke gue! Padahal kemarin lu masih sering hina gue!" cibir Sahira.


"Ya maaf!" ucap Elargano terkekeh.




Sementara itu, Alzi dan teman-temannya yang lain tampak memperhatikan Sahira serta Elargano dari tempat mereka duduk sekarang. Mereka seperti heran melihat Elargano sudah akur dengan Sahira.

__ADS_1


"Eh guys, itu si El kok jadi akur gitu ya sama tuh cewek?" tanya Alzi heran.


"Iya juga ya, padahal kemarin-kemarin tuh mereka masih sering ribut! Apalagi si El pernah jadiin Sahira asistennya!" sahut Theo.


"Jangan-jangan nih, si El udah mulai tergoda sama tuh cewek! Kalian inget gak sih? Kemarin dia aja sempat ajak Sahira pulang bareng, ya kan?" ucap Wilson.


"Ah bener kata lu Son! Wah gawat sih ini, bisa perang dunia ketiga kalo sampe ceweknya si El tau!" ujar Alzi.


"Hahaha, emang kocak dah tuh si El! Dia sendiri yang buat aturan kita gak boleh macarin adek kelas, eh malah dia juga yang langgar!" ucap Wilson.


"Biasalah bro, suka-suka orang kaya aja! Kita mah mana bisa begitu?" ujar Theo.


Percakapan mereka terus berlanjut, seiring dengan Elargano dan Sahira yang juga masih ada disana menikmati santapan keduanya.


❤️


Tak hanya ketiga pria itu yang mengamati El dan Sahira, namun juga ada satu orang pria lagi dari arah yang tak jauh tengah menatap ke arah mereka sambil merasa geram.


Ya dia adalah Farhan, si cowok cool ketua tim voli sekolah yang menaruh hati pada Sahira. Ia terlihat heran saat Sahira begitu akrab dengan Elargano, selain itu tentunya ia juga cemburu.


"Kok mereka bisa sampe seakrab itu ya?" batinnya.




Disisi lain, Keira tengah berjalan di lorong sekolah untuk kembali ke kelas setelah puas menikmati makanan di kantin. Gadis itu seorang diri karena teman-temannya masih berada di kantin, ia memilih pergi lebih dulu dengan alasan ingin tidur sejenak di kelas.


Namun, Keira justru bertemu dengan Ibrahim saat hendak berbelok menaiki tangga. Pria itu tersenyum menatap ke arahnya dan mendekati Keira sambil memegang sebuah boneka kecil berwarna putih di tangannya.


"Hai Keira! Aku udah nungguin kamu daritadi disini, akhirnya kamu muncul juga!" ucap Ibrahim.


"Lu mau ngapain nungguin gue?" tanya Keira.


"Eee ini Kei, aku ada hadiah buat kamu! Aku sengaja beliin boneka ini spesial untuk kamu Kei, kamu mau ya terima!" ucap Ibrahim tersenyum.


"Boneka? Dalam rangka apa lu kasih gue boneka begini?" tanya Keira heran.


"Gak dalam rangka apa-apa sih, aku cuma pengen kasih hadiah aja buat kamu! Tolong diterima ya! Soalnya aku beli ini pake hati, semoga kamu suka Keira!" ucap Ibrahim.


"Gue gak mau, di rumah gue udah banyak boneka jadi lu gak perlu lagi kasih gue boneka begini! Udah, mending lu simpan aja buat dikasih ke cewek lu nanti! Lagian lu itu kenapa sih? Kok masih aja mau deketin gue?" ujar Keira menolak.


"Tolong jangan ditolak Keira! Aku mohon kali ini aja kamu hargai pemberian aku, ya! Aku janji deh, setelah ini aku gak akan ganggu kamu lagi!" ujar Ibrahim memaksa.


"Haish, yaudah iya gue terima!" ucap Keira.


"Nah gitu dong! Aku kan jadi senang dengarnya, makasih ya Kei udah mau terima hadiah dari aku!" ucap Ibrahim.


"Sama-sama, tapi bener ya lu jangan ganggu gue lagi?" ucap Keira.


"Iya, bener kok!" ucap Ibrahim.


Keira mengambil boneka kecil itu dari tangan Ibrahim, lalu pergi begitu saja meninggalkan pria tersebut tanpa berbicara lebih dulu.


Ibrahim membiarkan Keira pergi, namun ia masih terus memandangi punggung Keira dari tempatnya berdiri saat ini, tampak senyum seringai terpampang di wajahnya.


"Akhirnya Keira mau juga terima boneka itu, sekarang aku bisa awasi kamu terus Keira!" gumam Ibrahim dalam hati.


Keira masih terus berjalan memegang boneka pemberian Ibrahim di tangannya, ia mengamati boneka tersebut dan memutar-mutarnya untuk melihat lebih jelas, ia masih bingung apa alasan Ibrahim memberikan boneka itu untuknya.


"Sebenarnya Ibrahim tuh kenapa sih? Dia terobsesi banget sama gue apa gimana? Kemarin dia lap air mata gue, terus sekarang kasih gue boneka! Tapi gapapa sih, ada peningkatan dibanding dia kasih gue gambar kayak waktu itu!" batin Keira sambil senyum-senyum sendiri.


"Keira!"


Gadis itu terkejut saat ada suara teriakan memanggil namanya, ia menoleh dan terlihat sosok Alma disana.


"Alma? Lu udah kelar makannya?" tanya Keira.


"Iya udah, eh ini lu dapet boneka dari mana?" ujar Alma terheran-heran.


"Tadi dikasih sama si Ibrahim, gue juga heran kenapa dia kasih ini buat gue! Emangnya kenapa? Lu mau bonekanya? Kalo mau ambil aja nih, gue gak suka!" ucap Keira.


"Serius lu?"


"Iya, ambil aja udah!" jawab Keira.


"Wah asyik banget, thanks ya Kei! Gue udah lama kepengen boneka kayak gini, eh tapi nanti gimana kalo Ibrahim nanya?" ujar Alma.


"Santai, dia gak bakal tau kok!" ucap Keira.


"Oh oke deh, thanks ya Kei!" ucap Alma.


"Sama-sama,"

__ADS_1


...~Bersambung~...


^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^


__ADS_2