
#SangPemilikHati Episode 98.
•
•
Sahira dan Farhan tiba di apartemen Thoriq.
"Ra, kamu kenapa minta diantar kesini? Emang kamu gak pulang ke rumah kamu?" tanya Farhan keheranan.
"Enggak kak, gue mau tinggal bareng sama ibu dan bang Thoriq disini." jawab Sahira tersenyum.
"Ohh... terus abang kamu yang satu lagi gimana? Kenapa kalian gak tinggal satu atap aja gitu?" tanya Farhan penasaran.
"Ada masalah yang gue gak bisa jelasin ke lu, kak. Sorry ya, soalnya ini masalah pribadi keluarga gue!" ucap Sahira tak mau memberitahu alasannya.
"Oh gitu, iya aku paham kok!" ucap Farhan.
Farhan melepas sabuk pengaman dari tubuhnya, begitu juga Sahira yang hendak turun ke bawah.
"Lah, lu ngapain lepas seat belt juga?" tanya Sahira keheranan.
"Gimana sih? Aku kan mau ikut turun juga, aku pengen ketemu ibu dan abang kamu. Emang gak boleh ya?" jelas Farhan.
"Bukan begitu, masalahnya abang gue itu gak suka ada banyak orang yang datang ke apartemennya. Sorry banget ya, kayaknya lu mending pulang aja deh!" ucap Sahira.
"Oh gitu, yaudah deh aku pulang. Tapi, kamu turun dulu aja! Aku mau pastiin kamu aman sampai ke dalam!" ucap Farhan tersenyum.
"Hahaha... disini aman kok, gak bakal ada penjahat atau apapun itu." kata Sahira tertawa kecil.
"Gapapa, aku pengen jaga-jaga aja. Begitu kamu masuk ke dalam, baru deh aku pergi dari sini." ujar Farhan.
"Oke deh!" ucap Sahira mengangguk singkat.
Setelahnya, gadis itu membuka pintu dan hendak menapakkan kakinya keluar.
Namun, tiba-tiba Sahira berhenti dan kembali menoleh ke arah Farhan.
"Kenapa? Kok gak jadi?" tanya Farhan heran.
"Gue lupa satu hal, dulu abang gue selalu kasih tahu kalau gue harus bilang makasih ke orang yang udah tolong gue. Makasih ya kak, karena lu mau anterin gue pulang!" ucap Sahira.
"Sama-sama, aku juga bilang makasih sama kamu." ucap Farhan tersenyum.
"Loh, buat apa?" tanya Sahira kebingungan.
"Karena kamu udah mau aku anterin pulang," jawab Farhan.
"Ahaha, ada-ada aja lu. Masa malah lu bilang makasih ke gue karena gue mau dianterin sama lu? Baru kali ini gue dengar ada orang yang bilang kayak gitu, emang aneh lu!" ujar Sahira geleng-geleng kepala.
"Iya dong, aku ini senang banget karena kamu mau aku anterin sampai kesini. Rasanya kalau setiap hari bisa begini, pasti aku bakal bahagia selalu!" ucap Farhan tersenyum renyah.
"Yaudah, gue turun dulu ya? Sekali lagi makasih atas tumpangannya!" ucap Sahira.
"Iya Sahira, hati-hati ya! Salam buat abang sama ibu kamu!" ucap Farhan.
Sahira mengangguk saja, kemudian turun keluar dari mobil Farhan dan menutup pintu kembali.
Farhan membuka kaca mobilnya, melambaikan tangan ke arah Sahira sambil tersenyum.
Gadis itu melakukan hal yang sama, ia tersenyum lalu melambai ke arah Farhan sebelum melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Syukurlah! Akhirnya waktu yang gue tunggu-tunggu datang juga, gue bisa antar gadis yang gue cintai pulang ke rumahnya!" batin Farhan.
Setelah Sahira tak terlihat lagi di matanya, kini Farhan mulai menyalakan mesin mobilnya lalu melaju pergi dengan kecepatan sedang meninggalkan area apartemen tersebut.
Tanpa disadari oleh Farhan, rupanya Sahira masih berada disana menatap perginya mobil pria itu.
"Apa gue harus coba buka hati buat kak Farhan, ya? Kelihatannya dia tulus banget sayang sama gue, kasihan juga gue lihatnya!" gumam Sahira.
•
•
Elargano tiba di sekolah Keira untuk menjemput gadisnya itu, tampak juga ia masih membawa dua buah es krim di tangannya dengan wajah murung.
Pria itu sangat kecewa karena Sahira tidak mau menerima tawarannya makan es krim berdua, padahal El sudah berharap sekali bisa memiliki waktu bersama Sahira disaat Keira sedang ada urusan sejenak di sekolahnya.
El mendengus pelan, menatap kedua es krim di tangannya yang perlahan mulai meleleh.
"Beginilah nasib perasaan gue sekarang, sama lelehnya dengan es krim ini. Andai aja si Farhan ngeselin itu gak datang tadi, pasti gue dan Sahira udah bisa makan berdua." gumamnya.
Braakkk...
El yang kesal memukul setirnya dengan satu tangan sembari berteriak geram.
"Aaarrgghh!!" teriaknya emosi.
Pria itu juga mengacak-acak rambutnya, lalu turun dari mobilnya dan membuang dua es krim tersebut ke tempat sampah dengan kasar.
__ADS_1
"Maaf es krim! Gue terpaksa buang lu ke tempat sampah, karena gak mungkin gue kasih lu yang udah meleleh ke Keira. Pasti Keira gak bakal mau makan lu," ucap El memandangi dua es krim itu.
"Kata siapa?" tiba-tiba saja suara itu muncul, membuat El terkejut dan membalikkan tubuhnya.
"Keira? Kamu udah selesai rapatnya?" ujar El terheran-heran melihat gadisnya disana.
"Udah dong, kan gak terlalu lama. Aku sama anak OSIS lainnya cuma bahas kegiatan buat agustusan nanti," jawab Keira sambil tersenyum.
"Oh gitu. Eee terus kamu dengar gak yang tadi aku ucapin?" tanya El cemas.
"Dengar kok, jelas malah. Kenapa sih kamu buang es krim itu sayang? Aku mau kok makannya walau udah meleleh, itu kan kamu yang beli pake uang. Sayang tahu kalau dibuang gitu aja!" ujar Keira.
"Gapapa Kei, tadi aku pikir kamu masih lama, makanya aku buang. Aku gak tahu kalau kamu udah selesai rapatnya," ucap Elargano.
"Yaudah deh, udah terlanjur juga." kata Keira.
"Iya, tapi kalau kamu mau es krim, nanti kita beli lagi ya?" ucap El.
"Boleh, kebetulan aku haus." ujar Keira.
"Oke! Kalo gitu kita masuk ke dalam yuk! Aku beliin kamu es krim berapapun yang kamu mau, tinggal pilih aja nanti!" ucap El tersenyum.
"Ahaha, gausah banyak-banyak El. Kalau aku makan es krim terlalu banyak, nanti yang ada gigi aku rusak." kata Keira sedikit tertawa.
"Kalau gigi kamu rusak, kan tinggal dibenerin ke dokter gigi." ucap El.
"Iya deh, terserah kamu aja El! Mending sekarang kita jalan yuk!" ucap Keira memegang lengan El.
"Kok jalan? Aku kan bawa mobil, kita naik mobil dong sayang! Kalau jalan mah capek, kasihan kamu nanti!" ucap Elargano.
"Aduh sayang! Maksud aku jalan itu pergi, kita pergi dari sini pake mobil kamu!" ujar Keira.
"Hahaha... iya iya aku ngerti, barusan aku cuma bercanda kok. Maaf ya kalau gak lucu dan malah garing!" ucap El tertawa lebar.
"Gapapa, udah yuk!" ujar Keira.
El mengangguk setuju, pria itu merengkuh pinggang Keira dan mulai berjalan menuju mobilnya.
El membukakan pintu mobil bagi Keira, membantu gadis itu memasuki mobilnya dan memasang seat belt di tubuh sang kekasih.
Keira hanya tersenyum memandangi wajah tampan kekasihnya, ia memberanikan diri mencuri satu kecupan di pipi Elargano yang sedang asyik memasangkan seat belt.
Cupp!
El yang terkejut reflek memegangi pipinya itu dan menatap wajah Keira.
•
•
Ratna dan Thoriq masih membahas mengenai Nawal yang hendak datang ke Jakarta, entah mengapa Ratna belum bisa tenang dengan kehadiran Nawal kesana.
"Bu, sebenarnya ibu kenapa sih? Kok gak suka banget kayaknya kalau Nawal datang kesini? Emang ibu gak kangen sama dia?" tanya Thoriq.
"Ibu khawatir aja sayang, gimana kalau Nawal gak bisa akur dengan Sahira dan Jordan? Dia itu kan beda sama kamu, dia susah diatur anaknya. Apalagi kalau ayahnya Nawal terus komporin dia, semuanya bisa gawat sayang!" jelas Ratna.
"Iya juga sih Bu, ya semoga aja deh Nawal bisa terima Sahira dan Jordan!" ucap Thoriq.
"Aamiin!" ucap Ratna mengangguk cepat.
"Nawal siapa Bu?" Ratna dan Thoriq terkejut mendengar suara itu muncul, mereka kompak menoleh ke asal suara lalu berdiri.
"Sahira? Lu kok main masuk-masuk aja sih? Ketuk pintu dulu dong, gak sopan banget!" ujar Thoriq sewot.
"Eee ma-maaf bang! Gue tadi lihat pintunya dibuka gitu aja, yaudah gue langsung masuk. Tapi, tadi di depan gue udah ucap salam kok, cuma gak ada yang jawab." ucap Sahira gugup.
"Ah masa sih? Perasaan tadi gue cek udah ketutup kok, boong kan lu!" ujar Thoriq.
"Ih beneran bang, gue ngapain bohong coba!" ucap Sahira.
"Sudah sudah, jangan diperpanjang! Thoriq, makanya kamu cek sekali lagi sebelum masuk ke dalam sini! Pintunya udah benar-benar kamu tutup apa belum, jadi kejadian seperti ini gak akan terjadi lagi!" ucap Ratna.
"Iya Bu, besok-besok aku cek lagi kok. Tapi, anak ini tuh juga harus dikasih tau Bu! Gak sopan main masuk apartemen orang gitu aja!" ujar Thoriq.
"Kamu gak boleh gitu lah sama Sahira! Dia ini kan adik kamu juga, jadi gapapa dong kalau Sahira masuk ke apartemen ini. Kecuali kalau yang masuk tuh orang lain, baru kamu marah!" ucap Ratna.
"Iya Bu iya..." ucap Thoriq menurut.
Sahira tersenyum lebar, lalu menatap ibunya dan mencium tangan sang ibu dengan lembut.
"Bu, assalamualaikum." ucap Sahira.
"Waalaikumsallam," ucap Ratna tersenyum.
"Heh! Kok cuma salim sama ibu? Sama gue juga dong, gue kan abang lu!" tegur Thoriq.
"Iye iye.." Sahira menurut, kemudian turut mencium tangan abangnya itu walau hanya sekilas.
"Oh ya, tadi kelihatannya lagi pada serius banget bahas yang namanya Nawal. Nawal itu siapa ya bang, Bu?" tanya Sahira penasaran.
__ADS_1
Thoriq melirik ke arah ibunya, bermaksud menanyakan apakah boleh ia menjawab pertanyaan Sahira.
"Lu kenapa kepo banget sih! Udah deh, lu gak perlu tahu tentang Nawal!" ujar Thoriq.
"Ih yaudah sih gausah marah-marah gitu! Gue kan cuma penasaran aja, kalau emang gue gak boleh tahu yaudah gapapa." ujar Sahira cemberut.
"Yah elah baperan amat sih! Baru dibentak begitu aja udah ngambek, dasar cengeng!" ucap Thoriq.
"Thoriq, jangan gitu ah sama Sahira!" ucap Ratna menegur putranya.
Lalu, Ratna pun tersenyum ke arah Sahira dan mendekati putrinya itu. Ratna merangkul Sahira, lalu mengajaknya duduk di sofa untuk menenangkan gadis itu.
"Kamu jangan ngambek lagi ya sayang! Ibu ceritain deh ke kamu, siapa itu Nawal." kata Ratna.
"Iya Bu," ucap Sahira mengangguk singkat.
•
•
Sementara itu, Jordan masih menunggu-nunggu kehadiran Sahira. Dia heran karena Sahira tak kunjung pulang ke rumah, padahal waktu sudah lewat dari jam pulang sekolah.
Jordan pun menghampiri Nur yang sedang mengurus tanaman di depan.
"Sayang..." Jordan memanggil dan memeluk istrinya dari belakang dengan mesra.
Nur sedikit terkejut, namun ia menikmati pelukan mesra dari sang suami dan menaruh sejenak alat penyiram di tangannya itu ke atas kursi.
"Mas, ada apa?" tanya Nur lembut.
"Kamu tahu gak kira-kira Sahira kemana ya? Soalnya ini udah lewat waktu pulang sekolah, tapi dia belum muncul-muncul juga. Aku jadi cemas sama dia!" ucap Jordan.
Nur tersenyum, melepas tangan Jordan dari pinggangnya lalu berbalik menatap Jordan.
Nur juga menangkup wajah suaminya sembari menjawab pertanyaan sang suami.
"Ya mungkin aja Sahira lagi ada urusan, mas. Kamu gak perlu cemas lah! Atau bisa jadi dia masih mau tinggal di apartemen sama ibu," jawab Nur.
"Hah? Masa iya sih dua hari berturut-turut Sahira nginep disana? Emang dia gak rindu apa sama aku?" ujar Jordan.
"Enggak tahu mas, aku kan cuma nebak aja. Kalau kamu tahu lebih jelas dan pasti, coba kamu telpon Sahira!" ucap Nur.
"Huft, iya deh nanti aku telpon dia. Yaudah, sekarang kamu masuk dong ke dalam jangan disini terus! Aku kesepian tahu sejak Sahira milih nginep di apartemen sama ibunya," ucap Jordan.
"Iya mas, nanti ya sebentar lagi! Makanya mas, kamu bolehin aja ibu sama Thoriq buat tinggal disini! Jadi, Sahira gak terus-terusan tinggalin kamu kayak gini." kata Nur.
"Ah kamu kenapa sih bahas itu! Aku males tau bicarain soal ibu!" ujar Jordan.
"Yaudah, kalo gitu kamu sabar aja! Kamu jangan kangen sama Sahira, karena pastinya Sahira bakal terus izin buat nginep di apartemen sama ibunya!" ucap Nur.
Jordan terdiam menunduk, Nur merasa bingung bagaimana caranya untuk membujuk Jordan agar mau mengizinkan Ratna tinggal disana.
"Mas, tolong kamu pikirin ya buat terima ibu disini!" ucap Nur.
"Kita lihat aja nanti, sekarang kita masuk aja dulu ke dalam! Urusan siram menyiram, kan ada pembantu. Kamu gak perlu lah ngelakuin itu!" ucap Jordan membujuk istrinya agar masuk ke dalam.
"Iya mas iya..." ucap Nur menurut.
Akhirnya Nur mau ikut dengan suaminya masuk ke dalam rumah, mereka melangkah bersamaan dengan tangan saling menggandeng.
Drrttt..
Drrttt...
"Eh mas, sebentar ya! Ini ada yang nelpon aku," ucap Nur menghentikan langkahnya.
"Siapa?" tanya Jordan curiga.
Nur mengambil ponselnya, mengecek siapa yang menelponnya.
"Sahira nih." jawab Nur.
"Aku aja yang angkat!" ucap Jordan.
"Tapi mas—"
Jordan langsung mengambil ponsel milik Nur begitu saja, lalu mengangkat telepon dari Sahira.
📞"Halo Sahira! Kamu dimana sekarang? Kenapa jam segini belum pulang juga?" tanya Jordan tegas.
📞"Halo Jordan! Ini ibu bukan Sahira, ibu mau bilang ke kamu kalau Sahira malam ini pengen tidur disini lagi sama ibu. Jadi, kamu gak perlu tungguin Sahira sampai pulang ya!" ucap Ratna.
📞"Apa??" Jordan menganga lebar mendengar ucapan ibunya.
Nur merasa cemas melihat ekspresi sang suami, ia menggaruk dahinya berharap semoga Jordan tidak semakin emosi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1