
#SangPemilikHati Episode 130.
•
•
Farhan kini mengantar Sahira sampai ke depan rumahnya, pria itu menatap sejenak wajah Sahira sembari meraih tangan gadis itu dan tersenyum tipis ke arahnya.
Sahira diam saja saat Farhan menyentuh tangannya, entah kenapa tak ada protes ataupun berontak yang ia lakukan seperti sebelumnya saat Farhan juga melakukan hal yang sama.
"Sahira, thanks ya kamu udah mau mewarnai hari Minggu aku kali ini!" ucap Farhan.
"Iya kak, sama-sama. Kebetulan aku juga lagi butuh refreshing, aku bosan lah terus-terusan urusin masalah yang banyak itu." kata Sahira.
"Benar itu, kapan-kapan kalau kamu butuh hiburan lagi aku siap kok buat temenin kamu. Kamu tinggal bilang aja ke aku ya!" ucap Farhan.
Sahira mengangguk pelan, menyetujui perkataan Farhan sembari melepas tangannya secara perlahan dari genggaman pria itu.
"Yaudah kak, kalo gitu aku turun dulu ya? Sekali lagi makasih karena kamu udah temenin aku! Sampai ketemu lagi besok di sekolah, bye!" ucap Sahira pamit sembari melambaikan tangan.
"Ah iya, bye juga Sahira!" ucap Farhan.
Sahira pun turun dari mobil Farhan, lalu berhenti sejenak disana menunggu Farhan sampai melajukan mobilnya dari sana.
"Dadah Sahira!" ucap Farhan melambai.
"Dah!" balas Sahira sambil tersenyum renyah.
Barulah kini Farhan menancap gas, meninggalkan rumah Sahira dengan kecepatan sedang sambil sesekali masih melirik ke arah gadis itu melalui kaca spionnya.
"Sahira Sahira, cantik banget sih kamu! Serasa kayak di mimpi hari ini aku bisa jalan sama kamu, bahagia banget rasanya!" gumam Farhan.
Sementara Sahira juga membalikkan tubuhnya, lalu berjalan pelan menuju pintu rumahnya.
Disaat Sahira hendak mengetuk pintu, ia terkejut lantaran pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu.
Ceklek...
"Eh Nawal, kamu ada disini?" ucap Sahira.
Nawal diam saja dan memalingkan wajahnya, ia nampak tak suka dengan kedatangan Sahira.
"Sejak kapan kamu disini, Nawal?" tanya Sahira mencoba akrab dengan Nawal.
"Gausah sok ramah deh lu!" ujar Nawal ketus.
Nawal langsung melangkah melewati Sahira sambil dengan sengaja membenturkan bahunya kepada bahu Sahira.
"Awhh!" pekik Sahira kaget dengan sikap Nawal yang seperti itu.
"Itu anak kenapa sih? Aku ada lakuin salah apa coba sama dia? Kok dia kayaknya gak suka banget sama aku?" gumam Sahira.
"Sorry ya Sahira!" ucap Thoriq tiba-tiba muncul.
"Eh bang Thoriq?" ucap Sahira terkejut.
"Maafin sikap adik gue itu ya! Dia emang masih belum bisa terima keadaan, kalau dia punya saudara yang lain." ucap Thoriq pelan.
"Ohh, iya gapapa kok. Gue cuma heran aja kenapa dia begitu tadi, ternyata itu alasannya. Pantas aja dia selalu ketus tiap kali ketemu gue," ucap Sahira.
"Ya begitulah, tapi gue selalu coba untuk bujuk Nawal supaya dia mau terima lu. Tolong lu wajarin aja ya sikap dia barusan! Jangan sampai lu malah jadi benci juga sama dia!" ucap Thoriq.
"Tenang aja bang! Gue tahu kok kalau Nawal itu masih kecil, jadi perasaannya bisa berubah-ubah." kata Sahira tersenyum lebar.
"Iya, yaudah ya gue mau kejar si Nawal dulu! Lu masuk aja gih! Di dalam ada ibu kok," ucap Thoriq.
"Oh oke bang! Semoga berhasil ya bujuk Nawal, dan semoga juga Nawal mau terima gue nantinya!" ucap Sahira.
"Aamiin!" ucap Thoriq mengaminkan.
"Eh ya, bang Jordan sama kak Nur kemana? Kok tadi lu bilang di dalam cuma ada ibu, emang mereka lagi pergi?" tanya Sahira penasaran.
"Iya benar, tadi Jordan sama Nur bilangnya mau ke rumah sakit sih." jawab Thoriq.
"Hah? Ngapain mereka ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Sahira terkejut.
"Lu tenang aja! Gak ada yang sakit kok, itu mereka cuma mau periksa kehamilan." jawab Thoriq.
"Hamil? Kak Nur hamil?" tanya Sahira.
"Ya dugaan mereka sih begitu, semoga aja emang Nur beneran hamil ya!" jawab Thoriq.
"Aamiin!" ucap Sahira.
•
•
Kalau Farhan mengantar Sahira pulang ke rumah, El kali ini juga tengah mengantar Adelia sehabis mereka selesai berbelanja dan juga makan siang bersama.
Adelia tampak bahagia, barang belanjaan di tangannya cukup banyak sampai-sampai ia tidak sadar jika saat ini mereka sudah tiba di rumahnya.
Berbeda dengan Adel, Elargano justru merasa biasa-biasa saja dan malah lebih banyak melamun saat bersama gadis itu. Ya El masih memikirkan Sahira yang tadi ia temui di mall.
__ADS_1
"Del, mau sampai kapan kamu duduk di mobil aku terus? Ini kita udah sampe loh," ujar El.
"Hah? Masa sih?" Adelia seakan tak percaya dengan perkataan El, ia pun melihat sekeliling dan barulah ia percaya jika saat ini mereka sudah tiba di depan rumahnya.
"Oh iya, ya ampun gak kerasa ya cepet banget udah sampe aja! Padahal aku masih pengen berduaan sama kamu," ucap Adelia.
"Yaudah, kamu turun gih!" ucap El dingin.
"Kok kamu usir aku? Kamu gak suka ya aku lama-lama ada di mobil kamu?" ucap Adelia.
"Eh gak gitu, aku cuma suruh kamu turun. Ini kan kita udah sampe di rumah kamu, mau apa lagi emangnya kamu disini?" ucap El mengelak.
"Iya iya El, kamu gausah ngegas begitu dong! Kelihatan banget gak sukanya sama aku!" ujar Adelia kesal.
"Jangan ngambek dong! Bukannya gak suka, aku minta maaf deh ya!" ucap El cemas.
"Yaudah, aku turun dulu ya? Kamu gak mau mampir sekalian nih ke rumahku?" ucap Adelia.
"Eh gausah, aku mau langsung pulang aja. Titip salam aja buat papa mama kamu ya!" ucap El.
"Oh oke, thanks ya tadi udah mau temenin aku belanja! Sayang aja kamu gak ikutan beli barang, terus malah kebanyakan diem." ujar Adelia.
"Iya, sorry ya! Kamu kan tahu sendiri kalau aku lagi ada masalah sama Keira, jadi aku gak bisa ceria seperti biasa." kata El.
"Iya sih, aku ngerti kok." ucap Adelia tersenyum.
"Oh ya, kalau kamu butuh bantuan aku bilang aja ya El! Aku siap kok bantu kamu buat healing dan gak terus-terusan mikirin Keira," sambung gadis itu.
"Okay, makasih ya tawarannya!" ucap El.
Adelia mengangguk pelan, lalu memberanikan diri menyentuh tangan El dan mengelusnya lembut.
"Sampai ketemu lagi besok!" ucap Adelia.
"Iya," ucap El singkat.
Setelahnya, Adelia pun melambaikan tangan ke arah El dan turun dari mobil itu. Adelia langsung melangkah menuju rumahnya, sambil membawa barang-barang yang tadi ia beli.
Sementara El terdiam sejenak disana, menunduk dan memikirkan Keira kembali. Entah mengapa rasanya sulit baginya untuk bisa fokus sebelum mendapat maaf dari kekasihnya itu.
"Gue harus gimana lagi ya? Sampe sekarang belum ada kabar dari Keira, kira-kira kapan dia pulang ke Jakarta?" gumam El.
Disaat El hendak melajukan mobilnya kembali, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Drrttt..
Drrttt...
"Siapa sih yang telpon?" ujarnya agak kesal.
"Om Lingga?" ucap El antusias.
El pun segera mengangkat telpon dari calon mertuanya itu.
📞"Halo om!" ucap El.
📞"Ya, halo El! Sekarang om sama tante dan juga Keira mau kembali ke Jakarta, kamu siap-siap aja buat ketemu sama Keira ya!" ucap Lingga.
El langsung tersenyum ria mendengar apa yang disampaikan Lingga barusan.
•
•
Sahira masih berbincang bersama ibunya di sofa ruang tamu, gadis itu membicarakan sikap Nawal yang masih tidak mau menerimanya hingga kini dan selalu bersikap ketus padanya.
Ratna pun merasa bingung menyikapi sikap Nawal yang seperti itu, ia sudah berkali-kali meminta Nawal untuk berbaikan dengan Sahira tetapi tidak pernah mau didengar olehnya.
"Bu, kira-kira aku harus gimana ya supaya Nawal gak marah lagi sama aku? Aku tuh gak pengen punya musuh, Bu." ucap Sahira.
"Sabar ya sayang! Nawal itu bukan musuh kamu kok, dia saudara kamu. Cuma untuk saat ini dia masih kesulitan buat terima kamu," ucap Ratna.
"Iya Bu, tapi dari pertama kali ketemu Nawal tuh selalu aja kayak gitu Bu sama aku. Aku padahal gak pernah bikin salah sama dia, aku juga bingung kenapa dia begitu banget sama aku. Harusnya kan aku yang marah ke dia, kan ibu pergi tinggalin aku karena demi ayahnya dia!" ucap Sahira.
"Sayang, jangan pernah berpikir kayak gitu ya! Ibu gak mau ada perselisihan diantara anak-anak ibu, tolong kamu jangan tanggapi kelakuan Nawal dengan emosi! Biar nanti ibu coba bicara lagi sama Nawal ya sayang," ucap Ratna.
"Iya Bu, aku minta maaf!" ucap Sahira.
"Gapapa sayang, yang penting kamu jangan pernah berpikir untuk membenci Nawal seperti dia benci sama kamu ya!" pinta Ratna.
"Enggak kok Bu, tadi aku cuma kebawa emosi aja." kata Sahira.
Ratna pun memeluk putrinya itu sembari mengusap punggungnya dengan lembut, Sahira membenamkan wajahnya di bahu sang ibu dan menikmati sentuhan dari ibunya.
"Aku sayang ibu!" ucap Sahira.
"Ibu juga sayang kamu, Sahira!" balas Ratna.
Tak lama kemudian, Jordan bersama Nur kembali dari rumah sakit. Mereka muncul disana dan tersenyum melihat Sahira dan Ratna tengah asyik berpelukan disana.
"Assalamualaikum.." ucap Nur dan Jordan memberi salam bersama-sama.
"Waalaikumsallam, eh kalian udah balik?" ucap Ratna spontan melepas pelukannya dan mendongak ke arah sepasang suami-istri itu.
__ADS_1
"Iya Bu," ucap Nur tersenyum singkat.
Mereka berdua mencium tangan sang ibu, lalu duduk di sofa bersama-sama.
"Gimana hasilnya sayang?" tanya Ratna.
"Eee..." Nur tampak melirik suaminya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dari ibunya, ia juga senyum-senyum seakan menyembunyikan sesuatu.
"Alhamdulillah Bu, Nur kesayangan aku ini ternyata lagi mengandung anak pertama aku sekaligus cucu pertama buat ibu!" jawab Jordan meneruskan.
"Beneran sayang? Kamu hamil nak?" tanya Ratna penuh kegembiraan.
"Iya Bu, Alhamdulillah itu benar! Akhirnya yang aku sama mas Jordan nanti-nanti, kesampaian juga! Aku benar-benar senang banget!" jawab Nur.
"Wah Alhamdulillah dong kak, bang! Aku bakal punya ponakan deh. Selamat ya kak, semoga lancar terus sampai lahiran nanti!" ucap Sahira.
"Aamiin, terimakasih ya sayang!" ucap Nur.
"Oh ya, usia kandungannya udah berapa Minggu sayang?" tanya Ratna penasaran.
"Alhamdulillah, usianya udah masuk Minggu kedua Bu." jawab Nur sembari mengelus perutnya.
"Syukurlah! Kalau begitu, mulai sekarang kamu jangan kecapekan ya sayang! Dan kamu Jordan, kamu harus bisa jagain istri kamu sama calon anak kamu ya!" ucap Ratna.
"Pastinya dong Bu, aku bakal jaga istri dan anak aku di dalam sini! Ibu gak perlu khawatir, aku ini kan suami yang baik!" ucap Jordan tersenyum.
"Ah masa?" goda Nur.
"Haha, iya dong sayangku. Pokoknya apapun yang kamu mau bakal aku turutin, kamu tinggal bilang aja sama aku sayang!" ucap Jordan seraya mencolek dagu istrinya.
"Duh duh, makin mesra aja deh nih pasutri yang satu ini!" ucap Sahira.
"Ya iyalah Sahira, makanya lu buruan deh cari calon sana biar bisa nyusul!" ujar Jordan.
"Hus! Kamu bilang apa sih Jordan?! Sahira kan masih sekolah, masa iya udah kamu suruh nikah?" tegur Ratna.
"Tau tuh Bu, marahin aja bang Jordan tuh!" ujar Sahira.
"Hehe, gapapa dong Bu cepat nikah kan cepat punya anak juga." kata Jordan sambil nyengir.
"Ada-ada aja kamu ah!" ucap Ratna geleng-geleng kepala.
Ratna pun merangkul Nur, mengucapkan selamat kepada wanita itu atas kehamilan pertamanya dan mendoakan keselamatan baginya.
•
•
Keira bersama kedua orangtuanya baru tiba di depan rumah mereka setelah perjalanan panjang yang mereka lalui.
Ya kini ketiganya telah sampai di Jakarta, hari sudah malam dan Keira tampak masih mengantuk akibat terlalu lelah.
Namun, rasa ngantuk Keira mendadak hilang saat ia melihat kelap-kelip di halaman rumahnya dan sebuah tembakan cahaya muncul dari bawah pagar rumahnya.
"Hah? Apa itu mah, pah? Mama sama papa ngapain bikin acara penyambutan buat kita segala?" tanya Keira keheranan.
"Enggak tau sayang, bukan mama yang bikin ini. Mama juga kaget loh lihatnya, apa ini kerjaan kamu mas?" ucap Zahra juga bingung.
"Bukan mah, bukan aku." elak Lingga.
Tak berselang lama, Keira melihat sebuah tulisan digital di sekelilingnya yang bertuliskan welcome Keira disertai balon-balon berterbangan dan kembang api yang meledak di langit.
"Keira, coba kamu turun deh sayang! Siapa tahu kamu bisa tau siapa pelakunya," pinta Lingga.
"Tapi pah, aku capek pengen istirahat." ucap Keira.
"Sebentar saja sayang!" ucap Lingga tersenyum.
"Huh iya deh pah," ucap Keira pasrah.
Akhirnya Keira pun turun dari mobilnya dengan perasaan jengkel, sedangkan mama papanya itu tetap berada di dalam mobil.
"Mas, sebenarnya ada apa sih? Kamu kan yang rencanain semua ini?" tanya Zahra bingung.
"Bukan mah, tapi nak El. Ini bagian dari permohonan maaf dia ke Keira," jawab Lingga.
"Ohh jadi nak El yang buat semua ini? Pasti ide dari papa juga kan?" ucap Zahra.
"Ide sih enggak, tadi papa cuma kabarin nak El kalau Keira sudah mau pulang ke Jakarta. Mungkin aja nak El punya inisiatif untuk bikin semua ini," ucap Lingga.
Zahra menggelengkan kepalanya, Lingga masih tampak senyum-senyum dan terus menatap keluar menanti kejutan lainnya dari Elargano.
Sementara Keira sudah turun dari mobilnya, ia bingung siapa yang sudah membuat semua ini. Gadis itu pun terus menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari seseorang.
Tak lama kemudian, sebuah balon terbang ke arahnya dan menabrak wajahnya.
"Eh!" Keira terkejut dan mengambil balon itu.
Keira menemukan sebuah kertas menancap pada balon itu, ia pun membukanya dan membaca tulisan yang ada disana.
"Maafkan aku Keira? Maksudnya apa?" ujar Keira.
"Ehem ehem..."
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...