Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Ditembak di taman


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 84.




Elargano mengantar Keira pulang ke rumahnya sesuai permintaan sang mama, tapi tentunya El memang juga ingin pergi berdua bersama Keira untuk membujuk gadis itu agar tidak terlalu lama marah padanya.


Keira sendiri terus terdiam sepanjang perjalanan di dalam mobil, sejujurnya ia tidak ingin diantar oleh El untuk pulang ke rumah mengingat dirinya masih sedikit kesal pada El karena tidak mengabarinya saat hendak membantu Sahira.


"Hey sayang! Kamu kenapa sih masih cemberut gitu sama aku? Emang kamu marah nih sama aku karena aku pergi sama Sahira? Dia itu kan teman kamu loh sayang, lagian aku pergi sama dia cuma karena aku mau bantu dia doang kok. Kasihan temannya Sahira itu, dia baru kena kasus pelecehan sama guru di sekolah ku!" ucap El.


Gadis itu terkejut dengan penuturan El, ia menoleh dengan mata terbelalak lebar.


"Kamu serius temannya Sahira dilecehin sama gurunya? Kok bisa sih, gimana ceritanya?" tanya Keira terkaget-kaget.


"Iya sayang, masa iya aku ngarang cerita kayak gini? Jadi, katanya dia itu dapat nilai jelek di pelajarannya. Nah tuh guru nawarin buat naikin nilai, dengan syarat ya si Grey harus puasin guru itu sambil direkam. Akhirnya sekarang Grey trauma berat sejak kejadian itu, dia juga pergi entah kemana dan aku mau bantu Sahira buat temuin Grey supaya masalah ini cepat kelar!" jawab El.


"Ohh kasihan ya Grey! Aku gak kebayang deh gimana perasaan dia sekarang, pasti dia susah buat hidup seperti biasa lagi. Maaf banget ya El, aku malah marah sama kamu tadi!" ucap Keira.


"Iya gapapa cantik, aku wajar kok kamu marah begitu. Aku juga minta maaf sama kamu, karena tadi aku terlalu sibuk ngurusin Grey sampai aku lupa balas chat kamu! Lain kali aku gak akan begitu lagi kok, kamu jangan marah lagi ya cantikku!" ucap El sembari mengusap puncak kepala El.


"Aku udah gak marah kok, justru aku mau bantu kamu sama Sahira buat cari Grey. Boleh kan?" ucap Keira.


El mencubit pipi gadisnya sambil tersenyum lalu berkata, "Pasti boleh dong sayangku cintaku! Aku malah senang banget kalau kamu mau bantu aku, jadi pencariannya bisa cepat selesai. Tapi, tadi sih Sahira udah berhasil telpon nomor Grey."


"Loh terus terus gimana tuh?" tanya Keira.


"Terus..." El sengaja menggantung ucapannya dan membuat Keira merasa penasaran sekaligus jengkel.


"Ish apaan terusan nya sayang? Kamu mah bikin aku kesel aja deh!" ujar Keira.


"Hahaha, bercanda kok cantik. Iya jadi gini, Sahira udah berhasil bujuk Grey dan ajakin dia ketemuan. Rencananya besok abis pulang sekolah, aku sama Sahira mau temuin Grey dan bicara sama dia supaya dia mau jadi saksi atas perlakuan yang tidak menyenangkan dari si guru itu!" ucap El.


"Kalo gitu aku boleh ikut gak?" tanya Keira.


"Tadi kan aku udah bilang, boleh banget sayangku! Besok aku jemput kamu di sekolah, terus kita ketemu sama Grey bertiga. Yaudah, kamu coba senyum dong sayang! Aku kangen nih lihat senyuman kamu yang manis itu," ujar Elargano.


"Gak mau ah! Nanti kamu diabetes loh kalo lihat aku senyum, jadi mending aku cemberut aja terus kayak gini!" ucap Keira.


"Oh iya ya, kamu emang paling bisa deh sayang. Tapi gapapa kok, aku lebih baik kena diabet gara-gara lihat senyuman kamu, daripada kamu cemberut terus begitu!" ucap Elargano.


"Yaudah deh iya, nih aku senyum nih!" ucap Keira menurut lalu tersenyum lebar.


"Nah, begitu kan tambah cantik! Oh ya, mau gak kita dinner lagi di luar sekarang? Kamu kan belum makan, aku juga belum makan. Jadi pas tuh, kita candle light dinner malam ini." ucap El mengajak gadisnya makan malam.


"Eee bukannya kemarin kita baru dinner berdua, ya? Kamu gak bosan apa ajakin aku makan malam terus tiap hari?" ucap Keira.


"Oh gitu nih, kamu bosen dinner berdua sama aku? Yah padahal aku mah gak pernah bosan, karena aku suka banget dekat sama kamu. Tapi ya kalau kamu gak mau, gapapa sih aku gak marah kok! Paling cuma kesal sedikit aja, plus kecewa sama kamu!" ucap Elargano membuang muka.


"Ih kamu kok malah ngambek sih? Aku gak ada bilang bosen loh, kan aku cuma tanya tadi. Kalau kamu pengen ajakin aku makan malam lagi, yaudah aku mau. Tapi, kita ke rumah aku dulu!" ucap Keira.


"Ngapain harus ke rumah kamu dulu cantik? Kita kan udah di jalan, ya sekalian aja loh kita cari restoran dekat sini!" ujar Elargano.


"Sayang, kamu gak lihat apa nih aku masih pake baju seragam sekolah? Aku malu lah kalau dinner sama anak orang terkaya di kota pake baju kayak gini, apa kata orang-orang coba?" ucap Keira.


"Hahaha iya juga sih, yaudah aku anterin kamu pulang dulu buat ganti baju!" ucap El tertawa.


Keira mengangguk sambil tersenyum, sedangkan El kembali fokus menyetir walau sesekali melirik Keira dan menggenggam tangan gadis itu.



__ADS_1


Keesokan harinya, Sahira tiba di sekolah diantar oleh Thoriq yang sudah datang sejak pagi-pagi sekali di rumah Jordan untuk menjemput Sahira dan mengantarnya pergi ke sekolah.


"Bang, thanks ya udah anterin gue! Kalo gitu gue mau sekolah dulu, bye!" ucap Sahira pamitan.


"Eh kamu udah ada uang jajan? Kalau belum, aku kasih lagi nih buat jajan kamu. Kan gak lucu pas kamu mau makan nanti, eh ternyata kamu gak punya uang buat beli makannya. Nanti yang ada kamu cuma gigit jari di sekolah," ucap Thoriq.


"Lu emang lupa apa? Kan waktu itu lu kasih gue uang dollar banyak banget, ini masih ada sisanya banyak. Terus di kantin juga masih punya hutang sama gue, jadi kalo gue mau pesan apa-apa tinggal pesan aja gak perlu keluarin duit!" ucap Sahira.


"Waw berarti sekarang kamu udah jadi sultan dong! Pasti teman-teman kamu pada iri tuh sama kamu, dan mereka juga auto pengen deket sama kamu!" ucap Thoriq tersenyum lebar.


"Yeh gak gitu juga lah!" ujar Sahira.


"Yaudah bang, gue sekolah dulu ya? Nanti siang gak perlu jemput gue, soalnya gue mau cari teman gue lagi." sambungnya.


"Oh gitu, eh emang kelanjutannya tuh gimana? Teman lu belum ketemu juga?" tanya Thoriq.


"Belum bang, tapi Alhamdulillah sih kemarin gue udah berhasil telpon dia dan ajak dia buat ketemuan di luar! Makanya nanti siang gue mau ketemuan sama dia, jadi lu gak perlu jemput gue!" jawab Sahira.


"Ya syukur deh! Eh tapi kenapa lu gak gue anterin aja ketemu sama temen lu itu? Daripada lu harus jalan sendirian kan, mending juga naik mobil gak panas dan gak kehujanan!" ucap Thoriq.


"Gue gak jalan sendiri kok bang, rencananya tuh nanti gue mau bareng temen gue, itu loh yang namanya El. Jadi, lu gak perlu cemas gitu lah sama gue!" ucap Sahira tersenyum.


"Hahaha, siapa juga yang cemas sama kamu? Aku kan cuma tanya aja," ucap Thoriq.


"Eee kalo gitu udah ya gue turun dulu, takut telat nih. Lu kan juga harus buru-buru balik antar ibu ke makam ayah," ucap Sahira.


"Iya, belajar yang bener lu!" ucap Thoriq.


Sahira mengangguk pelan, lalu mencium tangan Thoriq dan turun dari mobil sambil melambaikan tangan ke arah abangnya itu.


Setelah Sahira pergi, Thoriq masih tetap disana memikirkan hubungan Sahira dengan El yang terlihat makin dekat dan mesra, ia tak yakin jika El hanya menganggap Sahira sebagai sahabat.


"Kok gue gak suka gini ya pas dengar Sahira mau pergi sama El nanti siang?" ujarnya.


Sahira yang sedang berjalan memasuki area sekolahnya, tiba-tiba dicekal oleh seseorang dari belakang.


Gadis itu terkejut lalu menoleh mencari tahu siapa yang menarik lengannya, rupanya itu adalah Farhan alias pria yang menyukainya.


"Pagi Sahira!" ucap Farhan menyapa Sahira.


"Eh iya, pagi juga! Lu ngapain tarik tangan gue, kak?" ucap Sahira kebingungan.


"Eee gue mau bicara sama lu, bisa?" ucap Farhan.


"Bicara apa?" tanya Sahira penasaran.


"Kita ke taman sekarang dan bicara disana! Kalau lu mau dan bisa, ayo ikut sama gue!" ucap Farhan.


"Duh gimana ya..." Sahira tampak bingung dan berpikir sejenak.


"Gue gak maksa sih, terserah lu aja!" ucap Farhan.


"Yaudah deh, gue mau ikut sama lu. Tapi, jangan lama-lama ya bicaranya! Soalnya gue takut ketinggalan kelas nanti, kan lu tahu sendiri sekarang udah jam berapa!" ucap Sahira.


"Iya Sahira, aku tahu kok. Makasih ya kamu udah mau bicara sama aku!" ucap Farhan.


"Udah nanti aja makasih nya! Kita pergi sekarang mumpung belum bel!" ucap Sahira.


"Oke!" Farhan mengangguk kemudian melangkah dengan tetap menggandeng tangan Sahira, namun gadis itu merasa risih dan menghentikan langkahnya.


"Sorry kak! Tapi, kayaknya kita gausah gandengan tangan kayak gini deh! Gak enak dilihat sama murid lainnya," pinta Sahira.


"Loh kok gitu? Giliran sama El, kamu mau-mau aja tuh. Kenapa pas sama aku, kamu malah bilang begitu? Apa benar ya kalau kamu itu suka sama El?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Bukan gitu kak, gue kan udah bilang tadi, gak enak dilihat orang-orang! Lagian gue juga gak suka digandeng tangan sama siapapun itu, termasuk El. Cuman kan lu tahu sendiri El orangnya kayak gimana, dia itu susah dibilangin!" ucap Sahira.


"Ok deh! Aku gak gandeng tangan kamu kok, yang penting kamu masih mau bicara sama aku." Farhan pun melepaskan tangan Sahira.


Akhirnya mereka berdua jalan bersamaan menuju taman di belakang sekolah untuk bicara berdua.


Tanpa disadari oleh keduanya, Riki tak sengaja melihat kebersamaan Farhan dan Sahira. Pria itu memutuskan untuk mengikuti mereka dengan perlahan dari belakang.




Singkat cerita, Sahira dan Farhan telah berada di taman sekolah. Mereka duduk berdampingan pada kursi panjang yang tersedia sambil saling memandang satu sama lain, disana memang cukup ramai karena di pagi hari seperti ini banyak murid yang suka bermain-main disana sembari menunggu bel masuk berbunyi.


"Jadi, lu mau bicara apa sama gue?" tanya Sahira.


"Eee gue ini pengen bahas tentang perasaan gue sama lu, lu tahu kan kalau gue tuh suka sama lu?" ucap Farhan menyampaikan isi hatinya.


"Iya gue tahu kok, kemarin lu sempat bilang begitu pas ada El juga. Terus, masalahnya apa kalau lu suka sama gue?" ucap Sahira keheranan.


"Aku suka sama kamu, dan aku mau kamu jadi pacar aku!" jelas Farhan.


"Hah??" Sahira terkejut mendengarnya, ia reflek menganga disertai matanya yang terbuka lebar.


Sahira langsung berdiri dari duduknya, namun masih menatap wajah Farhan dengan wajah tak percaya. "Kak, lu serius barusan ngomong kayak gitu ke gue? Lu mau jadi pacar gue?" ujarnya.


"Iya, buat apa aku bohong sama kamu? Semua yang aku katakan tadi itu benar, dan aku tulus cinta sama kamu Sahira!" ucap Farhan.


Farhan turun dari kursi, setengah berjongkok di hadapan Sahira. Ia mendongakkan kepalanya menatap gadis itu sembari meraih satu tangannya disertai senyum yang terpampang di bibirnya.


"I love you so much, Sahira. And I want you to be my girlfriend!" ucap Farhan tampak serius.


Sahira terdiam kaget. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan tanpa mengalihkan pandangan dari Farhan, terlihat juga para murid yang ada disana pun turut memperhatikan mereka dan saling bergosip membicarakan perlakuan Farhan.


"Jadi, bagaimana Sahira? Apa kamu mau terima aku jadi kekasih kamu?" tanya Farhan.


"Eee ma-maaf kak! Gue gak bisa jawab sekarang, gue ke kelas dulu ya?" Sahira melepas tangannya dari genggaman Farhan, lalu bergegas pergi dari sana meninggalkan pria itu seorang diri.


Farhan pun berdiri tegak memandangi punggung Sahira yang perlahan menghilang dari tatapannya, ia sungguh bingung apakah Sahira juga menyukainya atau tidak.


"Kira-kira Sahira bakal jawab apa ya? Gue berharap banget dia mau terima gue, tapi kalau enggak gue bisa apa?" ujar Farhan bersedih.


Perlahan banyak wanita disana menghampiri dan mengelilingi Farhan, mereka ikut bersedih dengan apa yang dialami Farhan mengingat pria itu baru saja ditinggal pergi oleh Sahira.




Sahira sudah berjalan menjauhi taman, namun ia masih kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Farhan ketika di taman tadi. Sahira tak menyangka jika Farhan akan menembaknya di hadapan para murid sekolah.


Disaat ia sedang sibuk memikirkan perkataan Farhan tadi, tiba-tiba saja ia dicegat oleh Riki yang berdiri tepat di depannya. Tentu saja Sahira terkejut karena ia tak menyangka kalau Riki mencegatnya.


"Riki?" Sahira terkejut menatap wajah Riki dari jarak dekat.


"Iya Sahira, ini gue. Tadi lu habis ngapain sama Farhan di taman? Kok kayaknya lu bingung gitu setelah bicara sama dia?" ujar Riki penasaran.


"Gausah kepo deh lu! Mau apa lu cegat gue disini? Apa cuma mau tau urusan gue sama kak Farhan, iya?" ujar Sahira kesal.


"Enggak, gue mau bahas kelanjutan kasus pelecehan yang dilakukan pak Panca. Gue dapat kabar dari pihak guru, katanya pak Panca udah dua hari gak masuk sekolah. Dia gak ada kabar, tapi sepertinya dia kabur deh biar masalah ini gak bisa diselesaikan!" ucap Riki.


"Apa??"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2