
Selamat membaca...
Hup..
Dengan cepat Rendy mengendong mesra tubuh Chantika. Di bawah langit yang cerah, indahnya sinar rembulan malam yang menjadi saksi bisu. Langkah demi selangkah Rendy mengayunkan kakinya, memasuki kamar yang telah disiapkan oleh Mbok Tri untuk pasangan yang ingin menghabiskan malam panjang dengan perasaan cinta yang disatukan lewat cara yang unik.
Deg..
Pupil mata Chantika membulat seketika, saat Rendy membaringkan tubuhnya di ranjang empuk yang sangat nyaman. Jantung berdegup kencang lari tunggang langgang, bak kuda delman yang di pecut pantatnya oleh pak kusir. Saat Rendy mulai merangkak naik di atas tubuhnya. Kini kening mereka saling menempel satu sama lain, hingga sangat terasa hembusan nafas keduanya.
Tangan Rendy mulai mengusap lembut pipi merah merona Chantika. Menarik pelan kepalanya, Rendy tak bisa menahan lagi gejolak yang telah bergemuruh di jiwanya. Kecantikan panipura yang terlukis di wajah Chantika telah membius akal sehatnya. Rasa manis bibirnya yang melekat telah menjadi chandu bagi Rendy. Memiliki Chantika sebagai istrinya adalah suatu keberuntungan yang di kirim oleh Allah dalam hidupnya.
Disaat bibirnya mendarat ingin mengecup bibir ranum berwarna pink milik Chantika. Spontan tangan Chantika mendadak bertengger di dada bidang Rendy.
Bug!
"Stop! Apa-apa ini! Kenapa kamu mau mencuri ciuman di bibirku!" ucap Chantika.
Tawa renyah gurih keluar dari bibir sensual Rendy, pertanyaan yang dilontarkan Chantika membuatnya mendadak terkekeh.
"Aku sedang ingin menikmati saus manis yang tertinggal di bibir merah ini!" jawab Rendy santai sembari mengusap bibir Chantika dengan ibu jarinya.
Chantika memalingkan wajah, menahan tawa dari bibirnya. Hanya senyuman tipis terlukis. Pandangan malu-malu terlihat jelas, ia hanya bisa menutup mata secara terpaksa. Satu sentuhan lembut dari Rendy, sudah membuat darahnya berdesir mendidih. Siapa yang kuat untuk menolak pesona sang Casanova pewaris tunggal dari Keluarga Suryodinata. Apalagi mendapatkan sentuhan selembut dan seromantis itu.
"Jangan deket-deket kayak gini! Kita kan bukan pasangan halal!" ucap Chantika berusaha mempermainkan perannya dengan apik.
"Kata siapa kita bukan pasangan halal!" Rendy semakin mengunci tubuh istrinya.
"Aku barusan!" elak Chantika.
"Sudah hentikan akting kamu, sayang! Atau aku akan memperpanjang hukuman kamu, yang sudah membohongi aku!"
"Siapa yang membohongi kamu?"
"Ayo ngaku kalau kamu cuma bohongan amnesianya! Atau aku akan mengurungmu seharian di kamar ini! Membuat kamu tak bisa berjalan! Mau..!"
"Astaga! Dia tau kalau aku sudah bohongi dia. Ngaku gak ya? Kalau ngaku sekarang, gimana ini muka mau ditaruh! Ya Tuhan berikan hambamu ini jalan yang terang dan lurus, biar tak oleng kayak authornya yang somplak!"
__ADS_1
"Sayang, kenapa harus malu! Katakan saja, kan aku ini suami kamu, bukan hakim yang akan menghukummu berat!" ujar Rendy dengan senyum smirk.
"Ya salam.. Kamu itu cenayang apa, ya? Selalu bisa baca kata hatiku!"
"Makanya jadi orang jangan suka ngedumel sendiri!"
"Iya maaf"
"Jadi selama ini kamu cuma bohongi aku terkena amnesia! Awas aja pembalasan aku lebih gokil!"
"Ampun.. Sayang! Mandi dulu sana, bau tau!" tolak halus Chantika, dengan penuh kegugupan.
Cup!
"Eghmm"
Sebuah kecupan mendarat manis tepat di leher Chantika.
"Mandi dulu!"
-
-
-
Tap.. Tap..
Suara langkah kaki mendekati ranjang. Chantika segera memejamkan kedua matanya.
Dengan hanya melilitkan handuk sebatas lutut dan rambut yang masih basah, Rendy mendekati Chantika yang berbaring di kasur.
"Buka matamu! Aku tau kamu belum tidur!" ujar Rendy di telinga Chantika.
Chantika berpura-pura telah tertidur. Padahal baru saja dia meringkuk dibalik selimut untuk menghindari hukuman yang akan diberikan suaminya.
Rendy telah mengetahui bahwa Chantika hanya berpura-pura tidur. Hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang luas dan di bawah pencahayaan yang kurang terang. Rendy telah siap menghukum istrinya yang jail itu. Ia pun mulai melepaskan handuk yang melilit tubuhnya dan ikut bergabung masuk di dalam selimut yang Chantika gunakan untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.
__ADS_1
Walaupun Chantika tau Rendy ikut berbaring disebelahnya. Ia tetap memilih untuk berbaring diam.
Tak lama kemudian, tangan Rendy mulai menjelajahi melalang keliling dunia.
Chantika menahan geli, ketika suaminya sudah terlihat amat terpesona dengan gitar spanyolnya. Chantika memejamkan matanya semakin rapat, ia merasakan banyaknya kecupan yang di daratkan oleh suaminya. Rasa ingin menolak semua sentuhan itu. Tetapi, detik berikutnya Rendy menghujani kembali tubuh istrinya dengan kecupan mesra. Membangkitkan debaran membara di setiap denyut nadi Chantika, letupan dalam tubuhnya seakan ikut bergemeletuk dalam darahnya. Memberikan rasa mendamba. Kecupan di leher Chantika yang meninggalkan stempel kepemilikan berwarna merah pekat. Menandakan bahwa cintanya pun sama pekatnya pada istrinya.
Dengan bersusah payah berpura-pura tidur dan mengigit bibir bawahnya lebih kuat, agar tak ada suara misteri tikus kejepit yang lolos dari bibir ranumnya.
Semakin rajin tangan suaminya mengabsen setiap inchi lengkuk gitar spanyolnya, semakin susah bertahan Chantika berakting untuk berpura-pura tidur.
Ketika bibir hangat suaminya telah mendarat pada bibir manisnya. Dalam sekejap membakar hasrat mereka berdua semakin membara. Pak Tani yang lama libur mencangkul sawahnya, kini telah bersiap dengan tenaga super full.
Mungkin seharusnya Chantika tidak berpura-pura amnesia, karena memang cinta Rendy telah dilambungkan di dermaga terakhir milik Chantika, hanya teruntuk istrinya tercinta. Hatinya sudah terpentok pada gadis yang berambut hitam lekam dengan bibir yang seksi telah menjadi chandunya.
Hasrat Chantika melambung semakin tinggi, pupil Rendy menatap sejenak pada wajah cantik istrinya, masih diam di tempat.
Mungkin seharusnya dia tidak..
Rendy tersenyum, ia sudah lama menunggu malam yang indah ini datang kembali.
Kini Chantika harus menyambut kedatangan pak Tani dengan amarah yang siap menyembur karena kesalahannya, telah berani memainkan sebuah peran yang membuat dirinya harus rela menerima hukuman dari suaminya.
Tangan Chantika melingkarkan indah di leher suaminya, mata yang malu-malu menghindar tatapan Rendy. Kini berani menatap wajah suaminya dengan tatapan sendu.
Untuk meminta maaf kepada suaminya, Chantika mendaratkan sebuah kecupan manis di seluruh wajah tampan Rendy, dan kini beralih pelan ke leher Rendy
Pak Tani tersenyum manis, ia menyambut kecupan tesebut dengan mesra. Kedua bibir telah bersatu padu di bawah sinar rembulan malam yang amat cerah, hembusan angin malam yang dingin seakan tidak terasa karena tergantikan oleh panasnya cinta mereka yang meluap meletup-letup lewat sentuhan bibir.
Permintaan maaf Chantika telah dilebur jadi satu tertelan gairah saat suaminya mulai membenamkan diri sepenuhnya dalam penyatuan dengan dirinya.
💞💞💞💞
Selamat pagi gaes.. Selamat beraktivitas di hari Senin yang padat merayap..
Go.. Go.. Selamat berjuang pejuang receh yang selalu diberkahi oleh Allah SWT. Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Robballalamin 🙏🥰😍
Terimakasih telah mendukung karya Wawa yang receh ini..
__ADS_1