Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Ada yang viral


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 107.




Sahira tiba di sekolahnya, gadis itu turun dari mobil dan tak lupa berpamitan pada Jordan yang kali ini mengantarnya ke sekolah.


Setelahnya, Sahira pun langsung masuk ke dalam sekolah tersebut seperti biasa disertai senyum yang selalu terpampang di wajah cantiknya.


Namun, gadis itu merasa heran saat hampir seluruh murid yang ada di sebelah kanan atau kirinya tampak serius menatap layar ponsel mereka.


"Ini pada ngapain sih? Ada apaan coba di hp mereka sampe kompak banget begitu?" gumamnya kebingungan.


Bruuukkk..


"Aduh!" sangking bingungnya, Sahira sampai tidak fokus ke jalan dan akhirnya ia menabrak tubuh seorang pria di depannya.


"Hadeh, jalan tuh pake mata!" ujar si pria yang tak lain ialah El tampak kesal.


"Ih mana bisa jalan pake mata? Emang mata lu bisa turun ke bawah gitu, terus dipakai buat jalan? Ada-ada aja lu!" ucap Sahira.


"Yeh ngeles aja nih anak! Minimal mata kaki lu kasih spion, jadi lu bisa lihat kalo ada orang di depan lu!" ucap Elargano.


"Udah keberapa kalinya coba kita tabrakan kayak gini?" sambung El.


"Gak tahu, kayaknya udah banyak deh. Authornya emang gak kreatif, kebanyakan pengulangan adegan!" ucap Sahira.


"Ah jangan salahin orang lain! Itu mah lu nya aja yang jalan gak bener! Jalan tuh lihat ke depan, bukan ke kanan atau kiri!" ucap Elargano.


"Iya iya... maaf ya kak El!" ucap Sahira pelan.


"Nah gitu dong! Kalo lu minta maaf gini kan jadi kelihatan makin cakep!" ucap El tersenyum.


"Idih gombal mulu lu!" cibir Sahira.


"Eh ya, gue mau tanya deh sama lu. Itu orang-orang pada kenapa sih? Daritadi gue perhatiin mereka sibuk banget sama handphone mereka, emang ada apa sih?" tanya Sahira penasaran.


"Mana gue tahu. Kalau lu mau tahu, ya tanya aja langsung ke mereka!" jawab El ketus.


"Ih biasa aja kali! Kalo emang lu gak tahu, yaudah sana pergi gausah ganggu gue!" ujar Sahira judes.


"Buset dah gue diusir!" ujar El.


"Sahira... Sahira, gawat Sahira...!!" Raisa berteriak dari arah depan sembari berlari ke arah Sahira dan El.


Bruuukkk...


Lagi dan lagi, tubuh El yang kekar itu ditabrak oleh Raisa dari belakang. Bahkan, kali ini El hampir terdorong ke depan akibat ulah Raisa itu.


"Aduh! Lu lari yang bener dong! Mana remnya!" ujar Elargano kesal.


"Hehe, maaf ya kak! Gue gak sengaja sumpah, peace!" ucap Raisa mengangkat dua jarinya.


"Udah lah El, gausah lebay! Cuma ditabrak gitu doang kok, tubuh lu kan kekar tuh. Masa ditabrak sama Raisa yang kurus aja kesakitan? Dasar lemah!" ucap Sahira.


"Dih suek banget, kok lu malah belain dia?!" ujar El makin kesal.


"Ya jelas lah, Raisa kan sohib gue." kata Sahira.


"Ahaha, tos dulu dong Ra!" ucap Raisa mengangkat telapak tangannya ke arah Sahira.


Dua gadis itu pun menepukkan telapak tangan mereka sambil tersenyum renyah.


"Emang rada-rada nih dua orang!" cibir El.


"Eh Rai, lu kenapa sih? Kok tadi lari-larian gitu sambil teriak-teriak, emang ada masalah apa?" tanya Sahira tampak penasaran.


"Oh iya, sampai lupa gue gara-gara tadi nabrak truk tronton. Untung aja lu ingetin, Ra!" ujar Raisa.


"Heh! Maksud lu apa? Gue kayak truk tronton gitu?" ujar El merasa tersindir.


"Eee gue gak bilang gitu, tapi kalo kak El ngerasa begitu, berarti emang bener dong kalau kak El itu..." ucap Raisa menggantung ucapannya.


"Gue itu apa?" tanya El disertai mata melotot.


"Eh enggak-enggak, gak jadi hehe.." ujar Raisa sambil nyengir.


"Huh dasar lu!" ucap El mendengus kesal.


"Udah ih, buruan kasih tahu gue ada masalah apa! Jangan kebanyakan debat keburu abis jatah kata di bab ini!" ucap Sahira.


"Tenang aja Sahira! Ini baru lima ratusan kata kok, masih panjang dan banyak waktu buat kita ngobrol sekarang." kata Raisa tersenyum.


"Iya juga sih, kalo gitu kita bisa ngopi-ngopi dulu dong di kantin?" ujar Sahira.


"Boleh tuh!" ucap Raisa setuju.

__ADS_1


"Woi woi! Kok malah mau ngopi sih? Ini cerita lagi serius loh mau masuk babak baru, jangan pada bercanda terus dong!" tegur El.


"Iya iya... jangan marah-marah mulu kak, nanti kena asam urat loh! Tuh lihat uratnya sampai hampir lepas kayak gitu!" ucap Raisa.


"Ah banyak omong lu! Jadi cerita apa kagak? Gue juga penasaran nih!" ujar Elargano kesal.


"Iya Rai, ayo cerita aja buruan!" pinta Sahira.


Raisa tersenyum, kemudian mulai menceritakan yang ia ketahui kepada Sahira dan El.


"Begini Ra, lu coba deh cek hp lu sekarang terus lihat grup sekolah!" ucap Raisa kembali panik.


"Hah? Ngapain? Emang ada apa sih di grup sekolah?" tanya Sahira panik.


"Iya lihat aja, udah cepet!" jawab Raisa tegas.


"Iya iya.." ucap Sahira menurut.


Sahira pun membuka ponselnya, melihat grup wa sekolah untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya.


"Wih rame banget! Ini ada nomor misterius yang kirim file, file apa sih?" ujar Sahira bingung.


"Coba deh lu buka aja itu file!" pinta Raisa.


Sahira mengangguk dan membuka file yang dikirim oleh nomor misterius tersebut.


Gadis itu amat terkejut saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa isi file tersebut adalah foto-foto telanjang Grey saat bersama pak Panca di sebuah hotel.


Sontak Sahira menutup mulutnya, syok mengapa bisa foto-foto tersebut disebar di grup sekolah.


"Anjir! Itu kok foto kayak gitu disebar di grup wa sekolah sih? Kurang ajar banget tuh orang! Pantas daritadi murid-murid disini pada asik lihat hp, ternyata ada yang ngirim gituan. Eh btw, itu foto siapa sih? Gue kurang jelas lihatnya," ujar El.


"Rai, ini kan foto Grey. Siapa sih yang udah tegas lakuin ini semua sama Grey? Bisa-bisanya orang itu punya foto Grey sewaktu dia sama pak Panca, gue masih gak nyangka deh!" ucap Sahira bersedih.


"What? Jadi itu foto Grey?" ujar El kaget.


"Iya kak, Sahira. Gue pun tadi syok banget pas pertama kali lihat foto-foto itu, makanya sekarang satu sekolah pasti pada bahas soal ini. Gue gak bisa bayangin deh gimana perasaan Grey kalau tahu fotonya disebar begitu," ucap Raisa.


"Gue harus cari siapa pelaku yang udah sebar foto Grey ini! Dia wajib dapat pelajaran! Karena dia udah bikin Grey jadi bahan gosip satu sekolah!" ujar Sahira emosi.


"Gue setuju! Gue bakal bantu lu buat cari pelaku itu, gue pun gak suka lihat Grey diginiin!" ujar Raisa.


"Tapi tunggu deh, kira-kira gimana ya cara si orang itu dapat foto Grey? Secara foto atau video itu kan cuma ada di hp milik pak Panca, dan semuanya juga udah diserahin ke polisi. Jadi, gimana caranya dia bisa dapetin foto itu?" ucap El bingung.


"Oh iya, berarti pelakunya ini tuh yang pernah pegang hp pak Panca. Dan dia sempat pindahin semua foto sama video Grey ke hp nya, terus makanya sekarang dia bisa sebarin foto-foto itu ke grup sekolah." ujar Sahira menduga-duga.


"Dih, gue mah selalu pinter kali! Tapi ya kadang emang suka eror sih, cuma kadang-kadang bukan sering." kata Sahira.


El terkekeh saja mendengarnya, sedangkan Raisa masih terus panik coba berpikir keras siapa yang sudah melakukan ini semua.


"Eh iya Ra, di masalah Grey ini yang tahu tuh siapa aja sih selain lu berdua?" tanya Raisa.


Sontak Sahira dan El kompak saling pandang, mereka baru sadar kalau tak semua murid disana tahu mengenai masalah Grey, bahkan guru saja belum tentu semuanya mengetahui masalah itu.




Sementara itu, Grey baru tiba di sekolah diantar oleh ojek online.


"Nih pak uangnya, makasih ya!" ucap Grey memberikan selembar uang kepada ojek tersebut.


"Iya neng, makasih juga!" ucap ojek itu.


Setelahnya, Grey pun melangkah masuk ke dalam sekolah sambil tersenyum seperti biasa.


Namun, ia cukup heran ketika melihat banyak sekali murid-murid disana yang menatap sinis ke arahnya sembari berbisik-bisik.


Memang tak terdengar cukup jelas di telinga Grey apa yang mereka bicarakan tentangnya, tapi tetap saja Grey merasa kalau itu adalah kata-kata yang buruk.


"Eh eh lihat deh! Ini kan cewek simpanan pak Panca yang ada di foto itu!" cibir seseorang.


Ya kali ini Grey mendengar dengan jelas ucapan murid tersebut, ia yang merasa kesal pun menghampiri wanita-wanita disana dan hendak menegur mereka.


"Heh! Maksud kalian bilang kayak gitu tuh apa? Siapa yang kalian maksud cewek simpanan pak Panca, ha? Gue?" tegur Grey emosi.


"Lah lah lu ngapa sih Grey? Datang-datang kok nyolot kayak gitu!" ujar siswi bernama Anika itu tak kalah sewot dengan Grey.


"Ya jelas lah gue sewot! Karena kalian bertiga udah bicara yang enggak-enggak tentang gue, mana bisa gue terima perkataan kalian itu ha?! Dasar tukang gosip lu semua!" bentak Grey.


"Hah? Gosip? Kita bicara fakta, semua orang di sekolah ini juga udah tahu kok kabar tentang lu yang jadi simpanan pak Panca. Jadi, lu gak bisa ngeles lagi Grey!" ucap Anika.


"Iya Grey, buktinya juga udah ada kok!" sahut Febi alias teman Anika disana.


"Bukti? Bukti apa coba? Gue ini bukan simpanan pak Panca!" tegas Grey.


"Cih masih ngeles! Jelas-jelas buktinya juga udah ada, bahkan seluruh murid disini udah lihat kok bukti itu." kata Anika.

__ADS_1


"Dan kalau lu mau tahu, lu lihat aja sendiri di hp lu!" sahut Febi.


Tanpa berpikir panjang, Grey pun membuka ponsel miliknya. Ia terkejut karena cukup banyak notif pesan dari grup wa sekolahnya.


Gadis itu penasaran dan coba melihat apa yang terjadi di grup tersebut, sampai akhirnya Grey menemukan sebuah file yang dikirim oleh nomor misterius disana.


"Ini file apa?" tanya Grey pada Anika dan Febi.


"Coba aja lu buka!" titah Anika.


Grey mengangguk pelan, kemudian membuka file tersebut sesuai perkataan Anika.


Dia langsung syok begitu melihatnya, matanya terbelalak serta mulutnya terbuka lebar.


"Ini kan foto gue sewaktu sama pak Panca, kok bisa ada yang kirim ke grup sekolah sih?" batin Grey sangat syok.


"Gimana? Lu lihat sendiri kan? Jelas-jelas itu muka lu, jadi lu gak bisa ngeles lagi Grey! Benar kan kalau lu tuh simpanan pak Panca!" cibir Anika.


Grey menggeleng sembari menitikkan air mata.


"Gak! Ini gak benar! Gue bukan simpanan pak Panca, kalian semua gak tahu kebenarannya! Jadi, harusnya kalian jangan langsung menebak yang enggak-enggak dong!" tegas Grey.


"Halah! Kebenaran apa lagi sih Grey? Itu semua udah jelas dan kita tahu kalau lu emang simpanan pak Panca! Gue gak nyangka ya Grey, ternyata demi nilai bagus lu sampai harus ngelakuin itu!" ucap Anika.


Grey pun berlari pergi dari sana, namun tetap saja sepanjang perjalanan Grey terus dicemooh oleh murid-murid yang ia lewati.




"Kira-kira Grey dimana ya? Dia udah datang atau belum? Gue khawatir banget dia tahu kalau fotonya disebar di grup sekolah sama orang yang gak jelas siapa!" ujar Sahira cemas.


"Iya, gue juga takut nantinya Grey jadi sedih lagi. Kasihan Grey baru juga terlepas dari ancaman pak Panca, eh sekarang udah ada lagi masalah yang menimpa dirinya!" ucap Raisa.


"Tenang guys! Kita pasti bisa bantu Grey buat selesaikan masalah ini!" ucap El menenangkan.


"Pastinya! Gue gak mau Grey sampai trauma lagi kayak kemarin, apalagi kalau sampai dia kabur dari rumah dan gak mau ke sekolah." kata Sahira.


"Itu dia, bakal susah buat kita cari keberadaan Grey kalau dia kabur-kaburan begitu!" ucap Raisa.


"Yaudah, mending sekarang coba kalian hubungin si Grey dan tanya dia ada dimana!" usul El.


"Iya tuh Ra, coba lu telepon dia! Kan lu yang paling dekat sama Grey diantara kita, siapa tahu dia mau angkat telpon dari lu!" ucap Raisa.


"Iya deh, gue coba dulu ya?" ucap Sahira.


Raisa mengangguk pelan, Sahira pun mulai coba menghubungi nomor Grey sesuai usul dari El.


Namun, telponnya tidak diangkat oleh Grey dan membuat Sahira semakin cemas.


"Duh, gak diangkat sama dia. Gimana dong?" ujar Sahira panik.


Lalu, Raisa tanpa sengaja melihat Grey tengah berlari menuju ke arah toilet. Ia pun segera menunjukkan itu pada Sahira.


"Eh eh Ra, itu kan si Grey!" ujarnya.


"Hah? Mana?" ucap Sahira langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Raisa.


"Oh iya benar! Tapi, dia mau kemana ya itu?" ujar Sahira kebingungan.


"Kayaknya dia mau ke toilet, mungkin kebelet. Biasalah pagi-pagi kan panggilan alam suka datang tiba-tiba, gausah pada cemas gitu!" ucap El.


"Ish, kebelet apanya! Lu gak lihat tadi Grey lari sambil tutup mukanya? Ini pasti dia udah tahu tentang fotonya yang disebar di grup sekolah! Rai, ayo kita samperin dia!" ucap Sahira.


"Iya iya.." ucap Raisa mengangguk setuju.


Kedua gadis itu pun bergandengan tangan dan hendak pergi menyusul Grey, namun langkah mereka terhenti lantaran El juga ingin ikut.


"Lu mau ngapain?" tanya Sahira ketus.


"Gue pengen ikut lah, kan gue juga mau bantu." jawab El santai.


"Gak ada ya! Grey kan lagi di toilet cewek, cowok kayak lu gak boleh masuk kesana! Mending lu coba temuin si Riki, karena kan cuma dia yang pernah pegang hp pak Panca!" ucap Sahira.


"Iya deh, tapi kabarin gue ya nanti!" ucap El.


"Iya," ucap Sahira singkat.


Akhirnya mereka berpisah disana, Sahira dan Raisa pergi ke toilet menyusul Grey.


Sementara El pergi mencari dimana Riki berada sembari berharap pelakunya memang benar Riki.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...MAU KASIH VOTE JUGA GAPAPA🥰...

__ADS_1


__ADS_2