Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Cerita Grey


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 109.




Grey akhirnya pulang ke rumah, ia diantar oleh kedua sahabatnya yakni Sahira dan juga Raisa menggunakan taksi online.


Sahira tak ingin Grey pergi seorang diri dalam keadaan saat ini, ia tidak mau kejadian sebelumnya terulang kembali saat Grey memutuskan kabur dari rumah karena kasus pelecehan itu.


Saat ini Grey akan pulang dan menemui kedua orangtuanya, setelah beberapa hari ia tidak pulang kesana karena takut akan dimarahi.


"Grey, kita masuk yuk! Lu tenang aja, kita berdua bakal temenin lu kok!" ucap Sahira menggandeng tangan Grey.


"Iya Grey, lu gak perlu takut ya!" sahut Raisa.


"Tapi Sahira, Raisa, gimana kalau bokap nyokap gue marah-marah nantinya? Sampai sekarang ini gue juga belum cerita apa-apa ke mereka terkait dengan yang gue alami, gue takut mereka bakal benci banget sama gue kalau mereka tahu semuanya! Pasti mereka anggap gue ini wanita kotor!" ucap Grey.


"Lu jangan mikir begitu sama orang tua lu sendiri! Kita bakal bantu jelasin yang sebenarnya kok sama orang tua lu, gue yakin mereka pasti paham dan malah kasihan sama lu!" ucap Sahira.


"Iya Grey, orang tua itu gak mau anaknya disakiti oleh siapapun. Sejahat-jahatnya orang tua kita, mereka itu tetap sayang sama kita! Jadi, kalau mereka tahu lu pernah dilecehkan sama guru di sekolah lu sendiri, mereka pasti gak akan terima dan justru bela lu!" sahut Raisa.


"Wih tumben banget kata-kata lu bener, Rai!" ucap Sahira tersenyum.


"Hehe, asal lu tahu aja Sahira gue ini sebenarnya pintar tau! Tapi, karena gue kelamaan bergaul sama orang-orang kayak kalian, gue jadi ikut-ikutan bodoh deh." ujar Raisa sambil nyengir.


"Yeh maksud lu apa? Lu mau bilang kalo gue sama Grey ini bodoh gitu? Kacau sih lu kacau, temen lagi berduka malah dikatain!" ujar Sahira.


"Gak gitu loh Sahira, namanya bercanda masa gak ngerti sih! Biar Grey itu suasana hatinya bisa agak tenang sedikit, jadi dia gak terlalu tegang atau panik gitu loh!" ucap Raisa mengelak.


"Iyain aja, udah yuk kita masuk ke dalam! Grey, lu siap kan?" ucap Sahira.


"Siap kok!" jawab Grey pelan.


Sahira dan Raisa kompak tersenyum, mereka pun melangkah sembari menuntun Grey untuk masuk ke dalam rumahnya.




Singkat cerita, mereka telah sampai di depan teras rumah Grey dan ketiga gadis itu tampak menghentikan langkah mereka disana.


"Grey, kenapa berhenti? Ayo kita masuk ke dalam!" tanya Sahira bingung.


"Tunggu dulu Ra! Gue harus ketuk pintu dulu, masa mau main masuk aja?!" jawab Grey.


"Oh iya, sorry sorry gue soalnya jarang main ke rumah orang lain sih! Jadinya gue lupa kalau harus ketuk pintu dulu sebelum masuk," ujar Sahira.


"Makanya bersosialisasi dong Sahira, jangan diem mulu di rumah!" cibir Raisa.


"Ah berisik lu! Udah, mending lu ketuk tuh pintunya yang kenceng terus sambil ucap salam supaya orang tua Grey bisa dengar!" ucap Sahira.


"Iye iye..." ucap Raisa menurut.


Raisa mendekat ke arah pintu, mengetuknya sembari mengucap salam sesuai dengan yang diperintahkan Sahira.


TOK TOK TOK...


"Permisi, assalamualaikum selamat sore!" ucap Raisa.


"Permisi!" ucap Sahira dengan lantang.


"Wih suara lu udah kayak cowok, Ra!" ujar Raisa.


"Iyalah, asal kalian tahu aja gue ini ada darah lelaki." kata Sahira dengan pedenya.


"Dih dia malah bangga dibilang gitu!" ujar Raisa.


Grey pun terkekeh kecil akibat ulah kedua temannya itu, ya walau tetap saja itu belum dapat membuat hatinya tenang.


"Kalo mama sama papa tahu gue ini udah diperkosa sampai hamil, terus foto-foto gue disebar di grup sekolah. Apa kira-kira mereka masih mau maafin gue?" batin Grey.


Ceklek...


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita dewasa yang tak lain adalah mama Grey.


Wanita bernama Fadia itu terkejut sekaligus senang saat melihat kehadiran putrinya disana.


"Waalaikumsallam. Grey!" ucapnya kaget.


"Halo mah!" ucap Grey tersenyum tipis.


Gadis itu melangkah maju mendekati mamanya, wajah sedih yang ia tampilkan membuat sang mama merasa heran.


"Ya ampun sayang! Kamu ini kenapa nak? Apa yang terjadi sama kamu sebenarnya sampai kamu gak mau pulang ke rumah? Darimana aja kamu sayang?" ujar Fadia memeluk Grey erat.

__ADS_1


"Maafin aku ya mah! Aku udah kabur dari rumah untuk menutupi masalah aku," ucap Grey terisak.


Fadia mengeratkan dekapannya, mengusap punggung Grey dan menangis disana melepaskan rasa rindu serta cemas yang ia pendam selama ini.


Akhirnya Fadia melepas pelukannya, menangkup wajah Grey yang sudah dipenuhi air mata itu lalu mengusapnya lembut.


"Sayang, kamu punya masalah apa nak?" tanya Fadia pada putrinya itu.


Grey terdiam kebingungan, matanya melirik ke arah Sahira serta Raisa seakan bertanya apa yang harus ia lakukan saat ini.


Sahira hanya memberi anggukan kecil, berharap Grey bisa kuat untuk menceritakan semuanya kepada ibundanya saat ini.


Grey kembali menatap mamanya, mengambil nafas dalam-dalam untuk menguatkan diri sebelum mulai bercerita.


"Mah, aku sebenarnya..."


"Tunggu sayang! Kamu ceritanya di dalam aja ya? Mama tahu kamu pasti capek, jadi kita cerita sambil duduk aja!" potong Fadia.


Grey mengangguk setuju.


"Yaudah, yuk kita masuk! Kalian berdua juga ikut aja ke dalam!" ucap Fadia.


"Iya tante, makasih!" ucap Sahira tersenyum.


Setelahnya, mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah yang lumayan besar itu dan duduk bersama-sama pada sofa yang tersedia.




"Kak, lu aja yang nyuci nih!" Nawal menyodorkan piring-piring kotor di tangannya ke arah Nur dengan wajah judesnya.


Sontak Nur terkejut karena ia tak menyangka kalau Nawal bisa berubah dalam waktu singkat, padahal sebelumnya gadis itu mengatakan ingin mencuci piring bersama Nur disana.


"Loh, bukannya tadi kamu bilang mau bantu aku cuci piring ya? Kok malah dikasih lagi ke aku semuanya?" tanya Nur heran.


"Gausah banyak tanya deh! Gue bilang begitu supaya ibu percaya kalo gue bisa terima keluarga kalian, padahal nyatanya mah enggak!" ujar Nawal.


"Astaghfirullah.." ucap Nur pelan.


"Kenapa lu nyebut gitu? Emang ada yang salah sama kata-kata gue? Atau lu gak terima?" tanya Nawal ketus.


"Enggak kok, bukan itu. Aku cuma kaget aja kamu ternyata cuma pura-pura," jawab Nur.


"Yaudah, lu cuci gih piringnya yang bersih! Kalau udah selesai, kita baru balik bareng-bareng ke ruang tamu. Tapi ingat, lu jangan bilang kalau lu cuma nyuci sendiri!" ucap Nawal.


Nur menghela nafas sejenak, lalu mencuci piring-piring kotor tersebut dengan santai.


Sementara Nawal duduk di kursi belakang Nur sambil memainkan ponselnya.


"Jangan lama-lama lu!" pinta Nawal.


Nur hanya menggeleng, ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini kalau Nawal ternyata adalah gadis nakal.


"Sayang, kamu udah selesai belum nyucinya?" Nawal serta Nur terkejut ketika suara berat muncul disana dan bahkan membuat Nawal langsung berdiri dari duduknya.


Itu adalah Jordan yang baru muncul dari depan bermaksud menyusul istrinya.


Namun, Jordan justru dilihatkan pada kenyataan yang membuatnya emosi.


"Apa-apaan ini? Kenapa cuma kamu yang nyuci piringnya sayang? Kok kamu gak kasih piring itu ke Nawal biar dia cuci juga? Kan tadi dia udah bilang mau bantu kamu. Atau dia cuma pura-pura aja di depan ibu?" tanya Jordan terheran-heran.


"Eee mas, kamu ngapain kesini sih? Harusnya kamu di depan aja temenin ibu!" ucap Nur coba mengalihkan pembicaraan.


"Jangan bahas yang lain dulu sayang! Kamu jujur aja sama aku! Kenapa jadi kamu sendiri yang cuci piringnya, ha?" tegas Jordan.


"Eh bang Jordan datang kesini ternyata, sabar ya bang jangan salah paham dulu! Aku bukan gak mau bantu kak Nur, tapi kak Nur nya yang gak mau dibantu sama aku." ucap Nawal dengan manis.


"Masa sih? Emang begitu sayang?" tanya Jordan pada istrinya.


"I-i-iya mas.." jawab Nur agak gugup.


Kegugupan Nur membuat Jordan semakin curiga, namun pada akhirnya ia pura-pura percaya saja dan terus memantau Nawal.


"Yasudah, kamu bantu aja kak Nur buat cuci piring ya Nawal! Kasihan dia kalau nyuci sendirian, itu banyak loh piringnya! Biar soal bingkisan, nanti aku yang siapin." pinta Jordan.


"Iya bang, sini aku bantu kak!" ucap Nawal.


Nur mengangguk saja, membiarkan Nawal melakukan apa yang dia ingin lakukan, walau Nur tahu Nawal hanya berpura-pura saja.


Sementara Jordan melangkah pergi dan mulai menyiapkan sesuatu untuk ia berikan kepada ibunya saat hendak pulang nanti.



__ADS_1


Grey, Sahira, Raisa serta Fadia alias ibu dari Grey itu masih terduduk bersama di sofa ruang tamu untuk membahas mengenai masalah yang menimpa Grey belakangan ini.


Fadia sungguh penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada Grey, sampai putrinya itu harus pergi dari rumah dan jarang mengabarinya.


"Jadi sayang, apa yang kamu alami sebenarnya? Kamu cerita aja sama mama sekarang, mama pasti bakal dengerin cerita kamu kok!" ucap Fadia bertanya pada putrinya.


Grey masih tampak bingung dan ragu untuk menceritakan semuanya pada sang mama, ia terdiam lesu sembari terus melirik ke arah Sahira dan Raisa dengan wajah bingungnya.


"Udah Grey, lu jelasin aja semuanya ke nyokap lu! Jangan takut gitu!" ucap Raisa.


"Iya, ayo kamu cerita sayang! Atau kamu mau minum lagi supaya makin tenang?" ujar Fadia.


"Eee gausah mah, aku udah kembung. Iya deh, aku bakal ceritain semuanya ke mama sekarang. Tapi, mama tolong jangan benci sama aku ya atau marah setelah tahu semuanya!" ucap Grey.


"Gak ada alasan mama harus benci kamu sayang! Apapun masalah yang kamu alami, mana mungkin mama bisa benci sama kamu? Justru mama akan bantu kamu buat selesaikan semua masalah kamu!" ujar Fadia.


"Makasih mah!" ucap Grey tersenyum.


"Yaudah, kamu cerita ya sayang sama mama! Mama udah penasaran nih daritadi nungguin cerita kamu," ucap Fadia.


"I-i-iya mah.." ucap Grey grogi.


"Jadi begini, waktu itu aku sempat ditawari buat ikut les tambahan sama guru olahraga aku di sekolah supaya bisa tambah nilai aku. Karena aku kira kelas tambahan itu bukan cuma aku yang ikut, akhirnya aku mau-mau aja dan datang ke tempat yang diminta sama dia." ucap Grey.


Terlihat Fadia menampilkan wajah bingung, ia masih belum menangkap apa yang dimaksud oleh putrinya itu saat ini.


"Lalu, apa yang terjadi sayang begitu kamu datang ke tempatnya?" tanya Fadia penasaran.


"Eee disana ternyata cuma ada aku dan dia, dia bilangnya karena hanya aku yang nilainya dibawah rata-rata. Yaudah aku masih percaya aja, karena awalnya dia juga cuma ajarin aku beberapa cara olahraga yang benar." jawab Grey.


"Tapi, keanehan muncul saat dia mulai sentuh-sentuh bagian tubuh aku yang sensitif. Ya dari situlah guru olahraga yang aku kira orang baik ternyata punya niat gak bener, dan aku yakin mama bisa tau gimana kelanjutannya." sambungnya.


Fadia terkejut bukan main mendengarnya, ia sampai menganga lebar dan membuka kedua matanya seakan tak percaya.




Elargano menemui temannya si ahli melacak sesuatu untuk meminta bantuan padanya.


Mereka bertemu di sebuah cafe, temannya itu sudah berada disana lebih dulu sebelum El datang dan namanya adalah Frengki.


"Jadi bro, apa yang bisa gue bantu?" tanya Frengki.


"Begini bro, gue mau minta bantuan lu buat lacak salah satu nomor yang bikin gue penasaran. Setahu gue, lu itu kan ahli dalam hal-hal yang kayak ginian. Siapa tahu aja lu bisa gitu cari tahu tentang nomor ini, soalnya gue butuh banget informasi tentang siapa pemilik nomornya!" jelas El.


"Tenang aja bro, insyaallah gue bisa bantu lu buat lacak tuh nomor! Nah sekarang masalahnya, mana nomor yang harus gue lacak? Yakali gue bisa lacak tanpa tahu nomornya, haha.." ujar Frengki tertawa.


"Iya bro, gue tahu kok. Sebentar ya.." ucap El sembari mengambil ponselnya dari saku celana dan menunjukkan nomor itu kepada Frengki.


"Nah, ini dia bro nomornya!" sambung El.


Frengki melihat sekilas nomor itu, lalu mencatatnya di ponsel miliknya untuk ia simpan.


"Udah gue catat nih bro, tinggal tunggu aja info lebih lanjut dari gue karena gue butuh waktu buat cari tau siapa yang punya nih nomor!" ucap Frengki kepada El.


"Oke bro! Lu kabarin gue aja kalo udah berhasil dapetin info tentang nomor ini! Semoga gak terlalu lama ya!" ucap Elargano.


"Siap bro! Sebentar kok," ucap Frengki tersenyum.


"Yaudah, thanks ya udah mau bantu gue! Kalo gitu gue pergi dulu, gue masih harus urusin yang lainnya!" ucap Elargano pamit.


"Oke bro! Gue juga mau langsung balik dan lacak nih nomor pakai alat di rumah," ucap Frengki.


Keduanya saling mengangguk dan berdiri, tak lupa mereka juga berjabatan tangan sebelum pergi dari sana.


Saat El tiba di parkiran, ia malah tak sengaja menyenggol seorang gadis yang baru keluar dari mobilnya.


"Duh! Maaf maaf gue gak sengaja!" ucap El.


"Gapapa kok, aku.." ucapan gadis itu terjeda saat ia menyadari yang menabraknya adalah Elargano.


"El? Kamu ada disini juga?" ujarnya.


"Loh, Adel? Kamu ngapain kesini? Ada janji ya sama orang?" tanya El heran.


"Iya nih, aku mau ketemu teman." jawab Adelia.


"Ohh yaudah ya, kalo gitu gue balik dulu! Sekali lagi sorry karena tadi gue udah nabrak lu!" ucap El pamit pada Adelia.


Elargano hendak pergi, namun Adelia menahan tangannya dari belakang.


"Tunggu El!" teriaknya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2