
"Ara sayang "
Suara lembut seseorang yang tak lain adalah Umi dapat menghentikan aksi Zanara.
"Ara Kau kenapa seperti ini, Tak baik melakukan itu pada orang lain sayang"
Ucap lembut umi membuat Zanara melepaskan cengkramannya pada rambut Ayumi dan berbalik menatap umi dengan mata berkaca kaca.
"B-unda " lirih Zanara langsung memeluk umi dengan air mata yang sudah tumpah.
Para santri itu terbengong melihat Perempuan bar bar itu menangis di pelukan umi.
Sama halnya dengan Gus zay Atau pria bernama panjang Zaydan Hidyatullah itupun termenung melihat kedekatan umi dengan gadis bar bar itu.
" Umi "
Panggil Gus Zay tapi umi menghentikan nya dengan mengangkat tangannya.
"Kalian bisa pergi dari sini dan Ayumi kamu juga bisa pergi "
Ucap Gus Zay menyuruh bubar para santri itu.
Ketika mendengar Gus Zay berbicara Zanara sadar seketika dan melepas pelukannya dengan umi.
"Ma-afkan aku umi "
Ucap Zanara dengan menghapus air matanya.
"Tidak Apa apa Ara kamu bisa memeluk umi dan berkeluh kesah pada umi semaumu"
"Apa kamu merindukan bundamu? kamu bisa menghubunginya menggunakan handphone umi"
Ucap umi dengan menyodorkan Handphonenya.
"Tidak umi tidak usah, bunda tak akan bisa Ara hubungi lagi"
Lirih Ara yang masih di dengar oleh Umi dan Gus Zay yang masih berdiri di situ.
"Apa Ara boleh tinggal disini untuk sementara?
Tanya Ara menatap umi.
"Tentu nak kamu boleh tinggal disini selama yang kamu mau"
"Terima kasih umi"
"Oh ya Ara perkenalkan ini Zaydan Putra umi"
Ucap umi memperkenalkan Putranya.
"Dan Zay ini Ara dia ini yang pingsan karena menabrak pohon tadi"
Ucap umi memperkenalkan Ara pada putranya. Ara pun menatap Zay dengan tatapan horornya, Zay yang di tatap seperti itu menundukkan wajahnya.
" Ternyata dia anak umi, dia sok baik di depan umi " batin Ara
"Gadis ini akan tinggal disini, bagaimana jika dia berulah lagi" batin Ustadz Zay
Di kediaman Malik.
Tok
Tok
Tok
" Masuk "
Suara berat Tuan Arman
mempersilahkan masuk.
"Maaf mengganggu waktunya Tuan, Saya sudah menemukan informasi keberadaan Nona Zanara tuan"
__ADS_1
Ketika mendengar nama Zanara Tuan Arman langsung menatap Anak buahnya tersebut.
"Katakan"
" Nona Zanara berada di Pesantren yang terletak di Pedesaan kecil Tuan"
"Siapa Pemilik pesantren itu?"
" Dia...
Di Pesantren
"Umi tanya pada kalian semua, kenapa Ara bisa berbuat kasar pada Ayumi?"
"Mbak Ayumi menyinggung mbak Ara dengan perkataannya Umi"
Terang salah satu Santri yang bernama Sifa itu.
" Betul umi"
jawab santri yang lain
"Menyinggung Bagaimana?
" Mbak Ayumi menyinggung didikan bundanya Mbak Ara umi"
Jawab Sifa.
"Maafkan saya Umi, saya berbicara seperti itu karena Mbak Ara berbicara tidak sopan pada Gus Zay"
Ucap Ayumi membela diri.
"Memangnya kamu tau masalah Ara dengan Zay?"
"T-Idak Umi"
"Jika belum tau untuk apa kamu menghakiminya dengan perkataanmu?
"Ingatlah jangan menyimpulkan sesuatu sebelum mengetahui pasti kebenarannya, apalagi sampai menghakimi dengan perkataan yang sensitif"
"Iya umi maafkan Ayumi"
"Jangan meminta maaf pada umi tapi pada Ara"
Ditempat lain terdapat Zanara sedang berjalan tertatih tatih, dengan wajah yang di tekuk.
"Ckk tempat ini sangat membosankan"
Decak Ara kesal
Dug
Ketika sibuk mengomel tidak jelas dan berjalan melihat depan Ara menabrak dada bidang seseorang.
"Lo, lo lagi lo lagi kenapa selalu ada lo dimana mana"
Omel Ara pada pria yang di tabrak tadi yaitu Gus Zay.
"Karena saya juga tinggal disini, Dan kamu yang menabrak saya tapi kamu yang malah marah"
Ucap Gus zay.
"Lo sama menyebalkan nya dengan tempat lo yang membosankan ini"
" Jika kamu tidak suka dengan saya ataupun dengan Pesantren ini, Silahkan pergi"
Ucap Gus Zay membalas ucapan Ara.
" Lo ngusir gue, gara gara lo gue nabrak pohon sampai kaki gue sakit ya, Gue akan pergi kalo kaki sialan ini sembuh"
"Saya tidak mengusir kamu tapi saya hanya menyarankan jika tidak suka silahkan pergi jangan berulah, dan saya sudah meminta maaf atas kaki kamu itu, Saya permisi Assalamaualaikum"
Setelah mengatakan itu Gus Zay berlalu pergi.
__ADS_1
"Gue akan pergi tanpa lo minta gus, dasar Agus"
Teriak Ara kesal pada Gus Zay yang pergi meninggalkannya.
"Aiss Dasar Agus, menyebalkan "
Saat sedang sibuk mengomel tiba tiba saja seorang santri menghampirinya.
"Assalamualaikum mbak "
" Ngapain lagi lo mau gue jambak lagi"
"Eenggak mbak, saya kesini ingin meminta maaf atas ucapan ayumi tadi"
"Minta maaf? Hahaha Gue gak percaya ssma lo jangan jangan lo di suruh umi kan "
"kalo aja umi enggak nyuruh aku buat minta maaf pada cewek galak ini"batin Ayumi
"Ngapain lo diem aja, jangan sok minta maaf kalo lo gk ingin paham lo "
Ucap Ara berlalu pergi meninggalkan Ayumi yang masih mematung di tempat
"Masih untung aku mau minta maaf, dasar cewek sombong"Gumam Ayumi
Di kediaman Malik
" Ayah "
Panggil Arka pada sang ayah.
"Hm kamu sudah pulang, bagaimana sekolahmu?
"Baik, Andai aja dulu ayah juga bertanya dan memperhatikan kakak seperti ayah memperhatikanku pasti kakak tidak akan benci padaku"
Ucap Arka dengan berkaca kaca menahan tangis.
"Jika dulu Ayah sedikit saja memperhatikan Kakak, pasti kakak tidak akan merasa sendiri dan semua ini tidak akan terjadi"
"Aar-ka "
Ucap Tuan Arman.
"Cukup yah, Ayo ikut aku"
Ucap Arka menyeret ayah nya menuju kamar Ara.
" Lihat ini, kakak lebih Cerdas dan prestasi dari pada aku tapi ayah tak pernah menghargainya ayah tak pernah memujinya, itu sebabnya kakak membenciku karena iri, itu semua gara gara ayah"
Teriak Arka memperlihatkan semua penghargaan yang di dapat kan oleh kakaknya dengan menangis.
"Ada apa ini "
Tiba tiba Arini masuk kedalam kamar Ara yang terdapat dua orang pria menangis yang tak lain adalah suami dan putranya.
"Sayang, Ada apa nak"
Saat sang ibu bertanya Arka pergi keluar tanpa menjawab pertanyaan sang bunda.
"Mas, Ada apa ini"
Tanya Arini beralih pada suaminya.
"Lihat ini Sayang Putri ku mendapatkan prestasi sebanyak ini tapi aku sebagai ayahnya tak tau apapun"
"Lihat betapa malang nya nasib Putriku memiliki Ayah sepertiku"
Ucap Tuan Arman dengan menangis tergugu, Dia memeluk sang istri dengan menangis, sang istripun dengan lembut mengusap punggung suaminya untuk menenangkannya.
"Tidak mas mungkin disini ada salah paham, Ara yang merasa kamu tak menyayanginya tapi dia tidak tau betapa sayang ayahnya padanya. Sedangkan kamu yang mendidiknya terlalu keras sehingga ia merasa kamu tak lagi mencintainya"
Ucap Arini menenangkan suaminya.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa Kritik, saran dan juga dukungannya dengan Vote like dan komen 💪