Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Tuduhan Elargano


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 66.




"Ibu?" ujar Jordan dengan wajah tak suka.


Sontak Sahira sadar bahwa ucapannya barusan tak disukai oleh sang abang, ia pun menoleh ke arah Nur dengan bingung karena khawatir jika Jordan marah-marah nantinya.


"Mas, kamu jangan marah dulu! Gimanapun juga, ibu yang udah bantuin soal biaya rumah sakit kamu mas! Ibu itu sayang banget sama kamu dan Sahira, jadi sebaiknya kamu gak boleh bersikap begitu ke ibu kamu sendiri ya!" ucap Nur.


"Iya bang, aku gak mau ada perpecahan di keluarga kita! Jujur aku senang banget loh waktu lihat ibu pulang ke rumah, aku pengennya kita tinggal bareng dan bahagia sama ibu! Aku tahu alasan abang benci sama ibu, tapi itu kan masa lalu dan sekarang ibu udah gak gitu lagi! Biar gimanapun kan ibu itu ibu kandung kita, jadi kita harus hormat sama ibu, bang!" ucap Sahira membujuk Jordan.


Jordan hanya terdiam memalingkan wajahnya, ia masih belum bisa memaafkan kesalahan ibunya yang sudah meninggalkan ia dan juga Sahira.


Namun, entah mengapa melihat Sahira bersedih seperti itu membuat Jordan enggan untuk meluapkan emosinya, justru ia berpikir mungkin ia bisa menerima kembali sang ibu demi kebahagiaan adiknya yang sudah ingin sekali bisa bertemu ibu kandungnya sejak dulu.


"Bang, abang jangan marah lagi ya sama ibu! Kalau abang mau, abang bisa marah sama aku! Aku gak tega lihat ibu sedih waktu abang maki-maki ibu, aku juga gak mau abang jadi anak yang durhaka!" ucap Sahira memohon pada abangnya.


Jordan kembali menatap Sahira, perlahan kini wajahnya mulai seperti semula dan amarah yang tadi terlihat sudah hilang.


"Iya Sahira, kamu gak perlu cemas! Gue bakal terima ibu demi lu!" ucap Jordan pelan.


Sahira pun tersenyum senang, ia menghapus air mata yang sempat keluar lalu memeluk Jordan dengan erat.


"Makasih ya bang!" ucap Sahira tersenyum manis.


"Iya iya, lepas dong Sahira ini gue sesak kalo lu terus peluk gue begini!" ucap Jordan.


"Eh maaf bang maaf, gak sengaja!" ujar Sahira.


"Gapapa, yang penting lu bahagia!" ucap Jordan.


Nur tersenyum menyaksikan momen indah tersebut, ia sangat senang ketika melihat kedua kakak beradik itu saling terlihat bahagia, karena sebelumnya Sahira selalu bersedih saat abangnya masih dalam keadaan kritis.


"Oh ya bang, abang udah makan belum? Kalau belum mau makan bareng aku gak?" tanya Sahira.


"Eee tadi sih udah, emangnya lu sendiri belum makan siang?" ucap Jordan.


Sahira menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jordan bahwa ia memang belum makan sedari siang tadi.


"Loh kenapa belum? Ini udah mau sore loh!" ujar Jordan merasa cemas.


"Eee iya bang, tadi kan aku langsung kesini karena aku senang banget begitu dikasih kabar kalau abang udah sadar. Jadinya aku belum sempat makan siang deh, tapi gapapa kok bang nanti aja aku makannya begitu pulang dari sini!" ucap Sahira tersenyum renyah.


"Hey, jangan dong! Ayo makan dulu sana, gue baik-baik aja kok disini lagian ada Nur juga yang jaga gue! Lu lebih baik makan aja, kesehatan lu juga penting sayang!" ucap Jordan.


"Iya bang, abis ini aku makan kok!" ucap Sahira.


"Yaudah, lu makan dulu sana! Daritadi perut lu udah punya terus tuh, sampe kedengaran di telinga gue!" ujar Jordan tersenyum tipis.


"Iya Sahira, kamu makan aja dulu! Biar aku yang jaga mas Jordan disini, insyaallah mas Jordan bakal baik-baik aja kok! Kamu kan juga perlu makan Sahira!" ucap Nur.


"Baik kak! Eee bang, aku keluar dulu ya? Tapi nanti aku langsung balik kesini kok!" ucap Sahira.


"Santai aja! Gue kan gak kemana-mana, tetap disini sampai gue sembuh!" ucap Jordan.


"Ahaha iya bang..."


Sahira pun berjalan keluar dari sana, ia kembali menemui ibunya di depan.



__ADS_1


Ratna dan Thoriq yang sedang menunggu di luar sana, kompak berdiri begitu melihat Sahira keluar dari dalam ruangan itu. Mereka menghampiri Sahira untuk menanyakan mengenai kondisi Jordan yang sedang dirawat di dalam.


"Sayang, gimana keadaan abang kamu nak? Dia udah membaik atau belum?" tanya Ratna dengan nada cemas.


"Alhamdulillah Bu! Bang Jordan sekarang udah baikan, dia juga udah bisa ngobrol lagi walau masih pelan. Ya cuma dia masih butuh perawatan lagi, karena kondisinya sangat lemas!" jawab Sahira.


"Wajar sih, kan abang kamu baru sadar dari masa krisisnya. Yang terpenting dia sekarang udah membaik, ibu senang banget!" ucap Ratna.


"Iya Bu, aku juga senang banget karena bang Jordan udah bisa sadar dan bicara lagi sama aku! Eh ya, ibu mau masuk ke dalam gak jenguk bang Jordan?" ucap Sahira tersenyum.


"Eee kayaknya enggak untuk sekarang sayang, ibu takut malah bikin kondisi abang kamu makin kritis nantinya! Kan kamu tahu sendiri, sebelumnya abang kamu itu gak suka sama ibu pas ibu datang ke rumah kalian! Bisa-bisa dia kritis lagi, kalau ibu masuk ke dalam nantinya!" ucap Ratna.


"Iya sih Bu, tapi tadi bang Jordan udah bilang kok kalau dia mau terima ibu!" ucap Sahira.


"Yang benar kamu sayang?" tanya Ratna.


"Iya Bu, bang Jordan sendiri kok yang bilang sama aku di dalam tadi. Katanya bang Jordan juga udah maafin ibu, dan dia mau tinggal lagi sama ibu begitu dia sembuh nanti!" jawab Sahira.


"Syukurlah kalau itu memang benar! Tapi, untuk sekarang kayaknya ibu tunda dulu deh buat ketemu abang kamu, ibu takutnya dia masih kecewa dan belum bisa maafin ibu sepenuhnya!" ujar Ratna.


"Yaudah Bu, gapapa kok. Semoga aja nanti kita bisa tinggal sama-sama lagi ya, Bu!" ucap Sahira tersenyum memeluk ibunya.


"Aamiin sayang!" ucap Ratna.


"Sahira, kamu makan dulu gih! Itu aku udah beliin makanan buat kamu!" ucap Thoriq.


"Oh iya, ibu sampai lupa suruh kamu makan sayang! Yaudah ya Sahira, kamu lebih baik makan dulu aja supaya gak sakit! Pasti kamu belum makan siang kan sayang?" ucap Ratna.


"Eee iya sih Bu, kebetulan aku juga keluar karena pengen makan. Tadi bang Jordan yang nyuruh aku buat makan dulu, makasih ya Bu udah beliin makan buat aku! Jadinya aku gak perlu repot-repot ke kantin deh!" ucap Sahira tersenyum.


"Bukan ibu yang beli sayang, itu barusan Thoriq yang ke kantin dan belikan makanan untuk kamu!" ucap Ratna terus membelai rambut Sahira.


"Hah??" Sahira terkejut.


Gadis itu bahkan sampai menatap ke arah Thoriq, mulutnya terbuka lebar membuat Thoriq agak gugup saat ditatap seperti itu, namun ia sedikit suka karena Sahira terlihat sangat cantik.


"Ah iya, sama-sama Sahira. Gue beli juga karena disuruh ibu kok, udah yang penting sekarang lu makan biar gak sakit!" ujar Thoriq.


"Oke! Bu, aku makan dulu ya?" ucap Sahira.


"Iya sayang, silahkan!" ucap Ratna.


"Ibu sama bang Thoriq udah makan?" tanya Sahira.


"Udah kok," jawab Ratna dan Thoriq bersamaan.


Sahira pun berjalan ke arah tempat duduk, membuka bungkus plastik berisi makanan dan memakan itu disana dengan sangat lahap, ya Sahira memang sudah lapar karena sedari tadi ia belum makan.




Malam harinya, Keira yang baru pulang ke rumah diantar Ibrahim merasa terkejut melihat sosok El berdiri tepat di depan gerbang rumahnya sambil melipat kedua tangan lalu memandang ke arahnya dengan tatapan sinis seperti orang yang emosi.


Keira pun turun dari motor Ibrahim, melepas helm kemudian menyerahkannya pada pria itu.


"Baim, makasih ya udah anterin gue pulang! Yaudah, sekarang lu bisa balik kok kalo lu mau! Gue kan udah sampai di rumah!" ucap Keira.


"Kenapa Kei? Kamu gak pengen ya pacar kamu itu ketemu sama aku? Biarin aja lah Kei, dia aja tadi terang-terangan tuh peluk cewek lain di depan kamu tanpa rasa malu!" ujar Ibrahim.


Keira terdiam sejenak memikirkan perkataan Ibrahim, menurutnya benar juga karena tadi pun El terlihat memeluk Sahira di hadapannya.


"Iya sih, lu benar Him!" ucap Keira.


"Yaudah, sekarang aku temenin kamu ya sampai depan gerbang? Sekalian aku mau bicara sama pacar kamu itu buat lepasin kamu dan biarin aku yang jaga kamu!" ucap Ibrahim tersenyum.

__ADS_1


Keira hanya mengangguk setuju, seakan-akan kini pikirannya telah dikendalikan oleh pria itu dan ia tak bisa berbuat apa-apa.


Mereka pun melangkah ke dekat gerbang menghampiri Elargano disana, sebenarnya Keira masih ragu untuk itu karena ia khawatir akan terjadi keributan di depan rumahnya, namun apa boleh buat dirinya sudah dikendalikan oleh Ibrahim melalui gelang yang ia kenakan.


"El, kamu lagi ngapain disini? Bukannya kamu harus nemenin Sahira di rumah sakit, kan kasihan abangnya lagi kritis butuh bantuan dari kamu!" ucap Keira dengan nada ketus.


"Bang Jordan udah sadar, kondisinya membaik jadi aku bisa kesini temuin kamu!" ucap Elargano.


"Oh gitu, ya bagus deh! Terus sekarang kamu mau apa datang kesini? Kalau kamu mau ketemu sama aku, maaf gak bisa udah malam!" ucap Keira.


"Bukan kok, aku cuma pengen tahu aja kamu abis darimana dan sama siapa. Sekarang aku udah cukup puas kok sayang, karena aku tahu kamu pergi dengan laki-laki lain! Pantas aja kamu gak bisa dihubungin, karena kamu lagi asyik sama dia di jalan! Aku benar-benar heran sama kamu Keira, kenapa belakangan ini kamu jadi berubah!" ujar El.


"Berubah apanya? Justru kamu yang berubah! Karena kamu lebih mentingin orang lain daripada aku, apalagi tadi aku dengan jelas lihat kalau kamu lagi peluk Sahira di depan sekolah aku! Jadi, apa salahnya kalau aku pergi sama Ibrahim?" ucap Keira tegas.


"Ohh jadi kamu cemburu sama sahabat kamu sendiri sayang? Bukannya kamu yang bilang ya, kalau Sahira itu sahabat kamu dari kecil? Lantas kenapa kamu malah cemburu sama dia? Kamu itu udah dirusak Keira, sejak kamu pakai gelang gak jelas itu! Sebaiknya kamu copot gelang itu, atau kamu akan semakin terbawa alur permainan laki-laki di sebelah kamu itu!" ucap Elargano.


"Maksud kamu apa sih? Lagi-lagi kamu sangkut pautkan masalah kita sama gelang ini, apa kamu udah gak waras ya? Ini semua gak ada hubungannya sama gelang!" ujar Keira.


"Ada Keira! Kamu tolong percaya sama aku kali ini aja, lepas gelang itu sebelum terlambat!" ujar El.


"Enggak El, aku gak mau!" ucap Keira menggeleng.


Gadis itu dengan penuh emosi memilih berjalan masuk ke dalam rumahnya, ia meninggalkan El serta Ibrahim begitu saja disana tanpa perduli dengan apa yang akan terjadi nantinya, nampaknya Keira masih bingung mana yang harus ia percaya untuk saat ini.


"Hiks hiks... aku harus gimana sekarang? Benar sih yang dibilang El tadi, Sahira itu sahabat aku dan gak seharusnya aku cemburu sama dia! Tapi, yang dibilang Ibrahim juga selalu bikin aku overthinking!" gumam Keira dalam hati.




Disaat Ibrahim hendak pergi dari sana, tanpa disadari Elargano menepuk pundaknya menahan Ibrahim untuk tidak pergi begitu saja.


"Tunggu! Lu gak boleh pergi seenaknya kayak gitu, setelah lu bikin pacar gue berubah! Sekarang gue tau, lu orangnya! Lu pelaku yang udah bikin sikap Keira jadi berubah!" ucap Elargano tegas.


"Maksud kamu apa sih? Saya gak ngerti, jangan asal bicara deh!" ucap Ibrahim berpura-pura.


"Halah basi lu! Sekarang lu ikut gue, kita bicara disana yang agak jauhan dari sini!" ucap El menarik kerah jaket Ibrahim dan membawanya pergi.


"Eh eh eh kamu mau bawa saya kemana?" Ibrahim terlihat berontak, namun sia-sia.


"Udah diem lu!" bentak Elargano kesal.


Elargano sudah diambang kekesalan, ia tak perduli lagi dengan berbagai elakan dari Ibrahim karena ia yakin Ibrahim lah yang sudah memelet Keira dan menyebabkan gadisnya itu berubah sejak memakai gelang aneh tersebut.


"Heh! Sekarang lu ngaku ke gue, lu kan yang udah kasih gelang itu ke Keira!" ujar Elargano.


"Hah? Apaan sih? Saya gak ngerti dengan yang kamu omongin, ini kita lagi bahas apa sih?" ucap Ibrahim masih mengelak.


"Lu mau ngaku, atau gue buang lu ke sungai!" ucap El mengancam Ibrahim.


Ibrahim tersentak mendengar ancaman dari El, ia benar-benar ketakutan karena El terus saja menekannya, ia bingung saat ini harus bagaimana untuk bisa lepas dari cecaran pria tersebut.


"Jangan diem aja, jawab!" bentak El.


"I-i-iya bang, saya ini beneran gak tahu apa-apa bang. Tadi saya cuma berniat menghibur Keira, itu aja kok!" ucap Ibrahim.


"Menghibur? Ngapain lu pake segala hibur cewek gue? Emang lu gak tahu kalo Keira itu udah punya pacar, dan itu gue?! Palingan lu cuman modus kan, supaya lu bisa deketin Keira!" ujar Elargano.


"Enggak bang, serius! Saya tadi kasihan aja ngeliat Keira sedih pas di sekolah!" ucap Ibrahim.


"Halah banyak alasan lu! Gue tahu lu suka sama Keira, dan karena itu lu datang ke dukun supaya lu bisa deketin Keira, iya kan?!" tegas El.


"Buat apa saya begitu, bang? Gak ada untungnya, yang ada saya malah berdosa!" ujar Ibrahim.


Elargano geleng-geleng kepala, peringai Ibrahim yang seperti itu membuatnya agak ragu bahwa Ibrahim adalah pelaku yang sudah mengirim pelet untuk Keira melalui gelang.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2