
#SangPemilikHati Episode 83.
...•...
..."Berharap suatu saat nanti, kau dan aku kan bertemu lagi, seperti yang kau ucapkan sebelum kau tinggalkan aku."...
...•...
"Nah kak, ini dia anak kos disini yang kenal sama orang yang kakak cari. Ayo kak Nisa kenalan sama mereka!" ucap Vava yang baru kembali bersama seorang gadis penghuni kosan itu.
Sontak Sahira amat terkejut begitu melihat gadis yang dibawa oleh Vava, matanya terbelalak lebar tak menyangka kalau yang dilihatnya saat ini adalah Anisa, teman sekolahnya dan juga sahabat sejati Grey di sekolah.
Sahira dan El pun kompak berdiri, mereka menatap ke arah Anisa dengan tampang keheranan. Sedangkan Anisa hanya terdiam menundukkan kepala, membuat Vava selaku anak pemilik kos itu merasa bingung.
"Anisa? Jadi, lu yang ngekost disini dan kemarin tuh Grey temuin lu, iya?" ujar Sahira.
"Loh loh, ini kalian udah saling kenal? Kak Sahira kamu kenal sama kak Nisa?" tanya Vava kebingungan.
"Sssttt, kamu diem aja dulu ya Vava!" ujar El.
Sahira kembali menyikut pinggang El dan menatapnya tajam.
"Awhh apaan sih lu!" ujar El meringis.
"Lu kenapa begitu ke Vava? Gak sopan tau, kan dia yang tuan rumah disini! Lu emang gak pernah diajarin sopan santun apa sama bokap nyokap lu? Katanya orang kaya!" ujar Sahira.
"Yeh salah aja terus, gue kan cuma mau bilang ke Vava buat diem dulu dan biarin lu ngobrol sama si Anisa itu. Apa salah?" ucap El membela diri.
"Ya jelas salah! Harusnya lu yang diem!" ujar Sahira.
"Ah terserah lu aja dah! Emang wanita selalu gak mau kalah, pengennya bener terus!" cibir El ngambek kemudian kembali duduk di sofa.
"Haish, dasar baperan!" ujar Sahira.
"Eee udah udah kak, jangan pada ribut gitu! Aku minta maaf ya tadi lancang, sekarang mending kalian lanjut bicara aja sambil duduk deh! Kak Nisa, duduk aja disana bareng mereka! Aku mau ke kamar dulu ya?" ucap Vava.
"Iya Va, makasih udah dipanggilin orangnya! Aku juga minta maaf sama kamu, karena teman aku ini emang gak punya adab! Kalau kamu mau tahu, Anisa ini teman sekolah aku!" ucap Sahira.
"Oh gitu ya kak, pantes dong tadi kak Sahira kayak kaget gitu pas lihat kak Nisa!" ucap Vava.
"Iya begitu Va," ucap Sahira tersenyum.
"Yaudah deh kak, kalo gitu aku mau ke kamar dulu ya? Kalian bertiga silahkan aja ngobrol disini, gak perlu sungkan! Kalau butuh apa-apa, tinggal panggil aja mbok Ratmi di belakang!" ujar Vava.
"Iya Vava, makasih! Aku pinjam dulu ya Anisa nya buat diajak bicara?" ucap Sahira.
"Ahaha bisa aja kak Sahira, emangnya kak Nisa ini barang apa?" Vava tertawa sambil menutupi mulutnya.
Setelahnya, Vava pun berbalik lalu pergi dari sana meninggalkan ketiga manusia itu.
Sahira mengarahkan pandangan ke wajah Anisa yang masih tertunduk, raut Sahira pun berubah seketika dari senyum renyah menjadi tatapan menelisik penuh kecurigaan.
"Anisa, ayo duduk!" pinta Sahira.
Gadis itu hanya mengangguk perlahan, kemudian duduk di sofa berhadapan dengan Sahira serta El yang duduk berdampingan.
"Lu kenapa bohong sama gue dan Raisa di sekolah tadi? Katanya lu gak ketemu sama sekali sama Grey belakangan ini, tapi nyatanya Grey datang ke kos-kosan lu kemarin. Kenapa sih lu tutupin ini dari gue sama Raisa?" ucap Sahira bertanya pada Anisa.
"Jangan diem aja! Jawab pertanyaan Sahira biar semuanya jelas!" bentak El geram karena Anisa hanya diam sedari tadi, namun Sahira langsung menatapnya tajam bersiap memarahinya.
"Cukup El! Kali ini lu gak perlu ikut campur, gue aja yang bicara sama Anisa. Abisnya mulut lu itu gak bisa dikontrol sih, nyaut mulu daritadi!" ucap Sahira menegur Elargano.
"Salah lagi nih gue?" ucap El dengan wajah memelas.
"Ya iyalah, pake nanya lagi!" jawab Sahira ketus.
"Huft..." El menghela nafas lalu mengunci mulutnya.
"Anisa, maaf ya!" ucap Sahira kembali menatap gadis di hadapannya itu.
"Gapapa kok," ucap Anisa yang akhirnya mau bersuara.
"Nah gitu ngomong, jangan diem aja kayak orang bisu!" celetuk El.
Lagi-lagi Sahira emosi dengan El, gadis itu reflek mencubit paha El dan membuat pria itu meringis kesakitan.
"Awhh aduh aduh sakit banget gila!" rintih El.
"Rasain! Suruh siapa gak bisa diem!" ujar Sahira.
"Aduh perih banget cubitan lu gila! Bisa biru nih paha gue!" ucap El memelas sembari mengusap bekas cubitan Sahira di pahanya.
__ADS_1
❤️
Sementara itu, Farhan yang berada di depan saat ini tengah bersembunyi dibalik tembok tepatnya di bawah jendela rumah untuk bisa menguping pembicaraan Sahira di dalam sana.
Farhan sangat penasaran dan ingin tahu apa yang dilakukan Sahira serta El disana, maka dari itu ia terus menguping beharap dapat mengorek informasi mengenai niat Sahira datang kesana.
"Duh, gue masih kurang jelas lagi dengarnya. Apa gue coba maju lagi kali ya?" ujarnya.
Pria itu mendongak dan bangkit secara perlahan berupaya mengintip melalui jendela, matanya terbelalak lebar saat melihat sosok gadis yang ia kenali sebagai Anisa alias teman sekolahnya itu ternyata ada di dalam sana.
"Loh itu kan temannya si Sahira yang waktu itu nemenin dia di UKS pas gak sengaja ketimpuk bola voli, jadi ternyata Sahira cuma nyamperin temannya. Berarti dia ngekost disini dong? Tapi, itu kenapa ya mereka kayak serius banget?" gumam Farhan merasa bingung plus penasaran.
"Ah kepo banget gue! Gimana ya caranya supaya gue bisa dengar obrolan mereka dengan jelas, tanpa harus ketahuan sama mereka?" ujarnya.
Farhan bergerak maju, namun ia malah tak sengaja menyenggol pot yang berjejer disana hingga terjatuh dan pecah. Tanah beserta bunga di pot tersebut pun ikut jatuh dan berantakan.
Braakkk...
"Waduh pecah lagi!" ucap Farhan spontan karena panik.
"Woi siapa itu?" rupanya El mendengar suara pecahan pot tersebut dan langsung berteriak untuk memastikan siapakah yang ada di depan sana.
"Kucing," Farhan menjawab dengan suara pelan.
"Ohh kucing, kirain orang."
"Huh selamat!" Farhan menghela nafas lega sembari mengelus dadanya.
"Tapi, gue harus cepat pergi dari sini! Sebelum si El itu curiga sama gue, iya iya gue pergi dulu sekarang! Nanti baru gue balik lagi kalau situasi udah memungkinkan," ucap Farhan.
Akhirnya Farhan memilih keluar dari sana mencari tempat persembunyian yang aman, ia khawatir kalau El tersadar nantinya.
Sahira yang juga mendengar suara pecahan tadi, masih terus penasaran dan melirik ke arah jendela luar kos-kosan itu.
"Heh El! Lu itu beg* apa gimana sih? Masa lu percaya gitu aja kalau tadi yang mecahin pot tuh kucing? Mana ada coba kucing yang bisa ngomong?" ujar Sahira.
El menggaruk kepalanya, "Oh iya ya, kok gue baru sadar ya?"
"Ah dasar lu! Mending lu coba cek sana ke depan, siapa tahu ada orang yang berniat jahat atau mau maling disini!" pinta Sahira.
"Iya iya..." El pun bangkit dari sofa lalu melangkah ke depan untuk mengecek siapa yang memecahkan pot tadi.
Akan tetapi, disaat El mengeceknya sudah tidak ada siapapun disana dan hanya tersisa pecahan pot serta tanah yang berserakan di lantai.
El pun kembali ke tempat duduk bersama Sahira serta Anisa, menyampaikan jika tak ada siapapun di luar sana.
"Gak ada siapa-siapa di luar," ucap El.
"Lah terus siapa dong yang mecahin pot itu?" tanya Sahira bingung.
"Udah dibilang kucing, gak percayaan sih lu!" jawab El santai lalu duduk di samping Sahira.
Sahira hanya melongok tak mengerti.
•
•
Singkat cerita, Sahira dan El pun pamit pada Anisa serta Vava untuk pulang, mereka telah selesai berbincang mengenai Grey karena Anisa juga sudah memberitahu pada Sahira alasan mengapa dia merahasiakan keberadaan Grey dari Sahira maupun Raisa.
Selain itu, Anisa juga memberikan nomor telpon Grey yang baru kepada Sahira agar gadis itu dapat menghubungi Grey dan bertanya langsung pada Grey dimana keberadaannya saat ini, karena Anisa pun tak tahu kemana Grey pergi setelah kemarin sempat datang ke kos-kosannya.
"Nisa, thanks ya infonya tentang Grey! Semoga aja Grey mau angkat telpon gue nanti dan kasih tahu dia ada dimana sekarang!" ucap Sahira.
"Iya Ra, gue juga minta maaf ya karena kemarin-kemarin gue udah bohong sama lu! Itu semua gue lakuin demi Grey, sorry juga gue gak tahu Grey ada dimana sekarang!" ucap Anisa.
"Gapapa Nisa, gue sama El bakal cari Grey terus kok sampai ketemu!" ucap Sahira tersenyum.
"Yaudah, kalau nanti lu dapat kabar atau udah ketemu sama Grey, kasih tahu gue juga ya! Biar gimanapun gue ini kan sohibnya Grey, gue pengen tahu lah kondisi dia sekarang kayak gimana!" ucap Anisa.
"Siap!" ucap Sahira mengangguk cepat.
"Eee Vava, makasih juga ya kamu udah bantu kita buat ketemu sama Anisa! Kamu itu baik banget deh!" ucap Sahira pada Vava.
"Sama-sama kak, aku kan juga pengen teman kakak itu cepat ketemu. Semoga setelah ini, teman kakak bisa ketemu ya!" ucap Vava.
"Aamiin!" semua kompak mengaminkan ucapan Vava.
"Yaudah, kita langsung balik aja yuk Ra! Ini udah mau malem tuh, jarak dari sini ke rumah lu kan jauh, nanti lu bisa kemalaman sampe di rumahnya!" ucap El mengajak Sahira segera pulang.
"Iya iya berisik lu!" kata Sahira.
__ADS_1
"Va, Anisa, kalo gitu kita berdua pamit dulu ya? Makasih sekali lagi karena udah bantu kita cari tahu info tentang Grey!" ucap Sahira.
"Iya Sahira, hati-hati ya kalian di jalan!" ucap Anisa.
"Bye!" Sahira tersenyum melambaikan tangan ke arah dua gadis itu.
"Bye juga!" ucap Anisa dan Vava.
Setelah berpamitan, kini Sahira serta El pun masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan kos-kosan tersebut. Sahira memakai sabuk pengaman sendiri, padahal tadinya Elargano berniat untuk memakaikannya.
"Gue anterin lu pulang ya?" ucap Elargano menatap Sahira sambil tersenyum.
"Iya, tapi sebelum itu gue mau coba telpon nomor Grey yang baru dulu. Gue penasaran kira-kira dia mau angkat apa enggak, ya?" ucap Sahira.
"Oh yaudah, telpon aja!" ucap Elargano.
Sahira mengangguk, kemudian menelpon nomor baru Grey yang tadi diberikan oleh Anisa.
"Maaf! Sisa pulsa pada kartu prabayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan."
Mendengar itu, Sahira pun reflek tersenyum renyah dan menatap ke arah Elargano. El juga ikut senyum sembari menggelengkan kepala.
"Gak ada pulsa nih mbak?" ledek Elargano.
"Ih jangan ngeledekin gue deh! Mending sekarang gue pinjam hp lu buat telpon nomor Grey, pasti orang sekaya lu punya pulsa dong? Gak mungkin lah kosong juga," ucap Sahira.
"Ya jelas gak mungkin lah! Yaudah nih, lu pake aja hp gue!" ucap El menyerahkan ponselnya pada Sahira.
"Oke!"
Sahira menampani ponsel tersebut, namun ia bingung ketika layar utama ponsel itu terkunci.
"Ini password-nya apa?" tanya Sahira.
"Tanggal jadian gue sama Keira," jawab El.
"Yeh si Malih, gue mana tau tanggal jadian kalian itu kapan!" ujar Sahira.
"Haha oh iya.. 21 Maret 2030." kata El.
"Oke!" Sahira segera memasukkan kata sandi tersebut di ponsel El, setelah berhasil barulah gadis itu mulai menelpon nomor Grey.
"Gimana? Diangkat gak?" tanya El penasaran.
"Ya belum lah somplak! Baru juga gue pencet tombolnya!" ucap Sahira.
"Santai aja kali, gausah ngegas gitu!" ujar El.
•
•
"Keira?" El terkejut saat melihat kekasihnya ada di ruang tamu rumahnya dan tengah bersama sang mama disana. "Kamu ngapain disini sayang?" sambungnya bertanya pada Keira sembari menghampiri gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu.
Keira dan Yolanda berdiri menatap El, terlihat raut kekesalan terpampang di wajah Yolanda ketika menatap putranya yang baru pulang itu.
"Darimana aja kamu El? Kenapa jam segini baru pulang? Kamu gak tahu apa, daritadi siang Keira disini nungguin kamu! Kasihan loh Keira, dia juga udah nunggu kamu di sekolahnya selama berjam-jam. Tapi, kamu malah gak datang buat jemput dia. Kamu ini sebenarnya abis pergi kemana sih El?" ujar Yolanda menegur El.
"Mah, tahan dong jangan emosi dulu! Aku itu abis temenin Sahira cari temannya yang hilang, aku gak jemput Keira ya karena itu. Lagian emangnya supir kamu gak jemput kamu sayang?" ucap Elargano.
"El kamu apa-apaan sih! Kok kamu malah bilang begitu sama Keira? Kamu ini emang gak punya perasaan banget ya jadi cowok, Keira ini pacar kamu loh! Bisa-bisanya kamu lebih milih temenin cewek lain dibanding dia!" ucap Yolanda.
"Aduh mah! Sahira itu bukan cewek lain, dia sahabatnya Keira juga kok!" ujar El menjelaskan.
"Masa sih? Benar begitu Kei?" tanya Yolanda.
"Iya tante, Sahira itu sahabat aku pas kecil. Kami sudah seperti saudara sendiri, karena kami sangat dekat dulu. Tapi, kamu kenapa gak bilang sih ke aku El kalau kamu mau pergi sama Sahira? Kamu juga gak mau balas chat aku tadi siang, segitu sibuknya ya kamu?" ucap Keira.
"Emang kamu chat aku ya? Duh maaf banget sayang, aku gak tahu! Tadi tuh emang iya aku sibuk cari teman Sahira yang pergi entah kemana, sekali lagi aku minta maaf ya Keira!" ucap El.
"Gapapa kok, yang penting kamu udah jelasin ke aku. Kalo gitu sekarang aku mau pulang dulu ya El, tante? Udah malam juga, takut mama sama papa nyariin aku nanti!" ucap Keira pamitan pada El serta Yolanda.
"Hah kok pulang sih? Kamu gak mau stay dulu disini, terus dinner bareng kita gitu? Katanya kamu pengen ketemu El kan? Ini El sudah datang, kamu makan mau pergi!" ujar Yolanda menahan Keira.
"Eee iya tante, soalnya kan udah lama juga aku disini. Gak enak lah tan," ucap Keira.
Elargano terdiam memandangi Keira, ia yakin ada yang tidak beres dari sikap Keira saat ini padanya. Keira memang lebih dingin dari biasanya, El pun tahu betul bahwa Keira sedang ngambek akibat dirinya tidak membalas pesan gadis itu.
"Ah elah Keira ngambek lagi! Padahal baru kemarin gue hibur dia, eh malah udah ngambek lagi aja!" gumam El dalam hati.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...