
#SangPemilikHati Episode 59.
•
•
Sahira keluar dari ruangan tempat abangnya dirawat itu dengan wajah sedihnya, ya baru saja ia selesai menemui Jordan di dalam sana dan coba membuat sang abang sadar dari masa krisisnya.
Nur serta Ratna yang menunggu di depan, langsung berdiri begitu melihat Sahira keluar dari ruangan itu. Mereka sama-sama mendekati Sahira dan memegangi tubuh gadis itu yang seakan lemas seusai menjenguk abangnya.
"Sahira sayang, gimana kondisi abang kamu? Kok kamu malah nangis lagi sih?" tanya Ratna.
"Bu, bang Jordan masih belum sadar juga Bu! Aku gak bisa lihat abang kayak gini terus, aku mau abang cepat sadar!" ucap Sahira.
"Sahira, kamu tenang ya! Kita juga berharapnya begitu kok, sekarang kamu tenangin diri dulu dan jangan kebawa emosi gitu! Kita doakan untuk kesembuhan mas Jordan, supaya dia bisa melewati masa-masa sulit seperti ini dan kembali ke pelukan kita!" ucap Nur menenangkan Sahira.
"Iya, yang dibilang kakak kamu ini benar sayang! Sudah ya jangan sedih begitu, ibu yakin abang kamu pasti bisa sembuh! Kita duduk dulu yuk, supaya kamu bisa lebih tenang!" ucap Ratna.
Sahira mengangguk pelan, ia menghapus air mata di pipinya lalu melangkah bersama Ratna serta Nur ke arah tempat duduk yang ada disana.
Tiba-tiba saja Thoriq mendekat dan menyodorkan sebotol minuman di hadapan Sahira.
"Minum dulu biar enakan! Ibu sama mbak Nur juga udah aku beliin kok, kita sekarang emang lagi bersedih tapi jangan sampai kekurangan air nanti bisa dehidrasi loh! Apalagi kalian daritadi juga nangis terus, ya kan?" ucap Thoriq.
"Iya Thoriq, makasih ya!" ucap Ratna.
"Sama-sama Bu, oh ya gimana kondisi bang Jordan sekarang? Pasti udah membaik kan Bu?" tanya Thoriq penasaran.
"Masih belum ada tanda-tanda Jordan akan sadar, barusan Sahira masuk ke dalam dan lihat secara langsung! Tapi, kita semua masih terus berdoa untuk kesembuhan Jordan kok!" jawab Ratna.
"Iya, kita yakin mas Jordan bisa segera sadar dan pulih seperti sedia kala!" sahut Nur.
"Aamiin!" ucap Thoriq mengamini ucapan Nur.
"Eee Bu, aku boleh gak masuk ke dalam dan temuin mas Jordan? Aku juga pengen bicara sama mas Jordan, walaupun aku tahu mas Jordan masih belum sadar dari pingsannya. Ya cuma aku mau lihat kondisi mas Jordan dari dekat aja Bu, boleh kan Bu?" ucap Nur meminta izin.
"Kamu gak perlu izin sama ibu, sayang! kamu ini kan istrinya Jordan, sudah sepantasnya memang kamu masuk ke dalam sekarang! Sudah, sana kamu temui Jordan ya! Siapa tahu dengan begitu, bisa memacu kesembuhan Jordan!" ucap Ratna.
"Iya Bu, aamiin! Yaudah, aku masuk dulu ya Bu? Sahira, jangan nangis terus oke!" ucap Nur.
"Oke kak!" Sahira mengangguk dengan senyum tipis dan masih menyembunyikan wajahnya pada bahu sang ibu.
Nur pun bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam ruangan dimana suaminya dirawat. Ia menghela nafas sejenak menguatkan diri sebelum membuka pintu, karena biar bagaimanapun ia tidak tega melihat Jordan dalam keadaan seperti itu.
Sementara Ratna masih terus berusaha menenangkan putrinya yang histeris itu, walau ia sendiri juga tengah sedih memikirkan nasib Jordan yang belum ada kejelasan hingga saat ini. Biarpun Jordan tadi sudah membentak dan tak mau menganggapnya sebagai seorang ibu, namun ia tetap tidak tega melihat Jordan kesakitan.
"Seandainya waktu bisa diputar, pasti ibu gak akan tinggalin kalian sayang! Maafin ibu ya nak, gara-gara ibu sekarang kamu harus kritis dan merasakan sakit seperti ini!" batin Ratna.
Tak lama kemudian, Elargano kembali bersama Keira sang kekasih ke rumah sakit tersebut. Mereka menemui Sahira serta ibunya yang sedang duduk di depan ruangan itu, Keira pun menyapa Sahira dengan raut wajah cemasnya.
"Sahira!" Keira menatap Sahira dan berdiri tepat di dekat sohibnya itu.
Sontak Sahira menoleh, ia terkejut sekaligus senang melihat kehadiran Keira disana.
"Keira?" Sahira langsung bangkit melepas pelukan ibunya, dan menghampiri Keira.
Hug...
Benar saja keduanya pun berpelukan disana, Sahira menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sohibnya sedangkan Keira berusaha menenangkan dengan cara mengusap punggung gadis itu.
"Kei, bang Jordan Kei! Dia kecelakaan dan lagi kritis sekarang Kei, aku sedih banget! Aku gak bisa lihat bang Jordan kesakitan begitu Kei!" ucap Sahira.
"Iya Sahira, El udah ceritain semuanya kok ke aku! Kamu yang sabar ya, aku tahu ini berat buat kamu karena kalian sangat-sangat dekat! Bahkan aku juga ngerasa kaget pas dengar berita ini dari El tadi, makanya aku langsung kesini buat jenguk bang Jordan sekaligus temuin kamu! Bang Jordan itu udah aku anggap seperti abang aku sendiri, aku sedih pas tau dia kecelakaan!" ucap Keira.
Mereka melepas pelukan dan kini saling bertatapan dengan wajah dipenuhi air mata.
__ADS_1
"Jangan sedih ya! Kita support terus abang kamu, supaya dia bisa cepat pulih!" ucap Keira dibalas dengan anggukan oleh Sahira.
"Bener! Nangis terus juga gak ada gunanya, lebih baik kan kalau kita berdoa!" ucap Elargano.
Sahira langsung menatap sinis ke arah Elargano, membuat pria itu keheranan lalu segera membuang muka karena takut dengan tatapan aneh dari Sahira.
"Kei, kamu ngapain sih kesini sama dia? Aku tuh lagi males tahu ngeliat mukanya!" ujar Sahira.
"Eee karena kan yang tahu tempat ini cuma El, jadi ya aku minta anterin sama El buat kesini Sahira!" ucap Keira.
"Yeh lu kenapa sih? Kayaknya sensi banget sama gue, emang gue punya salah apa sama lu Sahira?" ujar Elargano bingung.
"Banyak!" jawab Sahira ketus.
Di sela-sela pertikaian itu, tiba-tiba terlihat seorang dokter bersama susternya sedang menuju ke arah ruangan itu. Sahira pun mencegahnya untuk bertanya lebih dulu pada dokter tersebut.
"Dok, maaf! Dokter kenapa panik gini ya? Dokter mau cek abang saya kan?" tanya Sahira.
"Iya mbak, saya dapat panggilan dari dalam. Mungkin saat ini kondisi pasien sedang gawat, permisi ya mbak saya harus cepat-cepat memeriksa pasien!" jawab dokter itu.
"Apa dok??" Sahira terkejut.
Dokter itu pun masuk ke dalam dengan seorang suster, sedangkan Sahira kembali histeris mengetahui abangnya dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
"Kei, abang Kei! Bang Jordan tambah kritis Kei, aku harus gimana sekarang?! Ibu, ini gimana Bu? Aku gak mau bang Jordan kenapa-napa Bu, aku harus lihat ke dalam buat pastiin langsung apa yang terjadi sama bang Jordan!" ujar Sahira histeris.
Sahira hendak masuk menyusul dokter tadi, namun dicekal oleh Keira dengan cepat.
"Eh eh Sahira jangan, biarin dokter aja yang periksa kondisi bang Jordan! Kamu tetap disini sama kita, kita tunggu aja kabarnya nanti!" ucap Keira.
"Iya Sahira, kamu gak boleh ikut masuk ke dalam sayang! Serahkan aja semuanya sama dokter, kita harus percaya bahwa abang kamu pasti baik-baik aja!" ucap Ratna.
"Tapi Bu, abang kenapa malah makin kritis sih Bu? Aku gak bisa kalau begini terus!" ujar Sahira.
"Sabar sayang! Abang kamu pasti baik-baik aja kok, asal kamu gak berpikir yang jelek-jelek! Udah ya, kamu tenang dulu!" ucap Ratna.
Nur yang tadi masuk ke dalam, kini keluar menemui Sahira serta ibunya. Wajahnya tampak masam dan cemas, ia juga sama khawatirnya dengan Sahira karena ia melihat sendiri momen saat Jordan kembali kritis.
"Kak, apa yang terjadi sama bang Jordan? Kenapa dokter tadi bilang kondisinya makin buruk?" tanya Sahira panik.
"Maafin kakak ya Sahira! Tadi pas kakak lagi bicara sama abang kamu, tiba-tiba aja dia kejang dan aku langsung panik banget! Makanya aku coba panggil dokter buat cek kondisinya," jawab Nur.
"Ya ampun! Apa sebenarnya yang bikin bang Jordan jadi kayak gitu?" ujar Sahira cemas.
Semuanya terdiam dan seketika suasana disana hening menantikan kabar dari dokter yang tengah memeriksa kondisi Jordan di dalam sana.
•
•
Disisi lain, Leani selaku kakak tiri dari Ibrahim hendak menemui adiknya yang sedari tadi belum keluar kamar karena ini sudah memasuki waktu makan malam.
Berkali-kali ia mengetuk pintu kamar Ibrahim, namun tak ada jawaban apapun sehingga membuat Leani cemas dan khawatir jika terjadi sesuatu pada adik tirinya tersebut.
TOK TOK TOK...
"Him, Baim buka dong pintunya! Ini gue loh, lu belum makan malam ayo keluar!" teriak Leani.
Lagi-lagi tak ada balasan dari Ibrahim, akhirnya Leani memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar itu karena khawatir memang terjadi sesuatu pada adiknya tersebut, dengan perlahan ia membuka pintu sembari meminta izin.
"Him, gue masuk ya? Abisnya lu gak nyaut sih, jangan marah loh kalo gue masuk ke kamar lu!" ucap Leani.
Karena tak kunjung ada balasan, Leani tidak perduli lagi dengan peringatan Ibrahim sebelumnya yang meminta padanya untuk tidak masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek...
__ADS_1
"Baim, lu dimana sih? Ayolah nongol, kita makan malam dulu! Lu jangan kelamaan di kamar kayak gini, nanti cewek gak ada yang suka sama lu Him!" ucap Leani sembari melangkah pelan dan memasuki area kamar pria itu.
Leani penasaran mengapa ruangan itu sangat sepi dan sunyi, ia bingung kemana Ibrahim karena tak juga ada jawaban apapun.
"Ini sebenarnya si Baim kemana sih? Nyusahin aja jadi orang, dasar aneh!" gumamnya dalam hati.
Kedua mata Leani dibuat terkejut begitu melihat banyaknya foto-foto gadis cantik yang terpajang di dinding kamar adiknya, ia melihat ke sekeliling dan hampir seluruh dinding disana terisi dengan foto dari gadis cantik tersebut.
Leani sama sekali tak menyangka kalau adiknya bisa berbuat seperti itu, bahkan ia juga tak mengenali siapa wanita di dalam foto itu. Leani coba mendekati salah satu foto dan mengamatinya, sungguh heran karena itu bukanlah foto artis atau model melainkan hanya seorang siswi yang memang cantik.
"Si Baim ngapain ya koleksi foto cewek ini? Siapa dia coba? Apa jangan-jangan Baim suka sama nih cewek dan dia pengen banget dapetin cewek ini? Hmm emang aneh tuh cowok!" ujarnya.
"Mbak?" Leani terkejut saat mendengar suara yang muncul secara tiba-tiba dari belakangnya, ia menoleh lalu melihat Ibrahim disana.
"Mbak lagi ngapain disini? Kan udah gue bilang waktu itu, lu jangan masuk ke kamar gue! Kenapa lu langgar sih?!" ujar Ibrahim kesal.
"Ya sorry! Abisnya gue ketuk pintu daritadi, tapi lu gak nyaut! Yaudah lah gue masuk aja kesini, lagian emang kenapa sih lu gak bolehin gue masuk? Apa gara-gara foto cewek ini? Dia siapa sih, lu suka ya sama dia?" ujar Leani.
"Udah deh mbak, gausah banyak tanya! Mau ngapain mbak masuk ke kamar gue?" ujar Ibrahim.
"Yaelah galak banget sih! Gue mau ajak lu makan malam, ini udah waktunya tau! Udah yuk keluar, jangan di kamar terus udah kayak orang gak punya kehidupan aja!" ucap Leani.
"Nanti gue nyusul, lu duluan aja!" ucap Ibrahim.
"Huft, serah lu deh!" ujar Leani.
Leani pun berbalik dan keluar dari kamar itu dengan perasaan kesal, sedangkan Ibrahim masih berdiam diri memandangi foto gadis cantik yang ada di dindingnya sambil tersenyum.
"Keira, kamu itu emang cantik sekali! Untung aja mbak Leani gak banyak tanya tadi!" ujarnya.
•
•
Sementara itu, Elargano mengantar Keira pulang dari rumah sakit setelah selesai menjenguk Jordan yang sedang kritis disana itu. Sebenarnya Keira tidak ingin pulang, karena ia masih ingin menemani Sahira dan menenangkan sohibnya itu.
Namun, Keira juga tak bisa menolak ajakan El mengingat hari sudah malam dan besok ia harus kembali sekolah seperti biasa, apalagi hingga kini ia masih belum berganti pakaian dan juga mandi sejak pulang sekolah tadi.
"Kei, kita mampir dulu yuk ke restoran dekat sini! Kamu pasti lapar kan? Ini udah masuk waktu makan malam, aku gak mau kamu sakit!" ujar El.
"Boleh aja, tapi kira-kira bang Jordan kapan ya bisa sadar dari kritisnya?" ucap Keira sedih.
"Sabar aja! Tadi kan dokter udah bilang, kalau kondisi bang Jordan membaik! Kamu gak perlu sedih gitu terus ya, besok kan kita bisa jenguk dia lagi di rumah sakit!" ucap Elargano tersenyum.
"Iya sih, ya semoga aja bang Jordan bisa secepatnya sadar! Supaya Sahira juga gak nangis atau sedih-sedih lagi!" ucap Keira.
"Aamiin! Yaudah, kamu mau makan apa malam ini sayang?" ucap El sembari mengusap puncak kepala gadisnya.
"Apa aja terserah kamu!" jawab Keira.
"Oke! Itu di depan ada restoran kayaknya, kita mampir kesana gapapa kan?" ucap Elargano.
"Gapapa, kan terserah kamu!" ucap Keira.
El mengangguk pelan dan tersenyum, ia senang melihat gadisnya kembali ceria walau terkadang masih memikirkan kondisi Jordan yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Eh ya, aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu sayang? Sebenarnya ini udah daritadi sih mengganggu kepala aku, tapi aku takut ganggu kamu kalau langsung tanya karena kan tadi kamu lagi sama Sahira!" ucap Elargano.
"Boleh kok, emang kamu mau tanya apa sayang?" ucap Keira penasaran.
"Eee itu sejak kapan kamu pakai gelang di tangan kamu? Perasaan kemarin-kemarin tangan kamu masih kosong!" tanya Elargano.
Deg!
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...