Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Diculik El


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 76.




Elargano tiba di rumah sakit tempat Jordan dirawat, ia ingin bertemu dengan Sahira karena semalam gagal membujuk gadis itu untuk pergi makan malam bersamanya.


Selain itu, tentu saja Elargano juga berniat menjenguk Jordan yang sedang sakit.


"Gue harus cepat! Semoga aja bang Jordan masih dirawat disini, jadi gue bisa ketemu sama Sahira walau sekolah lagi libur!" ucap Elargano.


Pria itu turun dari mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa. Ia melangkah cukup cepat sudah tak sabar ingin segera menemui Sahira, entah mengapa dirinya begitu rindu dan seakan tak bisa berjauhan dari Sahira.


Baru saja pria itu melangkah, namun ia sudah langsung berpapasan dengan Sahira serta keluarganya di lorong rumah sakit itu.


Sontak El tersenyum menghentikan langkahnya di hadapan ketiga manusia itu, terlihat kalau Jordan sedang terduduk di kursi roda dengan kondisi yang sudah membaik dan siap pulang.


"Halo Sahira, kak Nur, dan bang Jordan! Selamat pagi semua!" ucap El menyapa ketiganya.


"Halo Elargano! Kebetulan sekali kamu datang kesini, pasti kamu mau ketemu Sahira ya? Emang deh yang namanya rindu susah buat didiemin, rasanya gak kuat kalo gak ketemu sama orang terkasih!" ucap Nur tersenyum menggoda.


"Apaan sih kak? El itu udah punya pacar, jadi kakak gak bisa ledekin aku dan El kayak gitu!" ucap Sahira menegur kakak iparnya.


"Memangnya kenapa sih Sahira? Yang dibilang kak Nur benar kok, emang rindu itu sulit buat dihilangkan. Makanya aku datang kesini buat ketemu kamu, suruh siapa semalam aku ajak dinner malah nolak? Yaudah, jadinya aku kesini deh buat temuin kamu. Tapi, aku juga pengen jenguk bang Jordan sih!" ucap Elargano tersenyum.


"Ahaha, gak perlu jenguk gue El! Gue udah mendingan kok, ini juga udah dibolehin pulang. Mending lu ngobrol aja berdua sama Sahira, biar gue pulang sama istri gue!" ucap Jordan.


"Nah iya tuh, udah Sahira kamu ngobrol aja dulu sama El ya! Abang kamu biar kakak yang antar, pasti baik-baik aja kok!" ucap Nur.


"Tapi kak, aku—"


"Udah lah Sahira, jangan kebanyakan nolak! Kakak yakin kamu juga suka ngobrol sama El, ya kan?" potong Nur disertai senyuman.


"Aduh kak! Harus berapa kali sih aku bilang sama kakak? Aku gak suka sama El, diantara kita ini cuma temenan doang. Lagian aku menghargai Keira sebagai pacar El, dia juga sahabat aku dan gak mungkin aku khianati dia!" ucap Sahira.


"Bukan masalah pengkhianat Sahira, tapi ini tentang perasaan kamu!" ucap Nur.


Sahira pun terdiam sambil menggelengkan kepala ketika Nur dan Jordan kompak menggodanya, sedangkan El justru tersenyum smirk sembari melirik ke arah Sahira.


"Yaudah, kita berdua pamit dulu ya? El, Sahira, kalian nikmati saja waktu berdua! Gak perlu cemasin mas Jordan, aku bisa jaga suami aku baik-baik kok!" ucap Nur pamitan.


"Iya Sahira, kasihan tuh si El kelihatan banget kangen sama kamu! Ada baiknya kamu temenin dia dulu beberapa waktu," sahut Jordan.


"Ish, kakak sama abang nyebelin deh!" cibir Sahira.


"Hahaha..." Jordan dan Nur kompak tertawa.


"El, gue pulang dulu ya? Titip adik gue, jangan bikin dia nangis atau terluka!" ucap Jordan.


"Siap bang! Hati-hati lu bang! Selamat ya karena udah boleh pulang!" ucap Elargano.


"Thanks!" ucap Jordan singkat.


Setelahnya, Nur pun berlanjut mendorong kursi roda Jordan menuju depan rumah sakit. Barulah mereka akan menunggu taksi disana sebagai kendaraan untuk pulang ke rumah.


Sementara Elargano beralih menatap Sahira, gadis cantik di hadapannya itu tampak menunduk malu dan terus berusaha menghindari tatapan dari El karena khawatir akan terus digoda olehnya.


"Hey, aku mau tanya deh sama kamu. Apa sih alasan kamu tolak ajakan aku semalam?" tanya El seraya menggenggam tangan Sahira.




Sementara itu, Keira masih bingung dan belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya, ia tak tahu apa yang menimpa dirinya sehingga dapat melupakan kejadian-kejadian yang dialaminya kemarin, bahkan ia tidak bisa mengingat sedikipun mengenai kejadian tersebut.


Saat ini Keira tengah berada di kamarnya, ia duduk bersandar dan ranjangnya sembari memeluk boneka coklat pemberian Elargano. Keira terus berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin antara dirinya dengan Ibrahim, karena seperti yang dikatakan Leani dan El sebelumnya, Keira memang sempat pergi bersama Ibrahim.

__ADS_1


Namun, hingga kini Keira masih tak bisa mengingat itu dan ia juga bingung mengapa Ibrahim bisa tiba-tiba hilang sampai Leani mencari-cari keberadaannya kesana-kemari.


"Aku masih bingung banget, sebenarnya apa sih yang bikin aku jadi pelupa gini?" ujar Keira.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar, Keira yang sedang melamun itu langsung bangkit dan berjalan menuju pintu untuk mengecek siapa yang datang ke kamarnya.


Ceklek...


"Loh mama? Ada apa mama ke kamar aku?" tanya Keira penasaran.


"Boleh mama masuk sayang? Mama pengen bicara sebentar sama kamu," ucap Zahra.


"Eee ya boleh dong mah, yuk masuk!" ujar Keira.


Gadis itu melebarkan pintu, kemudian memberi jalan bagi mamanya untuk bisa masuk ke dalam kamar dan berbincang disana.


Mereka pun melangkah ke dalam kamar gadis itu, duduk di pinggir ranjang untuk saling berbincang satu sama lain, Keira nampak penasaran apa yang hendak dibicarakan oleh mamanya itu.


"Mama mau bicara apa sama Kei? Pasti penting banget ya?" tanya Keira penasaran.


"Eee gak tahu sih penting apa enggak, tapi mama pengen aja bicara sama kamu. Ini soal teman kamu yang namanya Ibrahim itu," jawab Zahra.


"Hah? Kenapa sama Ibrahim, mah?" tanya Keira.


"Begini sayang, kamu mau tahu kan apa alasan kamu gak bisa ingat semua kejadian kamu dan Ibrahim kemarin? Terus juga kenapa gelang kamu hilang secara tiba-tiba dari lengan kamu, ya kan?" ucap Zahra.


"Iya mah benar, emang mama tahu kenapa itu semua bisa terjadi?" tanya Keira bingung.


"Tentu mama tahu, makanya sekarang mama kesini temuin kamu buat jelasin semuanya ke kamu, jadi kamu gak perlu bingung lagi mikirin itu semua!" jawab Zahra.


"Yaudah mah, kalo gitu kasih tau aku dong! Dari semalam aku terus mikirin soal itu tau, heran aja kok bisa aku jadi pelupa gini?" ujar Keira.


"Itu semua ada alasannya sayang, dan mama yakin begitu kamu tahu tentang itu pasti kamu bakal benci banget sama teman kamu yang namanya Ibrahim itu!" ucap Zahra.


"Loh, emang kenapa sih mah? Mama jangan bikin aku penasaran dong, cepat cerita!" ujar Keira.


"Jadi begini, sebenarnya mama ini baru tahu juga dari nak El. Katanya gelang yang diberikan Ibrahim ke kamu, itu bikin kamu jadi lupa diri dan lebih suka berduaan dengan Ibrahim. Ya bisa dibilang kalau Ibrahim udah pelet kamu, dia sengaja kasih gelang itu ke kamu supaya bisa milikin kamu. Dan benar aja, setelah mama sama papa ambil gelang itu dari kamu sifat kamu langsung berubah!" jelas Zahra.


"Apa? Jadi, mama sama papa yang udah ambil gelang aku?" ucap Keira terkejut.


Zahra mengangguk perlahan menandakan kalau memang benar apa yang dikatakan Keira, dirinya lah yang sudah mengambil gelang tersebut dari lengan Keira.


"Kenapa mama ngelakuin itu?" tanya Keira.


"Kenapa apa lagi sayang? Mama kan udah jelasin ke kamu tadi, gelang itu alat pelet dari Ibrahim buat kamu! Mama jelas gak pengen lihat anak mama dipelet sama orang kayak gitu, makanya mama papa ambil gelang itu dari kamu!" jawab Zahra.


"Memangnya udah terbukti mah, kalau gelang itu alat pelet dari Ibrahim?" tanya Keira menelisik.


"Ya jelas dong sayang! Buktinya sekarang kamu gak bisa mengingat apapun kejadian saat kamu dan Ibrahim bersama, itu sudah tanda kalau gelang itu pelet dari Ibrahim!" ucap Zahra.


Keira terdiam merunduk, ia kini tersadar kalau memang benar sebelumnya ia sudah terkena pengaruh pelet dari Ibrahim.


"Kenapa Ibrahim tega lakuin itu?" batin Keira.




Sementara itu, Elargano masih bersama Sahira di taman dekat rumah sakit. Mereka berbincang sejenak disana karena El memang ingin sekali berbicara dengan Sahira, setelah semalam gadis itu menolak ajakan makan malamnya.


Sahira sendiri terpaksa ikut dengan Elargano, karena ia sudah ditinggal oleh Nur dan Jordan yang memilih pulang lebih dulu. Padahal Sahira tidak ingin terlalu dekat dengan El, mengingat El adalah kekasih dari sahabatnya sendiri.


"Lu mau bicara apa sih sama gue? Kenapa lu maksa banget kayak gitu?" tanya Sahira ketus.


"Hey, jangan galak-galak gitu dong! Gue kan cuma mau ngobrol berdua sama lu, apa itu salah?" ucap Elargano menarik dan menggenggam tangan Sahira.

__ADS_1


Sontak gadis itu langsung melepas paksa tangannya dari cengkraman Elargano, ia merasa tak nyaman bila diperlakukan seperti itu oleh El.


"Jangan pegang-pegang gue!" tegas Sahira.


"Lu kenapa sih galak banget? Gue pegang tangan lu tuh biar diantara kita gak ada kecanggungan, kan kita sahabat. Ayolah, lu jangan sok asing gitu lah sama gue!" ujar Elargano.


"Bukan begitu, gue cuma gak mau sakitin perasaan sahabat gue. Kalo dia tahu kita berduaan disini sambil pegangan tangan, pasti dia bakal sakit plus marah banget lah!" ucap Sahira menjelaskan.


"Iya iya, gue gak pegang tangan lu lagi kok. Tapi, jangan ketus gitu lah sama gue!" ucap Elargano.


"Yaudah, cepetan mau bicara apa! Gue gak punya banyak waktu, kan lu tahu sendiri abang gue baru pulang ke rumah. Masa iya gue malah main-main disini sama lu? Gue tuh harus bantu urus abang gue di rumah," ucap Sahira.


"Santai aja! Gue gak lama-lama kok, gue cuma mau kasih tahu ke lu aja kalo kemarin kakaknya Ibrahim tuh datang ke sekolah Keira. Dia tanyain soal adiknya sama Keira, nah sekarang gue bingung nih kira-kira gue harus bebasin Ibrahim apa enggak ya? Lu ada saran gak?" ucap Elargano.


"Hah? Emangnya lu yang culik si Ibrahim?" tanya Sahira menatap wajah El menelisik.


"Eee bukan culik sih sebenarnya, lebih ke arah gue pengen kasih pelajaran buat Ibrahim. Karena gue kesal aja sama dia!" jawab Elargano.


"Ya ampun El! Lu kok gitu banget sih? Terus lu sekap Ibrahim dimana sekarang?" ucap Sahira.


"Ada deh, pokoknya dia gue taruh di tempat yang aman dan jauh dari sini. Sekarang menurut lu gimana, apa gue harus bebasin Ibrahim atau enggak? Karena kakaknya tuh pasti bakal terus cariin dia, gue jadi bingung nih!" ujar Elargano.


"Ya kalau saran gue, sebaiknya lu bebasin Ibrahim! Daripada nantinya terjadi sesuatu yang gak diinginkan, lu harus meminimalisir itu El! Cepat lu bebasin dia sekarang!" ucap Sahira.


"Iya juga sih, tapi masalahnya tuh gue belum puas buat kasih hukuman ke dia!" ucap Elargano.


"Haish, lu emang mau hukum dia kayak gimana lagi? Dengan lu culik dia, itu aja udah cukup kok El! Udah lah, bebasin dia! Jangan jadi kriminal kayak gini, gak baik tahu! Gue yakin kalau Keira tahu soal ini, dia pasti marah banget sama lu!" ucap Sahira.


Elargano terdiam mendengar perkataan Sahira, menurutnya benar juga yang dikatakan gadis itu karena Keira pasti akan marah jika mengetahui semuanya.




Thoriq tiba di rumah sakit, ia mencari keberadaan Sahira yang tak ikut bersama Jordan serta Nur di kepulangan mereka tadi. Thoriq cukup cemas memikirkan Sahira, sehingga ia datang ke rumah sakit untuk menjemputnya.


Pria itu mencari Sahira kesana-kemari, karena tak kunjung menemukan keberadaan adiknya itu, kini Thoriq memilih mencari ke daerah sekitar rumah sakit tersebut, ia yakin kalau Sahira masih ada disana sesuai info dari Nur tadi.


"Sahira kemana sih?" ujarnya bingung.


Pada akhirnya Thoriq berhasil menemukan Sahira, ia melihat gadis itu berada di taman bersama seorang lelaki yang tak lain ialah Elargano.


Tanpa berpikir panjang, Thoriq langsung menghampiri mereka berdua disana dengan tangan terkepal dan rahang bergetar seperti menahan emosi.


"Ternyata benar dia lagi sama si El, parah banget sih bukannya ngurusin abangnya malah enak-enakan disini!" geram Thoriq.


Sahira maupun El sama-sama tidak tahu jika Thoriq sudah berada di belakang mereka.


"Sahira!" Thoriq memanggil adiknya dan berhenti tepat di depan gadis itu.


Sontak Sahira terkejut melihat kemunculan Thoriq disana, ia dan El kompak berdiri menatap heran ke arah Thoriq dengan mulut terbuka.


"Bang Thoriq?" ujar Sahira keheranan.


"Lu ngapain kesini bang?" tanya Sahira bingung.


"Harusnya gue yang tanya sama lu! Kok lu malah disini sih bukannya pulang? Ini kan hari kepulangan abang lu, kenapa lu gak ikut pulang?" ucap Thoriq bertanya dengan nada tinggi.


"Eee gue tadi tuh udah mau pulang, tapi ini nih si El malah ngajakin gue ngobrol!" jawab Sahira.


Thoriq pun beralih menatap Elargano, ia mendekat sehingga membuat Elargano merasa gemetar alias ketakutan.


"Sorry bang! Gue cuma pengen ngobrol sebentar sama Sahira, bukan mau ganggu dia!" ujar El.


"Tetap aja, lu gak boleh paksa adik gue buat ngobrol kalo dia gak mau! Kan lu tahu sendiri, dia lagi mau ngurusin abangnya. Ini hari kepulangan Jordan loh setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, dia pasti pengen bareng sama Sahira!" ucap Thoriq mengingatkan Elargano.


Elargano hanya diam menundukkan kepala, ia bingung harus menjawab bagaimana pada Thoriq karena tak memiliki keberanian, sedangkan Sahira juga ikut terdiam disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2