
#SangPemilikHati Episode 86.
•
•
Sahira masih menunggu kendaraan yang akan ia naiki untuk bertemu dengan Grey di luar sana, ya saat ini Sahira masih berada di sekolah dan kebingungan hendak pergi menggunakan apa.
Sejujurnya Sahira berharap bisa pergi bersama El, namun demi persahabatannya dengan Keira ia pun memilih menghindar dan menjauh dari El agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
"Huft, gue naik apa ya kesana nya? Apa gue pesan ojek online aja?" gumam Sahira bingung.
"Ah yaudah deh gue pesan aja!" sambungnya.
Disaat Sahira mengambil ponselnya dan hendak memesan ojek online, tiba-tiba saja seorang pria memanggilnya.
"Sahira!" gadis itu pun terkejut, ia spontan menoleh ke asal suara untuk memastikan siapa yang datang.
Dan rupanya itu adalah Farhan, pria yang sebelum ini sempat menyatakan perasaannya di taman.
"Kak Farhan?" Sahira berbalik menyapa Farhan dengan raut kebingungan di wajahnya. "Lu ngapain panggil gue?" sambungnya bertanya pada Farhan.
"Aku lihat tadi kamu lagi kebingungan, emang kamu mau kemana sih Sahira? Abang kamu yang biasanya jemput belum datang apa gimana?" ucap Farhan balik bertanya pada Sahira.
"Eee sebenarnya gue yang minta buat gak dijemput, karena gue mau ketemu sama teman gue di luar. Tadinya sih gue mau diantar sama El, tapi dia gak bisa karena harus ngurus urusan lain. Jadinya yaudah deh, sekarang gue mau pesan ojek online buat temuin teman gue itu." Sahira menjelaskan semuanya.
"Ohh kenapa kamu gak minta anterin sama aku aja sih? Aku siap sedia loh buat antar kamu. Jangankan ketemu teman, ketemu presiden juga aku siap kok anterin kamu mah!" ucap Farhan sambil tersenyum renyah.
"Gue gak enak lah sama lu, kan lu bukan siapa-siapa gue. Lagian lu juga sibuk kan ngurus tim voli?" ucap Sahira.
"Gak juga tuh, urusan voli sekarang kan lebih banyak dihandle sama adik kelas. Gue mah tinggal pantau pantau aja buat mastiin mereka kerja benar apa enggak, jadinya gue punya waktu luang dan bisa kalo diminta anterin lu. Daripada lu harus naik ojek online dan keluar ongkos, mending bareng gue aja pake mobil. Udah gratis terus lu juga gak bakal kepanasan lagi," ucap Farhan.
Sahira terdiam berpikir sejenak apakah ia harus menerima tawaran Farhan atau tidak.
"Gimana Sahira? Lu mau apa enggak?" tanya Farhan penuh harap.
"Eee entahlah kak, tapi kayaknya gausah deh. Gue takut malah jadi omongan murid lain nantinya, apalagi lu kan bisa dibilang salah satu idola di sekolah ini, gue gak mau lah dimusuhi sama banyak orang disini!" jawab Sahira.
"Yah kok gitu sih? Perasaan lu kalo sama El santai-santai aja tuh walau kalian dekat, kenapa giliran sama gue lu malah cuek gini? Beneran ya lu suka sama El?" ujar Farhan curiga.
"Bukan begitu, kak. Gue—"
"Terserah kamu ajalah Sahira! Aku bakal pergi sekarang, percuma juga aku terus bujuk kamu kalau kamunya sendiri gak pernah mau buka hati buat aku. Maaf Sahira, karena aku udah ganggu kamu! Oh ya satu lagi, soal kata-kata aku di taman tadi lupakan aja ya! Aku gak serius kok ngomong gitu," Farhan memotong ucapan Sahira dan tampak kecewa dengan sikap gadis itu.
Setelahnya, Farhan pun berlalu pergi meninggalkan Sahira sendirian disana. Pria itu menuju parkiran sekolah untuk mengambil mobilnya, sedangkan Sahira hanya diam memandangi Farhan yang sudah menjauh hingga tak terlihat lagi.
"Duh, kak Farhan marah banget kayaknya. Apa gue salah ya bicara begitu sama dia?" gumam Sahira.
Akhirnya gadis itu ikut pergi dari sekolah, ia berjalan menuju halte sembari memesan ojek online melalui ponselnya dan terus memikirkan mengenai Farhan.
•
•
Disisi lain, El bersama gadisnya pergi mengikuti Ibrahim menuju rumahnya. Mereka sudah sepakat akan meminta bantuan Ibrahim untuk membuka kunci layar ponsel milik pak Panca.
Walau sebenarnya Elargano sangat tidak ingin melakukan itu, namun saat ini El tak memiliki banyak pilihan selain meminta bantuan pada Ibrahim agar semua masalah Grey bisa segera terselesaikan dan gadis itu akan mendapat keadilan.
"El, kamu kenapa masih cemberut gitu sih? Kamu gak suka Ibrahim mau bantu kita? Kenapa tadi kamu malah terima tawaran dia?" tanya Keira.
"Hah? Aku gak cemberut kok sayang, ini aku lagi serius aja bawa mobilnya. Lagian buat apa juga aku harus kesal kan? Toh ini juga demi kebaikan teman Sahira yang lagi terkena masalah, jadi aku harus kesampingkan dulu perselisihan aku dengan Ibrahim. Ya walau jujur aja sih, aku emang belum bisa maafin tuh cowok yang udah guna-guna kamu!" ucap Elargano.
"Udah lah sayang, semuanya kan udah berlalu. Kamu gak boleh terus-terusan terjebak di masa lalu, itu cuma bikin kamu jadi orang pendendam! Sekarang mungkin aja Ibrahim udah berubah, buktinya dia mau bantu kita kan?" ucap Keira.
__ADS_1
"Iya sih, cuma aku takut aja kalau ada niat terselubung dibalik semua ini!" ucap El cemas.
"Maksud kamu?" tanya Keira tak mengerti.
"Ya bisa aja kan, Ibrahim bantu kita karena dia punya niat yang gak beres!" jawab El.
"Kamu gak boleh mikir negatif gitu! Kita kan gak tahu niat sebenarnya Ibrahim, jadi sebaiknya kamu ya mikir yang baik-baik aja sayang! Jangan begitu lagi ya!" ucap Keira.
"Oke deh! Kamu tuh emang ya susah banget diajak mikir negatif, selalu aja berpikiran positif. Mungkin itu juga yang bikin Ibrahim mudah guna-guna kamu, karena kamu gak bisa mikir niat buruk seseorang ke kamu!" ucap Elargano.
"Masa gitu sih? Terus menurut kamu, aku harus kayak gimana sekarang? Apa aku harus mikir negatif nih? Berarti kalau ke kamu, aku juga harus mikir negatif dong?" ucap Keira.
"Ya gak gitu juga dong Keira, kamu negatifnya ke orang lain aja jangan ke aku! Lagian aku mana mungkin sih jahatin kamu? Aku ini kan kekasih kamu, dan aku gak ada niatan jahat buat kamu. Beda dengan Ibrahim atau laki-laki lain di luaran sana, mereka bisa aja apa-apain kamu!" ucap El sembari mengusap wajah Keira.
"Oh gitu, tapi biarpun kamu pacar aku kan gak menutup kemungkinan kalau kamu juga bisa berbuat jahat sama aku," ucap Keira.
"Astaga Keira! Yakali aku kayak gitu sama pacar aku sendiri? Udah ya, mending kamu balik kayak tadi aja deh berpikiran positif ke orang-orang! Kalau kamu mikir negatif malah jadi gak enak," ucap El menepuk jidatnya.
"Loh, kamu gimana sih? Tadi suruh aku mikir negatif, sekarang malah disuruh positif lagi. Kamu maunya apa sih sayang? Yang jelas dong kalo nyuruh!" ucap Keira keheranan.
"Iya iya, udah kamu be positive aja gausah negatif negatif!" ujar Elargano.
"Oke!" Keira mengangguk cepat menurut pada El.
"Ini kok kita gak sampai-sampai sih? Sebenarnya rumah Ibrahim itu di daerah mana? Udah hampir setengah jam kita pergi, tapi gak sampai-sampai. Jangan-jangan dia mau ngerjain kita lagi, emang kurang ajar tuh cowok!" geram El.
"Ish, kamu gak boleh gitu ah sayang! Mungkin emang rumah Ibrahim jauh, kamu sabar aja dulu! Kalau udah sampai, nanti juga sampai!" ujar Keira.
Elargano melirik ke arah Keira dan mencubit pipi gadisnya itu berkali-kali karena gemas.
•
•
Tin tin...
"Ish, itu mobil siapa sih? Ngapain coba diem disitu terus sambil bunyiin klakson, berisik banget!" ujar Sahira keheranan.
Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Sahira yang sedang duduk di halte itu. Sahira yang melihatnya merasa kaget karena pria itu ternyata adalah Farhan, ia tak mengerti mengapa Farhan datang kesana lagi.
"Hai Sahira! Kamu kok masih disini? Emang ojek kamu belum datang?" tanya Farhan.
"Eee iya nih kak, gue juga bingung kenapa ojeknya belum sampai-sampai. Padahal udah daritadi loh gue pesannya, gue jadi takut telat ketemu sama Grey. Pasti dia udah standby di lokasi deh, gimana kalau dia kesal terus pergi ya dari tempat itu?" ujar Sahira cemas.
"Tuh kan, kamu sih gak mau dengerin aku. Kan aku udah bilang tadi, kamu bareng aja sama aku biar aku anterin kamu ketemu teman kamu! Eh tapi kamu malah nolak dan gak mau, jadinya kamu telat kan?" ucap Farhan.
"Maaf kak! Gue cuma gak mau ngerepotin lu, kan lu bukan siapa-siapa gue. Terus lu sendiri sekarang ngapain datang kesini?" ucap Sahira.
"Aku mau paksa kamu, yuk aku anterin kamu ketemu sama teman kamu itu!" ujar Farhan.
"Emangnya lu gak ada kesibukan lain apa? Nanti yang ada gue ganggu lu lagi, secara lu kan banyak kesibukan. Apalagi sekarang lu udah kelas 12, pasti banyak kegiatan!" tanya Sahira.
"Udah tenang aja! Aku hari ini free kok, makanya aku mau anterin kamu. Please Sahira, kali ini aja aku mohon sama kamu buat mau bareng sama aku ya!" ucap Farhan memohon pada Sahira.
"Eee yaudah deh kak, tapi ini gue cancel dulu orderan ojek online nya ya?" ucap Sahira.
"Oke! Thanks ya Sahira!" ucap Farhan tersenyum.
"Kenapa jadi lu yang bilang makasih? Kan seharusnya gue yang bilang begitu, aneh banget sih lu!" ujar Sahira terheran-heran.
"Hehe gapapa dong, aku kan senang aja karena kamu mau aku anterin buat ketemu sama Grey. Yaudah, yuk langsung aja kita masuk ke dalam! Katanya kamu takut telat tadi," ucap Farhan.
"Iya," Sahira mengangguk cepat lalu mengikuti Farhan masuk ke mobil pria itu.
__ADS_1
Saat di dalam, Farhan berniat memasangkan sabuk pengaman di tubuh Sahira. Akan tetapi, gadis itu mencegahnya dan malah menghindar.
"Lu mau ngapain eh?" tanya Sahira heran.
"Aku pengen pasangin seat belt," jawab Farhan.
"Udah gausah, gue bisa sendiri kok. Mending lu pasang buat lu sendiri, terus cepat-cepat kita pergi supaya gue gak telat ketemuan sama Grey!" pinta Sahira sembari memasang seat belt nya sendiri.
"Oh gitu, yaudah deh aku nurut aja sama kamu. Maaf ya tadi aku lancang!" ucap Farhan pelan.
"Gapapa kok," ucap Sahira singkat.
Farhan pun mulai melajukan mobilnya, sedangkan Sahira mengambil ponselnya lagi untuk coba menghubungi Grey.
"Kamu mau telpon siapa? El?" tanya Farhan.
"Bukan kok, ini gue pengen telpon Grey buat tanya ke dia apa dia udah sampai atau belum. Sekalian gue juga minta ke dia buat tunggu sebentar disana, karena gue takut dia gak sabar!" jawab Sahira.
"Oh, yaudah gih kamu telpon aja! Aku bawa mobilnya juga cepat kok ini," ucap Farhan.
"Iya kak," ucap Sahira mengangguk singkat.
•
•
Disisi lain, Grey tengah menunggu kedatangan Sahira di sebuah cafe sesuai perjanjian mereka sebelumnya untuk bertemu disana. Grey tampak terus menatap layar ponselnya menanti kehadiran Sahira disana sambil berusaha menutupi wajahnya, entah mengapa sejak kejadian pelecahan itu Grey jadi sangat takut untuk menampakkan tubuhnya.
"Sahira kemana sih? Dia gak tahu apa kalo gue gak bisa lama-lama di luar kayak gini? Gimana nanti semisal gue ketemu sama orang jahat modelan pak Panca? Padahal janjinya ketemuan abis pulang sekolah, tapi sampe sekarang gak datang juga!" gumam Grey kebingungan.
Disaat Grey hendak pergi dari tempat itu, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Grey pun mengeceknya dan ternyata itu adalah telpon dari Sahira.
"Sahira nih nelpon. Gue angkat aja dulu deh!" gumamnya.
📞"Halo Sahira! Lu dimana sekarang? Kok lama banget gak datang-datang? Gue udah nunggu daritadi loh," ujar Grey langsung menanyakan lokasi Sahira saat ini.
📞"Iya halo Grey! Sorry banget ya kalo gue lama nyampenya! Ini soalnya daritadi gue pesan ojek tapi gak datang-datang, akhirnya gue cancel aja deh tuh ojeknya. Tapi lu tenang aja, karena sekarang gue udah di jalan menuju kesana kok. Lu jangan pergi dulu ya Grey, ini sebentar lagi gue sampai disana!" ucap Sahira.
📞"Oh gitu, yaudah lu hati-hati ya Sahira! Sama satu lagi, jangan kelamaan! Gue udah gak tahan banget terus-terusan disini," pinta Grey.
📞"Santai aja Grey! Mungkin sekitar lima sampai sepuluh menit lagi gue sampai, lu pesan makan atau minum aja dulu sembari nunggu gue!" ucap Sahira.
📞"Iya, ini gue udah pesan kok. Eh ya, lu datang kesini sendiri kan?" tanya Grey.
📞"Eee gue diantar sama kak Farhan, emangnya kenapa Grey? Lu gak mau ada orang lain yang ikut sama gue?" ucap Sahira.
📞"Duh Sahira, lu kan tahu sendiri gue masih trauma ketemu sama laki-laki. Lu kesini nya sendiri aja ya, lu suruh kak Farhan balik atau kemana kek gitu!" ucap Grey.
📞"Oh gitu, iya deh iya nanti gue suruh kak Farhan buat gak ikut masuk ke dalam." kata Sahira.
📞"Yaudah, kalo gitu cepetan lu datang kesini!" ujar Grey sudah sangat ketakutan.
📞"Iya, gue tutup dulu ya?" ucap Sahira.
Tuuutttt...
Setelah telpon dimatikan oleh Sahira, Grey pun menyimpan ponselnya di atas meja. Ia merasa ingin buang air kecil dan akhirnya memilih bangkit untuk pergi ke kamar mandi.
Namun, langkahnya terhenti saat ia bertemu sosok pria yang sangat dibenci dalam hidupnya.
"Halo Grey! Apa kabar kamu?" Grey terkejut melihatnya, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka dengan jantung berdetak kencang.
"Pak Panca?"
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...