Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Mengendap-endap


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 114.




Sahira dibawa ke sebuah tempat yang gelap dan kotor, ia ditaruh di atas kursi kayu dan diikat dengan tali yang melingkari bagian perut hingga kedua tangannya.


Tak hanya itu, Riki juga menyumpal mulut Sahira dengan kain dan memandangi wajah gadis yang tengah pingsan itu.


Riki mengusap wajah Sahira dengan dua tangannya, menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya disertai seringaian iblis di bibirnya.


"Lu terlalu jauh ikut campur dalam urusan gue, Sahira. Sekarang Rasakan akibatnya!" ucap Riki.


Setelahnya, Riki pun pergi dari sana meninggalkan Sahira seorang diri. Tak lupa ia mengunci pintu dari luar agar Sahira tidak bisa kemana-mana nantinya.


Riki juga berpesan pada kedua temannya yang ada disana untuk menjaga Sahira, biarpun Sahira sudah diikat cukup kuat tetap saja Riki merasa khawatir kalau gadis itu bisa lepas.


"Heh! Kalian berdua jagain dia disini, jangan sampai dia bisa lepas! Biar gimanapun, gue tahu kalau Sahira ini pintar dan dia bisa pakai cara apapun buat kabur dari sini." ujar Riki.


"Siap Rik!" ucap temannya yang bernama Fakhri.


"Tapi Rik, apa kita harus terus sembunyi kayak gini? Gimana kalau pihak sekolah nyariin kita? Terutama orang tua kita Rik," tanya Alta.


"Santai aja! Kita cuma sementara kok disini, karena gue pengen kasih pelajaran dulu buat Sahira dan El. Mereka itu udah terlalu dalam ikut campur ke urusan gue ini," jawab Riki santai.


"Lu yakin Rik? Gimana kalau El laporin lu ke polisi atau ke orang tua lu?" tanya Alta.


"Dia gak punya cukup bukti untuk itu, gue juga yakin dia cuma gertak aja kalau dia mau laporin kita. Dia gak mungkin berani laporin kita selagi Sahira ada sama kita," jawab Riki tersenyum.


"Oke! Kita bakal jagain Sahira disini, terus lu sendiri mau kemana sekarang?" ucap Fakhri.


"Gue pengen pulang dulu, supaya nyokap dan bokap gak curiga sama gue." jawab Riki.


"Oke, hati-hati lu Rik! Awas ada banyak orang suruhan El yang berkeliaran di luar sana! Lu bisa aja ketangkap sama mereka," ucap Fakhri.


"Santai! Gue bisa jaga diri kok." kata Riki.


Riki pun melangkah pergi dari sana, sedangkan kedua temannya itu tetap disana menjaga Sahira yang masih pingsan di dalam.




Bukan hanya Sahira yang masih pingsan, Nur pun merasakan hal yang sama karena wanita itu juga pingsan seperti Sahira.


Bedanya, Nur pingsan setelah mendengar kabar dari El mengenai Sahira yang diculik.


Saat ini Nur masih bersama El di rumahnya, wanita itu dibaringkan di atas sofa ruang tamu oleh El yang tak tahu harus melakukan apa lagi sekarang.


El pun hanya duduk disana menemani Nur sembari terus berusaha mencari pertolongan dari luar, walau tidak ada orang sama sekali.


"Aduh! Sampai kapan nih gue harus tungguin kak Nur terus?!" ujarnya bingung.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang datang di depan rumah itu.


Sontak El langsung beranjak dari sofa untuk memastikan siapa yang datang.


Benar saja, rupanya itu Jordan serta kedua mertuanya yang kebetulan baru sampai.


El pun melangkah ke depan menghampiri mereka bertiga dan menjelaskan yang terjadi pada Nur agar mereka bisa segera membantunya.


Namun, justru Anwar serta Azizah merasa terkejut ketika melihat ada lelaki keluar dari dalam rumah putri mereka.


"Loh loh, kamu siapa? Kenapa kamu ada di rumah anak saya?" ujar Azizah terheran-heran.


"Eee..." El tampak bingung menjelaskannya, apalagi ia juga belum kenal dengan dua orang tua tersebut.


Untunglah Jordan bergegas keluar dari mobil dan menghampiri mereka, sehingga El bisa sedikit merasa lega saat ini.


"Ada apa ini pah, mah?" tanya Jordan bingung.


"Ini loh Jordan, ada laki-laki masuk ke rumah kamu. Jangan-jangan dia abis macam-macam sama istri kamu di dalam!" ucap Azizah.


"Hah? E-enggak kok tante, saya gak ngapa-ngapain di dalam. Bang Jordan, barusan gue tuh abis bantu kak Nur yang pingsan doang kok." ucap El mencoba menjelaskan.


"Apa? Pingsan? Kok bisa? Emangnya kenapa Nur bisa sampai pingsan?!" ujar Jordan sedikit kaget.


"Kamu kenal sama dia, Jordan?" tanya Azizah pada menantunya itu.


"Eee iya mah, dia ini teman sekolahnya Sahira. Nah El, ini mertua gue." jawab Jordan mengenalkan mereka bertiga.


"Halo om, tante! Salam kenal ya!" ucap El menyapa sekaligus mencium tangan mereka.


"Iya, terus kenapa Nur bisa pingsan nak El?" tanya Azizah pada El.


"Begini ceritanya tante..." El pun menjelaskan apa yang terjadi pada Nur hingga wanita itu bisa pingsan.

__ADS_1


Dan tentu saja reaksi mereka bertiga sama seperti Nur tadi, mereka sangat syok setelah mengetahui bahwa Sahira diculik.


Bahkan Jordan tampak tidak percaya dan langsung emosi begitu El mengatakan semuanya.




Raisa dan Anisa pamit pada Fadia sesudah mereka selesai berbicara dengan Grey hari ini.


Fadia nampak sedikit lega melihat putrinya itu bisa kembali tersenyum, biarpun belum terlalu ceria seperti biasanya.


"Tante, Grey, kita berdua pamit dulu ya mau pulang? Udah malam juga nih, gak enak lah kalo kita terus-terusan disini." ucap Raisa.


"Iya tante, kita juga khawatir kalau orang tua kita nyariin di rumah." sahut Anisa.


"Yaudah, terimakasih ya nak Raisa dan kamu Anisa! Karena kalian sudah mau repot-repot datang kesini cuma buat bujuk Grey, tante berhutang budi sama kalian berdua!" ucap Fadia tersenyum.


"Ah gak perlu pake hutang segala tante, aku sama Raisa ikhlas kok bantunya. Grey itu kan teman kami, jadi kami juga gak mau kalau Grey sampai putus asa dan bunuh diri." kata Anisa.


"Benar itu tante!" sahut Raisa.


"Kalian berdua itu emang baik-baik, Grey beruntung sekali bisa punya teman seperti kalian!" ucap Fadia sembari merangkul putrinya.


"Iya mah, emang mereka itu teman-teman yang baik! Mereka selalu ada buat aku, bahkan disaat aku susah seperti sekarang ini." ucap Grey.


"Bisa aja lu Grey, itu kan emang udah kewajiban kita sebagai sesama teman." kata Raisa.


"Kalian berdua hati-hati ya pulangnya! Kabarin gue kalo udah ada info tentang Sahira, gue penasaran nih!" pinta Grey.


"Siap Grey!" ucap Raisa dan Anisa bersamaan.


"Kalo gitu kita berdua pamit dulu ya tante?" ucap Raisa sembari mencium tangan Fadia.


"Iya, hati-hati ya kalian!" ucap Fadia.


Setelah berpamitan, kini Raisa serta Anisa melangkah keluar dari rumah Grey menuju mobil Anisa yang terparkir di depan sana.


Namun, sebelum masuk ke mobil, Raisa memiliki ide untuk menghubungi nomor Sahira terlebih dulu karena dari sore tadi mereka belum mendapat kabar apapun dari Sahira.


"Nis, sebentar ya gue mau coba telpon Sahira dulu. Gue takut dia kenapa-napa!" ucap Raisa.


"Iya tuh, coba gih telpon!" ucap Anisa.


Raisa mengangguk, kemudian mengambil ponsel dan coba menghubungi nomor Sahira.


"Duh, nomornya gak aktif lagi. Gimana ini ya?" ujar Raisa kebingungan.


"Umm, coba lu telpon kak El! Siapa tahu dia punya info tentang Sahira," usul Anisa.


"Boleh tuh, tapi masalahnya gue gak punya nomor kak El. Gimana dong?" ujar Raisa.


"Hadeh, gue juga gak punya lagi. Yaudah deh, kita sekarang pulang aja dulu! Barangkali nanti Sahira bakal kabarin kita," ucap Anisa.


"Iya deh, yaudah yuk!" ucap Raisa.


Kedua gadis itu pun masuk ke dalam mobil, dan langsung melaju pergi dari rumah Grey.




Keesokan harinya, Elargano mendatangi Farhan di sekolah dan langsung menarik kerah baju pria tersebut dengan kuat.


"Heh! Ini semua gara-gara lu, kalo lu gak teledor gak mungkin Sahira bisa diculik kayak gini!" geram El pada Farhan.


"Lu apa-apaan sih El? Kenapa datang-datang lu langsung marah-marah ke gue kayak gini?! Gue itu gak salah, Sahira diculik sama Riki bukan karena kesalahan gue!" ucap Farhan membela diri.


"Bukan kesalahan lu? Serius barusan lu ngomong begitu? Emang lu gak mikir apa, kenapa Riki bisa sampai culik Sahira?" ucap El semakin emosi.


"Dengar ya Farhan, lu itu gak becus jagain Sahira! Seharusnya sebagai lelaki yang baik, lu bisa jaga dia supaya gak dibawa sama orang lain! Paham gak lu, ha?!" sambungnya.


"Iya gue paham, tapi mau bagaimana lagi? Semua ini udah terjadi El, gue juga gak mau ini kejadian sama Sahira. Tapi gue gak bisa berbuat banyak, gue cuma sendirian kemarin." kata Farhan.


"Halah alasan aja lu! Bilang aja lu lemah dan gak bisa jagain Sahira!" bentak El.


"Kalo lu merasa bisa lakuin itu, coba aja sekarang lu cari Sahira dan bebasin dia! Jangan cuma bisanya marah-marah aja dan salahin orang kayak gini!" tantang Farhan.


"Lu bener-bener kurang ajar ya!" ujar El.


El semakin terbawa emosi dan hendak memukul wajah Farhan disana.


Untungnya ada Raisa yang segera datang dan menahan El melakukan hal tersebut.


"Kak El, tunggu kak!" teriak Raisa dari belakang.


Sontak El mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Raisa masih dengan nafas memburu.

__ADS_1


El pun melepaskan tangannya dari kerah baju Farhan, sedangkan Farhan sendiri tampak membetulkan bajunya yang berantakan.


"Ada apa?" tanya El pada Raisa.


"Kak, lu tahu gak dimana Sahira? Soalnya dari kemarin gue coba hubungin dia, tapi gak bisa-bisa. Dan sekarang pun gue cari dia disini juga gak ada, dia kemana ya kak?" ucap Raisa panik.


El terdiam sejenak sembari melirik ke arah Farhan dengan penuh emosi.


"Sahira dibawa sama Riki, Rai. Gue gak tahu dia ada dimana sekarang, tapi gue bakal tetap cari tahu keberadaan Sahira kok!" jawab El gugup.


"Apa?? Lu serius kak?" ujar Raisa tampak syok.


"Iya Rai, gue serius. Itu semua emang terjadi sama Sahira, dia dibawa pergi Riki saat dia lagi sama Farhan. Gue juga gak tahu kejadian lengkapnya, karena gue gak ada disana." jelas El.


Raisa pun mengarahkan pandangan ke Farhan, sedangkan Farhan spontan menunduk.




Tanpa disadari oleh mereka semua, ada seseorang yang mengintip dari jauh dan memandangi mereka sembari memegang ponselnya.


Rupanya orang itu telah mengambil foto ketika El dan Farhan sempat bersitegang di depan sana tanpa sepengetahuan mereka.


Orang itu pun mengirim foto tersebut ke sebuah nomor, dan kembali menatap ke arah depan sambil tersenyum smirk.


Tak lama kemudian, ponselnya itu berdering dan membuatnya harus mengangkat sejenak telpon tersebut disana.


📞"Halo Rik! Kenapa?" ucapnya sambil terus berhati-hati.


📞"Barusan lu kirim foto El sama Farhan kan? Maksudnya apa itu? Buat apa lu kirimin foto begituan ke gue?" tanya seseorang di telpon yang tidak lain adalah Riki.


📞"Iya Rik, itu El dan Farhan barusan ribut. Mereka saling menyalahkan karena Sahira diculik sama lu, emang lu gak seneng ngeliat itu?" jelasnya.


📞"Jelas aja gue senang, tapi lebih berharga lagi kalau lu kirimin informasi rencana El selanjutnya buat tangkap gue. Terus mata-matai mereka dan kabari ke gue!" titah Riki.


📞"Siap Rik! Gue bakal terus laporin ke lu, ini gue juga masih terus pantau mereka dari jauh." katanya.


📞"Bagus! Lu hati-hati aja ya, jangan sampai ketahuan sama mereka!" ucap Riki.


📞"Siap Rik! Gue pasti bakal hati-hati, karena gue juga gak mau ketahuan dan ditangkap sama mereka." ucapnya.


📞"Yaudah, kalo gitu gue tutup dulu telponnya. Terus kabarin gue info tentang El!" ucap Riki.


📞"Oke Rik!" ucapnya singkat.


Tuuutttt....


Riki memutus telponnya, dan orang itu pun kembali fokus menatap ke depan melihat El serta Farhan yang masih terus bersitegang.


Sampai tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang sambil berdehem pelan dan membuatnya terkejut.


Pukkk...


"Ehem ehem," orang itu kaget dan reflek menegakkan badannya.


Ia menoleh ke belakang menatap siapa yang menepuknya dengan perlahan.


"Alzi? Roger?" ucapnya tampak panik.


"Halo Saka! Lagi ngapain lu disini ngendap-ngendap kayak gitu?" ucap Roger sambil nyengir.


"Eh eee gu-gue..." Saka semakin gugup dan panik.


Saka pun berusaha pergi dari sana menghindari dua pria tersebut, akan tetapi usahanya digagalkan oleh Roger dan Alzi yang menarik bajunya dari belakang.


"Eh eh, mau kemana lu? Sekarang lu gak bisa pergi lagi dari kita, karena kita udah dengar semuanya!" ucap Alzi tersenyum smirk.


"Maksud lu apa?" tanya Saka berakting.


"Gausah pura-pura begitu! Kita barusan dengar dengan jelas kalau lu abis telponan sama Riki, dan lu kerjasama kan sama dia?" ucap Alzi.


"Jangan ngaco deh! Buat apa juga gue kerjasama sama dia?" elak Saka.


"Udah lah, lu jangan akting lagi kayak gitu! Sekarang lu ikut kita temuin El, supaya lu bisa jelasin semuanya di hadapan dia!" ujar Roger.


"Apaan sih? Gue gak mau!" tolak Saka.


"Halah udah lu diem aja, nurut sama kita! Atau kita bakal bikin lu babak belur!" ancam Alzi.


Akhirnya Saka terpaksa menuruti kemauan dua pria itu, ia tak memiliki pilihan lain karena ancaman Alzi barusan cukup membuatnya ketakutan.


Roger dan Alzi pun menyeret Saka menuju ke depan menghampiri Elargano serta Farhan yang tengah berbincang disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2