
#SangPemilikHati Episode 111.
•
•
Sesampainya di sekolah, Sahira langsung turun dari mobil dengan cepat dan melangkah ke dalam secara tergesa-gesa.
Tampaknya gadis itu sudah tidak sabar ingin segera menangkap Riki dan meminta pertanggungjawaban dari pria itu atas perbuatannya terhadap Grey.
Elargano pun panik dan bergegas menyusul Sahira agar gadis itu tidak berbuat nekat disana.
"Sahira tunggu!" teriak El berusaha menahan Sahira.
Akhirnya El berhasil mengejar Sahira dan mencekal lengan gadis itu dari belakang, sehingga Sahira terpaksa berhenti sejenak disana.
"Ish, lu ngapain sih!" ujar Sahira kesal.
"Sahira, dengerin gue dulu! Lu jangan gegabah langsung mau labrak Riki kayak gitu! Yang ada si Riki bisa kabur terus kita bakal susah tangkapnya," ucap Elargano.
"Terus, lu maunya gimana? Kita pura-pura baik gitu sama dia sampai dia mau ngaku kalau dia pelakunya?" tanya Sahira kesal.
"Ya gak gitu juga, mana mungkin dia mau ngaku!" ucap Elargano.
"Yaudah, terus mau lu kayak gimana ha? Gue harus ngapain sekarang biar lu seneng?" tanya Sahira.
"Eee intinya lu jangan terburu-buru buat langsung labrak Riki! Nanti aja pulang sekolah kita ikutin dia, terus kita cegat dia di jalan!" jawab El.
"Apa bedanya coba?" tanya Sahira bingung.
"Ya jelas beda lah! Kalau di sekolah, dia punya kekuatan sebagai anak pemilik sekolah. Nah, kalo di luar sekolah kan dia bukan siapa-siapa tuh. Kita bisa sesuka hati labrak dia!" jelas El.
"Huh tapi gue udah kesel banget sama tuh orang! Bisa-bisanya dia ngelakuin ini ke Grey, apa coba salah Grey sama dia?!" geram Sahira.
"Ya gue juga gak tahu sih, coba nanti aja sekalian kita tanya ke dia. Sekarang mending kita ke kantin dulu, gue mau sarapan nih. Lu temenin ya?" ucap El sambil tersenyum.
"Hah? Ogah! Gue mau ke kelas aja, lu minta temenin temen lu aja sana!" ujar Sahira.
"Yeh jangan gitu dong! Gue kan udah bersusah payah nih cari tau tentang pelaku penyebaran foto Grey, masa lu masih gak mau temenin gue sarapan? Sebentar doang kok, atau lu mau sekalian makan juga boleh, gue traktir deh." bujuk El.
"Gak perlu, gue udah sarapan tadi di rumah. Dan bantuan lu itu juga gak ada hubungannya sama gue temenin lu sarapan," ucap Sahira.
"Iya, tapi kan seenggaknya lu mau gitu nyenengin gue karena gue udah bantu temen lu itu. Ya bisa dibilang imbalan lah, kan gak gratis tau gue tuh harus bayar temen gue juga." kata El.
"Ohh jadi lu gak ikhlas bantu gue sama Grey? Oke fine!" ucap Sahira.
"Bukan gak ikhlas Sahira, gue kan cuma mau minta ditemenin sarapan sama lu. Ayolah Sahira, kali ini aja kok besok-besok enggak!" ucap El.
"Yaudah, gue mau temenin lu. Tapi, awas ya kalo lu macam-macam!" ucap Sahira.
"Asik! Lu tenang aja Sahira, gue gak bakal macam-macam kok sama lu!" ucap El tersenyum.
"Lepasin ah tangan gue! Kita ke kantin sekarang, lu cuma punya waktu sepuluh menit buat sarapan. Lebih dari itu, gue tinggal lu!" ucap Sahira.
"Buset dah pake dikasih waktu!" ujar El.
"Iyalah, biar lu gak sengaja ngelama-lamain!" ucap Sahira.
"Iya iya..." ucap El menurut.
El melepaskan tangan Sahira, lalu mereka jalan bersamaan ke lobi sekolah dengan Sahira melangkah lebih dulu di depannya.
•
•
Saat dalam perjalanan menuju kantin, Sahira dan El dicegat oleh Anisa di lorong sekolah.
Nampaknya Anisa masih belum percaya kalau El tidak melakukan apa yang ia tuduhkan kemarin.
"Sahira, gue mau bicara dong sama lu. Ini penting, soalnya menyangkut Grey! Gue harap lu punya waktu buat bicara sama gue," pinta Anisa.
"Eee ada apa ya Nisa?" tanya Sahira penasaran.
"Gue pengen tahu siapa pelaku yang udah sebarin foto-foto Grey di grup sekolah, pasti itu orang punya niat buat jelekin Grey dan dia mau Grey makin terpuruk!" ucap Anisa.
"Nisa, lu gak perlu khawatir ya! Gue sama El udah berhasil temuin pelakunya kok," ucap Sahira.
"Yang bener? Emang siapa pelakunya?" tanya Anisa penasaran.
"Gue gak bisa ceritain itu sekarang, karena gue takut lu nanti berbuat nekat setelah gue kasih tahu ke lu siapa pelakunya. Jadi, nanti siang aja ya lu temuin gue di parkiran sekolah!" jawab Sahira.
__ADS_1
"Kok gitu sih Sahira? Gue mau tau sekarang, gue udah penasaran banget loh siapa orang kejam yang berani begitu sama Grey!" geram Anisa.
"Sabar Nisa! Lu tenang dulu ya! Insyaallah, gue sama El punya rencana buat tangkap tuh orang dan minta dia bertanggung jawab untuk jelasin ke seluruh murid di sekolah kejadian sebenarnya yang menimpa Grey!" ucap Sahira.
"Kenapa gak sekarang aja kalian tangkap pelakunya? Gue yakin banget, pasti tuh orang ada di sekolah ini kan! Soalnya gak mungkin orang lain yang sebarin tuh foto," ucap Anisa.
"Emang dia murid sini, tapi tetap kita gak bisa gegabah Anisa!" ucap Sahira.
"Iya Nisa, sabar dulu aja sampai pulang sekolah nanti!" sahut El ikut menenangkan Anisa.
Anisa menatap sinis ke arah El, sepertinya ia masih menduga bahwa El adalah pelakunya yang sudah menyebarkan foto-foto Grey.
"Sahira, yakin pelakunya bukan dia?" tanya Anisa pada Sahira sambil menunjuk ke arah El.
"Apa? Buset dah bisa-bisanya lu nuduh gue, setelah apa yang gue lakukan untuk membantu Grey! Kacau sih parah lu!" ucap El.
"Ahaha, bukan kok Nisa. El ini baik orangnya, jadi dia gak mungkin lah tega sebarin foto Grey kayak gitu!" ucap Sahira membela El.
"Nah tuh dengerin!" ujar El.
"Ya bisa aja kan Sahira, gak selamanya orang itu selalu baik sama kita. Ada kalanya dia bisa berubah jahat, dan malah bisa lebih jahat daripada musuh-musuh kita sebelumnya." ucap Anisa.
"Waduh teori macam apa lagi tuh?" ujar El.
Sahira terkekeh saja saat Anisa masih terus mencurigai El sebagai pelakunya, sedangkan El merasa bingung dan hanya bisa garuk-garuk kepala.
El pun menyenggol Sahira sebagai tanda kalau dirinya ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Eee Nis, yaudah ya gue sama El mau ke kantin dulu. Nanti siang sesuai perkataan gue, kita ketemuan lagi di parkiran oke!" ucap Sahira.
"Oke Ra! Tapi, lu tahu gak Grey dimana sekarang? Soalnya daritadi gue cari-cari dia, tapi dia gak ada di seluruh sekolah." tanya Anisa.
"Hah? Apa jangan-jangan Grey gak mau sekolah gara-gara kejadian kemarin?" ujar Sahira.
"Bisa jadi tuh, mungkin dia trauma karena udah dipermalukan satu sekolah." kata El.
"Kalau benar begitu, gawat dong! Bakal susah buat kita bujuk dia lagi nantinya." kata Sahira.
"Tenang aja! Gue yakin setelah tuh pelaku ketangkap dan jelasin semuanya sama seluruh murid disini, pasti Grey juga bisa baikan kok!" ucap El tersenyum.
"Iya sih," ucap Sahira singkat.
•
•
TOK TOK TOK...
"Grey, sayang buka pintunya dong! Mama mau bicara sama kamu nak," ucap Fadia berteriak sembari mengetuk pintu kamar Grey.
Agus rupanya ikut menyusul kesana, ia menghampiri istrinya itu dan berdiri di dekatnya.
"Mah, Grey mau keluar?" tanya Agus pada istrinya.
"Belum pah, padahal mama udah ketuk-ketuk pintunya daritadi. Mama cemas loh sama dia, mama takut Grey berbuat nekat!" jawab Fadia.
"Tenang dulu mah! Coba biar papa yang coba bicara sama Grey, siapa tahu Grey mau buka pintu." kata Agus.
"Yaudah pah, silahkan!" ucap Fadia memberi jalan bagi suaminya untuk mengetuk pintu.
TOK TOK TOK...
"Grey, ini papa nak. Kamu buka dong pintunya, udah masuk waktu sekolah loh! Emang kamu gak mau berangkat sekolah?" teriak Agus.
Tetap tidak ada jawaban dari dalam sana, sehingga Fadia semakin merasa cemas.
"Pah, gimana ini? Kayaknya Grey tetap gak mau buka pintunya deh," ujar Fadia cemas.
"Sabar mah! Kita coba sekali lagi ya buat bujuk Grey?" ucap Agus.
Fadia mengangguk cepat, kemudian memanggil Grey lagi bersama dengan suaminya.
"Grey, ayo buka pintunya sayang! Mama sama papa mau bicara sama kamu, tolong jangan begini terus Grey!" teriak Fadia.
"Iya Grey, papa sama mama disini ada buat kamu dan kita bakal terus dukung kamu sayang! Jadi, kamu gak perlu cemas lagi!" sahut Agus.
Ceklek...
Akhirnya pintu terbuka dari dalam, membuat Fadia serta Agus merasa senang.
Grey pun muncul menemui mama papanya itu, ia terlihat kusut dan masih mengenakan baju tidurnya.
__ADS_1
Fadia langsung menghampiri Grey dan mendekap putrinya itu sembari mengusapnya perlahan.
"Ya ampun Grey sayang! Kamu kenapa jadi seperti ini nak?" ucap Fadia cemas.
"Mah, aku rasa aku udah gak ada semangat buat hidup lagi. Sekarang kehidupan aku udah hancur, semuanya gara-gara guru sialan itu! Lebih baik aku mati aja mah, pah!" ucap Grey.
"Kamu ini bicara apa sih sayang? Mama gak suka kamu bicara kayak gitu ah! Jangan pernah berpikir buat akhiri hidup kamu!" tegur Fadia.
"Iya Grey, kamu itu harus semangat dan buktikan ke mereka kalau kamu anak yang kuat! Papa tahu masalah kamu sangat berat, tapi papa yakin kamu pasti bisa melewati semua masalah yang kamu alami saat ini!" sahut Agus.
"Mau gimana lagi pah, mah? Hidup aku udah gak ada artinya. Sekarang aku bukan lagi Grey yang dulu, aku udah beda. Aku gak mungkin bisa hidup dalam keadaan seperti ini!" ucap Grey.
"Kamu pasti bisa sayang! Ada mama dan papa di belakang kamu yang selalu support kamu!" ucap Fadia terus meyakinkan putrinya.
"Iya Grey, kamu tinggal bilang aja apa yang kamu mau, pasti papa bakal lakukan itu! Asal kamu terus semangat ya sayang, dan jangan pernah menyerah!" ucap Agus.
"Entahlah pah, aku gak bisa." kata Grey.
Fadia menoleh ke arah suaminya disertai tangisan air mata yang terus membasahi pipinya, ia benar-benar bingung harus bagaimana untuk membuat Grey kembali bersemangat dan tidak memiliki niatan mengakhiri hidupnya.
•
•
"Cicak cicak di dinding... pak Udin kayak an..." Saka bernyanyi sembari memainkan gitarnya dan sengaja menggantung ujung kalimat.
"JING!" sahut seluruh murid di kelas itu dengan kompak.
"Hahaha..." semuanya tertawa serentak setelah menyanyikan lagu tidak jelas itu.
"Oi Sak, cari lagu yang lain dong! Udah hampir setengah jam kita nyanyinya lagu itu lagi itu lagi, bosen tau!" ujar Toyib salah satu murid disana.
"Oh tenang tenang, santai! Gue masih punya banyak lagu tentang pak Udin," ucap Saka.
"Nah cakep tuh, udah ayo nyanyiin lagi! Biar kita juga bisa tahu lagunya gimana!" ujar Toyib.
"Siap!" ucap Saka.
"Hap—" baru saja Saka hendak bernyanyi kembali, namun tiba-tiba Sahira datang dan membuyarkan semuanya.
"Woi woi woi bubar bubar, duduk di tempat masing-masing dan jangan berisik!" teriak Sahira meminta seluruh murid kembali ke tempat duduknya.
"Yah elah, apaan sih lu Sahira?! Gausah sok asik deh!" ujar Toyib.
"Tau, lu jangan ganggu kesenangan kita yang lagi menghujat pak Udin!" ucap Saka.
"Hadeh, ngapain sih kalian hujat pak Udin? Harusnya kalian sama-sama hujat tuh si Riki, bukan pak Udin!" ujar Sahira.
"Hah? Emang kenapa si Riki?" tanya Saka.
"Dia yang udah sebarin foto Grey ke grup sekolah, kan kurang ajar banget tuh orang!" jawab Sahira.
"Ohh itu mah bukan urusan kita, lebih kurang ajar tuh pak Udin tau! Soalnya dia kasih tugas kelompok ke kita pagi-pagi banget tadi, eh disuruh kumpulin jam delapan pagi ini. Kan stress tuh guru!" ucap Saka.
"Hah? Masa sih? Kapan pak Udin kasih tahunya? Kok gue gak tahu?" ujar Sahira kaget.
"Nah kan, itu dia emang gara-gara si Udin Marfudin yang gak jelas itu! Dia wa jam lima subuh, dikata kita gak sibuk kali ngechat jam segitu!" ucap Saka.
"Haish, ada-ada aja deh!" ujar Sahira kesal.
"Yaudah, lu mau join apa kagak nih sama kita buat hujat pak Udin?" tanya Saka.
"Boleh deh, kayak gimana tuh?" ucap Sahira duduk di kursi dekat Saka.
"Nih dengerin nih ya!" ucap Saka.
Saka pun mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi di hadapan teman-temannya.
"Cicak cicak di dinding, pak Udin kayak anj*ng! Cicak cicak di dinding, pak Udin mirip anj*ng!" Saka terus bernyanyi dengan suara yang lantang.
Perlahan-lahan Sahira mulai menikmati lagu tersebut dan ikut bernyanyi.
Namun, semuanya berubah saat Raisa muncul dan langsung menarik tangan Sahira.
"Eh eh eh, lu apa-apaan sih Rai?! Mau bikin tangan gue putus?" ujar Sahira kesal.
"Sorry Ra! Gue tuh lagi cemas ini, barusan tante Fadia chat gue dan bilang kalau katanya Grey udah putus asa. Malah nih ya, Grey juga mau bunuh diri!" ucap Raisa.
"Hah??" Sahira terkaget-kaget mendengarnya.
"Cicak cicak di dinding, pak Udin kayak anj*ng!" Saka masih terus bernyanyi tanpa perduli dengan kehadiran Raisa disana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...