
#SangPemilikHati Episode 125.
•
•
Ditinggal sang kekasih, membuat El agak bingung bagaimana caranya untuk menikmati hari libur yang membosankan ini.
El hanya bisa duduk-duduk sendiri di taman samping rumahnya, menikmati pemandangan indah yang sebenarnya sudah sering ia lihat.
Sesekali El juga melihat ke langit, membayangkan wajah Keira terpampang disana dan seketika itu juga ia tersenyum karena mengingat wajah cantik gadisnya yang sangat ia sukai.
"Keira, kamu lagi apa sekarang? Aku udah coba hubungi kamu berkali-kali, tapi selalu gak bisa. Segitu marahnya kamu sama aku, sayang? Apa masih ada kesempatan untuk kita kembali seperti dulu lagi? Jujur Keira, aku sayang banget sama kamu dan aku juga cinta sama kamu!" ucap El.
Fiyuuhhh...
El menarik nafas singkat dan membuangnya, menunduk dengan dua tangan saling terkait.
"Tapi, aku juga bingung dengan perasaan aku sendiri. Entah kenapa setiap kali berada di dekat Sahira, aku merasakan sesuatu yang beda. Seakan-akan aku gak bisa jauh dari dia, dan pengen dekat terus sama dia." ucap El.
El mengakhiri obrolannya pada diri sendiri itu dengan mengusap-usap pelipisnya sembari menggeleng perlahan.
"Gano!" ia cukup terkejut karena tiba-tiba saja ada suara berat memanggil namanya.
Itu adalah Erlangga, alias sang ayah yang sedang berjalan ke arahnya.
El pun tersenyum menatap wajah ayahnya sambil tetap duduk, tampak kini Erlangga sudah berada di dekatnya dan duduk di sampingnya.
"Pah, ada apa pah?" tanya El heran.
"Kamu kenapa sendirian aja disini? Ini hari Minggu loh, apa kamu gak ada rencana pergi keluar gitu?" ucap Erlangga.
"Eee enggak ada, pah. Aku mau istirahat aja di rumah, bosan juga kalau keluyuran terus setiap hari. Papa sendiri kok gak pergi jalan-jalan sama mama?" ucap El.
"Ah kamu bisa aja! Papa sebenarnya mau ajak mama kamu jalan, tapi papa gak tahu mau pergi kemana." kata Erlangga.
"Papa ini gimana sih? Tempat wisata di Jakarta itu kan banyak, beragam lagi. Kalau papa mau keluar kota juga bisa, ada banyak tuh destinasinya. Masa papa masih bingung?" ucap El.
"Iya sih, tapi justru itu yang bikin papa bingung. Banyak banget destinasinya," ucap Erlangga.
"Hahaha, iya ya.." El tertawa kecil.
"Yasudah, kamu ada ide gak kira-kira kita pergi kemana hari libur ini? Sekalian aja kamu ikut sama papa, biar gak merenung sendirian disini." kata Erlangga.
"Aku gak bisa ikut, pah. Aku mau di rumah aja tenangin diri, takutnya kalau pergi malah jadi tambah capek." ucap El menolak.
"Memangnya kamu ada masalah apa sih? Coba cerita dong sama papa, siapa tahu papa bisa bantu selesaikan masalah kamu!" ucap Erlangga.
"Cuma masalah kecil kok, biasalah hubungan aku dengan Keira." jawab El tersenyum tipis.
"Oalah, kenapa lagi sama kalian berdua? Kok kayaknya ada masalah terus, si Keira marah lagi sama kamu?" tanya Erlangga penasaran.
"Begitulah pah," jawab El singkat.
"Hadeh, kamu sih bikin masalah mulu sama Keira! Jadinya Keira marah deh sama kamu, harusnya kamu bisa baik-baikin dia dong!" ucap Erlangga.
"Aku udah berusaha pah, tapi susah buat bujuk Keira sekarang." kata El.
"Kamu sabar aja ya El! Mungkin Keira lagi kecewa banget sama kamu, jadinya dia gak mau ketemu sama kamu sekarang. Siapa tahu nanti kalau udah agak tenangan, Keira bisa maafin kamu!" ucap Erlangga tersenyum.
"Iya pah, makasih ya!" ucap El.
"Sama-sama, sudah ya papa mau ke dalam dulu? Kamu jangan kelamaan melamun nanti sakit loh!" ucap Erlangga menepuk pundak putranya.
"Hahaha, iya pah.." El tertawa pelan.
Erlangga pun beranjak dari kursi, lalu pergi dari sana meninggalkan putranya. Erlangga masuk ke dalam rumah, berniat mengajak istrinya jalan-jalan sesuai perkataan ia tadi.
Sementara El tetap terduduk disana, entah mengapa ia sulit sekali melupakan Keira.
•
•
Sahira masih merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi diantara Keira dengan El, ya gadis itu tak menyangka kalau semuanya bisa terjadi.
__ADS_1
Rasanya Sahira ingin sekali menemui Keira dan meminta maaf langsung padanya, namun hingga kini Keira belum bisa dihubungi.
"Duh Kei, kamu itu kemana sih? Kok susah banget buat hubungin kamu?" gumamnya bingung.
Tiba-tiba saja Nur muncul di dekatnya, ia penasaran karena Sahira tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Sahira!" sapa Nur dengan perlahan.
"Eh, kak Nur." ucap Sahira terkejut dan reflek menoleh ke arah Nur.
"Kamu kenapa?" tanya Nur heran.
"Eee enggak kok, aku cuma bingung kenapa Keira sampai sekarang gak bisa dihubungi. Padahal aku mau minta maaf sama dia, tapi telpon atau chat dari aku gak direspon." jawab Sahira.
"Sabar ya Sahira! Mungkin aja Keira masih emosi, kamu tunggu aja sampai suasana hatinya lebih dingin!" ucap Nur menenangkan Sahira.
"Iya kak, semoga aja Keira gak lama-lama marahnya sama aku! Aku beneran gak bisa pisah dari Keira, dia itu udah aku anggap kayak saudara aku sendiri." kata Sahira.
"Aku juga gak mau itu terjadi, kalian kan sahabatan udah lumayan lama, masa mau bubar cuma karena rebutan cowok?" ucap Nur.
"Apa aku langsung samperin aja kali ya ke rumahnya, kak?" tanya Sahira.
"Hah? Kamu emangnya tahu rumah Keira ada dimana? Terus, apa kamu bisa kesana dalam kondisi kayak gini? Kaki kamu kan belum pulih benar sayang, nanti yang ada kamu jatuh loh." ucap Nur cemas.
"Aku bisa kok, kak. Aku juga tahu rumah Keira, waktu itu kan aku sama Keira pernah kesana. Kak Nur gausah khawatir ya, lagian kaki aku kan udah gak sesakit kemarin!" ucap Sahira.
"Tapi, tetap aja aku khawatir tau!" ujar Nur.
"Terus gimana dong kak? Aku pengen banget ketemu Keira sekarang dan jelasin semuanya ke dia, aku gak mau dia salah paham terus kayak gini!" ucap Sahira bingung.
"Iya sayang, aku ngerti. Tapi, aku gak mungkin biarin kamu pergi sendiri. Gimana kalau kamu diantar sama bang Jordan ya? Supaya aku gak khawatir, dan kamu juga bisa aman pergi kesana." ucap Nur memberi usul.
"Boleh tuh kak, jadi aku juga irit ongkos kalau aku dianterin sama bang Jordan." kata Sahira.
"Nah, yaudah biar aku coba bicara dulu ya sama bang Jordan? Kamu disini dulu, jangan langsung pergi sebelum bang Jordan datang!" ucap Nur.
"Iya kak," ucap Sahira menurut.
Nur pun melangkahkan kakinya menghampiri Jordan alias sang suami yang kebetulan sedang menikmati secangkir kopi di ruang tamu.
Jordan sedikit terkejut, namun senang karena Nur datang kesana. Bahkan tanpa bicara banyak, Jordan langsung merangkul pundak istrinya itu sambil tersenyum renyah.
"Eh sayang, ada apa nih? Minta dienakin lagi apa gimana?" tanya Jordan bergurau.
"Ish, enggak mas! Aku mau kasih tahu ke kamu, itu Sahira pengen pergi ke rumah Keira. Kamu bisa kan anterin dia pergi?" jawab Nur.
"Oalah, iya bisa kok. Mana Sahira nya? Kapan dia mau pergi?" tanya Jordan.
"Dia masih di atas, kayaknya sih mau pergi sekarang. Kamu habisin aja dulu kopinya, biar aku ke atas bilang sama Sahira!" jawab Nur.
"Oke!" ucap Jordan.
•
•
Saat Sahira dan Jordan sudah bersiap untuk pergi bersama menuju rumah Keira, mereka terkejut lantaran mobil milik El tiba-tiba muncul dan berhenti disana.
Benar saja yang diduga Sahira, itu memang mobil milik El dan pria itu langsung turun dari mobilnya lalu menghampiri mereka berdua sambil tersenyum.
"Hai Sahira, hai bang!" El menyapa sepasang kakak-adik itu dengan ramah dan lembut.
"Ya, hai juga El! Mau apa kamu datang kesini hari libur begini?" tanya Jordan agak ketus.
"Eee maaf bang! Tapi, gue mau bicara berdua sama Sahira. Ini hal penting menurut gue, dan gue harus segera bicara sama Sahira!" jawab El.
"Mau bicara apa lagi?" tanya Jordan penasaran.
"Soal Keira yang salah paham dengan hubungan gue sama Sahira, gue pengen masalah ini segera terselesaikan! Sahira, bisa kan kita bicara sebentar berdua?" ucap El cukup panik.
"Kebetulan Sahira juga ingin menyelesaikan masalahnya, dia mau ke rumah Keira sekarang juga dan minta maaf sama Keira. Jadi, menurut gue kayaknya kalian gak perlu deh bicara lagi. Biar Sahira bicara langsung aja sama Keira," ucap Jordan.
"Sorry bang! Bukannya gue larang Sahira buat ketemu Keira, tapi sekarang ini Keira lagi pergi ke rumah neneknya sama orangtuanya. Dari semalam gue juga pengen ketemu dia, tapi gak bisa karena dia udah pergi." kata El.
"Pergi ke rumah neneknya? Lalu, lu kesini karena lu ditinggal pergi sama cewek lu gitu? Dan lu mau habisin waktu libur dengan Sahira?" tanya Jordan.
__ADS_1
"Bang, jangan menduga-duga gitu dong! Bisa aja El cuma pengen bicara sesuatu sama gue, gak mungkin lah dia kayak gitu bang!" ucap Sahira menegur abangnya.
"Gapapa Ra, wajar kok abang lu curiga gitu. Dia mungkin gak mau ada masalah lain lagi," ujar El.
"Nah, itu lu tau kenapa gue larang lu bicara sama Sahira. Terus, kenapa lu masih maksa buat bicara sama dia sekarang?" ucap Jordan.
"Sorry bang! Gue emang benar-benar harus bicara sama Sahira! Gue gak mau aja ada kerenggangan diantara kita berdua," ucap El.
"Kenapa? Lu takut jauh dari Sahira? Ingat El, lu udah punya cewek dan cewek lu sahabatnya Sahira! Lu harus bisa jaga perasaan dia, jangan terlalu dekat dengan adik gue! Gue sebagai abang, gak mau kalau adik gue ini dibenci sama sahabatnya sendiri!" ucap Jordan.
"Tenang aja bang! Gue pastiin Sahira dan Keira gak akan mungkin musuhan! Gue juga cuma mau bersahabat sama Sahira kok, gak ada niatan lain!" ucap El.
"Udah lah bang, gapapa kok. Kasih izin aja buat gue bicara sama El! Lu boleh masuk ke dalam lagi bang, soalnya kan gue juga gak jadi pergi ke rumah Keira. Gue pengen hubungan gue sama El dan Keira tuh baik-baik aja," ucap Sahira.
"Yaudah, kalau emang itu mau lu. Gue kasih izin deh buat kalian bicara berdua." kata Jordan.
"Makasih bang!" ucap Sahira tersenyum.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya! Dan ingat, kalian gak boleh terlalu dekat! Kalian bicara aja disini, gue gak bakal dengar kok!" ucap Jordan.
"Oke bang, thanks ya!" ucap El.
Jordan mengangguk singkat, kemudian melangkah pergi membiarkan Sahira dan El bicara berdua.
•
•
Grey diantar oleh supirnya mendatangi lokasi tempat Anisa berada, ia berniat menemui sohibnya itu dan meminta bantuan padanya mengenai masalah yang menimpanya.
Grey memang sudah bingung harus melakukan apa lagi saat ini, tak mungkin jika ia terus menutupi kehamilannya karena lambat laun pasti semua itu akan terlihat juga.
"Gue harus minta bantuan Anisa! Semoga aja dia bisa bantu gue sekarang, supaya gue gak kebingungan lagi!" batin Grey.
Gadis itu turun dari mobilnya, menuju ke tempat tinggal Anisa dan memanggil sahabatnya itu agar mereka bisa segera bertemu.
"Permisi!" ucap Grey sedikit berteriak.
Tak lama kemudian, Anisa langsung muncul keluar dan tersenyum melihat kehadiran Grey disana.
"Eh Grey udah sampe, yuk masuk!" ucap Anisa.
"Oke thanks!" ucap Grey tersenyum.
Anisa membukakan pintu pagarnya, lalu mengajak Grey masuk ke dalam. Mereka pun melangkah bersamaan menuju kamar kos Anisa, karena Grey tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Sesampainya di kamar, kedua gadis itu duduk di atas ranjang dan bersiap-siap untuk memulai obrolan.
Grey tampak bingung harus darimana untuk mulai menceritakan semuanya pada Anisa, sedangkan Anisa sendiri sudah tidak sabar ingin segera mendengar cerita dari Grey.
"Grey, jadi gimana? Lu udah siap belum buat cerita sama gue?" tanya Anisa penasaran.
"Eee iya, udah kok Nis. Sorry ya lama! Soalnya gue harus pilih-pilih kata dulu," ucap Grey gugup.
"Santai aja! Sekarang kan hari libur, jadi gue free lah gak ada kerjaan apa-apa. Lu kalau belum siap dan masih butuh waktu, ya terserah aja! Gue sabar kok nungguin," ucap Anisa.
"Gausah, gue bakal cerita sekarang kok biar cepat juga. Karena abis ini gue mau langsung ke kantor polisi," ucap Grey.
"Hah? Kantor polisi? Mau ngapain lu ke kantor polisi, Grey? Ada urusan apa lagi?" tanya Anisa heran.
"Gue mau ketemu sama pak Panca disana, kan gue belum datengin dia. Beda sama Riki kemarin, gue udah sempat temuin dia dan bahkan caci maki dia di depan bokap nyokap gue." jawab Grey.
"Hadeh, buat apa sih lu temuin pak Panca? Ngapain coba?" tanya Anisa.
"Gue emang harus temuin dia, Nis. Gue pengen minta tanggung jawab dari dia atas segala perbuatan yang udah dia lakuin ke gue, gue gak terima dong kalo dia cuma enak-enakan di penjara!" jawab Grey.
"Udah lah Grey, biarin aja si Panca itu membusuk di penjara! Lu jangan ganggu-ganggu dia lagi!" ucap Anisa.
"Gak bisa Nis, dia harus tau kalau sekarang di rahim gue ada anak dia! Dan gue pengen dia tanggung jawab untuk menafkahi anaknya yang ada di rahim gue ini," ucap Grey.
"Hah? Apa??" Anisa tersentak kaget mendengar pengakuan Grey barusan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1