
#SangPemilikHati Episode 135.
•
•
Malam telah tiba, Thoriq menghampiri Sahira yang tengah duduk seorang diri di ayunan samping rumahnya sembari melamun.
Tentu saja Thoriq penasaran mengapa adiknya itu melamun disana, ia berniat menghibur Sahira agar gadis itu tidak terus-terusan bersedih.
"Sahira," ucap Thoriq memanggil adiknya.
Sahira terkejut dan tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke samping seraya mendongakkan kepalanya.
"Bang Thoriq? Kenapa bang?" tanya Sahira sambil berusaha menenangkan dirinya.
"Gue boleh ikut duduk disini gak?" ucap Thoriq meminta izin pada Sahira.
"Eee boleh kok, silahkan aja!" Sahira membiarkan abangnya duduk di sebelahnya.
Thoriq tersenyum singkat, kemudian duduk di samping Sahira dengan membungkukkan badannya namun masih menatap wajah Sahira.
"Lu lagi ngelamunin apa?" tanya Thoriq penasaran.
"Umm, gue lagi galau bang. Gue bingung banget harus ngapain besok di sekolah, rasanya gue pengen bolos aja deh besok biar gue gak ketemu sama tuh orang." jawab Sahira.
"Hah? Orang siapa yang lu maksud? El?" tanya Thoriq menebak-nebak.
"Bu-bukan bang, bukan dia. Ngapain juga gue masih mikirin dia?" jawab Sahira.
"Ohh, terus kalo bukan dia siapa dong? Apa lu punya kenalan cowok baru di sekolah?" tanya Thoriq sembari menyandarkan tubuhnya.
"Eee gue lagi mikirin kak Farhan, bang." jawab Sahira sedikit gugup.
"Farhan? Ohh gue inget, dia ini cowok yang juga pernah datang kesini kan? Kalau gak salah, dia kayaknya suka deh sama lu." ujar Thoriq.
"Iya bang, bener. Malah tadi dia nembak gue lagi buat yang kedua kalinya, gue kan jadi bingung bang harus jawab apa." kata Sahira.
"Loh, kenapa bingung? Kalau lu suka sama dia dan lu pengen pacaran sama dia, yaudah terima aja. Tapi, kalau lu gak punya perasaan ke dia ya mending lu tolak deh daripada dia sakit hati nantinya!" saran Thoriq.
"Itu dia bang, gue bingung sama perasaan gue sendiri. Gue gak tahu apa gue suka atau enggak sama dia, makanya sampai sekarang gue masih mikirin soal itu." kata Sahira.
"Ya ampun! Kok bisa sih lu gak tahu sama perasaan lu sendiri?" ujar Thoriq heran.
"Entahlah bang, gue juga gak ngerti." ucap Sahira.
"Hadeh, tapi kalau saran gue nih ya mending lu terima aja deh si Farhan itu!" usul Thoriq.
"Hah? Kenapa gitu?" tanya Sahira penasaran.
"Ya iya Sahira, kalau lu terima kan otomatis lu sama Farhan jadian tuh, terus pasti si El gak bakal berani lagi buat deketin lu deh!" jawab Thoriq.
"Nah, itu juga yang gue pikirin selama ini bang. Makanya gue sampai bohong sama El, kalau gue dan kak Farhan udah jadian." kata Sahira.
"Oh ya? Terus, reaksi El gimana tuh? Dia percaya apa enggak?" tanya Thoriq.
"Kayaknya dia masih ragu, buktinya dia masih tetep ngejar-ngejar gue tadi." jawab Sahira.
"Yaudah, kalo gitu lu harus terima Farhan buat jadi pacar lu! Terus selama di sekolah, kalian berdua mesra-mesraan setiap kali ketemu sama El. Gue jamin El pasti percaya!" ucap Thoriq.
"Yakin?" tanya Sahira ragu.
"Lu masih meragukan pikiran gue? Dengar ya Sahira, gue ini ahli dari segala ahli berpikir. Jadi, lu jangan raguin kualitas berpikir gue!" ujar Thoriq.
"Hahaha, iya deh iya percaya.." ujar Sahira tertawa.
"Nah gitu dong! Sekarang mending lu masuk deh, udah malam nih nanti masuk angin!" ucap Thoriq.
"Nanti dulu bang, gue masih mau disini. Lihat deh bintang-bintang itu, indah banget kan?" ujar Sahira mendongak seraya menunjuk ke langit.
"Iya, indah banget. Tapi, tetap aja gak bisa ngalahin keindahan lu Sahira." ucap Thoriq spontan.
"Dih dasar tukang gombal! Adiknya sendiri aja masih digombalin, tobat bang tobat!" ujar Sahira sembari mendorong lengan Thoriq.
"Hahaha, gapapa lah sekali-kali." ujar Thoriq.
Mereka tampak saling tertawa dan berbagi keceriaan disana.
•
•
Keesokan paginya, Sahira telah bersiap untuk berangkat menuju sekolahnya. Ia juga tampak lebih ceria dibanding sebelumnya dan terus senyum-senyum saat melangkah.
Sahira pun menghampiri keluarganya yang sudah menunggu di meja makan, terlihat ada ibu serta kedua abangnya disana. Sedangkan Nur tidak tampak berada di tempat itu.
"Pagi ibu, pagi abang!" ucap Sahira menyapa mereka sambil tersenyum renyah.
__ADS_1
"Wah wah wah, pagi juga sayang! Kamu kenapa nih, kayak senang banget?" ujar Ratna.
"Pasti senang lah Bu, dia kan baru jadian sama cowok." celetuk Thoriq.
"Hah yang bener? Siapa?" tanya Jordan kaget.
"Ish, apaan sih bang Thoriq? Gue gak jadian sama siapa-siapa ya, jangan gosip deh!" elak Sahira.
"Halah pake ngeles lagi lu! Udah, bilang aja kali ke ibu sama Jordan kalo lu jadian sama Farhan!" ucap Thoriq terkekeh pelan.
"Farhan? Farhan siapa sayang?" tanya Ratna terheran-heran.
"Ohh, jangan-jangan ini Farhan yang teman sekolah lu itu ya Sahira?" ucap Jordan menebak-nebak.
"Nah benar tuh, Farhan yang itu. Dia udah tembak Sahira dua kali loh, dan sekarang Sahira terima." jawab Thoriq.
"Bang udah ya, biar gue aja yang jawab!" pinta Sahira.
"Hehe iya iya.." ujar Thoriq sambil nyengir.
Sahira langsung menarik kursi dan duduk di sebelah abang serta ibunya.
"Jadi, apa yang mau kamu jelasin sayang? Benar kan kalau kamu udah jadian?" tanya Ratna.
"Eee enggak Bu, itu gak benar. Bang Thoriq mah ngasal aja jawabnya tadi, padahal aku sama kak Farhan belum jadian kok. Emang sih dia kemarin tembak aku, tapi aku kan belum kasih jawaban apa-apa ke dia. Jadi otomatis aku sama dia belum jadian dong Bu," jelas Sahira.
"Yah elah ribet amat, kan tinggal lu jawab iya gitu nanti di sekolah!" ujar Thoriq.
"Ih apaan sih bang?!" ujar Sahira kesal.
"Udah udah jangan ribut! Sahira sayang, emangnya kenapa kamu gak iyain aja ajakan nak Farhan itu? Kalau kamu emang suka sama dia, yaudah gapapa kamu terima aja dia." kata Ratna.
"Eee aku belum tau Bu, aku masih bingung apa aku suka sama dia atau enggak. Mungkin kalau aku udah nemu jawabannya, aku bakal langsung kasih tau ke dia nanti." ucap Sahira.
"Sahira, ini kesempatan loh buat lu. Dengan lu jadian sama Farhan, pasti si El gak bakal deketin lu lagi!" ucap Jordan.
"Nah kan, Jordan aja sepemikiran sama gue. Udah lah gausah banyak mikir, langsung aja terima si Farhan jadi pacar lu!" sahut Thoriq.
"Bang, masalahnya gue kan belum tahu apa gue cinta sama dia atau enggak. Semisal gue gak nyaman jadian sama kak Farhan gimana? Emang kalian berdua mau tanggung jawab?" ujar Sahira.
"Iya sayang, benar kata Sahira. Biarin aja Sahira mutusin jawabannya sendiri," ucap Ratna.
"Yaudah, tapi ingat loh Sahira lu kalau di sekolah jangan deket-deket sama El terus!" ucap Jordan.
"Iya bang, itu mah gue inget kok." ucap Sahira.
"Baguslah, terus gimana soal Keira? Lu udah minta maaf sama dia dan jelasin langsung ke dia belum?" tanya Jordan penasaran.
"Loh kenapa belum?" tanya Jordan.
"Gue masih bingung bang, lagian kemarin juga Keira nya lagi sibuk jalan bareng El. Kayaknya hubungan mereka udah membaik deh, itu lebih bagus kan?" jawab Sahira.
"Ya iya bagus, tapi tetap aja lu harus ngobrol sama Keira! Jelasin ke dia, kalau diantara lu dan El itu gak ada apa-apanya! Jangan sampai dia mikir yang enggak-enggak ke lu!" ucap Jordan.
"Iya bang, mungkin nanti siang gue bakal temuin Keira." kata Sahira.
"Oke, kita sekarang jangan ngobrol terus ya! Mending kita sama-sama sarapan," ucap Ratna.
"Ibu bener tuh, kebetulan aku juga udah lapar." ucap Thoriq sambil nyengir.
"Yeh lu mah laper terus!" cibir Sahira.
•
•
Disaat Sahira keluar rumah dan hendak berangkat sekolah, di depan rumahnya justru sudah berdiri sosok pria yang tidak lain tidak bukan adalah Farhan si kakak seniornya di sekolah.
Sahira pun terkejut dan kebingungan melihat kehadiran Farhan disana, ia menoleh sekilas ke arah Thoriq seperti meminta saran dari abangnya itu mengenai apa yang harus dia lakukan.
"Hai Sahira, hai bang! Selamat pagi!" Farhan menyapa mereka sambil tersenyum renyah.
"Eee iya, pagi juga kak!" balas Sahira.
"Pagi Farhan!" sahut Thoriq.
"Bang, saya mau minta izin nih buat antar Sahira ke sekolah. Kebetulan ada yang mau saya obrolin juga sama Sahira di jalan nanti," ucap Farhan.
"Oh boleh, silahkan aja kalian berangkat bareng! Sahira juga pasti mau kok, ya kan?" ucap Thoriq.
"Hah? Eee iya iya, aku mau kok. Tapi, kak Farhan kenapa gak bilang dulu kalau mau jemput aku kesini? Tau gitu kan tadi aku buru-buru dan gak leha-leha," ucap Sahira.
"Gapapa Sahira, aku sengaja mau kasih kejutan buat kamu. Sekalian ada yang mau aku sampaikan ke kamu," ucap Farhan sambil tersenyum.
"Tapi, kak Farhan nunggunya udah lama ya? Aku kan jadi gak enak," tanya Sahira cemas.
"Enggak kok, belum terlalu lama. Lagipun, mau berapa lama juga kalau nunggu kamu mah aku gak akan ngerasa masalah." jawab Farhan.
__ADS_1
"Bisa aja," ucap Sahira tersipu.
Thoriq senyum-senyum saja melihat adiknya mulai dibuat melayang oleh Farhan, ia sangat berharap jika Sahira dan Farhan dapat menjadi sepasang kekasih.
"Yaudah, kamu sana gih ikut sama Farhan! Kalau kelamaan disini, nanti telat loh!" ujar Thoriq.
"I-i-iya bang, kalo gitu gue sama kak Farhan pergi dulu ya?" ucap Sahira pamit.
"Iya, hati-hati kalian!" ucap Thoriq tersenyum.
Sahira pun mencium tangan Thoriq dan duduk untuk memakai sepatunya.
Farhan juga melakukan hal yang sama, ia mencium tangan Thoriq sekaligus berpamitan.
"Bang, saya pergi sama Sahira ya?" ucap Farhan.
"Iya Farhan, jangan ngebut-ngebut loh! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Sahira, lu yang gue cari dan minta tanggung jawab!" tegas Thoriq.
"Tenang aja bang! Insyaallah Sahira aman kok sama saya!" ucap Farhan.
"Iya bang, udah lu gausah cemas gitu! Kak Farhan kalau bawa mobil hati-hati kok, dia mana pernah ngebut-ngebut gak jelas? Yang ada tuh lu sendiri bang yang suka ngebut," ucap Sahira.
"Hahaha, cie yang udah mulai belain calon pacarnya nih ye..." goda Thoriq.
"Apaan sih bang? Gue tuh cuma bilang yang sejujurnya, gausah ngada-ngada deh lu!" elak Sahira tampak malu-malu.
"Oke, tapi beneran kan kalo lu emang pengen belain si Farhan ini?" ujar Thoriq.
"Ah terserah lu aja deh! Udah, gue mau pergi sekarang. Yuk kak kita cabut!" ucap Sahira.
"I-i-iya.." ucap Farhan menurut saja.
Tanpa sadar, Sahira menggandeng lengan Farhan saat melangkah pergi menuju mobil pria itu.
Farhan tak menepis tangan Sahira, ia justru senang karena memang itulah yang ia inginkan.
Thoriq yang melihat itu terkekeh kecil, entah mengapa ia senang menyaksikannya.
Setelah Farhan dan Sahira pergi, Thoriq kini masuk kembali ke dalam rumahnya.
Saat hendak masuk, Thoriq justru berpapasan dengan ibunya yang ingin keluar.
"Loh loh, kamu kok balik lagi?" tanya Ratna heran.
"Sahira mana? Perasaan cepet banget kamu anterin Sahira ke sekolahnya, baru juga beberapa menit lalu kalian keluar." sambungnya.
"Tenang dulu Bu! Jadi, Sahira itu diantar sama Farhan, calon pacarnya itu. Makanya aku balik lagi deh kesini, aku gak perlu anterin Sahira dan bisa nyantai deh di rumah." jelas Thoriq.
"Oalah, jadi ada nak Farhan di depan? Kok Sahira gak kasih tau ibu sih?" tanya Ratna.
"Sahira juga baru tau tadi Bu pas kita mau berangkat ke sekolah," jawab Thoriq.
"Ohh, pantes aja. Yaudah deh, kalo gitu kamu anterin ibu aja ya!" ucap Ratna.
"Siap Bu!" ucap Thoriq menurut.
•
•
Farhan dan Sahira kini telah berada di mobil dalam perjalanan menuju sekolah.
Mereka saling terdiam dan tak ada yang berani mengangkat bicara karena sama-sama bingung.
Sampai akhirnya, Sahira pun mulai memberanikan diri membuka mulutnya.
"Eee kak Farhan..." ucap Sahira pelan.
"Eh, iya kenapa Sahira?" tanya Farhan.
"Tadi kan kamu bilang mau ada sesuatu yang diobrolin sama aku, itu soal apa ya? Terus kenapa kamu malah diem aja?" ucap Sahira penasaran.
"Oalah, iya iya maaf aku lupa! Abis aku bingung sih harus mulai darimana ngomongnya, aku selalu gugup tiap kali ada di dekat kamu." ujar Farhan.
"Kenapa gitu? Harusnya kamu gak perlu gugup segala lah, kalau mau ngobrol ya tinggal ngobrol aja!" ucap Sahira tersenyum lebar.
"Iya Sahira, sebenarnya aku itu cuma mau tanya soal jawaban kamu dari pertanyaan aku yang kemarin itu. Kamu bersedia gak buat jadi pacar aku?" ucap Farhan penuh harap.
"Duh, entahlah aku masih bingung kak. Kayaknya aku butuh waktu lebih lama deh," ucap Sahira.
"Oh gitu, ya gapapa sih sebenarnya. Aku juga siap untuk meyakini kamu bahwa aku adalah orang yang cocok untuk kamu! Jadi, kapanpun kamu mau jawab itu terserah kamu aja. Maaf ya, tadi aku cuma mau mastiin aja!" ucap Farhan.
"Iya kak, aku paham kalau kamu udah gak sabar tunggu jawaban dari aku. Tapi, aku harus benar-benar tahu diri tentang kamu sebelum mutusin buat jadi pacar kamu." kata Sahira.
"Aku ngerti kok soal itu," ucap Farhan.
Sahira pun tersenyum sembari menatap wajah Farhan, dengan sengaja Farhan menggerakkan tangannya mengusap puncak kepala Sahira.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...