
#SangPemilikHati Episode 124.
•
•
Nawal yang tengah duduk sendirian di sebuah taman, terkejut ketika melihat abangnya datang kesana dan langsung mendekatinya.
"Hey!" ucap Thoriq seraya menepuk pundak Nawal dan duduk di samping adiknya itu.
"Bang, lu ngapain disini? Tahu darimana kalau gue ada disini?" tanya Nawal heran.
Thoriq hanya senyum-senyum sendiri sambil terus memandangi wajah Nawal, membuat Nawal semakin bingung dan penasaran mengapa abangnya bisa ada disana.
Thoriq langsung merangkul pundak Nawal, merapatkan jarak diantara mereka sembari mengusap puncak kepala gadis itu. Nawal hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan abangnya.
"Lu apa sih bang? Ngapain?" tanya Nawal kesal.
"Dulu, waktu pertama kali mama bilang ke gue kalau dia punya anak selain dari papa, reaksi gue juga sama kayak lu. Gue marah, gak terima, dan gue gak mau mengakui mereka sebagai saudara gue." ucap Thoriq sembari mengingat masa lalunya.
"Mah, gimana bisa mama punya anak dari lelaki lain? Emangnya mama—"
"Iya sayang, mereka itu anak-anak pertama dan kedua mama. Kamu harus bisa terima mereka ya, mereka itu juga saudara kamu!"
"Aku gak bisa mah, buat apa aku harus terima orang-orang yang gak aku kenal? Saudara aku itu cuma Nawal, gak ada yang lain!"
Thoriq tersenyum sendiri ketika mengingat kembali kata-kata dirinya saat berbicara dengan ibunya dahulu.
"Tapi, lambat laun gue mulai bisa terima dan mengakui mereka sebagai saudara gue. Ternyata setelah kita saling mengenal, mereka itu asik dan seru juga kok! Gue yakin lu pasti suka berkawan sama mereka!" ucap Thoriq meyakinkan adiknya.
"Gue itu beda sama lu, bang. Gue gak secepat itu bisa terima orang yang gak gue suka. Setelah beberapa hari gue kenal sama Sahira dan Jordan, gue tetap aja susah buat terima mereka. Kayaknya emang gue ini gak ditakdirkan untuk bisa akrab sama mereka deh," ucap Nawal.
"Hahaha, mana ada takdir begitu? Lu pasti bisa kok! Justru menurut gue, lu itu beruntung tau. Karena lu kenal bang Jordan disaat dia udah bisa terima ibu," ucap Thoriq tersenyum.
"Emangnya kenapa, bang?" tanya Nawal bingung.
"Dulu itu, bang Jordan sempat marah besar sama ibu karena ibu udah tinggalin dia dan Sahira sewaktu kecil. Malahan bang Jordan sempat kasar dan maki-maki ibu, untung aja ibu bisa sabar buat hadapi bang Jordan. Akhirnya sekarang bang Jordan bisa terima ibu lagi, harusnya lu juga contoh sikap bang Jordan itu!" jawab Thoriq.
"Maksud lu, gue harus maki-maki Sahira gitu dan kasarin dia?" tanya Nawal kebingungan.
"Yeh bukan yang itu yang ditiru. Maksud gue, lu tiru sikap bang Jordan yang udah bisa berlapang dada mau menerima ibu lagi di hatinya walau dulu ibu pernah tinggalin dia. Lu juga harus bisa terima Sahira sama Jordan!" jawab Thoriq.
"Ohh, nanti nanti aja lah bang gue mikirinnya. Sekarang gue mau nyantai dulu disini, lu jangan bahas soal itu dulu!" ujar Nawal.
"Haish, lu susah banget sih dibilanginnya! Kasihan tau ibu, emang lu mau bikin ibu sedih dan bingung terus-terusan? Sikap lu itu kekanak-kanakan tau gak?!" ujar Thoriq emosi.
"Kok lu jadi emosi sih sama gue?" ucap Nawal.
"Ya gimana gue gak emosi? Punya adik begini amat sikapnya, susah buat dirubah. Apa lu mau selamanya benci sama mereka?" ucap Thoriq.
"Kan tadi gue udah bilang, gue bakal pikirin nasehat dari lu. Jangan maksa dong bang!" ucap Nawal.
"Okay, gue kasih lu waktu buat pikirin itu. Tapi, sekarang kita balik yuk ke rumah Jordan! Ibu nyariin lu tuh, ibu ngiranya lu pergi karena masih gak suka sama Sahira." ucap Thoriq.
"Kan emang bener." kata Nawal.
"Hadeh, udah ayo balik!" paksa Thoriq.
Thoriq langsung berdiri, menarik lengan Nawal dan membawanya pergi secara paksa.
•
•
Malam harinya, El datang berkunjung ke rumah Keira sembari membawa buket bunga di tangannya serta kotak hadiah yang entah berisi apa.
El hendak meminta maaf pada Keira, sekaligus mengajak gadisnya itu jalan-jalan menikmati malam yang indah ini.
"Huft, semoga kali ini Keira gak nolak buat pergi berdua sama gue!" ucap El.
Disaat El hendak mengetuk pintu, ia terkejut karena pintu sudah terbuka lebih dulu dan memperlihatkan Lingga alias sang ayah dari Keira yang sepertinya hendak pergi.
"Halo om! Selamat malam!" ucap El menyapa calon mertuanya sembari mencium tangannya.
"Loh, nak El? Datang kesini kok gak bilang-bilang dulu sih?" ucap Lingga terkejut.
__ADS_1
"Iya nih om, saya soalnya mau kasih kejutan buat Keira. Jadi, rencananya malam ini saya pengen ajak Keira jalan-jalan. Keira nya ada di dalam kan om?" ucap El menjelaskan pada Lingga.
"Ada sih dia di dalam, tapi kebetulan juga malam ini kita sekeluarga udah punya rencana buat pergi menginap ke rumah neneknya Keira di Raja Ampat. Kamu sih gak bilang dulu sama om, jadi kayak gini kan!" ucap Lingga.
"Duh, terus kira-kira gimana ya om? Masalahnya saya ini lagi mau memperbaiki hubungan saya dengan Keira, om." ucap El bingung.
"Om tahu kok, kelihatan tadi kalau Keira sedang sedih. Untuk sementara ini, biarkan saja Keira pergi dulu sama om dan tante. Ya anggap aja buat refreshing, supaya dia gak sedih terus. Nanti begitu dia agak tenang, baru deh kamu bisa ajak Keira buat jalan-jalan lagi." saran Lingga.
"Oke deh om, saya ngikut aja sama saran om. Saya juga gak mau sih kalau Keira sedih terus, semoga dengan dia pergi sama om dan tante ke rumah neneknya, dia bisa lebih tenang!" ucap El.
"Ya, semoga saja! Kamu tidak usah cemas El! Om bakal jaga Keira kok, dia gak akan kenapa-napa!" ucap Lingga tersenyum tipis.
"Iya om, aku percaya sama om. Tapi, kira-kira boleh gak ya om kalau saya titip hadiah buat Keira ini ke om? Saya kan gak bisa ajak Keira jalan-jalan, jadi saya titip ini aja ya ke om buat dikasih ke Keira?" ucap El.
"Oh gitu, ya boleh kok. Sini biar nanti om yang sampaikan ke Keira!" ucap Lingga.
"Ah terimakasih om!" ucap El tersenyum lega.
El pun menyerahkan bunga beserta kotak yang ia pegang itu kepada Lingga, dengan senang hati Lingga menerimanya dan terlihat penasaran.
"Apa isi di kotak ini, nak El?" tanya Lingga.
"Eee bukan apa-apa kok, om. Itu cuma hadiah kecil untuk Keira, sebagai permintaan maaf saya. Jujur saya gak bisa didiemin terus sama Keira kayak gini! Makanya saya coba kasih hadiah itu ke dia, dan di dalam juga ada surat dari saya." jelas El.
"Oalah, yasudah nanti om kasih barang ini ke Keira. Dia kayaknya masih siap-siap," ucap Lingga.
"Makasih om! Kalo gitu saya izin pamit aja ya, om?" ucap El hendak pergi.
"Baiklah, hati-hati ya nak El! Titip salam buat papa kamu!" ucap Lingga.
"Siap om!" ucap El tersenyum, kemudian mencium tangan Lingga dan pergi dari sana.
•
•
Lingga masuk ke dalam rumahnya, membawa serta bunga dan kotak berisi hadiah yang tadi diberikan oleh El.
Saat Lingga hendak naik ke atas kamar putrinya, rupanya Keira sudah lebih dulu turun ke bawah bersama Zahra yang menemaninya.
"Papa, mau kemana?" tanya Zahra bingung.
"Ini loh pah, Keira tadi sempat nolak dan gak mau ikut ke rumah neneknya." ucap Zahra.
"Waduh, kenapa sayang? Kok kamu gak mau ikut sih? Emangnya kamu gak kangen sama nenek, ha?" tanya Lingga pada Keira.
"Bukan gitu pah, aku cuma lagi malas aja buat bepergian. Tapi, karena mama sama papa maksa yaudah deh aku jadi mau ikut." jawab Keira.
"Ya bagus deh," ucap Lingga tersenyum tipis.
"Pah, itu papa bawa bunga buat siapa toh?" tanya Zahra keheranan melihat suaminya membawa buket bunga di tangannya.
"Oh iya, ini untuk kamu Keira." jawab Lingga seraya menyerahkan bunga itu pada Keira.
"Kok buat aku, pah? Bukannya buat mama aja?" tanya Keira penasaran.
"Memang itu untuk kamu, kalau papa kasih ke mama berarti tandanya papa gak amanah dong." jawab Lingga terkekeh.
"Loh, emang ini bunga dari siapa pah?" tanya Zahra keheranan.
"Dari nak El, barusan dia datang kesini bawa bunga sama hadiah ini buat kamu Keira. Tadinya dia mau ketemu sama kamu buat minta maaf, tapi karena kita sekeluarga mau pergi, jadinya El urungkan niatnya dan titipin semua ini ke papa." jelas Lingga.
"Kalo gitu bunganya mama yang pegang aja, ya? Aku gak mau terima apapun dari El untuk saat ini, termasuk kotak itu." ucap Keira memberikan bunga itu kepada mamanya.
"Aduh sayang! Kenapa malah dikasih mama? Udah, ini kamu ambil aja ya!" ujar Zahra.
"Gapapa mah, buat mama aja." ucap Keira.
"Lalu, kotak ini gimana sayang? Kamu gak mau terima juga?" tanya Lingga bingung.
"Gak mau pah, papa pegang aja." jawab Keira.
"Loh jangan dong! Seenggaknya ini kamu buka dulu, supaya kamu bisa tau isinya. Nanti setelah itu, baru deh terserah kamu mau diapain kek barangnya papa gak akan larang!" ujar Lingga.
"Iya sayang, kamu terima dulu barangnya ya!" sahut Zahra.
__ADS_1
"I-i-iya pah, mah.." ucap Keira menurut.
Keira pun mengambil kotak itu dari tangan papanya, kemudian melepas pita di atasnya dan membuka kotak tersebut.
Keira terkejut saat melihat isinya, itu adalah sebuah skincare yang selama ini ia ingin beli disertai kertas kecil berisi tulisan.
"Apa isinya sayang?" tanya Zahra penasaran.
"Ini ada skincare, mah. Mama mau?" jawab Keira.
"Wah itu mahal banget loh sayang! Mending buat kamu aja, supaya nak El makin terpikat sama kamu. Katanya kamu gak mau kehilangan dia kan?" ucap Zahra terkekeh.
"Iya sih mah.." ucap Keira.
"Terus, itu isi suratnya apa? Kamu coba baca dulu!" ucap Lingga.
"Iya pah, ini aku mau baca." ucap Keira.
Lingga tersenyum menganggukkan kepala, sedangkan Keira mengambil kertas itu dan membaca isinya.
Malam sayangku! Aku yakin begitu kamu baca surat ini, pasti kamu udah tau kan isi dari kotak yang aku kasih ke kamu?! Nah, disini aku cuma mau bilang sama kamu kalau aku itu cinta banget sama kamu! Aku pengen hubungan kita kembali seperti dulu lagi, jangan marah terus ya cantik! Aku tunggu jawaban dari kamu, Keira pacarku!
•
•
Huweekk huweekk...
Lagi-lagi Grey merasa mual dan ingin muntah saat ia sedang menikmati makan malam bersama papa mamanya di rumah, ia pun langsung beranjak dari sana menuju kamar mandi.
Grey menyalakan keran untuk menyamarkan suara darinya, ia menatap cermin sembari membersihkan sisa-sisa muntahan di bibirnya. Grey kini menangis dan kembali teringat pada momen kelamnya.
"Sampai kapan lu bisa tutupi ini semua dari mereka, Grey?" ucapnya.
Setelah selesai, Grey pun keluar dari kamar mandi dengan terus memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.
Grey sama sekali tak menyangka kalau hamil itu rasanya sesakit ini, mungkin karena ini pertama kali baginya dan usianya juga masih terlalu muda.
Saat Grey kembali ke meja makan, terlihat dua orangtuanya masih berada disana dan tak ada sama sekali raut kecurigaan di wajah mereka.
"Mah, pah, maaf ya aku lama!" ucap Grey.
"Gapapa sayang, udah ayo duduk lagi! Kita sambung makannya!" ucap Fadia.
"I-i-iya mah.." Grey menurut, menarik kursi lalu duduk kembali di tempatnya.
"Sayang, kamu sakit ya?" tanya Fadia cemas.
"Iya Grey, wajah kamu pucat loh. Sepertinya kamu lagi gak enak badan, mungkin karena itu kamu tadi mual-mual." sahut Agus.
"Ah enggak kok mah, pah. Aku baik-baik aja!" jawab Grey berbohong.
"Kamu yakin? Apa perlu papa bawa kamu ke rumah sakit sekarang untuk diperiksa?" tanya Agus.
"Hah??" Grey panik, ya tentu saja karena ia tak mau papa mamanya tahu bahwa dirinya saat ini sedang mengandung anak dari pak Panca.
"Gawat nih! Kalau papa maksa bawa gue ke rumah sakit, bisa-bisa kehamilan gue terbongkar nih. Gue harus cari cara buat nolak!" batin Grey.
"Sayang, kamu kenapa malah diam? Mau ya papa bawa ke rumah sakit buat diperiksa?" ucap Agus bertanya pada putrinya.
"Eee ja-jangan pah!" ucap Grey gugup.
"Loh, kok jangan? Emangnya kenapa? Kamu itu lagi sakit sayang, kita harus periksa ke dokter biar tahu apa penyakitnya!" ujar Agus.
"Iya sayang, kamu ke dokter ya!" sahut Fadia.
"Gak perlu mah, pah. Aku ini baik-baik aja kok, aku cuma kurang istirahat. Palingan besok juga aku udah agak mendingan, jadi gausah ke rumah sakit ya mah, pah!" ucap Grey.
"Yaudah deh sayang, mama gak bisa paksa kamu." kata Fadia.
"Ya, papa juga gak bisa maksa kalau kamu gak mau. Tapi, abis ini kamu harus langsung istirahat ya!" ucap Agus.
"Oke pah!" ucap Grey tersenyum lega.
"Huh untung aja gue berhasil bikin papa sama mama percaya kalau gue baik-baik aja!" batin Grey.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...