Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Gagal terus


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 131.




"Mas, sebenarnya ada apa sih? Kamu kan yang rencanain semua ini?" tanya Zahra bingung.


"Bukan mah, tapi nak El. Ini bagian dari permohonan maaf dia ke Keira," jawab Lingga.


"Ohh jadi nak El yang buat semua ini? Pasti ide dari papa juga kan?" ucap Zahra.


"Ide sih enggak, tadi papa cuma kabarin nak El kalau Keira sudah mau pulang ke Jakarta. Mungkin aja nak El punya inisiatif untuk bikin semua ini," ucap Lingga.


Zahra menggelengkan kepalanya, Lingga masih tampak senyum-senyum dan terus menatap keluar menanti kejutan lainnya dari Elargano.


Sementara Keira sudah turun dari mobilnya, ia bingung siapa yang sudah membuat semua ini. Gadis itu pun terus menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari seseorang.


Tak lama kemudian, sebuah balon terbang ke arahnya dan menabrak wajahnya.


"Eh!" Keira terkejut dan mengambil balon itu.


Keira menemukan sebuah kertas menancap pada balon itu, ia pun membukanya dan membaca tulisan yang ada disana.


"Maafkan aku Keira? Maksudnya apa?" ujar Keira.


"Ehem ehem..." Keira terkejut saat ada seseorang berdehem di dekatnya.


Gadis itu langsung menoleh, menangkap sosok El tengah berdiri menatapnya sambil tersenyum.


"Hai Keira sayang!" ucap El dingin.


"El? Ka-kamu.."


"Iya beb, ini aku. Selamat datang kembali di Jakarta ya sayang! Aku senang bisa lihat wajah kamu lagi, i love you so much!" potong El sembari melangkah mendekati gadis itu.


"Untuk apa sih kamu lakuin semua ini? Apa kamu kira aku bakal maafin kamu hanya karena kejutan ini? Gak akan El, hati aku udah cukup sakit dengan perlakuan kamu selama ini ke aku! Aku rasa kita juga udah gak mungkin bersatu!" ucap Keira.


El meraih dua tangan Keira dan menggenggamnya dengan erat.


"Hey, kamu kenapa bicara begitu sih? Kamu gak boleh ngomong gitu ya sayang! Hubungan kita pasti berlanjut!" ucap El.


"Aku minta maaf sama kamu! Aku benar-benar gak punya niat untuk bikin kamu sakit hati, antara aku dengan Sahira itu gak ada apa-apa. Tolong kamu jangan berpikir yang enggak-enggak!" sambungnya.


Keira menghentakkan tangannya lepas dari genggaman El, lalu menatap tajam ke arah El sambil menunjuk wajah pria itu menggunakan telunjuknya.


"Dengar ya El, gimana aku bisa percaya bahwa kamu dan Sahira gak ada apa-apa? Kalau kamu aja lebih sering berhubungan dengan Sahira, dibanding aku yang pacar kamu sendiri." kata Keira.


"Ya, aku ngerti Keira. Makanya aku mau minta maaf sama kamu sekarang," ucap El.


"Aku rasa kamu gak perlu minta maaf sama aku, lebih baik kamu pulang aja dan jangan temui aku lagi untuk saat ini!" ucap Keira ketus.


"Please Kei, maafin aku!" bujuk El.


"Iya iya, aku maafin kamu! Sekarang kamu tolong biarin aku buat masuk ke rumah aku, aku capek tau pengen istirahat! Kamu bicaranya ditunda besok lagi bisa kan?!" ucap Keira.


Tak lama kemudian, Zahra dan Lingga turun menghampiri mereka disana.


"Iya nak El, kasihan Keira kan baru sampai dan dia masih capek! Besok aja ya kamu bicara lagi sama Keira nya, sekarang biarin Keira istirahat dulu!" ucap Zahra.


Akhirnya El tak memiliki pilihan lain, ia pun melepaskan tangannya dari Keira dan tidak lagi memaksa gadis itu untuk bicara padanya.


"Oke sayang, aku gak paksa kamu lagi." ucap El.


"Thanks!" ucap Keira singkat lalu berjalan pergi meninggalkan kekasihnya itu.


"Keira, tunggu sayang!" ucap Zahra menyusul gadis itu ke dalam.


Sementara El masih disana bersama Lingga, tampak Lingga merasa kasihan pada El dan menepuk pundak pria itu untuk menenangkannya.


"El, yang sabar ya!" ucap Lingga.


"Iya om, aku selalu sabar kok. Lagipun, semua ini kan terjadi juga karena kesalahan aku sendiri." ucap El murung.




Thoriq tiba di apartemennya, ia senang karena Nawal ternyata sudah ada disana lebih dulu. Ya sebelumnya Thoriq memang kelimpungan mencari adiknya itu, untunglah Nawal berada di apartemen walau Thoriq tetap saja merasa kesal.


Thoriq pun langsung menghampiri Nawal dengan wajah emosi, ia duduk di samping gadis itu dan terus memandangnya. Namun, Nawal tampaknya tak perduli dengan kehadiran Thoriq disana dan tampak fokus menikmati batagor miliknya.


"Heh! Lu kenapa sih pulang gak bilang-bilang dulu ke gue?!" tegur Thoriq kesal.


"Apaan sih bang? Kayaknya gue salah mulu deh di mata lu, gue bingung." ujar Nawal.


"Ya jelas lah salah, suruh siapa lu pulang tapi gak kasih kabar ke gue! Asal lu tahu, gue capek tau cari-cari lu keliling Jakarta! Lu mah enak disini nyantai makan batagor," ucap Thoriq.


"Haish, yaudah iya maaf! Nih gue juga beliin batagor kok buat lu, udah ya jangan marah-marah terus pusing gue dengernya!" ucap Nawal.


"Hah serius? Mana?" tanya Thoriq.

__ADS_1


"Ini," Nawal memberikan bungkus batagor kepada abangnya.


"Nah gini dong, kan enak!" ujar Thoriq.


"Yeh dasar lu, giliran dibeliin makanan aja langsung nyengir!" cibir Nawal.


"Hehe iya dong.." ujar Thoriq.


Thoriq beranjak dari sofa, pergi ke dapur mengambil piring sekaligus membuat minuman.


Nawal melirik saja sekilas ke arah abangnya, lalu kembali memakan batagornya.


Tak lama Thoriq pun kembali kesana dengan batagor yang sudah dituang ke piring dan es melon di tangannya.


"Ahh kalo gini kan enak, malam-malam makan batagor itu sungguh luar biasa!" ujar Thoriq.


"Hilih lebay lu! Tadi aja marah-marah ke gue, sekarang malah jadi cengar-cengir kayak gitu!" cibir Nawal.


"Biarin lah, emang lu mau kalo gue marah-marah terus?" ucap Thoriq.


"Ya enggak sih, yaudah lu jangan marah-marah lagi deh!" ucap Nawal.


Thoriq tersenyum tipis, kemudian mulai melahap batagornya dengan rakus hingga membuat Nawal menggeleng pelan.


"Bang, bagi esnya ya?" ucap Nawal.


"Et enggak enggak, gak boleh!" ujar Thoriq.


"Ish, pelit banget sih lu! Padahal gue kan udah bagi batagor tuh buat lu, masa lu gak mau bagi esnya ke gue?" ucap Nawal.


"Ohh jadi lu perhitungan nih sama abang lu sendiri? Gak ikhlas kasih batagor buat gue?" ucap Thoriq.


"Ikhlas kok, udah gausah bagi es lu ke gue!" ucap Nawal membuang muka.


"Hehe.." Thoriq nyengir dan kembali memakan batagornya.


"Bang, ibu gak pulang lagi kesini?" tanya Nawal.


"Enggak, kan udah dibilang kalau ibu bakal tinggal di rumah Jordan sama Sahira." jawab Thoriq.


"Selamanya?" tanya Nawal penasaran.


"Gak tahu deh, mungkin iya. Emangnya kenapa? Lu pengen tinggal bareng ibu?" ucap Thoriq.


"Ya iyalah, buat apa gue ke Jakarta kalau gak bisa tinggal bareng ibu?" ucap Nawal.


"Makanya lu baikan sama Sahira, terima dia buat jadi saudara lu. Dengan begitu, kalian bisa deh tinggal bareng." kata Thoriq.


Thoriq menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Lu itu kenapa sih? Gue heran deh sama lu, susah amat dikasih taunya."


"Bodoamat!" cibir Nawal.


Nawal memilih diam dan tak lagi berbicara, begitupun dengan Thoriq yang sudah tidak tau lagi harus bagaimana untuk membujuk adiknya itu.




Keesokan paginya, El tiba di sekolah dengan perasaan murung. Ia melamun sejenak di dalam mobil sambil memukul setirnya.


Seketika El teringat pada kejadian pagi tadi saat dirinya datang ke rumah Keira dan hendak menjemput gadis itu.


#Flashback


El sampai di halaman rumah Keira, kekasihnya. Ia berniat menemui Keira disana dan menjemput gadis itu untuk diajak berangkat bersama ke sekolah.


Tanpa berlama-lama lagi, El pun turun dari mobilnya dengan membawa setangkai bunga di tangannya. El berharap Keira kali ini mau menemuinya dan pergi bersamanya.


TOK TOK TOK...


"Permisi, selamat pagi!" ucap El seraya mengetuk pintu rumah itu.


Ceklek...


Tak lama kemudian, pintu terbuka. El langsung tersenyum renyah begitu melihat Zahra yang muncul dari dalam sana.


"Eh ada nak El," ucap Zahra pelan.


"Iya tante, selamat pagi!" ucap El menyapa dan mencium tangan wanita itu.


"Pagi sayang! Ada apa nih?" tanya Zahra.


"Eee begini tante, aku mau ketemu sama Keira dan rencananya aku mau ajak dia buat ke sekolah bareng." jawab El.


"Oalah, yah sayang banget kamu telat El!" ucap Zahra.


"Hah? Telat? Maksudnya gimana ya tante?" tanya El sedikit terkejut.


"Iya El, tadi pagi-pagi sekali Keira udah berangkat sekolah diantar sama supirnya. Tante juga gak tahu kenapa dia berangkat pagi banget, padahal biasanya gak begitu." jelas Zahra.


"Waduh!" umpat El.

__ADS_1


#Flashback end


"Aaarrgghh!!" geram El sembari terus memukul-mukul setir mobilnya.


"Gimana lagi caranya biar gue bisa ketemu sama Keira coba? Segala upaya udah gue lakuin, tapi selalu aja gagal. Apa gue emang udah gak ada harapan lagi buat bisa bersama Keira?" ucap El.


"Gak gak, gue gak boleh nyerah gitu aja! Gue harus perjuangkan cinta gue dan Keira! Iya, biar nanti siang gue jemput dia di sekolahnya dan ajak dia buat bicara. Semoga aja rencana gue kali ini gak gagal lagi!" gumam El.


Akhirnya El keluar dari mobilnya walau dengan wajah lesu dan tidak bersemangat, ia bahkan melangkah pelan meninggalkan tempat parkir itu.


Saat di lobi, El tanpa sengaja bertemu dengan Sahira yang kebetulan juga baru datang. Ia tersenyum dan menghampiri gadis itu.


"Hai Sahira! Morning! Baru dateng juga nih?" ucap El menyapa Sahira.


"Iya, lu lihat sendiri kan kalo gue baru dateng? Harusnya lu gausah nanya!" jawab Sahira ketus.


"Yah elah basa-basi doang kali, jutek banget sih lu! Oh gue tau nih, pasti lu masih mau menghindar dari gue kan gara-gara Keira? Ayolah Sahira, gue kan udah bilang jangan menghindar!" ucap El.


"Gak bisa El, gue harus jaga perasaan sahabat gue! Gue gak mau dianggap jadi perusak hubungan sahabat gue sendiri, paham lu?!" tegas Sahira.


"Iya gue paham, tapi—"


"Baguslah kalo lu paham, jadi mulai sekarang tolong jangan deketin gue kalo gak ada urusan penting!" potong Sahira.


"Ta-tapi Sahira..."


"Gak ada tapi-tapi! Asal lu tahu, gue juga udah jadian sama kak Farhan!" ucap Sahira.


"Apa? Lu serius?" ujar El terkejut.


"Iya, gue serius! Tolong ngertiin ya!" ucap Sahira.


Sahira pun berlalu pergi dari sana meninggalkan El yang masih dilanda kebingungan.


"Sahira udah jadian sama Farhan, serius? Kok gue gak terima ya?" gumam El dalam hati.




"SAHIRA!" gadis yang tengah berjalan cepat itu dibuat terkejut saat seseorang wanita memanggil namanya dari belakang.


Ya, itu adalah Grey alias sahabatnya yang baru keluar dari dalam toilet.


"Eh Grey, kenapa?" tanya Sahira tersenyum.


"Gapapa kok, cuma mau manggil aja. Btw, lu kenapa buru-buru gitu sih tadi? Udah kayak dikejar anak setan aja," ujar Grey.


"Ini lebih buruk daripada itu, Grey. Gue dikejar-kejar sama kak El, gak tahu kenapa tuh cowok masih aja mau deketin gue." ucap Sahira.


"Hah? Parah banget ya tuh cowok! Dia gak cukup apa sama satu cewek? Masa masih mau deketin lu lagi?" ucap Grey terheran-heran.


"Entahlah, gue juga bingung sama dia. Udah berkali-kali loh gue bilang ke dia supaya menjauh, tapi masih tetap aja dia pengen deketin gue terus." ucap Sahira.


"Yaudah, sabar aja ya Sahira! Yang penting lu udah berusaha buat menjauh dari dia, soal urusan dia masih deketin lu itu mah bukan kesalahan lu." ucap Grey menenangkan sahabatnya itu.


"Iya sih, ya semoga aja deh Keira bisa ngerti soal itu!" ucap Sahira tersenyum tipis.


"Aamiin! Eh btw, emang lu udah ketemu sama Keira apa belum?" tanya Grey penasaran.


"Itu dia Grey, gue belum bisa ketemu sama Keira. Soalnya kemarin tuh pas gue mau datang ke rumahnya, eh Keira lagi pergi." jawab Sahira.


"Yah kalo gitu mending nanti siang pulang sekolah lu temuin dia dulu deh! Biar semuanya jelas dan gak ada salah paham diantara kalian," usul Grey.


"Iya, lu benar Grey! Nanti gue bakal temuin Keira kok, ya semoga aja dia mau ngerti dan gak marah lagi sama gue deh!" ucap Sahira.


"Iya Ra, yaudah sekarang lu mau kemana nih?" tanya Grey.


"Eee langsung ke kelas aja deh gue mah, toh tadi di rumah gue udah sarapan. Kalo lu sendiri mau kemana?" ucap Sahira.


"Sama deh, gue mau ke kelas juga." ucap Grey.


"Yaudah, kita jalan bareng yuk!" ucap Sahira.


Grey mengangguk setuju, lalu mereka pun jalan bersama menuju kelas. Walau berbeda kelas, namun mereka tetap satu arah sehingga bisa pergi bersama-sama.


Tanpa sengaja, mereka justru berpapasan dengan Farhan dan teman-temannya saat hendak menaiki tangga. Tentu saja Sahira pun terpaksa menghentikan langkahnya sejenak disana.


"Eh, hai Sahira! Masih pagi udah cantik aja kamu, apalagi siang." ujar Farhan.


Sahira tersenyum saja sambil menunduk, sedangkan Grey langsung sibuk menggodanya.


"Cie cie, ada yang malu-malu kucing nih!" goda Grey.


"Hahaha, wajarlah Grey. Si Sahira ini kan emang suka malu-malu kalau di depan aku, tapi sebenarnya dia mah suka banget tiap kali ketemu sama aku. Ya kan Sahira?" ucap Farhan.


"Hah? Iyain aja deh," jawab Sahira singkat.


"Cie cie Sahira.."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2