Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Berhasil lepas


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 68.


β€’


β€’


Lingga bersama Zahra istrinya itu memasuki kamar Keira berniat untuk melepas gelang aneh yang dikenakan Keira tersebut, ya keduanya cukup berhati-hati dalam melakukan itu karena tak ingin membuat Keira sadar dan rencana mereka akan gagal dalam melepaskan gelang itu.


Perlahan Lingga serta Zahra mendekati putri mereka yang sedang tertidur pulas menghadap ke samping itu, terlihat jelas kalau gelang tersebut masih dikenakan oleh Keira seakan tak ingin dilepas, untungnya posisi Keira kali ini menguntungkan bagi mereka karena lengan tempat gelang itu berada sekarang ada pada bagian atas tubuh gadis itu.


Namun, tetap saja mereka harus berhati-hati dan waspada jangan sampai membuat Keira sadar atau terbangun dari tidurnya kalau tidak mau rencana mereka kali ini gagal.


"Mas, gimana caranya kita bisa lepas gelang itu dari lengan Keira?" tanya Zahra berbisik.


"Tenang aja! Aku coba pelan-pelan tarik tangan Keira dan ambil gelang itu, kamu tetap disini dan jangan buat suara sekecil apapun!" ujar Lingga.


"Oke mas!" ucap Zahra menurut.


Lingga beralih ke sudut lain dari ranjang itu, memang cukup sulit karena posisi Keira saat ini berada di tengah-tengah ranjang sehingga Lingga harus memutar otak untuk bisa meraih tangan putrinya itu.


Sebenarnya Lingga ingin melakukan itu sendiri, namun istrinya itu kekeuh meminta ikut untuk menemani Lingga dengan alasan khawatir jika nantinya Lingga gagal melepaskan gelang itu.


Glekk...


Lingga menelan saliva nya secara kasar saat ia hendak berusaha meraih lengan Keira, perlahan pria itu naik ke atas ranjang mendekati tubuh putrinya, lalu mulai menyentuh tangan mulus Keira yang tengah memeluk guling itu.


"Maaf ya sayang! Bukan maksud papa buat lancang sama kamu, tapi papa cuma mau bebasin kamu dari pengaruh jahat gelang ini!" batin Lingga.


Lingga menghela nafas sejenak, melirik wajah Zahra yang berada di depannya sekilas sebelum memulai aksinya menarik tangan Keira secara perlahan dan mengambil gelang itu.


Keringat mulai bercucuran membasahi kening serta bagian wajah Lingga saat ia melepaskan gelang dari lengan putrinya, ia benar-benar tegang dan cemas jika Keira tersadar nantinya.


Tak lama kemudian, Lingga telah berhasil melepas gelang itu dari lengan Keira. Ia pun dapat bernafas lega dan menyimpan gelang itu di saku celananya, lalu menaruh kembali tangan Keira secara perlahan agar gadis itu tidak terbangun dari tidurnya.


Zahra yang melihatnya pun ikut merasa senang, kini mereka telah menyelesaikan misi untuk melepaskan gelang itu dari lengan Keira dan sekaligus menyelamatkan putri mereka.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka bergegas keluar dari kamar Keira dan tak lupa kembali mematikan lampu agar gadis itu tidak curiga, Lingga menutup pintu perlahan-lahan kemudian berhenti sejenak ketika mereka telah keluar dari sana.


"Huh, akhirnya berhasil juga papa ambil gelang ini!" ucap Lingga dengan nafas tersengal-sengal.


"Iya mas, untung juga tadi Keira gak kebangun! Jadinya kamu bisa aman deh ambil gelang itu, sekarang kita harus cepat-cepat sembunyiin gelang itu dari Keira! Supaya Keira nantinya gak kena pengaruh pelet lagi, aku gak mau mas kalau sampai putri kita dipelet orang!" ujar Zahra.


"Sama, aku juga gak mau. Yaudah, ayo sayang kita turun ke bawah dan cari tempat yang pas buat sembunyiin gelang ini dari Keira!" ucap Lingga.


"Iya mas," Zahra mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan suaminya barusan.


Mereka pun pergi menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa, Lingga terus menggenggam gelang di tangannya agar gelang itu tidak jatuh atau tertinggal karena bisa sangat membahayakan posisi mereka nantinya.


"Mah, enaknya kita sembunyikan gelang ini dimana ya? Pokoknya tempat itu harus yang tersembunyi dan gak mudah diketahui, terutama oleh Keira!" tanya Lingga kebingungan.


"Eee ayo ikut aku, mas!" ucap Zahra.


"Iya iya..." ujar Lingga menurut lalu pergi mengikuti istrinya.


β€’


β€’


Disisi lain, El membawa Ibrahim ke sebuah gudang yang penuh barang-barang rusak serta kotor. Ia melemparkan tubuh Ibrahim yang sudah terikat itu ke lantai sampai terbentur cukup keras, El benar-benar kesal pada pria itu karena sudah ketahuan mengirim pelet untuk kekasihnya.


Tak henti sampai disitu, Elargano ikut maju berjongkok di hadapan Ibrahim dan mencengkram rahang pria itu dengan kuat sembari menatapnya penuh emosi, ia berniat menyiksa Ibrahim sampai mau mengaku kalau memang dia lah yang sudah mengirim pelet itu untuk Keira.


"Heh! Sekarang lu diam disini sampai lu mau ngaku ke gue dan minta maaf sama gue, kalau enggak maka selamanya lu bakal disini!" ujar Elargano.


"Sebenarnya kamu ini mau apa sih? Saya sudah bilang berkali-kali sama kamu, saya gak tahu apa-apa soal gelang apalagi pelet itu! Kamu jangan asal tuduh tanpa bukti!" ujar Ibrahim.

__ADS_1


"Hadeh, sudah terpojok masih aja gak mau ngaku! Emang dasar cowok aneh lu!" geram Elargano.


"Bukan saya gak mau ngaku, tapi saya ini emang gak tahu menahu soal pelet itu! Kamu daritadi selalu menuduh saya, tapi gak ada sedikitpun kamu menunjukkan bukti kalau memang saya pelakunya!" ujar Ibrahim.


"Bukti? Apa ucapan Keira tentang lu itu gak cukup sebagai bukti, ha? Dia mau pilih lu dibanding gue, dari situ udah kelihatan kalau dia kena pengaruh pelet lu sialan!" ujar Elargano.


"Kata siapa? Bisa aja Keira emang lebih suka sama saya daripada kamu, toh itu manusiawi! Siapapun di dunia ini berhak memilih siapa yang disukainya, kamu gak bisa jadikan itu tolak ukur kalau saya mengirim pelet ke Keira! Saya bisa loh laporin kamu atas tuduhan pencemaran nama baik!" ucap Ibrahim berbalik mengancam El.


Elargano yang kesal langsung menghempaskan wajah Ibrahim dengan kasar, ia berdiri dan menunjuk ke arah Ibrahim menggunakan jarinya.


"Sekali lagi gue peringati sama lu, ngaku dan minta maaf sama gue atau gue bakal kurung lu selamanya di tempat ini! Supaya lu bisa mati perlahan-lahan karena disini banyak hewan beracun yang bisa bunuh lu kapanpun!" ujar El.


"Sampai kapanpun juga saya gak akan pernah mengakui perbuatan yang enggak saya lakukan, kamu gak bisa paksa saya untuk itu! Mau kamu siksa saya sebagaimana pun, tetap saya gak akan mengaku! Karena memang bukan saya pelakunya, paham gak?!" bentak Ibrahim.


Plaaakk...


Akhirnya satu tamparan keras dilayangkan oleh El terhadap wajah Ibrahim, El sudah diambang batas kesabarannya dan ingin segera menghajar Ibrahim sampai mampus tanpa ampun.


"Gue abisin lu setan!" teriak Elargano yang diselimuti emosi.


Bughh...


Elargano memukul tubuh Ibrahim dengan balok kayu yang ia ambil dari gudang itu, sampai Ibrahim tersungkur dan meringis kesakitan.


"Aaaakkkhh!!" Ibrahim memekik keras menahan rasa sakit di tubuhnya.


Elargano tertawa, lalu berniat melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai Ibrahim benar-benar tak berdaya nantinya.


Namun, saat ia hendak memukul kembali Ibrahim dengan balok kayu di tangannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada telpon yang masuk sehingga El harus menghentikan sejenak kegiatannya dan mengangkat telpon itu.


πŸ“ž"Halo om! Ada apa ya?" tanya El dalam telpon.


πŸ“ž"Halo El! Om cuma mau kasih kabar ke kamu, kalau om sudah berhasil mengambil gelang dari tangan Keira. Sekarang gelang itu sudah om simpan di tempat yang aman!" ucap Lingga.


Sontak wajah El langsung berseri-seri, amarah di dalam tubuhnya seketika hilang setelah mendengar kabar gembira tersebut.


β€’


β€’


Sahira pun bingung mengapa Thoriq menyusulnya sampai kesana, apalagi pria itu tak henti-hentinya menatap ke arahnya dan membuat ia semakin tak mengerti apa yang diinginkan oleh Thoriq darinya.


"Thoriq? Lu ngapain disini? Toilet cowok kan di sebelah, bukan ini!" tanya Sahira bingung.


"Eee gue gak mau ke toilet kok, gue itu cuma pengen temenin lu. Ya gue takut aja gitu terjadi sesuatu sama lu, makanya gue susulin lu kesini dan jagain lu dari depan sini! Gak ada yang salah kan?" jawab Thoriq gugup.


"Enggak sih, tapi bukannya tadi lu lagi tidur ya? Buat apa coba lu susah-susah bangun demi jagain gue? Toh di rumah sakit ini gak mungkin ada orang jahat lah, jadi gue gak bakal kenapa-napa kali!" ujar Sahira terheran-heran.


"Yang namanya penjahat itu bisa ada dimana-mana. Jangankan di rumah sakit, di tempat ibadah aja suka ada kok!" ucap Thoriq.


"Bener sih, yaudah makasih ya bang lu udah perduli sama gue!" ucap Sahira tersenyum.


"Sama-sama. Lu udah selesai kan buang airnya?" tanya Thoriq.


"Udah kok, yuk bang kita balik kesana! Ini masih jam dua pagi, kita bisa lanjut tidur sebelum waktunya sekolah nanti!" ucap Sahira.


"Iya bener, yaudah yuk!" ucap Thoriq.


Tanpa diduga, Thoriq menggandeng tangan Sahira dan mereka berjalan bersamaan kembali menuju ruangan tempat Jordan dirawat, Sahira merasa bingung dengan sikap Thoriq dan ia yakin ada sesuatu yang dirasakan oleh pria itu saat ini.


"Bang, maaf nih tapi kayaknya gak perlu pake gandengan segala deh!" ujar Sahira.


"Oh, kenapa? Gue gandeng tangan lu, supaya lu aman dan gak ketinggalan. Udah lah gapapa, toh kita sekarang kan udah jadi saudara. Jadi, udah sewajarnya kalo gue jagain lu!" ucap Thoriq.


"Ya iya sih, cuma kanβ€”"

__ADS_1


"Sssttt! Kamu kalau kebanyakan ngomong, nanti kehabisan suara loh pas bang Jordan udah sadar dan kamu gak bisa bicara sama dia!" potong Thoriq sembari menempelkan telunjuknya di bibir Sahira dan menatapnya sambil tersenyum.


Gadis itu dibuat tak berkutik oleh Thoriq, ia hanya bisa mengangguk menuruti kemauan pria itu karena tak ada pilihan lain.


"Ra, kira-kira kalau abang kamu udah pulih nanti dan dibolehin pulang, aku boleh ikut tinggal di rumah kamu gak sama kamu dan juga yang lain?" tanya Thoriq sambil menatap wajah Sahira.


"Hah? Kenapa tiba-tiba lu tanya kayak gitu sih?" ujar Sahira keheranan.


"Gapapa, mau tau aja!" ucap Thoriq.


"Ohh ya kalo gue sih terserah bang Jordan, kan itu rumah dia dan dia yang berhak nentuin siapa-siapa aja yang boleh tinggal disana. Tapi, lu gak perlu cemas karena pasti bang Jordan bakal bolehin lu kok tinggal bareng sama dia disana, soalnya kan lu anaknya ibu juga!" ucap Sahira.


"Ya semoga deh! Kalau gitu kan gue gak perlu cari tempat penginapan dan keluarin biaya, tapi semisal gak dibolehin juga gapapa sih!" ujar Thoriq.


"Eee bang, lu itu masih punya ayah gak?" tanya Sahira pada Thoriq.


"Ayah? Dulu sih punya, tapi sekarang udah enggak. Emangnya kenapa?" jawab Thoriq.


"Oh gitu, gapapa kok cuma tanya aja. Berarti kita sama ya bang, soalnya gue juga udah gak punya ayah sekarang!" ujar Sahira.


"Ya begitulah," ucap Thoriq.


Mereka pun tiba di depan ruangan itu, terlihat Nur terbangun dan menatap ke arah Sahira serta Thoriq yang baru datang itu, Nur penasaran darimana mereka.


"Kalian abis darimana?" tanya Nur.


"Eee aku barusan dari toilet kak, terus ini bang Thoriq nemenin aku!" jawab Sahira.


"Ohh aku pikir darimana," ujar Nur.


"Hehe, ibu masih di dalam ya kak?" tanya Sahira.


"Iya Sahira, kayaknya ibu pengen yang pertama kali dilihat mas Jordan nanti tuh ya ibu sendiri. Semoga aja mas Jordan gak marah deh!" ucap Nur.


"Aamiin! Yaudah, aku mau lanjut tidur ya kak?" ucap Sahira.


"Iya, aku juga."


Mereka bertiga pun lanjut tidur mengingat jam masih sekitar pukul dua pagi dan masih cukup banyak waktu bagi mereka untuk bisa tidur lebih dulu sebelum memulai aktivitas nantinya.


β€’


β€’


Keesokan harinya, Jordan terbangun dan membuka matanya. Ia melihat seorang wanita tengah tertidur di dekatnya, Jordan pun sadar bahwa itu adalah Ratna alias ibunya yang selama ini pergi meninggalkannya.


Jordan hampir tersulut emosi ketika menyadari wanita itu ialah ibunya, untung saja ia masih bisa menahannya dan hanya membuang muka tak mau melihat sosok ibunya itu. Jordan masih belum sepenuhnya bisa memaafkan sang ibu, mengingat cukup lama Ratna sudah meninggalkan ia dan juga Sahira tanpa memberi kabar.


"Kalau bukan karena Sahira, gue pasti udah usir lu dari sini! Ibu macam apa yang tega ninggalin anak-anaknya gitu aja tanpa kabar?" batin Jordan.


Tak lama kemudian, Ratna juga tersadar dari tidurnya, ia membuka mata kemudian duduk tegak melihat ke arah Jordan. Ratna tersenyum berharap bisa mendapat maaf dari putranya itu.


"Selamat pagi Jordan! Gimana kondisi kamu sekarang, nak?" ucap Ratna.


"Baik! Anda ngapain tidur disini? Anda pikir dengan tidur disini, terus saya akan melupakan semua kesalahan anda yang sudah pergi meninggalkan saya dan adik saya selama bertahun-tahun? Enggak akan!" ujar Jordan.


"Bukan itu maksud ibu tidur disini, ibu cuma mau jagain kamu Jordan! Ibu tahu kamu masih marah sama ibu, tapi ibu gak akan menyerah untuk bisa mendapat maaf dari kamu!" ucap Ratna.


"Sebenarnya niat anda datang kesini itu apa sih? Bertahun-tahun anda pergi, lalu kenapa anda kembali lagi disaat saya dan Sahira sudah melupakan semua tentang anda?" tanya Jordan.


"Simpel aja Jordan, ibu sadar bahwa ibu harus kembali dan menebus semua dosa-dosa ibu selama ini sama kalian berdua!" jawab Ratna.


Jordan terdiam memalingkan wajahnya, sedangkan Ratna terus tersenyum memandang wajah putranya itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2