
#SangPemilikHati Episode 56.
•
•
Nur sangat mencemaskan kondisi suaminya, karena telponnya tadi terputus begitu saja saat ia masih berbicara dengan Jordan, apalagi terdengar suara teriakan dari pria itu serta tabrakan yang membuat Nur makin cemas.
Wanita itu terus mondar-mandir sambil menggigit jarinya berharap semoga Jordan baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya, karena tentu sebagai seorang istri Nur akan merasa sangat bersedih apabila suaminya itu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.
"Duh, mas Jordan ini kenapa ya? Aku coba telpon lagi gak diangkat, terus sekarang malah hp nya mati! Sebenarnya ada apa sih ini? Aku kan jadi cemas tau mas!" gumam Nur.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang datang di halaman rumahnya. Nur segera menghapus air mata kecemasannya, lalu berjalan keluar mengecek siapa yang datang. Tentunya Nur berharap bahwa itu adalah mobil Jordan, walau kemungkinannya cukup kecil karena suaminya itu sedang dalam keadaan emosi.
"Siapa ya?"
Ceklek...
Nur membuka pintu rumahnya, ia menatap ke luar dan nampak sosok Ratna bersama putranya yang ternyata kembali kesana. Ya ada rasa kecewa di dalam hati Nur, karena yang datang rupanya bukanlah sang suami.
Namun, tentu saja Nur tak mungkin menunjukkan rasa kecewanya tersebut di hadapan sang ibu mertua. Ia pun langsung menghampiri Ratna disana sambil tersenyum, berupaya meminta ibu itu untuk masuk saja ke dalam rumahnya.
"Bu, yuk kita masuk aja Bu! Ibu kan baru sampai disini tadi pagi, pasti ibu capek deh!" ucap Nur mencium tangan mertuanya.
"Kamu ini sopan sekali nak, Jordan memang gak salah pilih istri!" ucap Ratna.
"Eee syukurlah tante! Saya juga beruntung punya suami kayak mas Jordan, dia itu orangnya baik dan mau bertanggung jawab! Selain itu, dia juga sosok yang penyayang sama keluarganya!" ucap Nur.
"Iya, ibu paham kok sikap dia! Walaupun sudah sekian lama ibu gak bertemu dengan Jordan, tapi ibu yakin bahwa Jordan tidak mungkin tumbuh jadi orang yang jahat! Dan ternyata benar, dia memang bisa bikin ibu bangga!" ucap Ratna tersenyum.
"Alah Bu! Baik apanya? Ibu lupa kalau tadi si Jordan itu udah bentak-bentak ibu? Malah dia kasar banget sama ibu, udah kayak gak anggap ibu sebagai ibunya lagi! Untung aja dia pergi, coba kalo enggak pasti aku bakal hajar tuh dia karena udah berani kasar sama ibu!" ucap Thoriq emosi.
"Hey, kamu bicara apa sih Thoriq? Jordan itu juga kakak kamu, kamu gak boleh seperti itu sama dia ya!" ucap Ratna.
"Ngapain sih orang kayak gitu masih dibela aja, Bu? Jelas-jelas dia udah kurang ajar sama ibu!" ujar Thoriq.
"Enggak sayang, Jordan begitu karena dia masih emosi! Wajar aja dia kayak gitu sama ibu, karena ini semua juga kesalahan ibu yang tinggalin dia begitu aja tanpa penjelasan! Kamu jangan memperkeruh suasana ya Thoriq, ibu ini lagi pengen perbaiki kesalahan ibu di masa lalu sama anak-anak ibu!" ucap Ratna memohon pada Thoriq.
"Iya Bu, aku ngerti kok! Yaudah, aku minta maaf ya sama ibu!" ucap Thoriq.
"Gapapa sayang," ucap Ratna tersenyum.
Lalu, Ratna pun kembali beralih menatap Nur yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan Thoriq dan ibunya disana.
"Nur sayang, apa Jordan sudah kembali? Ibu mau coba bicara lagi sama dia!" tanya Ratna.
"Eee belum Bu, ini aku juga lagi cemas! Soalnya tadi pas kita lagi telponan, aku dengar suara mas Jordan teriak dan gak lama juga terdengar semacam suara tabrakan! Abis itu aku coba hubungin mas Jordan udah gak bisa lagi!" jawab Nur dengan ekspresi paniknya.
"Apa? Ka-kamu tahu gak dimana tempat Jordan bekerja? Kita coba datangi aja kesana, supaya semuanya jelas!" ujar Ratna.
"Tahu kok Bu, aku pernah kesana antar makan siang buat mas Jordan!" ucap Nur.
"Yasudah, ayo kita langsung cek kesana aja! Ibu penasaran banget, gimana kondisi Jordan sekarang ini!" ujar Ratna ikut panik.
"Iya Bu," ucap Nur mengangguk setuju.
Disaat mereka hendak pergi, tiba-tiba ponsel milik Nur berdering dan membuat ia berhenti sejenak untuk mengangkat telpon tersebut.
"Bu sebentar, ada telpon siapa tahu penting!" ucap Nur.
"Iya iya, angkat aja!" ucap Ratna.
Nur pun mengangkat telepon itu disana.
📞"Halo! Ini siapa ya?" tanya Nur.
📞"Ya halo! Benar ini dengan ibu Nur, istri dari bapak Jordan Aditama?"
📞"Hah? Iya benar saya sendiri! Ada apa ya pak?" Nur semakin penasaran.
__ADS_1
📞"Oh begini Bu, kami dari pihak rumah sakit ingin mengatakan bahwa sekarang suami ibu sedang krisis dan ditangani di ruang ICU! Beliau mengalami kecelakaan yang cukup parah, dan tubuhnya penuh luka!"
📞"Apa? Su-suami saya...??"
Deg!
Seketika Nur terdiam dan jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar kabar dari rumah sakit itu, perlahan ia mulai mengucurkan air mata tak kuasa menahan kesedihan di dalam hatinya.
•
•
Sementara itu, Sahira masih berada di kelasnya mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru di depan papan tulis. Ia tampak serius memperhatikan gurunya, ya seperti itulah Sahira memang tak pernah ia bengong atau tidak mendengarkan ketika guru sedang menjelaskan materi.
Berbeda dengan Sahira, Raisa sang teman sebangku justru tengah asyik bermain sosial media di ponselnya yang ia taruh di dalam kolong meja. Gadis itu bahkan senyum-senyum sendiri dan sesekali menutupi mulutnya agar tak ketahuan oleh guru atau teman sekelasnya.
Lama-kelamaan, Sahira pun merasa risih karena mendengar cekikikan Raisa. Akhirnya ia mencoba untuk menegur gadis itu, biar bagaimanapun bukan tidak mungkin Raisa bisa ketahuan jika tidak segera dihentikan.
"Sssttt sssttt Rai, psstt Raisa!"
Mendengar suara bisik-bisik itu, membuat Raisa mendongak dan menoleh ke arah Sahira dengan perasaan jengkel.
"Ish, apaan sih Ra? Lu ganggu kesenangan gue aja deh! Lu gak tahu apa gue lagi baca komik di mt?" ujar Raisa kesal.
"Yeh malah baca komik! Sekarang jam pelajaran, tuh dengerin omongan guru!" ujar Sahira.
"Ogah ah, gue males gurunya gak asik! Lu aja sana yang dengerin tuh guru, gue mah mau baca komik lagi seru nih! Lu gak tahu sih, komik-komik di mt tuh seru semua!" ucap Raisa.
"Haish, yaudah jangan berisik! Kalo sekali lagi gue denger lu cekikikan, gue laporin lu ke guru kalo lu lagi baca komik!" ucap Sahira.
"Iya iya..." ujar Raisa sambil memutar bola mata.
Setelahnya, Sahira pun kembali lanjut mendengarkan apa yang diucapkan sang guru, sedangkan Raisa kembali membaca komik kesukaannya tanpa perduli dengan kata-kata Sahira tadi.
Drrttt...
Drrttt...
"Siapa sih?" ujar Sahira agak geram.
Sahira terkejut saat mendapati nama Nur sang kakak ipar di layar ponselnya, ia pun penasaran ada apa sebenarnya Nur menelponnya di waktu pelajaran seperti ini, ingin sekali ia mengangkat telpon tersebut namun khawatir jika nanti guru yang sedang mengajar mengetahuinya.
"Duh, gimana ya? Gue angkat telpon kak Nur apa enggak nih?" gumam Sahira bingung.
"Ehem ehem.. ketahuan kan, tadi aja sok-sokan pake larang gue baca komik! Lah lu sendiri aja malah main hp, aduh Sahira Sahira!" sindir Raisa dari samping tempat duduk Sahira.
"Ish, ini kakak ipar gue telpon! Makanya gue pegang hp, tapi gue bingung mau angkat apa enggak!" ucap Sahira menjelaskan.
"Ohh ya gampang lah, lu angkat aja udah gausah bingung gitu! Siapa tahu penting loh, apalagi yang nelpon kan kakak ipar lu! Gausah takut sama guru, bilang aja ada urusan penting yang mengharuskan lu angkat telpon?" usul Raisa.
"Iya sih, eh tapi ini udah dimatiin sama kak Nur! Gue lanjut dengerin guru aja deh!" ucap Sahira.
"Yaudah serah lu!" ujar Raisa.
Sahira meletakkan kembali ponselnya di kolong meja, lalu kembali fokus mendengarkan perkataan gurunya di depan sana.
Namun, tiba-tiba ponselnya kembali berdering singkat menandakan ada pesan yang masuk ke nomornya. Sahira pun hilang fokus dan kembali mengecek ponselnya.
"Sekarang kak Nur kirim pesan, ada apa sih sebenarnya ya?" batin Sahira bingung.
Sahira membuka dan membaca isi pesan tersebut, matanya terbelalak disertai mulut terbuka ketika ia membaca pesan dari Nur itu.
Kak Nur
Sahira, kakak tahu sekarang kamu lagi belajar di sekolah. Tapi, ini ada berita penting yang harus kamu tahu! Abang kamu, mas Jordan itu kecelakaan dan dalam kondisi kritis! Saat ini abang kamu dirawat di rumah sakit, dia butuh dukungan dari kita semua sayang! Sekarang kakak sama Bu Ratna sedang menuju ke rumah sakit, maaf ya kakak udah ganggu kamu!
Satu tetes air mata mengucur membasahi pipinya, ia sungguh tak menyangka dengan apa yang dikatakan Nur padanya melalui pesan itu, sang abang yang ia sayangi ternyata sedang kritis di dalam rumah sakit.
"Gue gak mungkin diem aja disini, sedangkan bang Jordan lagi kritis di rumah sakit! Ya gue harus ikut ke rumah sakit buat jenguk bang Jordan!" batin Sahira sedikit terisak.
__ADS_1
Raisa mendengar isakan tangis Sahira, ia pun menoleh dan bertanya pada sohibnya itu.
"Ra, lu kenapa nangis? Ada apa sih?" tanya Raisa.
"Rai, abang gue Rai! Dia kecelakaan dan lagi dirawat di rumah sakit, jelas dong gue sedih Rai! Gue harus kesana sekarang jenguk dia, tapi kira-kira bakal diizinin gak ya sama guru? Gue cemas banget Rai sama dia, gimanapun juga dia kan abang gue dan gue sayang banget sama dia!" jawab Sahira dengan nada panik.
"Apa? Ya ampun, kasihan banget abang lu! Yaudah, lu izin aja sama Bu Thalia di depan! Gue yakin dia pasti bisa ngerti kok!" ucap Raisa.
"Iya deh, makasih ya Rai! Gue ke depan dulu, doain semoga gue dikasih izin!" ucap Sahira.
"Siap!" ucap Raisa.
Sahira pun beranjak dari kursinya, berjalan ke depan menemui Bu Thalia alias guru yang mengajar di kelasnya itu sembari membawa hp sebagai bukti bahwa ia tak berbohong.
❤️
"Misi Bu!" ucap Sahira berhenti tepat di samping Bu Thalia yang sedang menulis materi.
"Iya, ada apa Sahira?" tanya Bu Thalia.
"Begini Bu, barusan kakak ipar saya kasih kabar kalau abang saya kecelakaan dan masuk rumah sakit! Kondisinya kritis Bu, saya sangat cemas sama dia dan mau izin ke ibu buat susul mereka ke rumah sakit! Kalau ibu gak percaya sama kata-kata saya, boleh dilihat sms ipar saya!" jelas Sahira.
Sahira pun menunjukkan bukti sms dari Nur kepada Bu Thalia, lalu seketika bu Thalia terkejut mengetahui apa yang terjadi pada abang Sahira.
"Oh ya ampun! Kok bisa abang kamu masuk rumah sakit kayak gitu? Yasudah, kamu boleh kok izin pergi ke rumah sakit! Nanti kamu langsung aja ke lobi dan minta surat izin disana, saya akan antarkan kamu kok!" ucap Bu Thalia.
"Baik Bu, terimakasih!" ucap Sahira gembira.
"Sama-sama, sudah kamu rapihkan semua barang milik kamu! Lalu ikut saya ke lobi ya!" ucap Bu Thalia.
"Iya Bu," ucap Sahira singkat.
Sahira kembali ke tempat duduknya dan merapihkan semua barang-barang miliknya, sedangkan Thalia memberitahu pada seluruh siswa lainnya disana mengenai kabar itu.
"Semuanya, abangnya Sahira baru aja mengalami musibah kecelakaan yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit dengan kondisi kritis! Untuk itu sekarang saya minta kalian semua bantu mendoakan kesembuhan abangnya Sahira, supaya dia bisa cepat sembuh!" ucap Bu Thalia.
"BAIK BU!!" ucap mereka serentak.
"Berdoa dimulai!" ucap Bu Thalia.
Mereka pun mulai berdoa dipimpin oleh Bu Thalia, begitu juga dengan Sahira yang ikut berdoa.
"Selesai! Ayo Sahira, kita ke lobi sekarang! Yang lain lanjut kerjakan tugas di buku halaman 78, nanti ibu kembali buat periksa!" ucap Bu Thalia.
"Siap Bu!" ucap mereka serentak.
Setelah selesai merapihkan barangnya, Sahira pun pamitan pada Raisa teman sebangkunya untuk pergi dari sekolah.
"Rai, gue pergi dulu ya? Bantu doain semoga abang gue cepat sembuh ya!" ucap Sahira.
"Aamiin! Pasti kok gue bakal doain abang lu, yaudah lu hati-hati ya Sahira! Semoga abang lu bisa cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit!" ucap Raisa tersenyum.
"Aamiin, makasih Rai!" ucap Sahira.
"Eh Sahira, kita juga mau bantu doa supaya abang lu cepat sembuh! Lu hati-hati ya jalannya!" ucap seorang siswi lainnya di belakang Sahira.
"Aamiin! Thanks ya buat semua yang udah doain abang gue, kalo gitu gue permisi dulu mau pergi! Sekali lagi makasih udah bantu doa buat abang gue!" ucap Sahira tersenyum.
"Sama-sama Sahira, kita sekelas pasti terus doain yang terbaik kok buat Abang lu!" ucap ketua kelas.
"Iya, yang sabar ya Sahira!" sahut yang lainnya.
"Pasti!" ucap Sahira singkat.
"Ayo Sahira! Kita segera ke lobi sekarang, abang kamu pasti butuh dukungan kamu!" ucap Bu Thalia.
"Oh iya Bu, permisi ya semuanya!" ucap Sahira tersenyum.
Akhirnya Sahira melangkah ke depan mendekati Bu Thalia dengan membawa tasnya, ia benar-benar tidak sabar ingin segera menemui Jordan abangnya yang sedang dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...