Sang Pemilik Hati

Sang Pemilik Hati
Anterin gue dong!


__ADS_3

#SangPemilikHati Episode 97.




Saat pulang sekolah telah tiba, Sahira berpisah dengan Raisa di depan kelas karena Raisa sudah berbaikan kembali dengan kekasihnya dan akan pulang bersama sang kekasih.


"Sahira, gue balik duluan ya? Biasalah gue mau samperin ayang bebeb Roger," ujar Raisa.


"Wih kayaknya udah ada yang baikan nih. Bagus deh, biar lu gak galau terus!" ucap Sahira.


"Iya dong, pacaran itu gak boleh bertengkar terlalu lama. Makanya gue pilih buat berdamai aja sama ayang bebeb gue," ucap Raisa.


"Yaudah, yang penting lu seneng!" ujar Sahira.


"Hehe... terus sekarang lu mau pulang bareng siapa? Kak El apa kak Farhan?" tanya Raisa menggoda Sahira.


"Hah? Lu apaan sih? Kenapa jadi bawa-bawa El sama Farhan coba?" ujar Sahira tak suka.


"Yah elah masih malu-malu aja lu, Ra! Padahal udah jelas kalau mereka tuh suka sama lu, lu tinggal pilih aja mau serius sama yang mana! Enak tau jadi lu disukain dua cowok sekaligus, jadi gak perlu repot-repot nyari!" ucap Raisa.


"Gigi lu enak! Udah deh gausah bahas soal itu lagi! Gue juga gak mau pulang sama mereka, mending gue pulang naik taksi daripada sama salah satu dari mereka." kata Sahira.


"Dih, kenapa gitu Sahira? Kan enak tau dianterin cogan, gratis lagi. Harusnya lu jangan sia-siakan kesempatan ini Sahira! Minimal lu pilih lah salah satu dari mereka, biar lu gak rugi-rugi banget!" ucap Raisa.


"Ogah! Udah ya Raisa, lu cepetan pergi deh sana! Kasihan tuh ayang bebeb Roger lu udah nungguin lama, nanti dia marah loh!" ujar Sahira.


"Iya deh iya, lu emang paling susah ya kalo dikasih tau soal cowok!" ucap Raisa.


Sahira mendengus kesal sembari memutar bola matanya.


"Yaudah, kalo gitu gue pergi ya? Hati-hati lu pulangnya!" ucap Raisa pamitan pada Sahira.


"Iya, udah sana cabut!" jawab Sahira ketus.


"Hehe jangan galak-galak gitu lah! Senyum dong senyum dikit aja, biar kak El sama kak Farhan makin sayang sama lu!" ledek Raisa.


Sahira menatap sinis ke arah Raisa, yang membuat Raisa langsung ketakutan dan berlari pergi.


Tak lama setelah Raisa pergi, giliran Saka yang muncul menghampirinya dan menarik satu helai rambutnya dengan iseng.


"Awhh sakit!" Sahira merintih memegangi kepalanya dan langsung memukul dada Saka dengan kuat.


"Aduh! Kok lu mukul sih?" ujar Saka.


"Ish, suruh siapa lu iseng cabut-cabut rambut gue! Sini balikin gak!" ujar Sahira.


"Eh buset satu helai aja minta dibalikin," ucap Saka.


"Biarpun cuma satu helai, itu tetap aja rambut gue dan udah jadi hak milik gue. Sini balikin atau lu bakal gue tuntut!" ucap Sahira.


"Hah? Gila sih perkara rambut aja ribet amat lu! Yakali gue harus berurusan sama polisi cuma gara-gara rambut, yaudah nih gue balikin dengan senang hati!" ucap Saka.


Saka pun langsung mengembalikan sehelai rambut milik Sahira itu.


Dan Sahira membuang rambutnya begitu saja tanpa berbicara.


"Lah ngapa dibuang?" tanya Saka heran.


"Suka-suka gue, itu kan rambut punya gue." jawab Sahira ketus.


Setelahnya, Sahira pun pergi dari sana meninggalkan Saka dengan cepat.


Saka geleng-geleng kepala dan masih terus memandang ke arah punggung Sahira.


"Gila, udah miring kali otaknya tuh anak ya!" ujarnya.




Disisi lain, Thoriq tengah telponan dengan seseorang di apartemennya.


📞"Iya iya... kalau udah sampai disini nanti kabarin aja ya, pasti kakak jemput kamu kok! Hati-hati ya sayang! Jangan lupa bawain oleh-oleh buat kakak!" ucap Thoriq di telpon.


📞"...."


📞"Yaudah iya, kakak tutup ya telponnya? Bye sayang!" ucap Thoriq lagi.


Tuuutttt...


Thoriq memutus telponnya, kemudian tersenyum memandangi gambar seseorang di layar ponselnya.


"Huh sebentar lagi kamu bakal datang kesini, kira-kira apa yang terjadi ya?" gumamnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Ratna keluar dari kamarnya dan menghampiri Thoriq yang sedang senyum-senyum menatap layar ponsel sambil duduk di sofa.


"Ehem ehem.." Ratna berdehem menegur putranya itu.


"Eh ibu, udah selesai Bu mandinya?" ucap Thoriq terkejut dan reflek menyimpan ponselnya.


"Kamu lagi ngapain sih senyum-senyum gitu? Lihatin apa hayo di hp kamu?" ujar Ratna curiga.


"Eee enggak kok Bu, bukan apa-apa. Itu cuma foto biasa, kebetulan aku lagi rindu aja sama orang di foto itu." jawab Thoriq gugup.


"Oh ya? Emangnya foto siapa sih yang kamu liatin?" tanya Ratna penasaran.


"Nawal Bu, aku kangen sama dia. Kan ibu tau sendiri, sekarang aku dan Nawal berpisah jauh setelah kita datang ke Jakarta. Apalagi aku juga jarang kontakan sama dia, karena perbedaan waktu disini dan disana sangat jauh. Makanya aku kangen banget sama Nawal," jelas Thoriq.


"Oh gitu, kenapa kamu gak coba telpon aja dia? Siapa tahu dia masih melek, belum tidur gitu." kata Ratna memberi usul.


"Barusan aja aku habis telponan sama dia, dan ibu tahu enggak ada kabar yang bikin aku seneng banget!" ucap Thoriq.


"Kabar apa?" tanya Ratna.


"Jadi, Nawal itu mau susul kita kesini, Bu. Dia bilang katanya udah pesan tiket pesawat ke Jakarta dan penerbangannya itu besok, terus dia juga minta dijemput di Jakarta." jawab Thoriq.


"Kamu serius? Nawal mau kesini?" tanya Ratna terkejut.


"Iya Bu, ibu senang kan bisa ketemu lagi sama Nawal? Pasti ibu kangen dong sama anak ibu yang cerewet dan manja itu," ujar Thoriq terkekeh.


Ratna hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Ibu kenapa sih? Kok kayak gak suka gitu pas dengar Nawal mau datang kesini?" tanya Thoriq.


"Ah enggak kok. Ibu senang nak, senang banget malah. Cuma ibu kaget aja dia mau kesini, bukannya Nawal harus fokus sekolah disana? Mau apa dia susul kita kesini?" ucap Ratna.


"Katanya sih lagi liburan Bu, makanya dia bisa kesini susul kita. Lagian dia kan juga udah mau lulus SMP, nah nanti lanjutin sekolahnya biar disini aja Bu. Jadi, Nawal bisa sama-sama terus sama kita deh!" ucap Thoriq tersenyum.


"Iya iya... ibu setuju sama usulan kamu! Cuma masalahnya, gimana dengan papa kamu? Mana mungkin dia setuju Nawal pindah kesini?" ujar Ratna.


"Eee kalau soal itu aku juga gak tahu sih, Bu." jawab Thoriq kebingungan.


"Nah kan, disitulah permasalahannya sayang. Ibu gak mau ribut-ribut lagi sama papa kamu, nanti malah panjang urusannya!" ucap Ratna.


"Iya sih Bu, terus gimana dong?" tanya Thoriq.


"Yaudah lah, untuk sekarang biarin dulu Nawal kesini. Toh dia juga udah pesan tiket pesawat, itu artinya dia udah minta izin sama papa kamu." jawab Ratna.


"Iya Bu," ujar Thoriq manggut-manggut pelan.




Sahira yang tengah berjalan di lorong sekolah, terkejut lantaran ia dicegat oleh Elargano dengan membawa dua buah es krim di tangannya sambil tersenyum menatap ke arahnya.


"Selamat siang Sahira! Akhirnya muncul juga lu, udah lama tahu gue nunggu disini. Darimana aja sih lu, ha?" ujar Elargano.


"Urusannya sama lu apa?" ucap Sahira ketus.


"Gak ada sih, tapi gue capek aja soalnya nungguin lu lama banget disini. Emang lu abis ngapain aja sih?" ucap Elargano.


"Ya gue dari kelas lah, pake nanya lagi!" jawab Sahira ketus.


"Iya iya... yaudah, nih gue punya es krim buat lu. Kita ke taman dulu yuk, makan es krim bareng!" ucap El menyodorkan es krim ke arah Sahira.


"Gak mau! Buat lu aja!" tolak Sahira.


"Eh jangan gitu dong! Gue kan udah beliin dua es krim nih, satu buat gue satu buat lu. Masa lu gak mau sih makan es krimnya? Gue mana bisa abisin ini es krim sendiri?" ujar El memaksa Sahira.


"Itu terserah lu! Lu mau apain kek es krimnya ya suka-suka lu!" ucap Sahira.


"Ayolah Sahira, sebentar aja kok!" bujuk El.


"Gue gak mau! Lu ngerti gak kata-kata gue barusan? Jangan paksa gue!" tegas Sahira.


Sahira langsung bergerak hendak pergi dari sana, namun El mencekal lengannya seakan tak membiarkan Sahira pergi.


"Jangan pergi dulu Sahira! Gue mau kita makan es krim barengan, sebentar doang kok!" ucap El.


"Ish, lepasin tangan gue!" bentak Sahira.


"Iya iya... gue lepasin tangan lu, tapi lu jangan pergi dan ikut sama gue!" ucap Elargano.


"Huft, lu benar-benar ya ngeselin banget!" ujar Sahira kesal.


"Gimana? Lu mau kan makan es krim ini bareng sama gue?" tanya Elargano.


"Harus berapa kali sih gue bilang sama lu? Gue gak mau, kenapa lu maksa terus sih!" ujar Sahira.

__ADS_1


"Yaelah ayolah Sahira...!!" bujuk El.


Akhirnya Sahira tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan El karena ia tidak ingin terus berdebat dengan pria itu.


"Oke oke, gue mau ikut sama lu! Sekarang lepasin tangan gue!" ucap Sahira.


"Nah gitu dong! Gue kan jadi senang dengarnya, yaudah yuk kita ke taman sekarang!" ucap El tersenyum.


"Dasar gak jelas!" cibir Sahira kesal.


El hanya tersenyum tipis sembari melepaskan tangan Sahira, lalu bersiap untuk pergi bersama Sahira menuju taman sekolah. El sangat senang karena akhirnya keinginannya itu dituruti oleh Sahira.


Akan tetapi, mereka tiba-tiba dicegat oleh Farhan saat hendak pergi ke taman.


"Tunggu dulu!" ucap Farhan menahan keduanya.


"Ngapain lu disini?" tanya El ketus.


"Tadi gue gak sengaja lihat lu paksa-paksa Sahira buat ikut sama lu, makanya gue samperin supaya lu gak bisa seenaknya lagi sama dia!" jawab Farhan.


"Urusannya sama lu apa? Gue mau paksa Sahira itu hak gue, lu gausah ikut campur!" ucap El tegas.


"Jelas ini urusan gue! Gue suka sama Sahira dan gue gak mau dia digituin sama orang lain, apalagi orangnya itu lu!" ucap Farhan.


"Hahaha... cuma suka doang kan? Lu bukan pacar atau siapa-siapanya Sahira kan? Jadi, lu gak ada hak buat larang gue berdua sama Sahira! Lagian Sahira juga udah mau kok," ujar Elargano.


"Sahira, kamu jangan mau dipaksa terus sama dia! Dia ini kan udah punya pacar, gak seharusnya dia kayak gini ke kamu!" ucap Farhan.


"Heh! Lu jangan manipulasi Sahira deh, mending lu pergi sana! Gue sama Sahira mau makan es krim berdua, jadi lu jangan iri!" tegas El.


"Hah? Iri? Sorry ya bro, gue gak iri sama lu karena lu aja maksa Sahira! Kalau soal maksa, gue juga bisa paksa Sahira buat terima cinta gue. Tapi apa? Gue milih buat hargai keputusan Sahira, gak kayak lu!" ucap Farhan.


Elargano terdiam bingung hendak bicara apa lagi, karena sepertinya ia sudah kalah berdebat dengan Farhan.


"Udah udah, sorry ya El! Benar apa yang dibilang sama kak Farhan barusan, lu gak bisa paksa gue terus kayak gini. Gue sekarang mau pulang, lu makan es krimnya sendiri aja ya!" ucap Sahira.


Sahira bergerak menjauh dari El, lalu mendekat ke Farhan dan diluar dugaan menyelipkan tangannya di sela-sela lengan pria itu.


"Kak, anterin gue pulang ya!" pinta Sahira.


"Eee oke! Tapi, kamu serius minta dianterin sama aku? Emang abang kamu gak jemput?" tanya Farhan.


"Enggak, tadi dia bilang gak bisa jemput gue sekarang. Gimana? Lu mau kan anterin gue?" ucap Sahira tersenyum manis.


"Jelas mau dong! Masa iya aku gak mau antar bidadari kayak kamu?" ucap Farhan.


"Yaudah, yuk sekarang kita pulang!" ucap Sahira.


Farhan mengangguk pelan, lalu hendak melangkah dengan Sahira yang masih merangkul lengannya.


"Eh eh tunggu!" El menahan mereka.


"Apa lagi sih!" ujar Sahira ketus.


"Lu jangan pulang bareng dia dong! Gue aja ya yang anterin lu!" ucap El.


"Hadeh, udah yuk kak gausah digubris omongan dia mah!" ucap Sahira langsung menarik lengan Farhan dan pergi dari sana.


Farhan menurut saja, melangkah melewati El dengan senyuman seringainya merasa puas karena Sahira lebih memilihnya.


"Aaarrgghh sial!" geram El dalam hati.




Singkat cerita, Sahira dan Farhan sudah berada di dalam mobil setelah mereka berhasil melewati Elargano.


"Sahira, aku mau tanya deh sama kamu. Apa alasan kamu minta antar sama aku? Kamu emang beneran pengen dianterin aku, atau cuma pengen menghindar dari El?" tanya Farhan penasaran.


"Huh ngapain sih lu tanya begitu? Intinya ya gue emang pengen pulang, jadinya gue minta antar sama lu." jawab Sahira singkat.


"Oh gitu, berarti besok-besok lagi aku boleh dong anterin kamu pulang?" tanya Farhan penuh harap.


"Tergantung, kalau gue gak dijemput sama abang gue mungkin aja lu bisa anterin gue." kata Sahira.


"Yah kalo gitu semoga aja deh kamu gak dijemput sama abang kamu! Supaya aku bisa antar kamu pulang terus setiap hari," ujar Farhan tersenyum.


"Ya ya ya..." Sahira mengangguk saja.


Farhan terus tersenyum memandangi Sahira, ia tak menyangka hari ini bisa mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Sungguh hari yang amat menyenangkan baginya.


"Kalau ini terjadi setiap hari, gue pasti bakalan bahagia banget!" batin Farhan.


Sementara Sahira mengambil ponselnya, lalu berpura-pura sibuk dengan ponsel miliknya itu agar tidak merasa canggung dengan Farhan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2